Ringkasan Khotbah : 09 Juni 2013

Maria, Marta dan Problema Hati Manusia

NatsLukas 10:38-42

Pengkhotbah : Pdt. Ivan Kristiono

 

Nats hari ini sangatlah menarik perhatian para theolog. Cerita yang disampaikan mengenai seorang wanita yang mengungkapkan kepahitannya kepada Tuhan Yesus dan Tuhan Yesus menjawabnya dengan begitu lembut, memberikan nasihat yang begitu manis tetapi begitu tegas. 

Saya akan mengutip 2 macam interpretasi ayat di atas yang kelihatannya benar tetapi sebenarnya salah, kemudian kita akan mencoba mengkonstruksi ulang agar dapat memiliki pemahaman yang lebih baik dari Firman Tuhan pada hari ini.

Tafsiran pertama adalah versi Origen. Origen adalah seorang Bapa Gereja yang begitu mencintai Tuhan sampai akhirnya mengalami pergumulan bagaimana seorang Kristen bisa lepas dari nafsu, khususnya nafsu seksual. Origen akhirnya melakukan sebuah tindakan ekstrim yaitu mengkebiri dirinya. Kita haruslah kritis terhadap spiritualitas ala Origen karena kita bukan dipanggil untuk melakukan spiritualitas mutilasi (contohnya: supaya tidak mencuri maka tangannya dipotong). Tafsiran Origen mengenai Maria dan Marta cukup unik dan bertahan sampai pada abad pertengahan. Tafsirannya adalah sebagai berikut: Marta adalah orang yang sibuk bekerja, sedangkan Maria adalah orang yang sibuk mendengarkan Firman Tuhan. Di hadapan Tuhan ada 2 macam kehidupan yaitu: kehidupan melayani Dia dalam aktivitas (vita aktiva), dan orang yang rajin ikut persekutuan doa, saat teduh setiap hari, dan rajin mendengarkan Firman Tuhan (vita kontemplativa). Terjadilah perpecahan antara vita aktiva dan vita kontemplativa. Manakah yang lebih dihargai di hadapan Kristus? Origen mengatakan bahwa Kristus menegur Marta, berarti kehidupan vita kontemplativa lebih memperkenan Kristus. Melayani boleh saja tetapi yang paling penting adalah hidup doa, mendengar dan terbuka terhadap Firman Tuhan. Abad pertengahan sangatlah menekankan hidup yang merenung, berdoa, mendengar Firman Tuhan.

Sebenarnya problema dari nats hari ini bukanlah pada pembagian antara bekerja dan mendengar Firman Tuhan. Tidak ada teguran secara eksplisit bahwa Marta bekerja dan pujian secara eksplisit bahwa Maria mendengarkan Firman Tuhan. Di bagian yang lain, Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk cepat-cepat bekerja karena hari masih siang dan sudah hampir malam. Tuhan Yesus juga memerintahkan orang untuk melakukan penginjilan pribadi dan juga penginjilan kota karena tuaian banyak sedangkan pekerja sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus menginginkan murid-Nya banyak bekerja.  

Bapa Gereja Augustinus juga menafsirkan secara alegoris (menafsir bukan sekedar dari materi kasat mata melainkan harus dari hal rohani di belakangnya, merupakan pengaruh dari pemikiran Plato) demikian: Marta sedang melakukan justification by work (istilah dari Martin Luther), artinya: mau terlihat benar melalui perbuatan; jadi Marta merupakan lambang dari orang yang hidup di bawah Taurat. Maria adalah orang yang tidak bekerja tetapi duduk diam terbuka pada anugerah (justification through faith). Jadi Tuhan mau menyelamatkan orang yang membuka dirinya terhadap anugerah, bukan pada orang yang mengandalkan jasanya. Tafsiran ini adalah salah karena ayat di atas bukanlah mau berbicara mengenai justification through faith.

Nats hari ini jika dibaca dari kacamata orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus sangatlah meninggikan kaum perempuan, sehingga mereka tidak bisa menerima hal ini. Ayat ini seringkali dipakai oleh golongan feminisme. Golongan kontra-feminisme juga memakai ayat ini untuk menyerang golongan feminisme. Ada 2 cara perempuan bersikap terhadap Tuhan di dalam gereja yaitu: duduk diam sehingga dipuji Tuhan dan banyak bicara sehingga ditegur oleh Tuhan. Golongan kontra-feminisme menyimpulkan bahwa Tuhan tidak suka kepada perempuan yang suka mengatur dan bersikap otoritatif.

Alkitab memang membicarakan tentang perempuan tetapi bukan dalam nats hari ini. Calvin memberikan penafsiran yang berbeda tentang nats hari ini. Mari kita melihat bagaimana Calvin melihat hal ini.

Pertama-tama, kita harus melihat konteks dari ayat di atas. Yesus hidup sebagai manusia di Timur Tengah dengan kebudayaan Timur, sehingga Yesus mengajar dengan memakai perumpamaan/ gambaran/ ilustrasi. Sebagai orang Timur, Yesus sedang bertamu ke rumah Maria dan Marta. Dalam adat Timur, ketika ada tamu yang berkunjung maka tuan rumah akan menyuguhkan makanan tanpa perlu bertanya terlebih dahulu kepada tamunya. Berbeda dengan adat Barat, tuan rumah akan bertanya terlebih dahulu apakah tamunya perlu disediakan makanan atau tidak. Alkitab juga mencatat adanya orang yang meminjam makanan dari tetangganya untuk disuguhkan kepada tamunya yang datang pada malam hari. Marta yang tiba-tiba kedatangan tamu sebanyak 13 orang pasti sibuk sekali menyiapkan makanan untuk disuguhkan. Marta ini betul-betul mau melayani, apalagi dalam konteks sebagai wanita dengan adat Timur.

Yang menarik adalah Maria duduk di dekat kaki Tuhan. Dalam bahasa Jawa, duduk di dekat kaki guru berarti ngelmu/berguru. Ngelmu tidaklah sama dengan sekolah, karena ngelmu mengandung penyerahan diri secara total. Paulus juga duduk di bawah kaki Gamaliel, berarti dia mengikuti guru tersebut dan belajar dari guru itu. Maria mempunyai satu sikap yang seharusnya dimiliki semua manusia di hadapan Tuhan. Seperti Imam Eli yang mengajar Samuel kecil untuk menjawab panggilan Tuhan demikian: Berbicaralah Tuhan sebab aku mendengar. Dalam bahasa Ibrani muncul 1 kata yang dalam bahasa Inggrisnya berarti: Here I am. Kata ini juga muncul ketika Abraham dipanggil Tuhan untuk mempersembahkan Ishak, anaknya. Sama halnya ketika Musa dipanggil Tuhan untuk diutus pergi ke Mesir, dia menjawab: Here I am. Yesaya juga berkata kepada Tuhan: Here I am, ketika dia akan diutus oleh Tuhan. Kata Here I am mengandung arti keberserahan sepenuhnya. Maria duduk di dekat kaki Tuhan sembari mempunyai sikap berserah/ terbuka di hadapan Tuhan. Berserah maksudnya menyerahkan hidupnya dan membiarkan Tuhan memakai dia. Berserah merupakan tindakan aktif yang tidak sama dengan menyerah. Berserah juga memiliki kerelaan hati dalam melakukannya.

Bersimpuh dekat kaki Tuhan juga menimbulkan kontroversial karena hal ini biasanya dilakukan oleh pria saja. Wanita mendengarkan Firman Tuhan hanya boleh di Sinagoge. Kaum Feminisme memakai ayat ini karena dalam ayat ini terlihat betapa Kristus mengasihi wanita dan adanya kesamaan antara pria dan wanita. Ada berbagai macam Feminisme, ada yang memperjuangkan kesederajatan saja tetapi tetap mengakui adanya perbedaan antara pria dan wanita, ada juga yang radikal yang menganggap wanita lebih baik daripada pria karena wanita memiliki rahim sedangkan pria tidak.  

Di sisi lain, Marta sedang sibuk melayani. Problema muncul ketika Marta sedang sibuk sekali melayani Tuhan. Marta mendatangi Tuhan Yesus dan berkata: Tuhan, tidakkah Engkau peduli, Kita juga seringkali bersikap seperti Marta dan berkata kepada Tuhan: Tuhan, aku sudah melayani Engkau, tidakkah Engkau peduli? Menurut Calvin, problema ini muncul bukan karena orang yang satu bekerja sedangkan yang lain beribadah, melainkan muncul dari sikap hatinya, orang yang satu beres sikap hatinya sedangkan yang lain tidak beres. Sikap hati Marta tidak beres sehingga dia tidak diperkenan oleh Tuhan, sedangkan sikap hati Maria beres sehingga dia diperkenan oleh Tuhan. Orang yang sikap hatinya beres akan berdoa dan melayani secara beres pula.

Marta mulai berpusat pada dirinya, sehingga dia berkata kepada Tuhan: Tuhan, lihatlah aku, aku melayani seorang diri. Kalimat berikutnya juga menarik yaitu: Suruhlah dia membantu aku. Kita pun juga sering melakukan pola yang sama yaitu ketika kita mulai berpusat pada diri, kita meminta Tuhan untuk menyuruh orang lain membantu kita. Maria adalah saudara yang terkasih dari Marta, tetapi dalam pelayanan Marta menembak Maria, dengan mengatas namakan pelayanan/ cinta Tuhan/ pekerjaan Tuhan. Tidaklah heran jika Marta mulai gelisah.  

Dalam pelayanan, kita haruslah berhati-hati ketika pusat dari pelayanan itu mulai bergeser menuju diri sendiri, lalu muncullah sikap mengasihani diri sendiri. Tuhan Yesus langsung menegur Marta dengan menjawab: Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, Tuhan Yesus yang tahu isi hati seseorang, mengatakan bahwa Marta melayani sembari kuatir dalam hatinya dan membuat susah dirinya sendiri dengan banyak perkara. Sedangkan Maria hanya melihat satu hal dan dia mendapatkannya. Satu hal yang dimaksud adalah hidupku untuk Kristus, sehingga fokus pelayanannya jelas yaitu menyenangkan hati Tuhan, maka hidupnya tenang. Demikian juga dengan pelayanan kita. Kalau kita direpotkan dengan banyak perkara maka kita akan menyusahkan diri kita sendiri.  

Ada penafsir yang mengatakan bahwa kemungkinan yang membuat hati Marta menjadi susah adalah karena dia ingin menarik simpati dari orang yang melihat dia melayani. Marta berjalan terlalu jauh sehingga dia bukannya mencari simpati dari Tuhan tetapi justru simpati dari orang banyak. Di hadapan Yesus seolah-olah Marta hendak menumpuk jasanya. Seharusnya dia cukup memasak satu macam masakan saja lalu bergabung dengan yang lainnya. Kalau kita pelayanan untuk mendapatkan simpati Tuhan maka hati kita akan tenang, sedangkan kalau kita mencari simpati dari orang lain maka hati kita akan susah. Tuhan tidak akan mencurahkan berkat-Nya karena semuanya itu sudah ada upahnya. Bukankah hidup kita akan penuh dengan kekuatiran ketika kita melayani demi untuk mendapatkan harta yang tidak sesungguhnya dan kemuliaan yang palsu, dan kita akan menjadi budak dari orang lain. Ketika orang lain tidak bersimpati dengan kita maka kita menjadi pusing.

Jadi kisah Maria dan Marta bukan mengenai orang yang aktif dan pasif melainkan mengenai sikap hati. Bagaimana dengan hati kita, apakah kita mulai cenderung melihat kepada diri kita sendiri sehingga kita menjadi kuatir dan susah?

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)