Ringkasan Khotbah : 16 Juni 2013

Kualitas Iman

NatsYakobus 1:6-8

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Beberapa waktu yang lalu kita sudah belajar dari Yakobus 1:2 untuk kita menganggap sebagai sukacita apabila kita jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. Yang menjadi masalah adalah apabila kita terjebak di dalam pencobaan maka kita bisa celaka. Kunci yang penting adalah bagaimana pencobaan tersebut berubah menjadi sebuah ujian bagi kita. Ujian tersebut adalah ujian iman yang Tuhan berikan kepada kita, untuk menunjukkan kualitas iman kita. Nats hari ini akan mengajar kita untuk dapat menjalankan ujian iman dengan benar di dalam berbagai macam godaan, bagaimana kita memiliki iman yang sejati di dalam berbagai macam pencobaan.

Mengapa orang Kristen mengalami berbagai macam kesulitan dan jatuh ke dalam berbagai macam dosa, sehingga akhirnya Tuhan membuang dia? Karena orang-orang ini telah gagal melewati ujian imannya. Ujian iman merupakan satu filter untuk melihat apakah seseorang adalah seorang Kristen sejati atau tidak. Tidak seorangpun tahu apakah dirinya ataupun orang lain adalah umat pilihan Tuhan karena pilihan Tuhan/ predestinasi ditegaskan oleh Tuhan di Surga, bukan di dunia ini. Penetapan Allah ini di dalam kekekalan, sedangkan kita yang berada dalam kesementaraan berusaha untuk menangkapnya sehingga terjadilah konflik. Allah yang menetapkan di dalam kekekalan, lalu menindaklanjutinya di dalam kesementaraan dengan jalan memanggil, membenarkan, dan memuliakan kita (Roma 8:29-30).

Lalu, bagaimana manusia yang ada di dalam kesementaraan ini berelasi dengan yang ada di dalam kekekalan? Hanya melalui iman saja. Iman kepada Allah inilah yang dituntut oleh Tuhan. Apakah iman kepada Allah itu hanya sekedar ucapan bibir ataupun ideologi atau terpraktiskan di dalam kehidupan kita sehari-hari? Yakobus menginginkan iman yang praktis, bukan sekedar ada di otak/ ideologi semata. Iman haruslah merupakan sesuatu yang berlanjut, terintegrasi, menyatu dengan semua aspek hidup kita. Iman adalah kunci dari kehidupan.

Orang yang bijaksana akan minta bijaksana/ hikmat, sedangkan orang yang tidak bijaksana tidak akan minta hikmat, karena orang yang bijaksana baru bisa sadar bahwa dirinya kurang bijaksana. Orang yang bijaksana akan meletakkan imannya pada objek iman yang tepat. Inilah yang disebut sebagai proto sophia (hikmat yang pertama). Orang rusak disebabkan karena imannya bermasalah. Yakobus menuntut iman yang beres sebelum kita masuk ke dalam praktika yang benar.

Orang yang bijaksana tahu bagaimana menempatkan imannya. Orang yang bijaksana tidak akan meletakkan pengharapan sedikitpun ke dalam dunia ini. Orang yang masih takut kepada dunia/ orang lain/ situasi lalu menggantungkan semuanya pada hal-hal tersebut di atas adalah sebuah kebodohan. Seberapa kita takut kepada ancaman dunia ini sampai akhirnya kita bergantung kepada dunia ini selain kepada Tuhan? Kalau kita mulai bergantung kepada Tuhan sekaligus kepada dunia, maka kita mulai gamang dalam hidup ini.

Orang yang berjalan melewati sebuah titian di atas jurang, dia akan berhasil melewati titian tersebut jika matanya berfokus pada titik tujuan, tetapi ketika matanya memandang ke bawah maka dia akan terjatuh ke dalam jurang, karena pandangannya mulai pecah menjadi 2. Orang yang ketika berbuat apapun dengan melihat 2 unsur maka dia akan rusak karena standard tidaklah boleh ada 2. Sebagai ilustrasi, mata saya memiliki kelainan, yang kalau tidak berkacamata memandang sebuah benda kelihatan banyak jumlahnya, sehingga kalau menyetir mobil pada malam hari saya sulit membedakan mana mobil yang sesungguhnya dan mana yang bukan; hal ini tentu saja sangat membahayakan. Setiap kita harus melihat secara fokus sehingga bisa jelas dan tidak bergeser, apalagi yang difokuskan adalah standard/ ukuran/ pegangan. Alkitab menyatakan bahwa orang yang mendua hati tidak akan beres hidupnya. Dunia post-modern justru mengajar kita untuk tidak hanya memiliki tujuan/ aspek tunggal melainkan banyak. Kita boleh mengerjakan banyak aspek tetapi harus memiliki hanya 1 fokus yaitu Tuhan (proto sophia/ hikmat pertama).

Dengan berfokus kepada Tuhan, manusia akan menjadi bijaksana. Orang yang tidak berfokus pada Tuhan tidak akan akan menyadari betapa berdosanya dirinya. Orang yang tidak pernah menangisi dosanya dan kembali kepada Tuhan tidak akan bisa hidup beres. Orang yang sadar akan dosanya dan kembali kepada Tuhan maka dia akan hidup bergantung kepada Tuhan, itulah yang disebut dengan hikmat pertama.

Bijaksana sejati tidak pernah berhubungan dengan kepandaian/IQ. Aristoteles adalah orang yang otaknya luar biasa pandai. Dalam 40 tahun dia bisa mengarang 1000 buku yang meliputi semua bidang secara mendalam, mulai dari theologi, filsafat, etika, fisika, kimia, dll. Dia adalah bapa anatomi kuno pertama. Manusia sepandai dia tetap termasuk manusia bodoh karena dalam setiap keputusan hidupnya dia tidak bisa bertemu dengan Tuhan karena otaknya terjebak dengan metafisika. Sokrates sadar bahwa bijaksana sejati akan ditemukan jika manusia bertemu dengan sumber bijaksana sejati, tetapi sayangnya dia tidak bisa bertemu dengan sumber bijaksana sejati tersebut. Sampai saat ini belum ada yang bisa melawan kepandaian Aristoteles maupun Sokrates. Janganlah kita merasa diri pandai karena kita belumlah apa-apa jika dibandingkan dengan mereka berdua.  

Orang yang bijaksana akan tahu bahwa bukanlah karena kepandaian dia bisa menemukan kebenaran. Kebanyakan orang yang pandai justru melawan Tuhan. Orang yang melawan Tuhan akan menjalani hidup secara terpecah dan di titik pertama imannya bukan kepada Tuhan walaupun dia pergi ke gereja setiap hari Minggu. Orang yang demikian hidupnya tidak bersandar kepada Tuhan dan hidup menuruti keinginan diri. Sudahkah hidup kita berfokus pada Tuhan? Kalau kita bersekolah bukan buat Tuhan, berarti hidup kita tidak berfokus pada Tuhan, dan kita tidak mungkin mencari kehendak Tuhan karena kita sama sekali tidak memikirkan Tuhan. Kita memerlukan hikmat pertama, yang bisa kita peroleh melalui pertobatan yang sungguh-sungguh.

Hal kedua mengenai iman kepada Tuhan adalah iman merupakan penghormatan kita. Seorang bayi/ anak hidupnya mutlak bergantung pada ibunya. Dalam ketidakmampuannya itu bayi/ anak justru menjadi orang yang paling egois. Itulah rusaknya manusia bahkan sejak dari lahir. Kondisi seperti bayi/ anak ini juga kita bawa ke dalam spiritual bahkan ketika kita sudah dewasa. Kita sadar bahwa diri lemah tetapi kita menuntut Tuhan untuk menuruti keinginan kita. Hal ini merupakan sebuah pelecehan, bukan sebuah penghormatan, bagi Tuhan.   

Ketika iman kita tidak berfokus pada Tuhan, tidak takluk mutlak kepada Tuhan, berarti kita sedang mempermainkan Tuhan. Semua tokoh reformator sepakat akan 1 hal yaitu beriman berarti mengenal Allah secara mutlak, mentaati Dia secara mutlak, dan mengakui kedaulatan Dia secara mutlak. Orang Kristen sejati yang dewasa adalah orang Kristen yang tahu bahwa hidupnya harus taat mutlak di hadapan Tuhan. Tuhan berfirman bahwa barangsiapa mau mengikut Aku, dia harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku. Orang yang beriman adalah orang yang di titik pertama mau menyangkal diri, berarti mau menghormati Tuhan sebagai otoritas pertama dan tunggal dalam hidupnya.

Iblis memakai dewa uang/ dewa Mamon untuk menghancurkan dunia. Jadi orang yang mau takluk kepada Tuhan haruslah pertama-tama menaklukkan kuasa uang dalam hidupnya. Uang menjadikan manusia egois. Seharusnya manusia bekerja bukan untuk mencari uang melainkan demi kemuliaan Tuhan dan menggenapkan kehendak Tuhan. Manusia haruslah mencintai Tuhan dan menjadi berkat bagi sesamanya. Hukum Kasih (mengasihi Tuhan dan sesama) merupakan inti dari iman kita. Seberapa hal ini ada dalam pikiran kita?

Seberapa jauh dalam semua aspek kita melihat kepada Tuhan dan mengerjakan semuanya demi untuk Tuhan? Hal ini bisa kita lihat dari seberapa banyak kita berani memberikan persembahan kepada Tuhan. Orang yang sungguh-sungguh memikirkan Tuhan akan mengutamakan pekerjaan Tuhan dengan memberikan persembahan daripada mencukupkan kebutuhan diri. Kita harus selalu belajar untuk menjadi berkat bagi orang lain dan memikirkan pekerjaan Tuhan terlebih dahulu daripada memikirkan kebutuhan diri sendiri.  

Orang tua dunia saja ingin anaknya menghormati dan taat kepadanya, apalagi Tuhan yang adalah kebenaran. Kalau kita tidak mau menghormati Tuhan, siapakah yang akan kita hormati, diri kita sendirikah? Mari kita evaluasi hidup kita, seberapa kita menghormati Tuhan?

Hal ketiga yang menyangkut iman adalah kita percaya bahwa Dia melimpahi kita dengan penyertaan dan pimpinan bijaksana. Ketika kita berjalan mengikuti jalan Allah dan bersandar pada-Nya, itulah wujud dari providensia/ pemeliharaan terbesar dari Allah. Orang yang tidak pernah meminta bijaksana dari Tuhan, dia akan jatuh ke dalam berbagai dosa, karena dia akan masuk ke dalam jebakan iblis. Ujian yang Tuhan beri tidaklah sukses ketika kita tidak kembali kepada Tuhan.  Pencobaan dari iblis dikatakan berhasil ketika kita semakin jauh dari Tuhan, semakin jauh dari kesucian dan kemuliaan. Iblis sangat senang ketika manusia gagal mendapatkan hikmat dari Tuhan.

Setiap manusia tidak pernah lepas dari pengambilan keputusan, masalahnya adalah apakah keputusan kita menyenangkan iblis ataukah Tuhan, keputusan itu menyebabkan kita masuk ke dalam jebakan iblis ataukah menjadikan kita lulus ujian dari Tuhan, keputusan tersebut apakah merupakan providensia Allah di dalam kebenaran-Nya ataukah sesuai dengan keinginan setan dengan pencobaan yang diberikannya. Manusia menjadi berdosa adalah merupakan keputusannya sendiri. Kita bisa mengubah pencobaan menjadi ujian dan menang melewatinya adalah tergantung pada seberapa kita beriman dan bergantung hanya kepada Tuhan. Ketika iman kita mendua maka kita akan jatuh.

Orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. Karena itu, kembalilah kepada Tuhan. Hidup di dalam providensia Allah adalah hidup yang tenang dan stabil. Marilah kita melepaskan hidup kita ke dalam tangan Tuhan dan membiarkan Dia memimpin hidup kita. Pdt. Stephen Tong pernah memberikan ilustrasi demikian: dia hendak memakai tangan saya untuk menggambar sebuah mobil Mercedes. Di benak saya muncul gambaran mobil tersebut sehingga tanpa sadar muncullah kemauan saya sendiri. Ketika beliau hendak menggambar dengan memakai tangan saya dan saya juga mengeluarkan kemauan saya sendiri, maka gambar mobil tersebut tidak bisa terwujud. Kemudian beliau meminta saya untuk menyerah dan membiarkan beliau memimpin tangan saya. Akhirnya terwujudlah gambar mobil yang dimaksud oleh beliau. Hidup kita juga seperti itu, sewaktu kita sok tahu dan ingin tahu justru kita menjadi rusak. Kita harus belajar taat kepada Tuhan. Tuhan tidak membuat kita tahu akan hal di depan adalah supaya kita bisa taat. Ketika kita tidak tahu hal di depan, Tuhan akan bebas mengatur kita sampai kehendak-Nya jadi. Itulah providensia Allah. Yakobus mengajar kita untuk senantiasa menyadari adanya tangan Tuhan yang sedang menata hidup kita ketika kita menjalani hidup praktis kita. Berimanlah kepada Dia. Percayalah sepenuhnya kepada Dia

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)