Ringkasan Khotbah : 07 April 2013

The Suffering Life: A Summary of Christian Life

Nats:   2Korintus 4:10-12 1

Pengkhotbah : Pdt. Warsoma Kanta

 

Sebuah artikel, yang ditulis oleh seorang peneliti kehidupan bergereja dan umatnya, menuliskan sebuah pendapat yang menarik yaitu: seringkali orang-orang Kristen begitu aktif dan tidak luput dari melaksanakan berbagai peringatan hari raya gerejawi, baik Natal, Jumat Agung, Paskah, Kenaikan Tuhan Yesus, Pentakosta, tetapi mengapa dalam kehidupan bergereja maupun kehidupan kita pribadi hal-hal seperti itu kurang begitu nampak dalam pertumbuhan rohani masing-masing pribadi. Dampak dari hari raya itu tidak nyata dalam pertumbuhan rohani umat Tuhan. Menurut penulis, salah satu penyebabnya adalah setiap orang Kristen terkadang terjerumus ke dalam jurang tradisi, mereka lupa mengkaitkan antara apa yang mereka lakukan dalam hari raya agama dengan kehidupan iman hari demi hari, sehingga hal ini menyebabkan setelah berpuluh-puluh tahun bahkan ratusan tahun gereja merayakan hari raya tetapi jemaatnya tidak terlalu banyak mengalami pertumbuhan rohani. Hal ini menjadi sebuah keprihatinan bagi saya ketika kita baru saja melewati perayaan Jumat Agung dan Paskah. Saya berharap hal ini tidak terjadi di gereja kita tetapi tulisan di atas membuat saya berpikir bahwa jangan-jangan kita juga terjebak dalam fenomena yang sama.

Sebetulnya yang menjadi kekhususan bagi setiap kita setelah memperingati Jumat Agung dan Paskah adalah pelajaran apa yang kita dapatkan dari perayaan tersebut yang memberikan sebuah dampak bagi kita maupun lingkungan dan  terlebih bagi Tuhan, apa yang kita dapatkan dari Firman Tuhan supaya kita bisa mengalami pertumbuhan rohani.

Lalu, apa yang harus kita lakukan setelah merayakan Jumat Agung dan Paskah? Nats hari ini menunjukkan kepada kita adanya sesuatu hal yang begitu penting dari Paulus yang perlu kita pelajari. Ayat ini begitu mempengaruhi Paulus dan sekaligus merupakan konfesi yang memimpin dia dalam hidupnya sampai kematiannya, setelah dia mengenal Tuhan dan menyaksikan kematian dan kebangkitan Tuhan. Walaupun dia tidak secara langsung menyaksikan tragedi kematian Kristus dan mujizat kebangkitan Kristus, tetapi hal ini begitu istimewa bagi Paulus yang memimpin dia dalam seluruh pelayanannya, bahkan seluruh hidup dan matinya. Ayat inilah yang membuat Paulus bisa berdiri tegak ketika menyaksikan tantangan demi tantangan di hadapannya, ketika dia menghadapi musuh-musuhnya, bahkan ketika menghadapi kematiannya. Dengan mempelajari ayat ini kita akan mengetahui esensi dari rahasia keberhasilan pelayanan Paulus. Paulus dikenal sebagai rasul yang hidup dalam penderitaan tetapi berhasil dalam kegemilangan yang cemerlang, seorang rasul yang penuh dengan tantangan tetapi dia boleh menyelesaikan sebuah pertandingan dengan baik.

Dalam nats hari ini kita melihat sesuatu yang aneh sekaligus istimewa, karena dikatakan bahwa kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami. Bagaimana caranya Paulus membawa kematian Yesus? Apa yang dimaksudkan dengan kalimat yang abstrak ini? Kata kematian dalam bahasa asli Alkitab (bahasa Yunani) ada 2 macam yaitu: tanatos (bahasa Inggris: death, artinya: kematian), nekrosis (bahasa Inggris: dying, artinya: sebuah proses yang menggiring menuju kematian). Yang dipakai dalam nats hari ini adalah nekrosis. Berarti bukan hanya fakta kematian Kristus yang menjadi sorotan Paulus melainkan proses demi proses/ langkah demi langkah/ riwayat demi riwayat dimana Yesus dari awal inkarnasi sampai Dia naik ke Golgota. Paulus bukan sekedar tahu bahwa Yesus telah mati disalib, tetapi dia belajar apa yang menjadi visi, misi, pengajaran, penderitaan, tantangan dari penderitaan yang dilakukan oleh Yesus sampai Dia berhasil menyelesaikan penderitaan tersebut. Inilah yang perlu kita pelajari ketika kita mengikuti setiap ritual ibadah dan ketika kita menjadi anak-anak Tuhan.

Paulus adalah rasul luar biasa yang banyak memberikan catatan penting dalam PB, rasul yang banyak sumbangsihnya dalam pembentukan gereja, rasul yang semula adalah penganiaya jemaat. Paulus bisa bertahan dikarenakan ada 3 aspek penting yang diungkapkan dalam nats hari ini, yaitu:

1)     Necessity Suffering (artinya: penderitaan yang seharusnya)

“Membawa kematian” dalam bahasa Inggris memakai kata “bear” yang artinya menanggung semacam beban, seperti kandungan yang tidak bisa dilepaskan dari seorang ibu hamil pada masa tertentu. Jadi kematian Kristus tersebut melekat pada esensi pribadi Paulus dan tidak bisa dipotong dari jati dirinya. Hal inilah yang membuat Paulus bisa memahami penderitaan yang harus dialaminya.

Necessity Suffering ini juga bisa dilihat pada Filipi 1:29 yaitu: Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia. Kita seringkali tidak mau menerima penderitaan dalam kehidupan anak-anak Tuhan. Theologia Kemakmuran bahkan mengajarkan bahwa hidup haruslah sukses dan penuh dengan kemenangan secara lahiriah. Nats hari ini memberikan pandangan yang berbeda. Jadi ketika kita datang kepada Tuhan, kita bukan hanya datang untuk percaya kepada Tuhan, tetapi kita dipanggil untuk menderita bagi Dia.

Kahlil Gibran, seorang penulis puisi dan filsuf, mengatakan bahwa ketika orang hidup adalah lebih baik banyak menderita karena dengan menderita dia akan semakin matang; setelah menderita dia akan menjadi kuat dan bisa melanjutkan kehidupan kalau dia bisa melewati penderitaan itu. Kita percaya bahwa penderitaan yang diungkapkan dalam Alkitab adalah jauh melebihi penderitaan yang dimaksud oleh Kahlil Gibran, karena penderitaan itu bukan hanya sebuah proses melainkan merupakan identitas pribadi. Penderitaan anak Tuhan/ orang percaya adalah merupakan karunia Tuhan sehingga hal itu disejajarkan dengan iman.

J. J. Scott menafsirkan tentang salib dan penyaliban bahwa keduanya itulah ringkasan dari kehidupan orang Kristen. Orang Kristen yang dilepaskan dari salib dan kematian adalah bukan orang Kristen. Orang Kristen yang dilepaskan dari Kristus adalah bukan orang Kristen.

Seberapa jauh kita menyadari bahwa penderitaan adalah identitas kita dan karunia Tuhan yang begitu penting? Tanpa kita mengerti realita Jumat Agung dan penderitaan Kristus, berarti kita tidak mengerti apapun tentang Kristen. Tanpa kita mengalami dan mengamini penderitaan dan kebangkitan Kristus, maka kita tidak memiliki satu realita penderitaan yang unik sebagai orang Kristen.  Oleh karena itu janganlah kita menyebut diri sebagai orang Kristen jikalau kita tidak memahami realita Jumat Agung dan Paskah yang dimulai dari Natal (inkarnasi Kristus).

Penderitaan menurut kamus umum adalah sebuah keadaan dimana manusia penuh dengan kesakitan, tekanan, dan tantangan. Yesus mengatakan bahwa kita adalah domba di tengah serigala, kita bukanlah berasal dari dunia ini, kita hidup di dunia yang membenci kita. Inilah realita yang tidak bisa kita lepaskan sebagai orang Kristen/ orang percaya, dan inilah yang menjadi rahasia mengapa orang Kristen bisa berdiri teguh. Inilah yang menjadi rahasia mengapa Paulus bisa berdiri teguh dan berjalan ke mana-mana untuk pelayanan, kehidupan dan kematian.

Seberapa jauh kita boleh belajar akan apa yang Tuhan telah lakukan atas diri kita pribadi demi pribadi? Mahatma Gandhi mengatakan bahwa dia tidak takut kepada siapapun, kecuali kepada Tuhan. Dia rela menderita demi kebenaran dan keadilan. Penderitaan orang Kristen jauh melampaui penderitaan duniawi semacam ini, karena dikaitkan dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Ketika orang percaya mempertahankan imannya dalam penderitaan hidupnya, itulah kehidupan Kristen dan itulah jati diri kekristenan.

2)     Glorious Suffering (artinya: penderitaan yang mulia)

Glorious suffering bukanlah penderitaan akibat dosa, melainkan penderitaan yang dialami seseorang karena dia menegakkan kebenaran/ menjalankan kebenaran/ memegang teguh kebenaran. 2Korintus 4:10: …, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Inilah yang dimaksud dengan glorious suffering,  maksudnya: ketika orang melihat penderitaan kita, dia melihat penderitaan Kristus. Ketika kita menjalani hidup yang setia kepada Tuhan, orang akan melihat penderitaan dan kebangkitan Kristus. Charles Hodge menyatakan bahwa konyeks 2 Kor. 4:10 ini sangat terkait dengan penderitaan Paulus sendiri dala  kehidupannya sebagaimana yang diungkapkan dalam 2 Korintus 11:23-33 yqng merupakan contoh dari sebuah penderitaan yang mulia  Dari tantangan yang begitu menghimpit Paulus, kita dapat melihat secercah kemuliaan ilahi dengan begitu nyata.

Seberapa jauh kita meresponi karunia Tuhan untuk menderita bagi Dia? Seberapa jauh kita berani menjalani penderitaan yang mulia ini?

3)     Missionary Suffering (artinya: penderitaan yang keselamatan orang lain)

Ada penulis yang mengemukakan tentang penderitaan yang altruistik yaitu penderitaan yang diwarnai dengan semangat untuk kepentingan orang lain. Inilah yang disebut sebagai ministry suffering atau bisa disebut sebagai missionery suffering.  

2Korintus 4:12: Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu. Ketika maut diperhadapkan dengan hidup, ketika penderitaan dibandingkan dengan kesejahteraan, ketika penyesahan dibandingkan dengan keselamatan, adalah realita yang sangat berbeda satu dengan yang lain, tetapi inilah yang dijalani oleh Paulus. Inilah missionery suffering (penderitaan yang dilakukan demi kepentingan misi) yang dilakukan oleh Paulus, yaitu penderitaan yang dijalankan demi kepentingan Kristus dan demi keselamatan orang lain.  

Sebagai orang percaya yang ditempatkan Tuhan di masing-masing posisi, seberapa jauh kita boleh mengingat kematian Kristus, menganalisa kematian Kristus, dan setelah itu kita boleh mengenakan kematian Kristus dalam diri kita demi keselamatan jiwa yang kita temui? Seorang ibu yang menderita akibat kehamilan adalah merupakan penderitaan yang mulia tetapi tidaklah berarti di hadapan Tuhan daripada missionery suffering, karena semua ibu juga mengalami hal yang sama. Penderitaan akibat melahirkan 1 jiwa yang mau bertobat adalah jauh lebih berharga karena seluruh malaikat di surga boleh bersorak.

Paulus menjalani kehidupan yang penuh dengan penderitaan dalam waktu yang tidak sebentar.1Korintus ditulis pada tahun 55, sedangkan 2Korintus ditulis antara tahun 55 sampai 57, tetapi 2Timotius ditulis antara tahun 66 sampai 67. Dalam 2Timotius tertulis: darahku sudah mulai tercurah. Ini adalah kesaksian yang meneguhkan Timotius, yang membawa Timotius berani untuk melanjutkan pekerjaan Paulus. 10 sampai 12 tahun dalam penderitaan adalah kehidupan yang tidak mudah. Barton dalam sebuah jurnalnya yang berjudul: Spiritual Suffering-A Brief Overview And Immediate Response Within The Christian Tradition mengatakan: di dunia ini begitu banyak penderitaan, dimana orang-orang menantikan sebuah pegangan agar mereka bisa bertahan dalam penderitaan itu. Mereka membutuhkan comtoh dan teladan hidup yang dapat dilihat. Seberapa jauh kita boleh menyaksikan setiap jiwa yang sedang bergumul dalam dunia, dan kita boleh menampilkan kehidupan kita untuk kemenangan dan keselamatan jiwa itu? Bagaimana penderitaan hidup yang boleh kita saksikan demi keselamatan sesama?

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)