Ringkasan Khotbah : 12 Mei 2013

Ketekunan yang Berbuah

NatsYakobus 1:2-4

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kitab Yakobus adalah kitab yang masuk ke dalam era praktika, tetapi bukan praktika dunia melainkan praktika yang didasarkan pada theologi Kristen. Kalau tidak diperhatikan secara teliti, kitab ini terkesan hanya bersifat praktika dan kehilangan konsep pembenaran hanya oleh iman saja. Setelah diteliti, terlihat dalam kitab ini bahwa mempraktiskan iman Kristen mutlak berbeda dengan praktika dunia ini. Kitab ini sangat mudah dimanipulasi untuk praktika tetapi akan menjadi kesulitan jika dieksposisi secara total karena tanpa membongkar pola pikir seseorang maka dia akan mengalami konflik antar ayat yang satu dengan yang lain. Ketika seorang pengkhotbah memaksakan mengerti ayat dalam Yakobus menurut cara dunia maka akan sangat terasa kalau ayat tersebut diperkosa/ dipaksakan.

Meskipun tidak ada gambaran tentang kedaulatan Allah, inisiasi Allah, pembenaran hanya oleh iman saja dalam  kitab Yakobus, tetapi begitu masuk Yakobus 1:1 akan mulai terasa semua konsep di atas, yaitu: Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Kalimat tersebut sudah merombak cara pikir karena Yakobus mempunyai relasi yang lain dengan Tuhan Yesus.

Aplikasi pertama setelah pembongkaran cara pikir terdapat dalam Yakobus 1:2, yang merupakan pondasi untuk membangun aspek praktika yang lain. Yakobus membuka sekaligus membalik seluruh konsep dunia untuk masuk ke dalam theologi Kristen. Perenungan hari ini akan membongkar konsep hidup di tengah dunia yang riil ini dan mengajarkan penerapan iman secara riil dalam dunia berdosa ini.

Kalimat pertama tentang aplikasi pembongkaran cara pikir adalah: Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan (bahasa asli: sukacita), apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. Kalimat ini sangat sulit diterima oleh otak manusia berdosa. Pikiran kita haruslah terlebih dahulu dibongkar untuk dapat memahami kalimat ini. Pencobaan ini berasal dari setan untuk menjatuhkan manusia. Tidak ada seorang pun yang suka dijatuhkan ke dalam pencobaan, sehingga seringkali kita salah bereaksi. Respon kita terhadap pencobaan akan menentukan nasib kita. Kalau kita bereaksi terlalu berlebihan, seperti: marah/ mengeluh, maka kita tidak akan bisa keluar dari situ dan akan menuju kepada kehancuran. Yakobus mengajarkan kepada kita bahwa kita seharusnya bersukacita ketika kita jatuh ke dalam pencobaan.

Pada saat setan menjatuhkan kita ke dalam pencobaan, pada saat itu pula Tuhan sedang menguji ketahanan kita supaya kita bisa keluar sebagai pemenang. Tujuan dari ujian adalah bagaimana kita bisa lolos/ lulus dari ujian. Apa yang Tuhan inginkan untuk kita lulus? Seseorang bisa lulus jika bisa menyelesaikan semua tantangan, disebut sebagai ketekunan. Iman kitalah yang diuji.

Ketika kita masuk ke dalam kehidupan praktis setiap pribadi dan menghadapi berbagai pencobaan maka hal itu bukanlah urusan praktika melainkan menyangkut problema iman. Dalam situasi seperti itu, bisakah kita bertahan dalam iman kita? Iman inilah yang menjadi kunci penentu sukses tidaknya hidup kita. Orang yang memiliki ketekunan iman akan dapat bertahan hidup, dan sebaliknya orang yang tidak memiliki ketekunan iman akan rontok/ gugur dan kemudian dibuang Tuhan. Semakin beriman seseorang maka hidupnya akan semakin susah, karena ujian imannya juga akan semakin besar. Orang yang hidupnya tidak pernah mengalami ujian/ masalah adalah tidak layak hidup dan menunjukkan bahwa dia tidak beriman. Ajaran sesat yang muncul dalam kekristenan justru mengajarkan bahwa kalau kita beriman maka kita tidak akan menjumpai masalah. Semua ujian/ penderitaan/ masalah yang kita alami akan membentuk buah yang matang. Iman yang sejati menuntut kualitas tertentu, dan kualitas yang paling dituntut adalah ketekunan (bahasa Inggris: endurance). Ketekunan iman inilah yang harus kita kejar dalam hidup kita.

Semua barang bermutu harus melewati ujian dimana semakin tinggi mutunya semakin sulit pula ujiannya. Untuk membentuk kualitas yang baik memerlukan waktu dan tidak bisa hanya sesaat. Seorang olahragawan harus terus berlatih supaya memiliki fisik yang kuat. Lalu bagaimana dengan kerohanian? Banyak orang Kristen mau punya kerohanian yang kuat tapi tidak mau dilatih, tidak mau mengalami ujian. Ketika Tuhan membiarkan iblis menggoda/ menampi kita, Tuhan mau melihat sampai di mana ketekunan kita di tengah-tengah ujian tersebut. Kita harus bisa melewati ujian karena ujian tidak pernah melewati kekuatan kita. Setiap lulus satu tingkat maka orang harus naik ke tingkat yang lebih tinggi. Ayah saya mengajar saya untuk tidak menangisi setiap kesulitan tetapi harus melewatinya. Setiap orang Kristen dituntut untuk berjuang ketika menghadapi kesulitan sehingga bisa “naik kelas”. Orang yang tidak pernah ujian seharusnya malu karena berarti dia tidak pernah sekolah. Orang yang menjalani ujian seharusnya bangga karena ujian itulah yang akan menunjukkan kualitas dia. Socrates mengatakan bahwa hidup yang tidak teruji tidaklah layak untuk dihidupi. Karena itu, anggaplah sebagai sukacita ketika kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan.

Dalam 300 tahun pertama kekristenan, orang Kristen dibiarkan Tuhan untuk mengalami aniaya yang luar biasa, orang yang beriman justru mengalami aniaya. Orang Kristen yang tetap bertahan dalam imannya walaupun berada di bawah ancaman adalah orang yang mempunyai ketekunan iman dan kelihatan kualitas imannya. Orang yang mempunyai iman yang sejati bukanlah berarti tidak mempunyai kesulitan, tetapi memiliki kekuatan untuk melewati semua kesulitan. Ketekunan dalam nats hari ini berasal dari bahasa asli: hupomone, yang berarti: tetap berada di bawah. Jadi arti hurufiah dari ketekunan adalah orang yang hidupnya terus ditekan tetapi dia bertahan dalam tekanan itu sampai dia dapat melewatinya. Orang yang bertekun dalam iman, ketika imannya dijepit sedemikian kuat sekalipun, iman tersebut tidaklah hilang. Orang yang bertekun dalam iman akan menunjukkan kualitas asli dari imannya.

Tuhan lebih menekankan aspek kualitas daripada kuantitas, termasuk hal iman. Kuantitas yang besar seharusnya disertai dengan derajat kualitatif yang besar pula. Kualitas iman sejati haruslah sesuai dengan derajat yang Tuhan tentukan. Iman sejati diperoleh dengan ketekunan dan membuat orang Kristen menjadi kuat imannya di hadapan seluruh permasalahan dalam hidupnya. Inilah yang Tuhan inginkan. Ketekunan iman merupakan kunci pertama dalam menjalani hidup Kristen.

Alkitab mencatat: biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang. Kalimat ini merupakan metafora. Pohon yang berbuah belumlah tentu buahnya bisa menjadi matang karena ada kemungkinan gugur/ kena hama sebelum matang. Untuk sampai tahap matang masih diperlukan proses. Buah yang matang ini dalam bahasa aslinya berarti pekerjaan yang terselesaikan dengan genap. Jadi yang dimaksud adalah: ketekunan iman akan menghasilkan kegenapan kerja. Ketekunan kita haruslah terbukti sampai kita dapat menyelesaikan tugas kita/ melewati ujian. Memulai sesuatu tidaklah mudah tetapi adalah jauh lebih susah untuk mempertahankan dan menyelesaikan sesuatu. Ketekunan bukan hanya dimulai tapi juga harus dapat dipertahankan dan diselesaikan.  

Orang Kristen yang tidak punya ketekunan pasti jebol ketika hidup di tengah dunia ini. Dia gagal untuk mengerti iman praktis. Iman praktis adalah iman yang tekun. Urusan iman adalah urusan Tuhan dan memakai cara Tuhan, bukan dengan cara dunia. Ibarat seorang pelari marathon yang pandai berlari tapi ambruk sebelum mencapai garis akhir, dia memang pandai berlari tapi dia tidak dapat menyelesaikan pertandingan itu. Kehidupan Kristen bukanlah permulaan yang hebat, perjalanan yang luar biasa, tapi juga harus dapat selesai sampai garis akhir. Sampai mana ketekunan kita bisa membawa kita menyelesaikan tugas kita/ sampai lulus?

Pdt. Stephen Tong begitu dipakai Tuhan karena sejak kecil dia sudah diperas habis oleh Tuhan, demikian juga dengan Musa dan Daud. Ketekunan merupakan tuntutan yang luar biasa. Daud ditahbiskan menjadi raja pada umur 17 tahun tetapi 23 tahun kemudian baru bisa bertahta. Selama 23 tahun itu dia dianiaya habis-habisan. Itulah ketekunan yang membuat dia bisa dipakai oleh Tuhan dengan luar biasa. Kita harus berjuang sampai tuntas. Apa itu tuntas?

Alkitab mengajarkan untuk melakukan segala sesuatu secara sempurna. Kitab Yakobus sebenarnya menuliskan etika yang diajarkan oleh Tuhan Yesus yaitu etika Kerajaan Surga. Konsep sempurna di sini adalah sempurna secara turunan, sempurna di dalam bagian kita pribadi, bukan sempurna ilahi. Sempurna dari sisi manusia mencakup: sempurna, utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

Sempurna berarti genap, semuanya dapat diselesaikan. Ibarat dalam ujian dengan 100 soal, semua soal itu dikerjakan dan selesai. Kalau hanya mengerjakan 90 soal, orang dapat lulus tapi tidak genap/ tuntas. Orang yang komprehensif dalam pemikirannya selalu akan menyelesaikan semuanya sampai tuntas, dan orang demikian inilah yang akan sukses. Kualitas inilah yang dituntut oleh Tuhan. Bukan hanya kualitas pekerjaan tapi iman kita juga menuntut semua pekerjaan itu terselesaikan. Itulah kegenapan penugasan iman. Ketekunan yang dituntut bukan sekedar pekerjaan tetapi ketekunan iman yang membuat kita menyelesaikan satu per satu pekerjaan kita. Seberapa iman kita melampaui semua pekerjaan kita sehingga iman kitapun mencapai ketuntasannya?  

Utuh yang dimaksudkan adalah seluruh keutuhannya. Tuhan mau kita menyelesaikan tugas kita dalam seluruh bagiannya/ aspeknya. Kalau kita diberi 5 talenta maka kita harus menyelesaikan kelima-limanya. Seringkali kita membatasi hanya yang kita sukai saja. Seringkali yang dikerjakan oleh Tuhan adalah sesuatu yang tidak kita sukai tapi Tuhan perintahkan. Kita harus berusaha menyukai apa yang Tuhan sukai dan perintahkan. Kita harus selalu siap dipimpin oleh Roh Kudus untuk masuk ke dalam 1 bidang, lalu mempelajari, menyukai dan menjalankan bidang itu sampai tuntas. Hal ini bukanlah mudah tapi merupakan tekanan yang luar biasa, sehingga bagi orang yang mau dipakai Tuhan haruslah memiliki ketekunan iman. Setiap kita haruslah bertanya kepada Tuhan seberapa banyak talenta yang Tuhan berikan kepada kita, yang harus kita kerjakan sampai tuntas.

Tak kekurangan suatu apa pun maksudnya tidak menyisakan celah sedikitpun, berarti apapun yang kita kerjakan tidak kurang apapun, dalam bahasa Jawa: menthok. Kekristenan selalu menuntut kesempurnaan dalam aspek ini. Menthok berarti mempunyai kapasitas maksimum di bidang dan tempat/ levelnya. Membandingkan sesuatu haruslah yang setara/ selevel, misalnya: kue lemper harga Rp. 1500,- dibandingkan dengan kue lemper harga Rp. 1500,- juga. Ketika membuat kue lemper seharga Rp. 1500,-, apakah sudah menthok di level itu sehingga tidak bisa disaingi lagi? Jadi kita harus mengerjakan talenta yang Tuhan berikan sampai menthok, sampai kualitasnya tidak ada celah/ kualitas tertinggi.

Mari kita terus mengusahakan ketekunan iman kita membuahkan buah yang matang/ hasil kerja yang sempurna. Itulah yang nantinya akan kita persembahkan kepada Tuhan.   

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)