Ringkasan Khotbah : 19 Mei 2013

Faith and Wisdom

NatsYakobus 1:5-8

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kitab Yakobus adalah kitab praktis tetapi praktis yang bukan versi dunia. Penafsir yang integratif mengatakan bahwa tidaklah mungkin kita bisa mendapatkan tafsiran yang terpadu antara ayat yang satu dengan yang lain jika kita menafsir Kitab Yakobus menurut praktika versi dunia. Kita haruslah menafsirkan Kitab Yakobus dari sudut pandang Tuhan. Iman Kristen bukanlah iman yang hanya ada di otak saja/ bersifat teori belaka melainkan ketika kita akan mengaplikasikannya haruslah aplikasi yang bersifat theologis.

Pada permulaan Kitab Yakobus, Yakobus mengajak kita untuk menganggap sebagai sebuah sukacita jika kita jatuh ke dalam berbagai pencobaan. Pencobaan tersebut dikerjakan oleh setan tetapi dipakai Tuhan untuk menjadi ujian iman kita. Iman Kristen sejati bukanlah iman yang takut terhadap pencobaan, bukan iman yang menangisi pencobaan, melainkan iman yang dapat bertahan dan keluar sebagai pemenang di dalam setiap pencobaan. Untuk dapat bersukacita dalam pencobaan bukanlah hal yang mudah, maka diperlukan ayat dalam Yakobus 1:5-8.

Nats hari ini mempersiapkan kita untuk memasuki seluruh ulasan dalam Kitab Yakobus. Pembahasan ini akan saya bagi menjadi 2 yaitu: ayat 5 yang akan membahas tentang esensi dari hikmat dan ayat 6-8 yang akan membahas tentang iman untuk mendapatkan dan menjalankan hikmat. Kehidupan iman adalah kehidupan yang mengejar kesempurnaan yang meliputi aspek sempurna, menyeluruh dan tidak bercacat/ ada lubang di dalamnya. Apakah yang menjadi modal agar kita bisa mencapai kesempurnaan itu? Jawabannya adalah bukan karena kepandaian kita melainkan karena kita bijak. 

Orang dunia sulit membedakan antara pandai dan bijak sehingga seluruh pendidikan hanyalah mengejar kepandaian. Kepandaian tidaklah perlu dibandingkan dengan orang lain karena kepandaian itu diberikan Tuhan kepada seseorang secara berbeda satu dengan yang lain. Kepandaian diberikan Tuhan sebagai modal dasar dan Tuhan tidaklah pernah menyamakan semua modal. Setiap modal diberikan Tuhan kepada setiap orang secara berbeda dan tidaklah berkaitan dengan nilai yang dituntut dari setiap orang. Nilai Tuhan berdasarkan keadilan-Nya yaitu orang yang diberi 5 talenta akan dituntut untuk mengerjakan dan mengembalikan 5 talenta itu, dan Tuhan tidak pernah menuntut orang yang diberi 2 talenta untuk mengerjakan dan mengembalikan 5 talenta. Keadilan Allah adalah keadilan yang proporsional, yaitu seberapa seseorang diberi seberapa itu pula dia dituntut. Keadilan Kristen bukanlah keadilan yang sama rata/ keadilan komunis.    

Celakanya, ketika manusia mendapatkan modal dari Tuhan dia tidak menggarapnya sesuai dengan keinginan Tuhan tetapi justru sesuai dengan keinginan diri sehingga terjadilah konflik dalam diri orang tersebut. Disinilah manusia memerlukan hikmat. Orang yang genius belumlah tentu bijaksana, demikian juga orang yang sederhana belumlah tentu tidak bijaksana. Orang yang pandai cenderung sulit untuk mau tunduk kepada Allah, dan ketika membaca Alkitab cenderung untuk memanipulasi ayat untuk kepentingan diri, karena dia kehilangan 1 elemen yang diperlukan yaitu bijaksana.

Bijaksana adalah setiap kali kita mengambil keputusan Tuhan tersenyum karena sesuai dengan isi hati Tuhan dan setan menjadi marah. Sebaliknya, ketika kita mengambil keputusan setan tertawa senang dan Tuhan sedih berarti keputusan kita berbau neraka. Seberapa banyak keputusan yang kita ambil menyenangkan hati Tuhan? Kalau kita terbiasa hidup secara dunia lalu sekarang diminta untuk mempraktekkan iman seperti yang Tuhan mau/ praktika yang bersifat theologis, betapa sulitnya hal itu. Tidaklah heran jika ada orang Kristen yang mengatakan bahwa tidaklah mungkin iman itu bisa dipraktekkan. Seorang Kristen sejati adalah orang yang men-Tuhankan Kristus, menguduskan Kristus sebagai Tuhan di dalam hatinya, Kristuslah yang mengontrol hidupnya secara total. Untuk menjadi bijaksana tidaklah memerlukan kepandaian melainkan memerlukan perjuangan iman dalam kesungguhan mengikut Tuhan. Orang yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan akan mengambil keputusan yang menyenangkan hati Tuhan.

Yakobus 1:5 mengajar kita untuk memintanya kepada Allah jika kita kekurangan hikmat. Mengapa harus memintanya kepada Allah? Karena sepandai apapun kita, kita harus bergantung pada Allah dan harus sadar bahwa kita kekurangan semua hal utama dalam diri kita. Alkitab menegaskan bahwa kita adalah manusia bodoh (tidak berkaitan dengan IQ) yang membutuhkan bijaksana. Blaise Pascal mengatakan bahwa setiap kita adalah kosong dan hanya Tuhan yang bisa mengisi kekosongan itu. Kalau kita bisa mengambil keputusan yang menyenangkan hati Tuhan maka orang-orang di sekitar kita juga akan dibawa untuk melihat implikasi praktis dari kehendak Tuhan, melihat theologi dalam dunia praktis.  

Seringkali kita berpikir bahwa kita telah menolong Tuhan tetapi justru sebenarnya kita sedang merusak pekerjaan Tuhan. Sebagai ilustrasi, ada seorang guru sekolah minggu yang sudah menyiapkan bahan untuk aktivitas muridnya berupa gambar yang sudah difotocopy. Besok murid-muridnya akan mewarnai gambar tersebut dan mengguntingnya. Dia bermaksud membuat sebuah contoh dari aktivitas tersebut, tetapi ketika dia hendak membuat contoh tersebut, mamanya menyuruh dia belanja di supermarket, sehingga dia pun meninggalkan semua bahan aktivitas tersebut di meja.  Adiknya yang melihat bahan tersebut langsung bertindak untuk membantu sang kakak. Dia langsung menggunting semuanya dan sekaligus mewarnainya. Begitu sang kakak pulang dari supermarket, dia kaget sekali melihat aktivitas murid-muridnya sudah selesai dikerjakan dan si adik keluar dari kamar dengan tersenyum bangga karena sudah menolong kakaknya. Apa yang seharusnya kita lakukan kepada adik yang demikian? Kita harus menggampar dia! Jangan pernah menganggap hal di atas adalah suatu hal yang lucu. Tindakan baik si adik telah merusak pekerjaan Tuhan. Motivasi yang baik haruslah disertai dengan cara yang baik yaitu cara yang taat kepada Tuhan. Di sinilah kita belajar melihat segala sesuatu dari sudut pandang pekerjaan Tuhan/ dengan bijaksana Tuhan dan bukan dari sudut pandang manusia yang merasa telah menolong Tuhan. Ingatlah, mengerjakan pekerjaan Tuhan haruslah taat kepada keinginan Tuhan. Belajarlah untuk memiliki hati yang bijaksana dan taat pada Tuhan. Takutlah akan Tuhan dalam menjalankan kehendak Tuhan.

Bijaksana haruslah ditaklukkan di bawah kebenaran Tuhan. Ketika kita meminta bijaksana kepada Allah maka Allah akan memberikannya dengan murah hati karena pada dasarnya kita sudah memiliki bijaksana itu. Hanya orang bijak yang meminta bijak.

Hari ini adalah hari Pentakosta. Saya hendak mengkaitkan nats hari ini dengan Yohanes 14:16-17. Pengajaran Tuhan Yesus terakhir sebelum Dia naik ke Surga terdapat dalam Yohanes 13:31-16:32, seringkali disebut sebagai pengajaran eksklusif, artinya hanya diperuntukan bagi murid Tuhan sejati karena hanya murid Tuhan sejati yang dapat masuk ke dalam aplikasi dari pengajaran tersebut. Orang yang bukan murid sejati dari Tuhan ketika menerapkan pengajaran di atas akan menimbulkan ekses kesesatan. Cara melihat dan mengerti pengajaran di atas harus dengan menggunakan format Trinitarian, harus melihat dari sudut kepentingan Allah Tritunggal.

Dalam Yohanes 14:15 Tuhan Yesus menyatakan bahwa barangsiapa mengasihi Dia akan menuruti segala perintah-Nya. Konsep salah yang beredar di tengah kekristenan adalah: kalau aku mengasihi Tuhan maka aku akan memuji Tuhan. Orang dunia/ Kristen palsu akan menolak konsep dalam Yohanes 14:15 karena mereka mau ikut Yesus sejauh Yesus dapat membawa kepada keuntungan diri, bukan mau menuruti segala perintah Yesus.  

Ketika Tuhan Yesus naik ke Surga, Dia akan memberikan kepada murid-murid-Nya yang sejati seorang pendamping, seorang penolong, yaitu: Roh Kebenaran. Roh Kebenaran akan membawa manusia kepada kebenaran. Benar tidaklah sama dengan baik. Baik memiliki tingkatan sedangkan benar tidak demikian. Sesuatu yang benar tidaklah memiliki tingkatan, sesuatu di luar benar adalah salah, benar hanya merupakan satu titik. Dosa/ hamartia adalah meleset dari sasaran yang merupakan satu titik. Sebagai ilustrasi, 2+2=4 merupakan kebenaran, kalau 2+2=3,9 atau 2+2=4,1 adalah salah karena meleset dari sasaran. Orang yang bijaksana hanyalah mengenal 1 sasaran. Manusia memerlukan Roh Kebenaran yang akan menyertai manusia untuk dapat mencapai 1 sasaran yang tepat. Bijaksana adalah untuk mengejar kebenaran. Mengapa harus mengejar kebenaran? Karena Allah adalah Allah yang benar. Semua kebenaran harus kembali kepada Sumber Kebenaran yaitu Allah Tritunggal.

Ketiga pribadi Allah Tritunggal tidaklah pernah konflik satu dengan yang lain, demikian juga dalam hal kebenaran, karena mereka saling menundukkan diri maka untuk mendapatkan kebenaran kita harus kembali kepada Allah Tritunggal. Allah yang adalah kebenaran akan menuntun manusia dalam kebenaran dan hasil akhirnya adalah bijaksana sejati. Orang yang bijaksana akan selalu ada dalam pimpinan Tuhan. Setiap orang yang berada di sekitar orang bijaksana akan terbawa menikmati keputusan-keputusan yang bijaksana dan hidup mereka juga akan terbawa untuk menjadi benar. Inilah panggilan bagi setiap kita untuk menjadi orang bijaksana.

Hari Pentakosta menjadi hari yang membawa kita bisa melihat bahwa pekerjaan Roh Kudus adalah untuk semua orang tetapi tidak semua orang perlu diberi tanda. Alkitab mencatat bahwa pekerjaan Roh Kudus yang memiliki tanda hanya 4 kali yaitu tercantum dalam Kisah Rasul 2,8,10, dan 19, untuk menunjukkan bahwa Roh Kudus sudah dikirim ke dunia dan sudah ada bersama dengan kita. Di Yerusalem Roh Kudus turun ditandai dengan lidah api, sehingga para rasul memiliki keberanian untuk memberitakan kebenaran walaupun beresiko kematian. Inilah ciri pertama ketika Roh Kudus turun.

Ciri kedua ketika Roh Kudus turun adalah: para rasul langsung berkhotbah tentang Yesus Kristus lah satu-satunya Juruselamat umat manusia. Khotbah ini belum pernah dikhotbahkan sebelumnya dan membawa 3000 orang kepada pertobatan. Inilah pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus hadir akan membawa manusia kepada kebenaran. Orang yang berada dalam kebenaran akan meneriakkan kebenaran, dan seluruh hidupnya berada dalam kebenaran.

Hari Pentakosta terjadi pada hari Minggu sehingga sampai sekarang orang Kristen beribadah pada hari Minggu. Hari Minggu adalah hari pertama dari sebuah minggu. Di hari pertama kita harus memulai pekerjaan sepanjang minggu dengan mencari pimpinan Tuhan terlebih dahulu. Kalau kita hidup dipimpin oleh kebenaran maka hidup kita tidak akan menjadi kacau. Kalau kita hidup di dalam kebenaran kita akan hidup secara efektif dan tuntas.  

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)