Ringkasan Khotbah : 05 Mei 2013

Sukacita dalam Pencobaan

NatsYakobus 1:2-4

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kitab Yakobus semula ditolak oleh Martin Luther dan dijulukinya sebagai surat jerami karena tidak sesuai dengan idenya bahwa iman Kristen adalah iman yang konseptual, berdiri didasarkan pada iman, dengan prinsip pembenaran hanya oleh iman saja. Surat Yakobus seolah-olah menolak ide di atas dan hanya menekankan aspek praktika, seolah-olah menekankan pembenaran oleh perbuatan.

Pembahasan yang lalu sudah mengkoreksi pandangan di atas. Dari Yakobus 1:1 kita dapat melihat bahwa Yakobus menginginkan kita untuk menerapkan iman Kristen yang konseptual secara tajam; konsep theologis tetaplah menjadi bangunan utamanya.  Pengertian tentang pembenaran hanya oleh iman saja bukanlah tidak ada dalam kitab Yakobus melainkan diungkapkan secara implisit di dalamnya. Seluruh konsep praktika dalam kitab Yakobus adalah berbeda sama sekali dengan konsep pikir manusia pada umumnya. Beberapa penafsir mengatakan bahwa kalau orang-orang mau mengeksposisi kitab Yakobus secara teliti maka mereka haruslah terlebih dahulu membongkar konsep praktika dunia dalam pikiran mereka. Kitab ini jarang dieksposisi secara penuh melainkan diambil secara parsial karena banyak ayat dalam kitab ini yang dapat dimanipulasi. Banyak orang ingin menikmati konsep praktika dalam kitab ini tanpa membongkar pikiran mereka sehingga akhirnya mereka akan terjepit ketika beberapa ayat konflik satu dengan yang lain.

Mulai dari Yakobus 1:1 Yakobus mau menunjukkan bahwa kehidupan praktis orang Kristen bukanlah dimulai oleh manusia, bukanlah merupakan kemauan/ inisiasi/ ambisi/ pikiran manusia, melainkan harus dimulai dengan sikap seorang hamba. Jiwa seorang budak yang taat mutlak dan tanpa hak sedikitpun adalah merupakan prinsip dasar dari theologi Kristen. Kalau tidak bisa dimulai dari jiwa budak ini maka kita akan mengalami konflik mulai dari Yakobus 1:2 dan seterusnya.

Jika kita membaca Yakobus 1:2-4, kita akan melihat pemaparan dari hal-hal yang praktis tetapi berlawanan dengan konsep dunia. Setiap orang yang hidup di dunia ini selalu mempunyai konsep hidup yang hedonis humanis, yaitu tidak ingin menemui masalah/ penderitaan/ hinaan. Manusia benci dengan semuanya itu sehingga muncullah sikap sungut-sungut maupun kemarahan yang amat sangat ketika manusia harus mengalami penderitaan. Orang Kristen yang terkena konsep hedonis humanis juga mempunyai sikap yang sama, dan celakanya mereka memakai Tuhan untuk mendapatkan hidup yang nyaman dan tidak mengalami celaka. Kalau mereka mengalami penderitaan/ celaka maka mereka akan marah kepada Tuhan.   

Adalah tidak wajar/ tidak seharusnya seorang manusia marah kepada Tuhan karena semua penderitaan/ celaka itulah yang sewajarnya ada di dunia yang berdosa ini. Kalimat praktis dalam Yakobus 1:2 ini merupakan kalimat praktis yang theologis, yang tidak setuju dengan konsep hedonis humanis. Ayat ini mengajarkan kita untuk menganggap sebagai sukacita apabila kita jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. Secara konsep dunia, bagaimana mungkin ketika kita sedang kesusahan kita dapat bersukacita. Tapi apa yang Alkitab nyatakan adalah benar karena itulah realita yang sesungguhnya. Memang tidak mudah kalau kita mau berpraktis ria menurut Alkitab tapi tidak mau membongkar pikiran kita. Adalah sulit untuk menjadi Kristen sejati tanpa membongkar konsep pikir.

Cara hedonis justru merupakan cara yang konyol karena manusia ingin hidup bahagia di dunia tanpa adanya masalah/ penderitaan/ ketidakadilan yang memang ada di dunia ini. Di sinilah terlihat bahwa cara hedonis ini tidaklah realistis. Di tengah kondisi udara yang panas dan berdebu seperti sekarang ini, adalah realistis jika kita keluar rumah lalu menjadi sakit atau mengalami alergi. Ketika kita keluar rumah mengendarai mobil, adalah realistis jika mobil kita terserempet atau menjadi penyok. Justru adalah tidak realistis jika kita keluar rumah tetapi tidak mau semuanya itu terjadi. Konsep hedonis di dunia ini merupakan perlawanan terhadap realita. Hal inilah yang ditanamkan oleh kaum pemikir positif. Mereka menyatakan bahwa realita negatif akan muncul jika kita memikirkan hal yang negatif, maka kita harus selalu berpikir positif agar tidak mengalami realita negatif. Alkitab menyatakan bahwa realita dunia ini memang negatif. Menyangkali realita negatif berarti menyangkali realita sejarah manusia yang disebut sebagai kejatuhan. Fakta dosa inilah yang menyebabkan adanya penyakit/ penderitaan/ kejahatan/ kebencian/ kerusakan pikiran.

Di abad ke-21 ini muncul keyakinan yang berdampak kultis, yaitu keyakinan yang didukung oleh sesuatu yang bersifat satanik. Orang Kristen pun dapat memiliki keyakinan kultis ini. Orang yang memiliki keyakinan ini sangat sulit untuk diajak berunding, sangat sulit untuk dapat melihat fakta yang sesungguhnya. Sifat kultis ini akan menimbulkan kebencian ataupun penolakan. Keyakinan ini dipercaya muncul setelah adanya pembelajaran. Hal ini tidaklah benar karena keyakinan muncul sebelum adanya pembelajaran/ pembicaraan/ diskusi. Keyakinan itulah yang menentukan apa yang akan kita pelajari/ dengar. Seseorang yang mempunyai keyakinan akan bersifat tertutup sehingga terjepit dan tidak bisa lagi diajak berdiskusi. Semua keyakinan bersifat agama, misalnya: agama sains, agama ekologi, agama sosial, dll. Tugas kekristenan adalah membongkar hal ini. Hal ini adalah pekerjaan yang sulit kecuali jika Roh Kudus bekerja. 

Tuhan Yesus berkata: Barangsiapa mau mengikut Aku haruslah menyangkal diri, pikul salib dan mengikut Aku. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyangkal diri, artinya: berani berkata tidak terhadap diri. Orang yang punya keyakinan haruslah berani berkata tidak terhadap keyakinannya, walaupun hal ini berarti bunuh diri, karena inilah yang disebut sebagai penghancuran diri. Orang yang hatinya hancur barulah bisa dipakai oleh Tuhan.  Menyangkal diri juga berarti menyangkal ambisi diri. Hal ini tidaklah mudah, apalagi dunia terus mendorong manusia untuk berambisi supaya bisa sukses, mendorong manusia untuk mengaktualisasi diri. Kristen kultis pikirannya juga tertutup oleh ambisi sehingga sangat sulit diajak berdiskusi mencari kebenaran.

Iman Kristen praktis dimulai dengan bongkar otak, karena perilaku praktis merupakan produksi dari pola pikir. Kalau pola pikir tidak dibongkar maka akan terus mengalami konflik, di satu sisi kita diajar untuk menyangkal diri tapi di sisi lain diajar untuk memiliki ambisi, di satu sisi diajar untuk berkata tidak terhadap diri tapi di sisi lain diajar untuk menggemakan bahwa kita bisa. Seorang Kristen sejati haruslah mempunyai hati seorang hamba/ budak, dimana inisiasi adalah dari Sang Tuan dan tujuan akhirnya untuk Sang Tuan. Bukanlah kita mau menjadi apa tetapi haruslah apa yang Tuhan ingin untuk kita menjadi. Orang yang tidak mau menyangkal diri berarti melawan Tuhan Yesus dan bukanlah pengikut Tuhan Yesus.

Setelah menyangkal diri, Alkitab memerintahkan untuk kita melihat realita, maka kita haruslah mau memikul salib, artinya: rela menanggung semua penderitaan, rela mengerti semua realita. Janganlah kita berpikir anti realita karena kita akan tidak bisa hidup secara riil, tidak bisa bersikap secara riil, tidak bisa berespon secara riil. Kita tidaklah bisa hidup di tengah dunia yang imun/ bersih dari semua kejahatan/ tidak ada penyakit.

Pencobaan dilakukan oleh setan terhadap diri kita dengan tujuan untuk menjatuhkan kita, dengan segala upaya yang penuh intrik/ permainan. Setan menggoda kita dengan godaan-godaan yang manis supaya kita jatuh. Ketika kita dimasukkan ke dalam pencobaan, kita tidak bisa lari ataupun keluar darinya, karena ini sesuai dengan keinginan Bapa di Surga. Bapa di Surga tidak mengeluarkan kita dari pencobaan itu karena Tuhan Yesus memintanya. Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa-Nya demikian: Bapa, mereka adalah milik-Mu, milik-Mu adalah milik-Ku, mereka bukan milik dunia ini, tapi Aku tidak meminta Engkau mengangkat mereka dari dunia ini, sama seperti Engkau mengutus Aku, kini Aku mengutus mereka ke tengah dunia, tetapi kuatkan mereka ya Bapa, pimpin mereka di dalam Firman karena Firman itulah adalah kebenaran.

Orang Kristen diletakkan di tengah dunia berdosa tanpa perlu ikut berdosa, bukan orang yang menyendiri dan hidup dalam mimpi. Orang Kristen harus menghadapi pencobaan tapi tidak jatuh. Pencobaan tersebut dipakai oleh Tuhan sebagai ujian bagi anak-Nya. Tuhan mau kita menunjukkan kualitas kita ketika berada dalam pencobaan. Makin berat pencobaan, berarti makin berat ujian. Makin berat pencobaan berarti menuntut enduransi yang semakin besar. Orang yang menghadapi tantangan yang besar berarti Tuhan tahu bahwa dia mempunyai iman yang cukup besar. Tuhan tidak pernah memberikan ujian melebihi kapasitas iman kita. Makin besar iman kita maka makin besar pula ujian yang harus kita hadapi, dan Tuhan bukanlah ingin kita jatuh melainkan ingin kita dapat melewatinya/ lulus ujian tersebut. Inilah kekristenan yang praktikal. Kristen praktis tidaklah sama dengan praktika dunia.

Di dalam setiap ujian, yang dibicarakan bukanlah kuantitatif melainkan kualitatif. Untuk menguji ketahanan mobil, mobil tersebut diletakkan di jalanan yang rusak, berlumpur, dan dilewatkan selama mungkin sampai seberapa mobil tersebut dapat bertahan. Ketika mobil tersebut dapat melewati ujian tersebut, itulah yang disebut dengan ketekunan. Tuhan ingin kita dapat keluar dari pencobaan sebagai pemenang. Kelulusan seseorang dari sebuah sekolah masih perlu dilihat kualitas sekolahnya karena akan menentukan juga kualitas kelulusannya.

Orang dunia ingin segala sesuatu bersifat gampang, tanpa kesulitan. Sebuah kisah riil kehidupan seorang ayah dan anak yang kaya, si ayah yang semula hidup dalam kemiskinan memiliki hidup yang teruji/ sudah lulus tes ketekunan, sedangkan anaknya yang tidak pernah hidup susah sejak dari kecil justru hidupnya menjadi rusak karena dia tidak pernah lulus ujian. Orang yang hidup hanya mau yang nyaman justru berakhir pada kehancuran diri. Ujian spiritualitas akan membentuk ketekunan.

Orang yang hidupnya jorok di tengah lingkungan yang jorok justru akan tahan hidup karena dia akan memiliki antibodi yang cukup, sedangkan orang yang hidup imun di tengah lingkungan yang jorok justru tidak akan dapat bertahan hidup karena tubuhnya tidak memiliki daya tahan. Yang kita butuhkan adalah kekuatan melawan yang berasal dari dalam tubuh kita sendiri bukannya dari luar tubuh. Untuk menjadi kuat tidak mungkin bisa dicapai dalam waktu singkat melainkan secara bertahap dengan ketekunan. Seberapa kita mempunyai kekuatan iman, yang akan menentukan kita ke surga atau neraka? Iman kita bukanlah iman di awang-awang melainkan iman yang riil. Banyak orang Kristen yang bertahan dalam iman ketika hidupnya nyaman, tetapi tidak tahan ketika menghadapi penderitaan. Seharusnya, orang Kristen harus kuat bertahan, semakin mencintai Tuhan, dan bersukacita ketika menghadapi berbagai pencobaan.

Kapan kita bisa bersukacita ketika menghadapi penderitaan/ pencobaan? Tuhan membiarkan semuanya itu terjadi supaya terbukti ketahanan kita. Tuhan menginginkan kita lulus ujian, dan hasil akhirnya adalah kesempurnaan, utuh dan tak berkekurangan apapun. Hal ini tidak bisa muncul sesaat tetapi butuh ketekunan. Barangsiapa taat kepada Tuhan akan mendapatkan penyertaan Tuhan.

Seberapa kita bertobat dari iman yang palsu? Seberapa kita mau merombak pola pikir kita yang berdosa supaya kita bisa menjadi anak Tuhan yang sungguh-sungguh, yang mencintai Tuhan, yang mau mengikut jalan salib?

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)