Ringkasan Khotbah : 24 Februari 2013

The Necessary Conflict

Nats:  Galatia 2:11-14  

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Galatia 2:11-6 berisikan implikasi dari pergumulan kekristenan dan bagaimana menjalankan kekristenan setelah keputusan sidang Yerusalem dalam Galatia 2:7-10. Sidang Yerusalem merupakan konsili akbar gereja yang dihadiri oleh semua pimpinan gereja pada waktu itu termasuk para rasul. Sidang tersebut mengambil keputusan yang sangat penting berkaitan dengan keselamatan orang yang tak bersunat (non-Yahudi). Sidang Yerusalem mengambil keputusan bahwa orang percaya TIDAK BOLEH disunat. Keputusan ini diterima oleh semuanya termasuk Petrus/ Kefas.

Galatia 2:11 menjelaskan tentang latar belakang ketegangan dalam sidang Yerusalem itu terjadi yaitu adanya ketegangan menyangkut sifat keyahudian sebagai bagian dari keselamatan. Paulus secara terang-terangan menentang Petrus mengenai hal ini di kota Antiokhia (yang dimaksud adalah Antiokhia di Pisidia). Jemaat yang ada di kota Antiokhia adalah jemaat non-Yahudi yang dilayani oleh Paulus. Wilayah ini sebetulnya oleh Tuhan nantinya diserahkan kepada Petrus, sedangkan Paulus dikirim Tuhan ke wilayah yang lebih sulit yaitu Makedonia, di mana terdapat para pemikir besar dan arus filsafat yang demikian besar. 

Pada suatu waktu Paulus bertemu dengan Petrus di Antiokhia. Mereka makan bersama dengan orang yang tidak bersunat. Ketika datanglah kelompok yang fanatik Yahudi, Petrus mulai gamang kemudian mulai menjauhi orang-orang yang tidak bersunat dan berkumpul dengan orang Yahudi. Situasi semakin tidak mengenakkan karena orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik, termasuk Barnabas. Paulus menjadi marah dan mengeluarkan pernyataan dalam Galatia 2:14:  … kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?”

Nats hari ini merupakan peringatan Paulus yang dipakai oleh Tuhan sebagai bagian dari wahyu-Nya dengan maksud supaya orang Kristen mengerti bagaimana harus menghadapi konflik/ pertentangan. Konflik adalah suatu hal yang paling ditakuti untuk terjadi, yang tidak disukai oleh semua orang, tetapi di lain pihak manusia paling suka melakukan konflik. Konflik memang harus terjadi tetapi konflik itu sendiri bukanlah suatu hal yang beres. Konflik baru dapat dijalankan dengan beres/ tepat jika manusia mengerti tentang kebenaran Firman Tuhan dengan baik. Jika seseorang yang tidak mengerti Firman Tuhan melakukan konflik, maka konflik tersebut akan membinasakan. Di satu sisi manusia sangat mengagungkan kehidupan tetapi di sisi lain dia sedang menghancurkan kehidupan karena dia tidak mengerti bagaimana menangani konflik.

Kita berada dalam era berdosa, dan dosa itulah yang akan selalu membawa kepada konflik. Seringkali ketika kita menghindari konflik yang seharusnya terjadi justru akan membawa kita kepada konflik yang tidak seharusnya terjadi, yang membawa kepada kehancuran hidup. Paulus mengajar kita untuk berkonflik jika konflik tersebut menyangkut kebenaran. Kita berkonflik dengan seseorang karena dia salah. Benar atau salah adalah posisi obyektif. Ketika kita membiarkan suatu hal yang salah berarti kita sedang membawa orang lain kepada kehancuran dan akan terjadi konflik demi konflik yang tiada henti. Manusia seringkali takut untuk berbicara tentang kebenaran sehingga dia akan berkonflik dalam semua aspek karena sudah kehilangan kebenaran.  

Ketika manusia kehilangan kebenaran dia akan masuk ke dalam relativitas, apalagi di tengah-tengah berbagai macam opini/ filsafat maka semua subyektivitas akan bermain. Ketika semua pihak bermain maka akan terjadi konflik satu sama lain. Manusia  takut berurusan dengan kebenaran, karena ketika manusia masuk ke dalam kebenaran, dia harus menyisakan hidupnya untuk masuk ke dalam penganiayaan dan penderitaan. Ketika manusia berurusan dengan kebenaran, dia harus menundukkan diri di bawah kebenaran dan semua resiko akibat penaklukkan ini harus dia bayar. Inilah yang tidak disukai oleh manusia.

Ketika manusia bisa merendahkan diri/ menyangkal diri/ takluk kepada kebenaran, maka seluruh relasi akan menjadi damai. Alkitab telah menunjukkan kondisi ini. Paulus bertentangan dengan Petrus, lalu mereka masuk ke dalam sidang Yerusalem dengan tidak mementingkan kepentingan diri mereka sendiri, mereka sama-sama takluk di bawah kebenaran walaupun posisi Petrus lebih tinggi daripada Paulus. Dalam urusan kebijakan (bahasa Inggris: policy) seorang bawahan harus tunduk kepada atasannya, sedangkan dalam urusan kebenaran seorang bawahan tidak perlu tunduk kepada atasan. Manusia seringkali tercampur bahkan terplintir dalam 2 aspek yang sangat berbeda ini; dalam hal kebijakan seringkali bawahan tidak mau tunduk tetapi mengenai kebenaran justru bawahan bersifat sangat lembek/ tidak berani menentang/ tidak mau berjuang.

Ketika seseorang mau takluk kepada kebenaran, maka dia sedang merelakan diri untuk takluk, dan pada waktu itulah dia sedang membawa dirinya masuk ke dalam kebenaran. Sejak awal iman Kristen menuntut anak-anak Tuhan untuk setia dalam kebenaran, dan iman mengunci diri didalam kebenaran. Ketika iman mengunci diri didalam kebenaran, dia akan rela bahkan sampai mengorbankan nyawa demi kebenaran. Kekristenan adalah satu-satunya agama yang melihat kebenaran lalu menyerahkan diri ke dalam kebenaran, bukan untuk mengambil keuntungan dari kebenaran. 300 tahun pertama kekristenan, Tuhan menguji umat-Nya dengan membiarkan mereka dianiaya habis-habisan karena iman mereka. Pada waktu itu, orang yang beriman justru mengalami celaka/ mati, sedangkan orang yang tidak beriman tetap dibiarkan hidup.

Ketika menghadapi konflik, selama 2 belah pihak mau takluk dibawah kebenaran, maka keduanya harus duduk bersama untuk menyelesaikannya dan urusannya bukan lagi kalah-menang melainkan pihak yang salah haruslah mengakui kesalahannya. Kristus sebagai kebenaran haruslah di posisi teratas dan semua orang harus tunduk kepada-Nya, kalau perlu mati untuk itu. Polycarpus yang diancam akan dibakar hidup-hidup mengeluarkan sebuah pernyataan: 78 tahun aku hidup bersama Tuhan, Dia tidak pernah mengecewakan aku, akankah aku mengecewakan Dia dengan menyangkali Dia hanya demi keuntungan dan keselamatan diriku sendiri? Aku tidak akan menyangkali Dia. Inilah Kristen sejati yang memusatkan iman hanya kepada Kristus.

Ketika kita sama-sama tunduk dibawah kebenaran Firman, melepaskan semua keuntungan diri, melepaskan semua kehebatan diri, mau mengorbankan diri untuk Tuhan, maka gereja akan bersatu. Matinya kita demi iman kita di hadapan Tuhan, itulah yang disebut dengan kesaksian. Kesaksian bukanlah untuk memberitakan keuntungan kita, melainkan memberitakan tentang siapa Kristus dan bagaimana kita menyerahkan diri bagi Dia. Gereja mulai rusak dan hancur ketika dalam setiap persoalan bukan Tuhan yang diutamakan melainkan keuntungan diri yang dipikirkan. 

Ketika manusia tidak lagi menegakkan kebenaran, maka mereka mulai lari mencari kepentingan diri sendiri, sehingga pusat penilaian bukan lagi melihat kepada Tuhan tetapi kepada orang lain. Orang yang tidak takut akan Tuhan maka dia akan takut kepada siapapun dan apapun. Orang yang takut akan Tuhan maka dia tidak akan takut pada semua hal, karena dia tidak menyerahkan dirinya untuk dinilai oleh siapapun dan menyerahkan penilaian hanya pada Tuhan. Orang yang tidak berTuhan akan menyerahkan penilaian kepada orang lain sehingga dia akan hidup berusaha menyenangkan orang lain. Konsep ini sangatlah berbahaya. Yang perlu dipertanyakan adalah: hak apakah yang dipunyai orang lain untuk menilai kita? Penilaian orang lain terhadap kita tidaklah valid/ sah karena dia menilai tidak berdasarkan kebenaran. Suatu penilaian bersifat sah dan final jika dinilai berdasarkan kebenaran.

Sebagai ilustrasi, seorang anak SD menetapkan standar suksesnya jika dia lulus SD, dengan soal yang dia buat sendiri, dengan nilai yang dia berikan sendiri. Ketika lulus SD, anak itu berteriak bahwa dia telah sukses. Kegilaan seperti ini juga dilakukan oleh setiap kita. Ukuran sukses yang bersifat final adalah berujung ke neraka atau ke surga. Kalau kita menuju ke neraka maka berarti semua yang kita kerjakan tidaklah berarti/ habis total/ sia-sia. Seluruh penetapan yang tidak valid dipakai oleh manusia untuk menetapkan sebuah kesuksesan. Betapa konyolnya hidup manusia! Petrus menjadi gamang pada peristiwa di atas karena pandangannya ditentukan oleh pandangan manusia. Paulus menyatakan bahwa Petrus salah karena manusia tidaklah berhak menentukan penilaian. Seharusnya Petrus yang membawa mereka kepada kebenaran sebagai penentu nilai yang paling sah.

Tindakan Petrus yang salah kemudian membawa dampak kepada orang lain. Pemimpin-pemimpin agama yang tidak memperjuangkan pekerjaan Tuhan tidak hanya merusak dirinya sendiri melainkan juga merusak orang lain. Semakin tinggi posisinya maka semakin besar pula dampak kerusakannya. Seseorang tidak bisa membatasi dampak tersebut dengan mengatakan bahwa dia tidak membawa nama organisasi. Apa yang dikerjakan oleh seseorang akan sangat berdampak khususnya pada orang lain yang berhubungan dengan dia. Dampak dari sebuah relasi antar personal sangatlah berat dan berbahaya. Seberapa ketika kita berelasi dengan orang lain, kita dapat membawa dia kepada kebenaran ataukah justru kita membawa dia ke neraka? Seberapa jauh format relasi kita tidak menjadikan orang lain menjadi munafik (= tampilan depan berbeda dengan bagian dalamnya)?

Dalam diri manusia memang terjadi konflik yaitu bagian dalamnya ingin ke surga/ hidup benar, tetapi bagian luarnya ingin ke naraka/ hidup tidak benar. Ketegangan ini tidak terselesaikan sehingga akhirnya manusia menjadi skeptik/ acuh tak acuh. Hal ini bisa diselesaikan hanya jika manusia kembali kepada kebenaran. Tuhan akan memuntahkan kita jikalau kita suam-suam kuku. Dengan tunduk kepada kebenaran maka kita akan dapat mengurangi seketat mungkin kemunafikan, karena mata kita terus mengarah kepada Tuhan/ hidup kita terus mengutamakan Tuhan.

Paulus juga menuntut integritas hidup yaitu format kehidupan yang seluruhnya utuh. Dalam perjalanan hidup/ realita, kita seringkali hanya membungkus kebenaran sebagai pusaka, sehingga kita merasa telah memilikinya tetapi sebenarnya dia tidak berbagian dalam hidup kita; inilah yang disebut sebagai kehilangan integritas. Hal ini bukanlah masalah perilaku melainkan menyangkut pola pikir. Pikiran kita haruslah dimurnikan. Hidup kekristenan haruslah berfokus pada Tuhan, bukan hanya sekedar etika melainkan juga secara pola pikir.

Orang Yahudi lebih membanggakan etnis, hukum mereka, kehidupan sosial mereka lebih daripada Tuhan. Paulus menyatakan kesalahan ini dan mengajarkan kita untuk mengutamakan Tuhan lebih daripada pertimbangan sosial, lebih mengutamakan aspek vertikal daripada aspek horizontal. 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)