Ringkasan Khotbah : 02 Juni 2013

Cahaya di Waktu Senja

NatsZakharia 14:4-7

Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan

 

Nats hari ini bernuansa puisi yang sangat kental. Puisi ini berisi tentang janji Tuhan bahwa Ia akan mengubah segala situasi dan kondisi yang ada. Zakharia hidup di zaman pembuangan, sezaman dengan nabi Hagai. Zakharia  turut mengalami bagaimana Tuhan membawa kembali umat-Nya ke Yerusalem. Saat itu merupakan waktu pemulihan dari Tuhan setelah bangsa Israel berada di Babel selama 70 tahun. Dalam catatan sejarah disebutkan adanya 3 gelombang besar kepulangan mereka ke Yerusalem, yaitu: 1) gelombang pertama dipimpin oleh Zerubabel, 2) gelombang kedua dipimpin oleh Ezra, 3) gelombang ketiga dipimpin oleh Nehemia. Cerita hari ini terjadi pada kepulangan gelombang pertama.

Zakharia menulis hari kepulangan mereka sebagai “hari itu” dimana tidak ada lagi pergantian siang dan malam. Hari itu akan selalu ada sinar terang. Dalam pembuangan di Babel mereka senantiasa menantikan hari itu dengan mengamati pergantian hari/ pergantian siang dan malam. Yang dimaksudkan dengan tidak ada lagi pergantian siang dan malam adalah bahwa masa penantian itu sudah selesai dan hari itu/ hari kepulangan mereka telah tiba. Walaupun senja tiba, mereka tetap dapat melihat adanya cahaya. Tuhan senantiasa mengingat janji-Nya, Dia tidak pernah lupa.

Hal yang sangat menggembirakan mereka adalah raja Cyrus mengizinkan mereka membangun kembali Bait Allah. Tetapi mereka mengerjakannya dengan malas-malasan. Karena itu Tuhan meletakkan Zakharia dan Hagai pada zaman itu untuk mendesak mereka mengerjakan pembangunan kembali Bait Allah dengan cepat.

Ada 2 hal besar yang akan kita bahas pada hari ini yaitu:

1)   Mata iman adalah mata yang melihat ke depan dan melampaui.

Pada waktu Zakharia mencatat nubuatan di atas, hal tersebut sudah dan belum terjadi. Dikatakan sudah terjadi karena Tuhan sudah berjanji. Dikatakan belum terjadi karena pada waktu itu Bait Allah belum dibangun kembali. Arti nama Zakharia adalah Yehova mengingat. Mata iman adalah mata yang melampaui, mata yang membebaskan dari semua hitungan waktu. Ketika kita berkata bahwa kita beriman berarti kita mau menunggu penggenapan janji Tuhan. Dalam penantian itu seringkali kita merasa lelah dan putus asa sehingga mulai mempertanyakan apakah Tuhan lupa dengan janji-Nya. Ketika lelah dan putus asa intensi penantian kita semakin lama semakin menurun, dan tanpa sadar pada saat itu kita mulai membuka pintu untuk mulai meragukan akan iman kita. Menanti dan berharap merupakan bagian dari pengalaman iman, dan merupakan bagian yang paling susah untuk melihat apakah iman tersebut hidup atau mati. Yang membuat sebuah penantian menjadi susah adalah karena kita tidak bisa melihat kehendak Tuhan secara utuh menyeluruh.

Ketika kita merasakan susah dan lelah dalam penantian kita, maka kita cenderung repot memikirkan tentang iman kita dan kemudian menjadi mengasihani diri sendiri dengan mengatakan bahwa kita tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Sebetulnya kita tahu apa yang harus dikerjakan, tapi pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu.

Mata iman adalah mata yang melihat melampaui, artinya: melihat yang terabaikan. Melihat yang terabaikan artinya adalah melihat Tuhan dan kebenaran-Nya. Tuhan akan menegakkan Kerajaan-Nya. Tuhan Yesus mengajar kita untuk mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.

Seringkali kita juga berlindung di balik kata “belajar” karena orang yang sedang belajar akan mendapatkan permakluman ketika melakukan kesalahan. Kita sudah tahu tentang kebenaran, kita bukan sedang belajar akan hal itu, maka kita harus hidup di dalam kebenaran itu. Ketika kita mengabaikan kebenaran Allah maka kita tidak akan bisa melihat semua hal yang sedang Tuhan kerjakan yaitu perihal berjalan dalam sebuah progres. Dari progres tersebut seseorang akan dibawa melihat keindahan dari bagaimana cara Tuhan menyatakan Diri-Nya. Keindahan dari sebuah perjalanan menuju kepada titik akhir adalah indah sekali.

Sebagai ilustrasi, sebuah film mengenai bunga mulai dari kuncup sampai mekar dan akhirnya gugur sangatlah indah. Keindahan itu tidaklah diperoleh dalam waktu sesaat tetapi sang kamerawan harus dengan sabar dan rela berlelah diri untuk merekam kejadian tersebut. Keindahan tersebut juga tidak terlihat karena kita mengabaikannya. Progres iman yang kita alami adalah dari beriman kemudian menjadi tidak beriman dan kemudian menjadi beriman kembali. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Amatilah hal itu baik-baik karena ada keindahan di dalamnya yaitu bahwa Allah mengingat. Allah hadir dalam hidup kita dengan mengatur sedikit demi sedikit dalam sebuah progres. Kita seringkali mengabaikan intervensi Dia secara progres dalam hidup kita.

2)   Mata iman adalah mata yang tidak melihat adanya perbedaan.

Walaupun Zakharia mengalami perubahan siang menjadi malam dan malam menjadi siang, dia  hanya melihat adanya terang. Terang itulah yang menjadikan segala sesuatu menjadi tidak ada perbedaannya. Tidak ada besar ataupun kecil dalam pergumulan iman kita. Besar ataupun kecil adalah sebuah progres, jangan abaikan hal itu sampai pada saatnya nanti kita akan mengatakan bahwa problema tersebut tidaklah lagi ada masalah karena yang terpenting adalah kita tahu bahwa Dia ada dan Dia mengingat. Inilah kedukaan rohani.    

Kedukaan rohani adalah karena mengabaikan sesuatu yang seharusnya dilihat dengan baik, yang seharusnya tidak ada perbedaan sama sekali karena kita punya Allah yang mengingat dan Dia ada bersama dengan kita. Kalau Tuhan izinkan kita mengalami kedukaan rohani maka Dia akan melipatgandakan kesabaran kita.

Kita takut Tuhan tidak menggenapi janji-Nya. Tuhan mengatakan bahwa janganlah kita takut akan hal itu karena Tuhan akan selalu membimbing kita dalam progres dan Dia akan melipatgandakan  kekuatan kesabaran kita dan kekuatan untuk bisa menunggu. Selain itu, Tuhan juga akan mengubah pengalaman kita untuk menemukan pengalaman yang baru berjalan bersama dengan Dia. Banyak orang Kristen yang sangat kaya dalam hal ayat hafalan dan Firman Tuhan tetapi dia sebenarnya sangat miskin dalam hal meminta, berharap, menanti dan menyerah.   

Kita miskin dalam 4 hal di atas sehingga kita tidak bisa melihat kebaikan Tuhan menyentuh hati/ menentramkan hati kita. Hanya orang yang meminta dan menyerah yang bisa menemukan damai sejahtera dan hatinya diteduhkan oleh Tuhan. Walaupun senja tetapi tetap ada terang. Firman Tuhan itu hidup pada waktu kita tahu bagaimana menempatkan diri di hadapan-Nya, yaitu pada waktu kita mengakui kondisi miskin kita. Tuhan Yesus berkata: berbahagialah orang yang miskin di hadapan Tuhan sebab dia akan dikenyangkan.  

Setelah 70 tahun dalam pembuangan, orang Israel menjadi miskin dalam hal dorongan/ keinginan untuk sungguh-sungguh mencari Tuhan, untuk melihat Tuhan bertahta di tengah umat-Nya, sehingga tidaklah mengherankan jika mereka menjadi malas-malasan dalam membangun kembali Bait Allah. Zakharia diletakkan Tuhan di sana untuk mendesak bangsa Israel agar segera membangun kembali Yerusalem dan Bait Allah.  

Tidaklah kelihatan kasat mata ketika kita sedang berjalan bersama Tuhan kecuali ketika kita menemukan hati menjadi tentram walau gelombang tetap ada. Selalu akan ada jalan keluar/ harapan/ bibit iman yang mulai muncul. Janganlah abaikan bibit tersebut, dan jangan katakan bahwa bibit tersebut terlalu kecil. Sebagai ilustrasi, pada waktu saya mendaki gunung dan memasuki sebuah hutan, batang korek api yang saya punyai hanya tersisa 1 batang. Ketika hari mulai gelap, saya nyalakan api dengan memakai batang korek tersebut, tetapi karena tiupan angin maka nyala api semakin lama semakin mengecil sampai akhirnya padam dan hanya tersisa baranya saja. Dalam situasi yang semakin gelap, saya terus berjuang agar bara tersebut tidaklah padam. Dalam keadaan antara kedinginan dan kegelapan bara yang kecil itu akan diperjuangkan supaya dapat tetap menyala. Walaupun api iman kita hanya berupa bara kecil di ujung sumbu, perhatikan hal itu baik-baik, jangan menyerah dan kemudian mematikannya, karena itulah intervensi Tuhan atau kebaikan Tuhan.

Ketika ada iman muncul, berarti ada anugerah di sana, dan kita harus memperhatikannya dan sekaligus berjuang dengan penuh semangat, maka Tuhan akan membawa kita menemukan Kerajaan Allah. Ketika Bait Allah itu sudah berdiri kembali, bangsa Israel bisa melihat betapa besarnya, betapa agungnya, dan betapa mulianya, walaupun hal tersebut hanyalah sebagian kecil dari yang dipunyai Allah, tetapi setidaknya mereka bisa melihatnya dengan mata mereka sendiri.  

Kita harus mempunyai keinginan yang besar dan jiwa yang tidak mau dikalahkan untuk dapat melihat kemuliaan Tuhan dalam bangunan iman kita. Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)