Ringkasan Khotbah : 3 Februari 2013

Signifikansi Sidang Yerusalem

Nats:  Galatia 2:7-10

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Galatia 2:7-10 berada dalam konteks konsili pertama dari seluruh sejarah gereja. Konsili merupakan pertemuan akbar, dan ketika itu para rasul masih hidup dan merasa perlu untuk mengadakan rapat bersama semua pemimpin kekristenan pada saat itu. Mereka membahas tentang topik yang sangat krusial pada waktu itu, akibat dari perbedaan theologis, agar nantinya pekerjaan Tuhan tidak menjadi terhambat. Pada waktu itu Paulus mengajak Barnabas dan Titus menghadiri konsili tersebut di atas. Dalam Kisah Rasul 15 konsili ini disebut sebagai sidang Yerusalem, yang terjadi pada tahun 50.

Konsili ini dimasukkan ke dalam Alkitab untuk menjadi contoh bagaimana cara menyelesaikan perbedaan theologis dan bagaimana menyikapi prinsip-prinsip penting di dalam perbedaan theologis yang ada. Galatia 2:1-10 menceritakan tentang konsili, sedangkan ayat-ayat selanjutnya menceritakan tentang latar belakang/ sejarah dan implikasi dari konsili tersebut. 

3 masalah yang dibicarakan dalam konsili itu adalah:

1)     Injil diperuntukkan bagi siapa.

Agama seringkali dibangun untuk memuaskan egoisitas manusia. Dari sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, agama menjadi alat manipulasi untuk mencapai kepuasan diri. Problema yang paling sulit terjadi ketika manusia mulai membutuhkan aktualisasi diri, seperti: hidup mau ke mana dan menjadi apa, maka manusia mencari jawabannya di dalam agama. Manusia mengalami konflik dalam pikirannya karena Allah seharusnya berada di atas manusia dan tidak bisa diperintah oleh manusia, sedangkan manusia menginginkan Allah yang menuruti kemauan dirinya, maka dibentuklah allah palsu yang bisa memenuhi kemauan manusia.

Manusia seharusnya tunduk kepada Allah yang sejati karena Allah itu berdaulat. Hal ini tidaklah disukai oleh manusia. Penganut agama tidaklah menyukai hal ini, termasuk orang Israel. Orang Israel merasa dirinya mendapatkan hak istimewa sebagai umat Tuhan sehingga juga mendapatkan bagian di dalam Kerajaan Surga, sedangkan orang di luar bangsa Israel memang layak binasa. Muncullah semangat eksklusif dalam diri bangsa Israel, orang yang di luar bangsa mereka dikatakan sebagai orang yang tak bersunat/ orang kafir yang berarti tidak berhak menerima keselamatan/ masuk Surga. Konsep ini sangatlah sulit untuk didobrak bahkan sampai zaman PB.

Tuhan Yesus berusaha untuk mendobrak kesalahan konsep ini dengan berkali-kali berinteraksi dengan orang-orang non-Yahudi, seperti: menyembuhkan anak perwira Romawi, berbicara dengan orang Samaria, bahkan sebelum Dia naik ke Surga Dia memberikan perintah/ amanat agung yaitu: Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Hal ini tetaplah tidak mengubah konsep orang Yahudi, bahkan ketika Petrus diperintah Tuhan untuk mengabarkan Injil kepada Kornelius, dia enggan melakukannya. Maka Tuhan memberikan penglihatan kepada Petrus selembar kain besar yang berisi binatang-binatang haram dan menyuruh Petrus memakannya. Petrus menolaknya, tetapi Tuhan terus memerintah dia untuk memakannya, dan Tuhan berkata: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah tidaklah boleh dinyatakan haram oleh manusia.

Manusia memang memiliki jiwa untuk terus menerus membangun eksklusivitas. Tuhan menekankan bahwa Injil haruslah mengerti kedaulatan Allah dan pikiran Tuhan mengatasi semua egoisitas manusia. Semua kemapanan, kenyamanan, status quo yang diinginkan manusia haruslah didobrak. Konsep iman Kristen didasarkan pada kedaulatan Allah yang dinyatakan kepada manusia dengan predestinasi, yaitu Tuhan memilih umat-Nya satu demi satu. Tuhan menghadirkan Adam dan Hawa, menunjukkan bahwa Tuhanlah pencipta dan pemilik alam semesta ini, maka semua ciptaan haruslah taat kepada Tuhan. Kedaulatan Allah pertama kali dinyatakan kepada Adam dan Hawa, mereka adalah milik Tuhan, maka mereka harus taat kepada Tuhan; kalau mereka tidak taat maka mereka akan dibuang dari Taman Eden dan akan binasa. Sayangnya manusia memilih untuk tidak taat sehingga manusia dibuang oleh Tuhan, dan sejak saat itu manusia cenderung mengikuti jalannya sendiri dan menuju kebinasaan. Di dalam kedaulatan-Nya, Allah memilih Abram disertai dengan perintah: Pergi, keluar dari tanah kelahiranmu, jadilah hamba-Ku dan membawa kebenaran Tuhan, bangun Kerajaan Surga. Inilah perintah pertama sebelum perintah dalam Matius 28:19-20. Abram tidak bertanya mau pergi ke mana, tetapi Tuhan yang memimpin dan memelihara sepenuhnya.

Prinsip di atas juga berlaku pada zaman PB. Tuhan memerintahkan kepada bangsa Israel untuk pergi memberitakan Injil kepada bangsa lain juga. Tuhan memotong ranting yang asli dan kemudian mencangkokkan ranting yang lain karena bangsa Israel tidak menjalankan misi-Nya, maka bangsa Israel tidak lagi menjadi satu-satunya umat pilihan-Nya. Tuhan memilih gereja Tuhan untuk menjalankan tugas misi-Nya. Dengan berkaca pada kejadian di atas, sebagai umat pilihan Tuhan kita pun harus berhati-hati untuk tidak cenderung bersifat eksklusif. Setiap bangunan eksklusif adalah bangunan yang berbahaya dan tidak disukai oleh Tuhan. Theologi yang beres seharusnya membawa kita untuk menjalankan panggilan kita dengan sungguh-sungguh. Yang celaka adalah jika para theolog hanya ribut berdebat tapi tidak menjalankan panggilan Tuhan atas diri mereka di tengah dunia ini. Untuk mengabarkan Injil diperlukan kerelaan hati membuka diri, mencintai orang lain, melepaskan kenyamanan dan berkorban.

Kita mungkin bisa berempati kepada orang lain, tetapi seberapa kita bisa merasakan kesedihan Tuhan dan seberapa kita mau taat menjalankan panggilan Tuhan? Seorang Kristen sejati akan memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan, hidup bergaul dengan Tuhan, mengerti isi hati Tuhan, dan mau taat menjalankan panggilan Tuhan.

2)   Kalau Injil diperuntukkan bagi semua orang, maka orang yang bukan Yahudi apakah harus disunat ataukah tidak.

Isu sunat menjadi sebuah isu yang sangat pelik pada waktu itu karena sangat menentukan identitas/ keberadaan dari agama Yahudi. Orang-orang yang beragama Yahudi ketika menjadi Kristen masih mau memakai latar belakang keyahudian mereka, sehingga terjadi sebuah kondisi yang sinkretistik (bercampurnya agama dengan tradisi). Sebagai akibatnya, orang Yahudi menuntut orang yang bukan Yahudi ketika menjadi Kristen juga harus disunat seperti mereka. Paulus tidak setuju akan hal ini karena berarti mereka mempermainkan Kristus dengan PL.

Uniknya, 2 kubu tersebut tidaklah mengutamakan pendapat mereka sendiri, tetapi mereka mau berunding dan mencari kehendak Tuhan, sehingga akhirnya diputuskan bahwa orang bukan Yahudi yang menjadi Kristen tidaklah perlu disunat. Hal ini sangatlah menentukan yaitu: orang Kristen TIDAK BOLEH disunat. Kalau orang Kristen disunat, berarti menyalahi Firman Tuhan dan berdosa. Kalau seandainya hal ini boleh dilakukan dan boleh tidak dilakukan maka masalah sunat tidaklah perlu dibawa sampai pada sidang Yerusalem. Urusan ini sangatlah penting karena menentukan hidup iman dan sejarah kekristenan sepanjang sejarah zaman.

Bagi orang yang sudah terlanjur disunat sebelum keputusan sidang Yerusalem diambil tidaklah dipermasalahkan, tetapi keturunan mereka sesudah sidang Yerusalem tidaklah boleh disunat. Hal ini sangat penting karena kondisi di dalam Kristus merupakan kondisi satu-satunya yaitu hanya di dalam Kristus melalui iman, hanya dengan penebusan darah Kristus dan tidak boleh dilakukan dengan cara lain. Sunat merupakan gambaran dari penebusan darah oleh Kristus di zaman PL, jadi ketika Kristus sudah datang di zaman PB maka sunat ditiadakan. Kalau sunat tetap dilakukan, berarti merupakan pelecehan terhadap Kristus.

Dunia memaksakan pelaksanaan sunat dengan memakai alasan kesehatan. Hal ini merupakan penipuan karena mayoritas penduduk dunia adalah tidak bersunat dan tidak mengalami gangguan kesehatan akibat tidak bersunat. Lalu ada apakah dibalik pemaksaan pelaksanaan sunat? 1) upaya setan untuk mengencerkan Theologi Kristen. Dengan seperti itu orang Kristen akan menjadi ambigu identitasnya dan akan berbaur tanpa disadari; keeksklusifan posisi Kristen menjadi diencerkan. Hal ini sangat berkaitan dengan iman kita dan panggilan kita. 2) merupakan strategi dari golongan bersunat. Untuk menarik orang dari golongan tidak bersunat menjadi golongan bersunat salah satu kendalanya adalah masalah sunat, maka mereka berusaha membuat anak-anak disunat terlebih dahulu sehingga ketika mereka besar sudah tidak menjadi masalah lagi.

Perlu untuk kita ingat bahwa janganlah kita merelatifkan hal yang absolut, dan janganlah kita mengabsolutkan hal yang relatif; janganlah mempermainkan hal-hal yang penting yang menyangkut iman/ keselamatan kita dan janganlah menganggap penting hal-hal yang tidak penting.

3)   Pelayanan secara holistik.

Di akhir perdebatan theologis yang begitu ketat, Alkitab mencatat sebuah pesan untuk tidak melupakan orang miskin. Pesan ini mengingatkan kita akan bahaya di tengah dunia ini dimana manusia memiliki kecenderungan jatuh dari satu ekstrim ke ekstrim yang lain. Ketika sibuk berbicara hal-hal yang bersifat doktrinal, yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, hal-hal yang bersifat rohani, manusia cenderung melupakan aspek sosial. Harus diingat bahwa manusia mempunyai natur rohani sekaligus natur jasmani, dan tidak boleh ada yang diabaikan.

Orang miskin seringkali muncul karena kegagalan theologis. Orang miskin seringkali muncul karena kemalasan lalu mempersalahkan lingkungan, diri sendiri, semua orang, tetapi mereka tidak mau berjuang seperti bijaksana yang dituntut oleh Tuhan. Sangatlah diperlukan upaya membangun kebutuhan jasmani di dalam pengertian theologis yang sejati. Theologi yang sejati haruslah membangun seluruh totalitas kemanusiaan secara holistik/ totalitas. Bangunlah jasmani dengan pemikiran rohani/ theologis yang benar, bangunlah rohani dengan dukungan jasmani yang baik. Kedua hal ini tidak boleh dilepaskan satu sama lain. Di dalam seluruh pelayanan kita, haruslah kita jaga keseimbangan antara 2 hal ini, bagaimana keduanya bisa bertumbuh mempermuliakan Tuhan.

Ketiga hal yang dibahas dalam sidang Yerusalem ini kalau kita jalankan di abad ini, maka akan menjadikan pelayanan kekristenan menjadi kokoh, dan iman Kristen bertumbuh secara total.

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)