Ringkasan Khotbah : 28 April 2013

Kegelapan dalam Perjalanan Iman

Nats:  Yesaya 26:9, Yohanes 17:15-17

Pengkhotbah :  Pdt. Thomy J. Matakupan

 

Yesaya 26:9 tertulis: Dengan segenap jiwa aku merindukan Engkau pada waktu malam, juga dengan sepenuh hati aku mencari Engkau pada waktu pagi; … Kalimat di atas ditulis dalam konteks hidup Yesaya dimana bangsa Israel sudah meninggalkan Tuhan sehingga Tuhan menyatakan bahwa bangsa ini akan dibuang sebagai hukuman dari Tuhan. Berita seperti ini tentu saja tidaklah populer di telinga, tetapi Yesaya tetap harus berdiri dengan kesetiaan penuh untuk melayani Tuhan dan tentu saja dengan resiko harus menghadapi penolakan demi penolakan. Kondisi demikian inilah yang disebutnya sebagai “malam” dalam catatannya. Yesaya berada dalam situasi dimana dia harus menyerukan pertobatan bagi bangsa Israel tetapi di sisi lain Tuhan tetap akan membuang bangsa ini. Seruan untuk bertobat sepertinya hanya merupakan harapan kosong karena bagaimanapun Tuhan akan membuang bangsa ini.

Kota Yerusalem/ kota Allah ini sudah menjadi kota yang tidak nyaman lagi, kota yang sudah tidak layak untuk dihidupi karena Tuhan sudah tidak ada di dalam kota tersebut. Kota Allah adalah kota yang diharapkan penuh dengan kehadiran Allah, dimana orang Kristen akan menikmati keberadaan Allah di sana, sehingga dunia yang sudah tidak nyaman ini menjadi dunia yang ingin terus ditinggali oleh karena keberadaan Allah. Itulah bayangan dari Bapa Gereja Augustinus antara kota dunia dengan kota Allah. Kota ini justru membawa orang Kristen untuk mengeluh karena kota ini diharapkan dapat membawa manusia kepada kebenaran tetapi justru dalam faktanya kota ini menjauhkan orang Kristen dari kebenaran. Orang Kristen hidup dalam tarikan antara pikiran bahwa Tuhan tidak pernah bersalah dengan pikiran bahwa apakah Tuhan tidak salah dalam memperlakukan kita.

Merindukan Tuhan sama seperti merindukan surga. Surga adalah janji yang Tuhan berikan bagi setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Kapankah surga atau kota Allah itu datang? Sebelum kita melihat surga/ kota Allah itu, kita akan mengeluh karena melihat sistim keberdosaan yang ada di tengah-tengah hidup kita, yang selalu menarik kita untuk menjauh dari Allah dan mempertanyakan keberadaan Allah serta mempertanyakan apakah kita masih tetap bisa percaya kepada-Nya.

Yesaya menulis bahwa dia tetap merindukan dan mencari Tuhan di tengah-tengah kondisi bangsa yang kepadanya Tuhan sudah menunjukkan murka-Nya. Di sini kita akan membahas tentang iman dan kerinduan akan Allah. Bagaimanakah kita mengetahui iman dan kerinduan akan Allah dalam kehidupan kita? Untuk itu saya akan mengajak kita melihat 3 bagian besar, yaitu:

1)     Hidup Kristen memiliki terang dan gelap/ pagi dan malam.

Setelah sekian lama bahtera Nuh terombang-ambing di tengah laut, di tengah-tengah ketidakpastian akan kapankah bahtera ini akan berhenti dari keterombang-ambingannya, maka Nuh tetap ada di sana sampai Tuhan mendaratkan bahtera itu di sebuah puncak gunung. Tuhan memunculkan pelangi yang indah menggantikan kondisi yang kelam ketika badai berlangsung. Habis gelap tampaklah pelangi, sebagai janji Tuhan yang teguh. Demikan juga halnya dengan iman, dimana orang Kristen juga tidak tahu kapan bahteranya akan berhenti, sementara awan kelabu tetap meliputi dan ketakutan tetap menyelimuti, kegelapan masih ada di dalamnya. Orang Kristen mengalami kegelapan karena Tuhan sedang melatih mereka supaya menemukan iman yang lebih matang.

Seorang anak diberitahu oleh orang tuanya bahwa dia tidak akan selalu bersama-sama dengan orang tuanya, orang tuanya suatu hari nanti akan meninggalkan dia. Anak itu menjadi sedih, tetapi hal ini harus tetap diberitahukan oleh orang tua karena anak harus dipersiapkan untuk menghadapi situasi itu. Sebagai orang Kristen kita seringkali mempertanyakan tentang bagaimana kita tahu akan keberadaan Allah di dalam sebuah bukti. Bukti itu perlu ada karena dapat menguatkan iman kita. Hal ini kita perlukan hanya pada awalnya, lama kelamaan sebuah pergumulan iman tidaklah memerlukan bukti, tetapi diperhadapkan pada benar atau tidaknya iman tersebut. Iman tidaklah memerlukan bukti walaupun salah satu bagian dari perjalanan iman memerlukan bukti. Tanpa bukti sekalipun orang Kristen lama kelamaan akan tahu bahwa kebenaran/ Allah itu ada di sana dan tidak diam. Kebenaran itu akan memberikan penghiburan bagi orang-orang percaya. Tuhan memberikan kegelapan malam untuk melatih kita supaya percaya bukan dari bukti. Kebenaran adalah sebuah kebenaran tentang adanya Tuhan yang tidak pernah berubah.

Kegelapan malam itu tiba ketika kita mengatakan bahwa kita tahu sebuah kebenaran, tetapi kita mempertanyakan kebenaran itu, ketika manusia mengalami kegamangan di tengah kecukupan hidupnya, ketika manusia mengalami kesepian di tengah-tengah situasi yang penuh dengan kegembiraan, ketika manusia mengalami ketakutan/ kegelisahan di tengah-tengah janji yang seharusnya dia pegang, di saat seseorang sedang jenuh dan mulai berpikir untuk kembali kepada Tuhan. Sebenarnya kita tidak berhak berkata bahwa kita jenuh dan mau pulang saja karena itu adalah kegelapan jiwa. Kehadiran Tuhan akan melipatgandakan sukacita dan kita akan mempunyai banyak sekali alasan untuk terus mempunyai semangat untuk maju. Pada saat seseorang mulai tidak dapat melihat kebenaran Firman dan mengadopsi kebenaran yang lain, pada waktu iman Kristen mulai dicampurkan dengan iman non-Kristen, pada waktu kebenaran iman Kristen dianggap sebagai salah satu kebenaran, pada waktu orang Kristen mulai kehilangan pandangannya akan wajah Allah, maka momen itu adalah kegelapan jiwa.

Tuhan membiarkan kondisi di atas dialami oleh orang percaya, seperti Tuhan Yesus dalam Yohanes 17:15 mengatakan: Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Jadi pada waktu mengalami kegelapan malam, orang Kristen haruslah bergumul untuk mengetahui bagaimana Tuhan melindungi dirinya dalam kondisi itu, mencari tangan Tuhan di tengah-tengah kesusahan yang sedang dihadapi. Mengapa kita tidak melatih diri untuk tetap mau percaya kepada Tuhan walaupun tidak melihat bukti?  Kita tidak tahu kapan waktu Tuhan menggenapi janji-Nya, tetapi yang kita tahu adalah Dia tidak pernah salah dan yang dikatakan-Nya adalah sebuah kebenaran, dan kita adalah dalam tangan pemeliharaan-Nya. Semua kegelapan itu Tuhan izinkan supaya pada akhirnya kita dapat berkata bahwa ternyata semuanya ini benar.

Kalau kita mencari Kristus sebagai Raja yang akan memberikan perlindungan, kenyamanan, dan pemeliharaan, maka semuanya itu barulah separuh dari kebenaran, dan kita haruslah menemukan Dia di waktu malam pergumulan iman kita. Malam itu haruslah ada dalam hidup perjalanan iman kita.  

2)     Menemukan keindahan dalam kegelapan malam.

Malam selalu dikonotasikan sebagai hal yang menakutkan, tetapi tidak ada keindahan bulan dan bintang yang dapat kita jumpai di waktu siang hari. Pada waktu iman Kristen menghadapi kondisi malam, ketika kita mulai curiga apakah kita beriman atau tidak, maka ada keindahan dalam pergumulan itu. Keindahan itu muncul karena seseorang menemukan Tuhan di dalam pergumulan imannya. Dalam kegelapan malam Yesaya mengatakan bahwa dia dengan segenap hati merindukan Engkau, berarti dia berada dalam kondisi tidak rela dan tidak mau dikalahkan, Inilah keindahan dari semangat kekristenan, dan itulah anugerah yang Tuhan karuniakan. Di sinilah kita baru tahu apa yang dinamakan merindukan kekuatan dari Tuhan. Keindahan iman Kristen dijumpai dari pengakuan di awal bahwa kita lemah dan tidak bisa menang. Ada banyak hal dalam pergumulan iman Kristen yang tidak boleh kita pertanyakan lagi. Kalau kita masih mempertanyakannya berarti iman kita masih kecil. Yang tidak boleh kita tanyakan lagi adalah Tuhan ada atau tidak dan yang perlu ditanyakan adalah mengapa aku tidak bisa melihat Engkau yang ada, Jangan bertanya apakah Dia akan menolong atau tidak, tetapi bertanyalah bagaimana aku bisa menerima segala bentuk pertolongan-Nya termasuk ketika Dia membiarkan dalam rangka melatih.

Kita menjadi tidak beriman ketika kita tahu yang benar tetapi berusaha untuk mengubahnya dan tergoda untuk melakukan yang tidak benar. Keindahan dari kegelapan malam terletak pada kata-kata: segenap hati aku merindukan Engkau. Keindahan itu terletak pada kondisi menemukan tarikan/ pergumulan untuk menjadi tidak percaya tetapi aku tidak rela untuk melepaskan percayaku. Itulah keindahan yang membuat kita menemukan Tuhan. Itulah tempat kudus Allah di dalam hidup kita, Dia hidup di dalam hidup kita.

Pertolongan Tuhan dalam hal ini adalah Tuhan masih membangkitkan keinginan jiwa untuk merindukan Dia. Dengan kata lain: Tuhan pegang jiwa dan hati kita, Dia tidak melepaskannya. Yesaya punya 1001 alasan untuk meninggalkan pelayanan, tetapi Tuhan masih membangkitkan kerinduan untuk mencari Dia dalam diri Yesaya; itulah keindahan dalam kegelapan malam. Kehidupan Kristen akan menjadi pincang jikalau lebih banyak memikirkan aspek terang dan hidup daripada aspek kematian dan gelap.

3)     Apa yang diperlukan orang Kristen ketika kegelapan malam itu tiba.

Tuhan akan memimpin orang Kristen kepada keinginan yang sejati. Iman tidak boleh menjadi pincang, tidak boleh sekehendak hati. Keinginan yang diucapkan kepada Allah akan bernilai ketika diucapkan dalam kesulitan. Kerinduan sejati adalah ibarat harapan seorang pelaut di tengah badai yang menantikan datangnya pagi. Di sinilah ukuran kecintaan kita kepada Tuhan, ukuran penghiburan yang kita minta dari Tuhan. Bagaimana secara faktual kita menemukan topangan Tuhan dalam kerinduan kita, bagaimana kita sekarang berdiri di atas iman walaupun belum melihat adanya perubahan maupun bukti? Caranya adalah: sampai sekarang kita masih tetap berdiri. Itulah bukti bahwa kita sudah bertemu dengan Dia.

Ketika setan berusaha menjatuhkan dan keadaan sudah porak poranda, kita masih tetap berdiri, itulah bukti bahwa Tuhan sudah memuaskan hasrat kita yang merindukan/ mencari Dia. Inilah yang disebut dengan: Roh Kudus membangkitkan jiwa yang lemah. Inilah anugerah Tuhan dalam hidup orang percaya. Orang yang sungguh-sungguh mencari Dia dalam kondisi gelap akan melihat Tuhan, dan menemukan bahwa dirinya tetap berdiri. Sebenarnya kita seringkali menjumpai bahwa Dia hadir dalam hidup kita, tetapi kita seringkali menuntut lebih dari semuanya itu.

Dalam cerita anak yang hilang, pada mulanya si anak menganggap bahwa pemberian terbesar dari ayahnya adalah semua harta yang diberikan kepadanya, tetapi ayahnya mempunyai lebih dari sekedar harta itu yaitu cintanya. Si anak tidak mengira kalau ayahnya mau memeluk dia dalam keadaan compang-camping. Marilah kita menyortir semua keinginan kita karena keinginan yang terpenting adalah apakah kita mempunyai jiwa merindukan Dia dalam kegelapan malam lebih daripada waktu pagi.

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)