Ringkasan Khotbah : 21 April 2013

How to Imply Christian Mind

Nats:   Yakobus 1:1

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Dalam hidup kita, bagaimanakah kita memurnikan dan memiliki pola pikir Kristen? Kita akan bersama-sama memikirkan hal ini melalui Surat Yakobus. Surat Yakobus sempat oleh Martin Luther dianggap sebagai surat sampah karena di dalamnya sedikit sekali menyinggung pembenaran hanya oleh anugerah (yang merupakan topik utama dari Martin Luther), melainkan banyak menyinggung tentang pastoral. Tetapi lama kelamaan Martin Luther pun berubah pikiran. Apa yang dibicarakan dalam Surat Yakobus tidak lepas dari pola pikir Kristen.

Pola pikir Kristen yaitu sesuatu yang berpusat pada pola pikir/ akal budi yang sungguh-sungguh sudah dipimpin oleh Tuhan dan bagaimana mengimplikasikan akal budi itu dalam kehidupan. Kitab Yakobus banyak sekali berbicara tentang aspek pastoral dan kelakuan yang dimulai dengan membentuk pola pikir Kristen.

Kitab Yakobus secara jelas ditulis oleh Yakobus, sebagaimana dia nyatakan. Surat Yakobus ini ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang sudah menjadi Kristen, yang bertempat tinggal di perantauan (diaspora). Yakobus adalah salah satu orang penting di gereja awal. Dia adalah saudara kandung dari Tuhan Yesus. Dari sudut pandang manusia adalah tidak mudah bagi Yakobus untuk melihat kakaknya yang lain daripada manusia pada umumnya, yang merupakan orang istimewa. Bahkan pada satu peristiwa Tuhan Yesus mengatakan bahwa ibu dan saudara-Nya adalah orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku. Perkataan ini jika dilihat dari sudut pandang manusia sepertinya Tuhan Yesus tidak mengakui ibu dan saudara kandungnya, dan tentunya sangat menyakitkan hati Yakobus. Bukanlah hal yang mudah bagi Yakobus untuk bisa menerima Tuhan Yesus bukan sekedar sebagai kakaknya tetapi juga sebagai Allah yang berinkarnasi. Tidak mudah bagi Yakobus untuk menerima fakta bahwa kakaknya dikandung dari Roh Kudus dan tidak sama dengan dirinya. Tetapi Yakobus, demikian juga Maria, akhirnya bisa menerima hal ini, dan dipakai Tuhan dengan luar biasa.

Dalam kehidupan kita sebagai manusia, seringkali kita terjebak oleh kunci-kunci pikiran manusia, kita seringkali menggunakan format-format dunia dan memaksanya masuk ke dalam kekristenan. Hal ini tidak boleh terjadi karena dunia berpikir bahwa Tuhan itu tidak ada, sedangkan kekristenan berpikir bahwa Tuhan itu ada. Dengan adanya Tuhan maka membuat cara pikir yang berbeda sekali dengan cara pikir manusia. Kalau berada di luar Tuhan, maka Yakobus akan berpikir bahwa Tuhan Yesus adalah kakaknya dan sama dengan dia. 

Pernyataan Yakobus, yang mengakui bahwa dirinya adalah hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, adalah pernyataan yang tidak mudah dan menuntut adanya perubahan pola pikir. Yakobus harus berhenti berpikir secara dunia dan berubah menjadi berpikir secara Kristen. Hal inilah yang dituntut dalam Roma 12:2: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan akal budimu, … Menjadi orang Kristen bukanlah menjadi sibuk melakukan sesuatu dan menanyakan tentang boleh atau tidak melakukan suatu tindakan. Orang Kristen adalah orang yang hidup di bawah cara pikir Kristen, bukan di bawah Hukum Taurat. Cara pikir Kristen adalah cara pikir yang berpusat pada Kristus, bagaimana kehidupan itu dikontrol oleh cara pikir Kristus. Tidaklah mudah bagi orang terdekat dari Tuhan Yesus, dalam hal ini adiknya, untuk melihat Tuhan Yesus sebagai Tuhan, daripada orang luar seperti kita yang akan lebih mudah untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan.

Kalau Tuhan bekerja pada diri seseorang, kita tidaklah perlu iri hati terhadap orang itu. Kalau Tuhan bekerja pada diri kita, maka kita sebaiknya taat pada Tuhan. Kalau kita bisa berpikir seperti di atas maka kita tidak menyamakan semua manusia dengan konsep sosialisme komunis yang menginginkan segala sesuatunya sama. Tuhan bisa bekerja pada diri setiap orang secara berbeda, maka kita tidaklah perlu menyamakan semua orang. Kalau kita taat kepada Allah maka kita akan bisa melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Allah.

Orang Kristen yang merasa sulit untuk mengimplikasikan Firman Tuhan adalah disebabkan karena cara pikirnya yang tidak mau berubah. Orang seperti itu hanya memasukkan khotbah ke otaknya tetapi otaknya tidak bisa menerima, sehingga setiap kali hendak mengimplikasikan Firman terjadilah konflik dalam pikirannya. Kesulitan dari beberapa orang Reformed adalah mengubah pola pikirnya dalam melihat kedaulatan Allah. Cara kerja Allah yang berdaulat adalah cara-Nya dan bukanlah cara kita.

Sebagai contoh, manusia akan lebih menyukai Saul daripada Daud karena Saul tidaklah berbuat dosa secara manusia, sedangkan Daud berbuat skandal yang memalukan; tetapi Tuhan lebih menyukai Daud daripada Saul. Saul bertindak demi rakyatnya/ manusia dan tidak memikirkan Tuhan. Hati-hatilah, janganlah kita berusaha untuk bertindak memperkenan hati manusia dan tidak mempedulikan Allah. Contoh ini berulang kali diajarkan tetapi dalam prakteknya sangat sulit untuk kita lakukan karena pola pikir kita belumlah berubah.

Perubahan akal budi/ pola pikir merupakan unsur penting ketika menjadi seorang Kristen. Seberapa jauh kita berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mengubah pola pikir kita? Janganlah kita menjadi Kristen yang hanya sibuk dengan perbuatan Kristen ataupun pelayanan Kristen. Adalah bahaya jika hidup kita dikontrol oleh perilaku-perilaku Kristen semata, karena kita dapat menjadi sombong ketika dapat tampil rohani dan kita cenderung suka mengkritik orang lain. Ketika kita tidak mengubah pola pikir kita, maka kita akan menjadi terhilang.

Selain sebagai saudara Tuhan Yesus, Yakobus adalah juga seorang gembala umat/ pastor. Paulus menyebutnya sebagai salah satu soko guru/ pimpinan gereja. Sebagai seorang pastor dari orang-orang Yahudi di Yerusalem, ketika bertemu dengan orang-orang Kristen non Yahudi di Galatia dia mengharuskan penerapan sunat. Paulus tidak setuju dengan hal itu. Terjadilah “peperangan” pendapat sehingga dibawa ke dalam Sidang Yerusalem. Setelah Sidang Yerusalem, Yakobus mengalami perubahan pola pikir mengenai sunat. Sebagai seorang gembala, Yakobus bisa mengalami perubahan pola pikir adalah memerlukan kerohanian yang tinggi. Inilah semangat pastoral yang bisa menjadi teladan bagi kita. Sangatlah susah bagi seorang pendeta untuk mengakui kesalahannya karena dapat menjatuhkan kredibilitas dirinya. Sebetulnya, keberanian seorang pendeta mengakui kesalahannya adalah justru membuktikan kerendahan hatinya dan adanya semangat untuk mau belajar. Marilah kita belajar untuk menjadi orang-orang pastoral, yang tidak berpikir statik melainkan berpikir tentang dinamika yaitu bagaimana setiap hari bertumbuh semakin reformed. Salah satu rumus terpenting dalam Theologi Reformed adalah semper reformanda, artinya reformed selalu kembali di-reformed. Jadi seorang reformed haruslah berani untuk berubah semakin sesuai dengan kebenaran. Sebagai jemaat, janganlah pernah kita menuntut pendeta untuk tidak boleh berubah.

Theologi Reformed bersifat kaku dan tidak, artinya: kaku karena memiliki landasan yang absolut yaitu Alkitab, tidak kaku karena kita masih terus mau belajar dan bisa berubah. Orang yang bertobat sungguh-sungguh, di titik pertama dia mengalami perubahan yang drastis dari berpikir non Kristen menjadi berpikir Kristen. Sejauh mana sebagai orang Kristen kita belajar untuk berubah dan kembali kepada Firman? Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini maka perubahan itu wajib dilakukan. Pertumbuhan itu mengandung unsur dinamis yang menuntut adanya perubahan.

Bagi orang Yahudi, menanggalkan Taurat dan tradisi mereka berarti sama dengan menanggalkan identitas mereka, tidaklah mudah bagi mereka untuk menjadikan konsep Kristen mengatasi semua tradisi mereka. Yakobus melakukan perubahan itu.

Yakobus bukan sekedar saudara dari Tuhan Yesus, juga bukan sekedar seorang pastor, tetapi juga seorang hamba/ budak Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Sebagai seorang budak, dia belajar taat. Taat bukanlah hal yang mudah. Ada argumen yang menyatakan bahwa bagaimana bisa taat kalau tidak cocok. Kesalahan argumen ini adalah: kalau cocok tidaklah perlu taat. Taat adalah tidak cocok tapi mau menjalankan karena adanya ordo/ urutan. Seorang budak ketika diperintahkan apa saja oleh tuannya, suka atau tidak suka, dia harus menjalankannya. Seorang budak tidaklah mendapatkan gaji dan tidak mempunyai hak apapun karena dia sudah dibeli lunas.

Kita haruslah mempunyai pola pikir Kristen yang mengerti tentang ordo. Dunia memacu manusia sedemikian sehingga manusia mengagungkan status/ kedaulatan diri. Manusia akan berontak kalau kedaulatan dirinya diganggu, tetapi Tuhan akan membuang manusia yang demikian. Hal ini bisa kita lihat dari kisah dalam sejarah, seperti: Herodes yang mengagungkan dirinya justru dibuang oleh Tuhan. Orang yang semakin menjadi hamba justru dipilih Tuhan untuk menjadi pemimpin. Barangsiapa hendak menjadi tuan, dia harus menjadi hamba; barangsiapa hendak dilayani, dia haruslah melayani. Yakobus yang rela merendahkan diri sebagai hamba Allah justru diangkat oleh Tuhan menjadi soko guru jemaat. Pada zaman gereja awal belumlah ada Alkitab sebagai acuan, dan yang menjadi acuan adalah para rasul. Para rasul menulis surat untuk mengajar jemaat dan salah satunya adalah Surat Yakobus.   

Cara pikir Kristen berbeda dengan cara pikir dunia, maka implikasi hidup Kristen juga bukanlah ditata menurut cara pikir dunia. Kita haruslah kembali kepada prinsip kebenaran Firman Tuhan melalui pola pikir Kristen kita. Dengan format cara pikir Kristen, kita akan bisa melihat bahwa seluruh format yang dikemukakan dalam Surat Yakobus adalah bersifat vertikal.

Allah yang hidup selalu memelihara kita dalam kedaulatan-Nya yang penuh. Tidak ada orang yang bisa menghalangi Tuhan untuk membuang seseorang, demikian juga tidak ada orang yang bisa menghalangi Tuhan untuk meninggikan seseorang. Untuk mengerti semangat Reformed Injili, marilah kita belajar dari semangat Yakobus. Yakobus mengajar kita untuk mengubah pola pikir kita agar kita bisa mengimplikasikan Firman Tuhan dalam hidup kita.

Surat Yakobus ditulis untuk membimbing orang-orang Yahudi di perantauan karena posisi Yakobus ada di Yerusalem. Pada zaman itu surat yang diterima, kemudian disalin dan disebarkan. Tuhan mau memakai Surat Yakobus untuk disebarkan di seluruh Asia Kecil, di perantauan Kristen, karena Yakobus sebagai orang Yahudi asli dan saudara Tuhan Yesus adalah orang yang paling berhak mengajarkan tentang perubahan pola pikir Kristen karena dia sendiri telah mengalaminya. Yakobus dipakai Tuhan untuk menguatkan kaum diaspora karena pada waktu itu orang-orang Kristen di perantauan sedang mengalami penganiayaan. Mereka kesulitan untuk mengimplikasikan iman Kristen mereka di tengah-tengah pengaruh budaya Yahudi dan tempat tinggal mereka. Dengan adanya surat dari Yakobus ini, kaum diaspora merasa diperhatikan sehingga beroleh kekuatan.

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)