Ringkasan Khotbah : 10 Februari 2013

Kenalilah Jati Dirimu sebagai Orang Kristen

Nats:  Kolose 1:1-5  

Pengkhotbah : Ev. Sanny Erlando

 

Dalam Kolose 1:1-2 terdapat salam dari rasul Paulus dan Timotius kepada jemaat di Kolose, di awal surat penggembalaan dari rasul Paulus kepada jemaat di Kolose. Dalam korespondensi, dari zaman dahulu sampai saat ini, selalu dicantumkan nama pengirim dan penerimanya, kalau tidak maka pesan tidak dapat tersampaikan. Ketika satu pihak berkomunikasi dengan pihak lain, di situ terjadilah perjumpaan antar pribadi. Di awal surat penggembalaan tersebut di atas, Paulus menuliskan tentang dirinya dan juga siapakah jemaat Kolose.

Dari 2 ayat pertama tersebut di atas, kita bisa melihat identitas dari orang percaya/ jati diri dari orang Kristen. Latar belakang jemaat Kolose adalah jemaat yang tidak terlalu bermasalah. Hal ini terlihat dari Kolose 1:3 yang menyatakan bahwa setiap kali rasul Paulus dan Timotius berdoa, mereka selalu mengucap syukur kepada Allah Bapa tentang keberadaan jemaat Kolose. Jemaat Kolose bukanlah didirikan secara langsung oleh rasul Paulus, melainkan oleh Epafras, yaitu orang Kolose yang pernah dilayani oleh Paulus sebelumnya di kota Efesus. Dari sini kita bisa melihat bagaimana seorang Paulus memiliki hati yang begitu besar, yang mau mendoakan anak rohani hasil pelayanan dari orang lain. 

Kita hidup di tengah-tengah situasi dan kondisi di mana seolah-olah kita tenggelam di dalamnya dan tidak bisa lari dari pengaruh dunia ini. Sebagaimana Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita ibarat domba yang ditempatkan di tengah-tengah srigala, yang mana bukan merupakan ancaman melainkan janji. Janji Tuhan seringkali kita lihat sebagai hal-hal yang menyenangkan hati kita saja, yang membuat hidup kita nyaman dan lancar. Janji Tuhan tidaklah selalu bersifat menyenangkan dan nyaman menurut kita, tetapi adalah sesuatu yang pasti akan terjadi. Ketika kita tahu bahwa sebagai domba yang diletakkan di tengah srigala, maka kita pasti akan berpikir bahwa kawanan srigala tersebut pasti akan menganiaya kita. Penganiayaan ini tidak selalu dalam bentuk fisik, melainkan juga secara konsep/ paradigma/ pola pikir. Penganiayaan secara konsep ini justru jauh lebih merusak, jauh lebih mengoyakkan orang-orang percaya, daripada penganiayaan secara fisik.

Kita hidup di tengah-tengah zaman yang berusaha menganiaya kita, bahkan dengan cara yang sangat halus. Ketika kita bicara tentang identitas diri, apa yang ada di pikiran kita? Apakah saya adalah seorang mahasiswa, saya lahir dari etnis tertentu, saya lahir dalam golongan sosial tertentu, saya lahir dalam kebudayaan/ tradisi tertentu? Apakah semuanya itu merupakan identitas? Ya, tapi identitas tidak hanya itu, identitas sejati adalah ketika kita berada di hadapan Tuhan. Jadi, identitas bukan sekedar siapa kita di hadapan sesama kita, melainkan juga siapa kita di hadapan Tuhan. Zaman ini terus menerus mereduksi identitas kita hanya sampai batas siapa kita di hadapan sesama kita. Sebagai contoh, kaum remaja yang berada dalam tahap mencari identitas, akan selalu mengidentikkan dirinya dengan kelompoknya agar bisa diterima oleh kelompoknya. Kita mungkin tidak lebih baik dari kaum remaja, kita memang tidak lagi mencari identitas tetapi kita mungkin gamang dengan identitas kita.  

Remaja pria cenderung memiliki penampilan seperti idola boy-band mereka. Hal ini mungkin akan berlalu secara fenomena, tetapi ada sebuah spirit di belakang itu. Remaja putri saat ini cenderung lebih menyukai pria yang kemayu (bahasa Jawa, artinya: berpenampilan seperti perempuan). Pada zaman ini, laki-laki yang berpenampilan jantan/ sebagaimana laki-laki adalah kurang laku. Contoh yang lain, pemain Reog di Ponorogo tidaklah boleh menikah/ menyentuh perempuan, lalu untuk menyalurkan hasrat biologisnya mereka bersetubuh dengan remaja pria. Dalam hal ini, homoseksualitas dilegalkan sedemikian, dalam sebuah kebudayaan tradisional. Dalam kebudayaan Tiongkok maupun Jepang juga ada kebudayaan yang melegalkan homoseksualitas. Semuanya ini dikarenakan adanya skenario dari si jahat di belakang itu, yaitu memusnahkan umat manusia dengan cara homoseksualitas. Manusia dicipta oleh Tuhan sebagai Adam dan Hawa, tetapi hal ini dicoba untuk dihancurkan.

Tantangan di atas dihadapi oleh semua orang, tetapi sebagai orang Kristen kita memiliki tantangan yang jauh lebih berat, yaitu ketika si jahat berusaha untuk menyesatkan kita, karena hal ini bersifat lebih halus dan lebih jahat karena menusuk sampai ke sumsum dari pemikiran kita.

Jati diri kita berusaha direduksi oleh zaman ini, contohnya: ketika kita pergi ke sebuah restoran dengan memakai pakaian yang kumal dan memakai sandal jepit pasti akan diperlakukan secara berbeda dengan ketika kita pergi ke sana memakai pakaian yang sangat rapi dan mahal serta bersepatu. Hal ini disebabkan karena orang tidak lagi melihat siapa diri kita, tetapi yang dilihat adalah isi kantong kita. Identitas direduksi hanya sekedar kekuatan ekonomi kita berapa, etnis kita apa, berapa tingkat inteligensi kita. Identitas yang dinyatakan dalam Alkitab oleh rasul Paulus adalah di dalam Kristus, dengan karakteristik: kudus dan setia beriman kepada Kristus. Paulus menyapa bukan dengan nama melainkan dengan identitas kita di hadapan Allah.

Identitas kita tidaklah boleh direduksi oleh dunia ini. Identitas kita adalah bagaimana diri kita di hadapan Tuhan. Kita tidak bisa berdiri di hadapan Tuhan dengan kebanggaan seperti yang dimiliki oleh orang Farisi maupun pemungut cukai. Orang Farisi bisa sedemikian karena mereka memiliki penafsiran yang salah terhadap Firman Tuhan. Theologi Reformed salah satunya menekankan pada kembali kepada kebenaran/ Firman Tuhan/ sola scriptura (artinya: hanya Firman), dan memiliki penafsiran yang sangat mendekati kebenaran. Kita yang termasuk anggota GRII mungkin akan berpikir bahwa kita adalah orang benar dan orang yang dari gereja lain tidaklah benar. Yang perlu dipikirkan adalah: apakah Theologi Reformed hanya ada dalam pikiran? Sebagai orang Kristen, mengapa kita hidup di tengah-tengah kemunafikan?   

Kekristenan memiliki identitas di dalam Kristus. Tidak ada agama lain yang berani mengatakan bahwa mereka berada di dalam ilahnya, melainkan bersatu dengan ilahnya tetapi tidak memiliki relasi. Sebenarnya, ketika mereka bersatu dengan ilahnya, roh ilah mereka sedang merasuk. Kerasukan adalah penjajahan/ penguasaan dan bukan merupakan relasi. Iman Kristen bukan sekedar agama melainkan merupakan sebuah relasi. Di dalam kekristenan terlihat ciptaan yang berelasi dengan Sang Pencipta, yang ditebus berelasi dengan Penebus, manusia berelasi dengan Allah.

Roma 6:5: Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Roma 6:10: Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Ketika dikatakan bahwa kita berada di dalam Kristus, berarti kita bersatu dalam kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Percaya kepada Kristus adalah berbeda dengan berada di dalam Kristus. Percaya kepada Kristus seharusnya adalah percaya yang berada di dalam Kristus, tetapi ada percaya yang tidak berada di dalam Kristus, yaitu ketika kita mengaku percaya tetapi kita memperlakukan Dia sebagai ilah yang memberikan kelancaran/ kesembuhan/ apa yang baik menurut kita.

Kita harus senantiasa berhati-hati, bukan hanya di dalam dunia melainkan juga di dalam gereja, jangan-jangan kita tidak berada di dalam Kristus. Jemaat GRII tidaklah kebal terhadap kondisi di atas. Jemaat Kolose pada saat itu tengah berada dalam kondisi sinkretis, mereka menyembah malaikat-malaikat/ ilah-ilah para tentara langit. Jadi diperkirakan ada satu sayap mistis Yudaisme yang menyisip masuk ke antara mereka. Sinkretisme bukan sekedar religiositas melainkan merupakan sikap hati kita di hadapan Tuhan. Ketika ada allah lain dalam hati kita (bisa berupa diri kita sendiri ataupun materi), jangan-jangan kita telah menggantikan posisi Allah dalam hati kita, walaupun mungkin kita tidak pernah ke Gunung Kawi ataupun tempat ibadah yang lain atau menyembah berhala secara lahiriah; di saat itulah sinkretisme terjadi.

Jemaat Kolose adalah jemaat yang sungguh-sungguh beribadah kepada Allah, tetapi mereka juga jatuh ke dalam sinkretisme. Dalam hal ini, rasul Paulus tetap menyebut mereka sebagai saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus. Apakah Paulus tidak tahu akan sinkretisme yang dilakukan oleh jemaat Kolose, atau Paulus berkompromi dengan sinkretisme tersebut? Tidak! Paulus mau mengatakan bahwa walaupun jemaat Kolose sambil beribadah kepada Tuhan sambil menyembah ilah lain, mereka memiliki iman yang murni, dan Paulus bermaksud mengingatkan siapakah diri mereka di hadapan Allah.

Sebagai contoh, walaupun kita termasuk orang percaya, ketika kita pergi ke sebuah gedung perkantoran dan berada di lantai 4 maupun lantai 13, maka kita akan merasa sedikit tidak nyaman; ketika berada di tempat gelap kita merasa takut bukan terhadap penjahat melainkan terhadap hantu. Ketika kita merasa seperti di atas, sebetulnya siapakah allah yang kita sembah? Bukankah seluruh alam semesta ini berada dalam kuasa Kristus, kepada siapa kita menyembah, mengapa kita masih memiliki ketakutan seperti di atas?

Identitas kita adalah identitas yang sudah diperbaharui. Paulus mengatakan bahwa kita adalah manusia baru di dalam Kristus. Di hadapan Allah tidaklah ada manusia kaya maupun miskin, tidak ada orang bodoh maupun pandai, tidak ada etnis yang lebih daripada etnis yang lain. Di hadapan Allah hanya ada 2 macam manusia yaitu: di dalam diri Anak-Nya ataukah di luar diri Anak-Nya. Bukan berarti kita harus menyangkali identitas kita secara fisik melainkan kita harus sadar bahwa Allah telah menebus kita dan memberikan kepada kita identitas yang baru. Manusia baru adalah manusia di dalam Kristus, yang berada bersama dengan kematian Kristus yaitu kematian terhadap dosa. Panggilan kita adalah panggilan untuk mematikan dosa di tengah-tengah dunia ini. Ketika kita hidup mematikan dosa maka kita sudah meninggikan Kristus di dalam hidup kita.

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)