Ringkasan Khotbah : 03 Maret 2013

Membangun dengan Pisang

Nats:  Nehemia 1:1-11

Pengkhotbah : Pdt. Warsoma Kanta

 

Sebuah pepatah Cina kuno mengatakan demikian: ada 2 hal yang penting bagi eksistensi seorang manusia yaitu satu langkah kehidupan dan segenggam emas yang dibingkai dalam satu kurun waktu dalam kehidupan manusia demi sebuah nama baik dari manusia itu sendiri. Kita juga tentunya pernah mendengar bagaimana seorang raja Cina kuno mengutus orang untuk mencari obat yang dapat memperpanjang umur kehidupan. Kita juga tentunya pernah mendengar bagaimana seseorang mengejar mati-matian segenggam emas. Segenggam emas menyimbolkan kekayaan, kesejahteraan, dan derajat status sosial dalam masyarakat bangsa Tionghoa. Nama baik adalah begitu signifikan/ penting bagi orang Tionghoa, sehingga mereka berusaha dengan berbagai cara untuk dapat mempertahankan nama baik tersebut.  

Ketika kita mencoba untuk mengamini pepatah kuno orang Tionghoa di atas, apakah orang Kristen juga seperti mereka? Marilah kita belajar dari kehidupan seorang tokoh yang bernama Nehemia. Nehemia telah mendapatkan 2 hal yang disebutkan dalam pepatah Cina kuno di atas, yaitu posisi yang nyaman di Puri Susan sehingga dia dapat hidup sejahtera, memiliki profesi sebagai juru minuman raja. Profesi ini sangatlah didambakan oleh para juru minum pada waktu itu, karena merupakan profesi yang sangat dipercaya oleh raja didalam mencicipi atau menyeleksi minuman raja. Nehemia memiliki nama baik walaupun dia merupakan orang buangan. Namun demikian hal ini bukan segala-galanya bagi Nehemia.

Apa yang dilakukan oleh Nehemia bukanlah yang pertama kalinya dalam kaitannya dengan pulangnya orang buangan kembali ke Yerusalem. Proses kembalinya orang buangan ke Yerusalem sebelumnya ada 2 kali  yaitu: pada tahun 538 SM yang dipimpin oleh Zerubabel, dan pada tahun 458 SM dipimpin oleh Ezra. Namun tetap orang Israel tengah berada dalam kondisi yang tidak terhormat dan dalam kesusahan besar. Nehemia pada tahun 445 SM sekali lagi  memimpin gelombang ke-3 pulangnya orang buangan kembali ke Yerusalem dan melakukan restorasi besar-besaran.

Lantas, apa kaitan hal di atas dengan kita dalam konteks keberadaan kita pada zaman ini? Geneva Study Bible memberikan istilah rebuilding process (artinya: proses pembangunan kembali) pada apa yang dilakukan oleh Nehemia. Proses ini terbagi menjadi 2 yaitu: pasal 1-7 mengenai pembangunan kembali tembok dan pintu-pintu gerbang Yerusalem, pasal 8-13 mengenai pembangunan kembali masyarakat, dalam hal ini adalah umat Tuhan. Semuanya itu tidak akan terjadi jikalau Nehemia 1:1-4 tidak terjadi. Seluruh isi Kitab Nehemia tergantung pada 4 ayat di atas, yang menjadi kunci yang menjadikan Nehemia, sebagai orang (walau tidak berpengalaman) dapat berhasil dalam pembangunan tembok dan pintu-pintu gerbang Yerusalem.   

Nehemia 1:1-4 dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu:

1)   Nehemia membuka diri terhadap pergumulan di luar.

Nehemia tengah berada di Puri Susan pada bulan Kislew tahun ke-20 (Nehemia 1:1) Pernyataan inilah yang membawa penafsir kepada kesimpulan bahwa Nehemia memimpin pulangnya orang buangan pada tahun 445 SM. Pada Nehemia 1:2 tercantum pertanyaan yang sangat umum kepada orang lain yang sudah sangat lama tidak dijumpainya, yaitu tentang kondisi orang-orang yang berada di Yerusalem.

Plato pernah mengatakan demikian: hati-hati dengan setiap pertanyaan yang engkau keluarkan dalam hidupmu, karena pertanyaan ini akan menjadi bidan-bidan yang akan mengarahkan kehidupanmu menjadi kehidupan yang lebih baik atau semakin rusak. Pertanyaan merefleksikan keingintahuan seseorang. Melalui pertanyaan tersebut, seseorang mungkin akan dibawa masuk ke dalam sebuah realita yang selama ini tidak dia mengerti. Sebagai ilustrasi, seseorang yang mempertanyakan tentang narkoba akhirnya dapat terjerumus dalam kehidupan narkoba yang mengerikan. Jadi pertanyaan merupakan sebuah pintu gerbang.

Nehemia bukan sekedar bertanya tentang Yerusalem, melainkan juga tentang orang-orang Yehuda, bangsa Nehemia. Kehidupan Nehemia sangatlah kontras dengan kehidupan orang-orang di Yerusalem. Kehidupan Nehemia sudah mapan, sejahtera, sedangkan bangsanya dalam keadaan terpuruk, sangat sengsara. Pertanyaan Nehemia merupakan pintu gerbang bagi Nehemia untuk memasuki realita pekerjaan Tuhan, dimana Tuhan sedang berkarya dan mengizinkan semuanya itu terjadi.

Pada Nehemia 1:4 dituliskan bahwa Nehemia menangis dan berkabung selama beberapa hari. Mengapa pertanyaan yang dijawab sesuai keadaan yang nyata, yang terjadi sejak 90 tahun yang lalu, membuat Nehemia menangis dan berkabung? Nehemia jelas mengerti bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang dipimpin Tuhan, bangsa yang dipilih Tuhan, bangsa yang telah menjalani hubungan yang luar biasa dengan Tuhan, yang dipelihara oleh Tuhan dengan luar biasa, tetapi juga merupakan bangsa yang tegar tengkuk dan tidak setia kepada Tuhan, sehingga mereka berada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan yang tercela. 

Setiap minggu kita berada dalam lingkungan pekerjaan Tuhan, sehingga tidaklah terlalu jauh antara pekerjaan Tuhan dengan realita kehidupan kita. Jarak Puri Susan ke Yerusalem sejauh 3 bulan perjalanan, bukanlah jarak yang dekat, tetapi Nehemia memperpendek jarak itu didalam sebuah pertanyaan tentang keadaan mereka, dan pertanyaan ini menjadi sebuah pemicu bagi Nehemia untuk masuk ke dalam suatu bagian yang lain. Apakah kita pernah dengan jujur memikirkan keberadaan kita di tengah-tengah pekerjaan Tuhan?

Pertanyaan Nehemia begitu indah, yang menunjukkan kepedulian, yang menunjukkan rasa ingin tahu sekaligus menunjukkan bahwa dia mau menjadi bagian dari proses yang dia tanyakan. Nehemia mencoba membuka diri terhadap sejarah dirinya, kehidupan rohaninya dan kehidupan bangsa Yahudi. Seberapa jauh kita memikirkan dan bergumul tentang pekerjaan Tuhan di tempat ini? Hal ini akan membawa kita lebih dekat kepada Tuhan.

2)   Nehemia menempatkan pergumulan luar menjadi pergumulan pribadinya secara personal.

Nehemia 1:4: Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Suatu hal yang begitu memilukan bagi orang-orang Yehuda dan kota Yerusalem, menjadikan Nehemia duduk, berkabung dan menangis selama beberapa hari.

Ketika saya membaca sebuah buku berjudul “Membangun Dengan Pisang”, ada hal yang begitu menarik yaitu bagaimana jika ada seorang insinyur membangun sebuah bangunan dengan memakai bahan pisang. Pdt. Stephen Tong pernah mengungkapkan: orang membangun bangunan dengan memakai bahan-bahan yang terbaik, tetapi Tuhan memakai orang-orang yang rapuh dan berdosa untuk membangun pekerjaan Tuhan. Paulus juga pernah berkata tentang harta yang mulia berada dalam bejana yang hina; yang menunjukkan bagaimana harta Injil yang mulia itu dibawa oleh orang-orang yang begitu rapuh. Karena itulah Paulus meminta jemaat untuk mendoakan agar di tengah-tengah kepapaan dan kehinaan dia tetap dapat mengusung harta yang mulia itu.

Pekerjaan Tuhan memang ada pasang surutnya, demikian juga yang dialami oleh GRII yaitu: orang datang silih berganti, hamba-hamba Tuhan saling bertukar/ pergi dan datang, gedung gereja yang semakin berkembang, KKR Regional dijalankan, KPIN dilaksanakan. Tidak semuanya menunjukkan sesuatu yang menyenangkan. Pernahkah ketika kita mendengar berita-berita yang menggoncangkan itu, kita menangis? Pernahkah ketika kita mendengar berita-berita yang menyenangkan itu, kita bersorak? Pernahkah bulu kuduk kita merinding ketika melihat jiwa-jiwa yang bertobat dalam KPIN?

Francis Bacon, sebagai bapak ilmu pengetahuan modern, mengatakan bahwa suatu ilmu bermula dari rasa ingin tahu. “Membangun Dengan Pisang” hendak menunjukkan bahwa mengikut Tuhan/ pekerjaan Tuhan bukanlah keadaan yang hampa tanpa problema. Justru dalam keadaan demikian, pernahkah kita melakukan sedalam Nehemia? Apakah kita pernah duduk dan memikirkan serta berdoa untuk pekerjaan Tuhan seperti: KPIN, pembangunan gedung gereja, dll?

3)   Nehemia menjadikan pergumulan itu menjadi motivator untuk melakukan langkah nyata.

Nehemia bukanlah seorang raja melainkan hanya seorang juru minuman raja. Nehemia tidaklah berpengalaman untuk membangun kembali tembok-tembok yang sudah terbongkar dan pintu-pintu yang sudah terbakar. Adalah lebih mudah membangun sesuatu yang baru daripada memperbaiki sesuatu yang sudah luluh lantak. Untuk melakukan hal itu, Nehemia harus keluar dari zona nyaman hidupnya. Nehemia yang adalah orang awam dan bukan ahli strategi militer tetapi berani membawa umat dalam jumlah banyak untuk membangun tembok.

Akhirnya Nehemia berani meninggalkan tempatnya semula yang begitu mapan dan masuk ke tempat yang begitu rawan, dari satu tempat yang begitu menjanjikan ke tempat yang begitu mengerikan. Sebenarnya Nehemia tidak harus melakukan hal ini karena sudah ada kelompok pertama dan kedua yang telah kembali dari pembuangan (terpaut 90 tahun lamanya antara kelompok pertama dan kelompok Nehemia) namun  pembangunan tembok dan pintu gerbang terbengkalai dan bangsa Israel menjadi bangsa yang tercela, tetapi Nehemia bersedia mengambil bagian dalam hal ini.

Saya terlibat dalam GRII bukan dari awal berdirinya tetapi saya boleh melihat bagaimana konflik demi konflik boleh terjadi, tantangan demi tantangan pelayanan boleh muncul, bagaimana jiwa demi jiwa boleh didewasakan di tempat ini dan mendapatkan kebenaran. Tantangan-tantangan itu tidaklah menghancurkan pekerjaan Tuhan melainkan visi Tuhan terus menerus dipertajam dan semakin diperdalam waktu demi waktu. Di dalam buku “Membangun Dengan Pisang” ditunjukkan bahwa di tengah-tengah pergumulan yang nyata inilah, seorang yang diibaratkan sebagai seonggok pisang yang lemah, belajar untuk semakin dikuatkan. Di tengah-tengah manusia yang lemah seperti pisang itulah Tuhan semakin nampak; di tengah-tengah kehinaan tanah liat/ tembikar itulah kemuliaan dan kuasa Tuhan boleh nampak.

Apakah semua yang pernah terjadi dalam gereja ini juga bermakna bagi kita? Apa yang kita kerjakan saat ini adalah merupakan kelanjutan dari sejarah gereja ini, dan menjadi saksi sejarah. Nehemia berhasil membangun kembali tembok Yerusalem dan pintu-pintu gerbang dalam waktu yang sangat singkat yaitu 52 hari. Kita bukanlah berhenti pada proyek demi proyek melainkan kita berhenti pada pengenalan akan Tuhan. Francis Bacon mengatakan: sebuah pengetahuan yang kecil dapat menjadi sebuah bahaya yang besar. Hal ini bisa terjadi jika kita mendasarkan tindakan kita pada pengetahuan yang tidak lengkap dan tidak cukup. Kita mengenal Tuhan bukan hanya sekedar dalam pengetahuan yang terbatas, tetapi pengetahuan yang teruji di dalam hidup, pengetahuan yang terjalani dalam kehidupan iman yang semakin dalam.

Seorang petobat baru akan menjalani kehidupan yang begitu indah, tetapi orang yang dewasa adalah orang yang boleh masuk ke dalam realita-realita pahit sebagai seorang anak Tuhan dan boleh tetap berdiri memuliakan Tuhan. Nehemia melewati semuanya itu sehingga kesuksesan hidupnya sangat berbeda dengan orang pada umumnya. Bagaimana respon kita?

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)