Ringkasan Khotbah : 27 Januari 2013

Allah yang Tidak Membiarkan dan Tidak Meninggalkan

Nats:  Ibrani 13:1-8

Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan

 

Jemaat Ibrani menyadari bahwa apa yang ditulis oleh penulis Surat Ibrani ini merupakan sesuatu yang sangat signifikan bagi kehidupan mereka. Pada waktu itu mereka mulai memasuki era penganiayaan dikarenakan iman percaya mereka. Mereka diperhadapkan pada pilihan apakah tetap percaya kepada Tuhan Yesus ataukah menyangkal iman mereka kepada Tuhan Yesus. Kalau mereka tetap percaya kepada Tuhan Yesus berarti mereka akan kehilangan hidup mereka, sedangkan kalau mereka mau menyangkal iman mereka maka mereka akan dapat melanjutkan kehidupan mereka. Surat Ibrani ditulis sebagai panduan untuk dapat tetap melanjutkan hidup di dalam konteks penganiayaan seperti di atas.

Penulis Surat Ibrani membawa pembacanya kepada pribadi Tuhan Yesus Kristus. Pada Ibrani 13:8 dituliskan bahwa Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. Pada Ibrani 1 terlihat sekali bagaimana penulis Surat Ibrani begitu meninggikan Yesus Kristus, Yesus Kristus lebih tinggi daripada para imam, Yesus Kristus lebih tinggi daripada para malaikat, Yesus Kristus lebih tinggi daripada Imam Melkisedek, Yesus Kristus lebih tinggi daripada sistim korban, Yesus Kristus lebih tinggi daripada seluruh sistim Taurat yang ada. Dengan Kristologis yang sedemikian, penulis mempersiapkan jemaat agar ketika menghadapi penganiayaan mereka tetap beriman kepada Yesus Kristus. Setelah penulis menguraikan tentang siapakah Yesus Kristus, mulai Ibrani 11-13 penulis menguraikan tentang hal-hal praktika (Yesus Kristus yang dapat dijumpai dalam kehidupan ini).

Penganiayaan terhadap orang Kristen ada yang secara fisik, dan ada juga yang secara rohani. Alkitab memang mencatat adanya orang-orang tertentu yang harus mengalami penganiayaan secara fisik karena percaya kepada Yesus Kristus. Penganiayaan yang dialami oleh semua orang Kristen adalah penganiayaan rohani, dalam pengertian: ada 2 hal besar yang kerap kali mengganggu/ menghantui setiap orang Kristen yang berkaitan dengan Allah dan pemeliharaan-Nya, yaitu: apakah Allah membiarkan dan apakah Allah tidak pernah meninggalkan. Kegelisahan akibat 2 hal inilah yang merupakan penganiayan rohani bagi setiap orang Kristen. Orang Kristen ingin memiliki kepastian apakah imannya terhadap Allah adalah tetap, apakah Allah yang dalam pengalaman seseorang telah menyertainya tetap akan menyertainya senantiasa. Ada momen kita masuk ke dalam lembah kekelaman, kegelapan, yang membuat kita mempertanyakan tentang kehadiran-Nya. Ketika manusia mencari kepastian tentang kehadiran Allah tapi tidak mendapatkan jawaban maka dia tengah mengalami penganiayaan rohani. Kalau kita termasuk orang yang mengejar pengertian tentang Allah, maka kita pasti akan menjumpai situasi-situasi seperti di atas, karena jalan Tuhan dengan jalan kita sangatlah jauh berbeda.

Khotbah hari ini akan menguraikan tentang bagaimana kita tahu bahwa Allah tidak pernah membiarkan dan tidak pernah meninggalkan kita dalam penganiayaan rohani yang terus menerus kita hadapi? Kalau kita tidak mengenali campur tangan Allah secara konkrit dalam hidup kita, maka iman kita akan terus meraba-raba/ menebak-nebak apakah Tuhan itu ada ataukah tidak. Ada 3 hal yang akan kita soroti yaitu:

1)     Marilah kita kembali kepada pengakuan iman kuno.

Alkitab mencatat bahwa Allah sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Allah sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. Sebab itu kita dapat berkata: Tuhan adalah Penolongku, aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? Kalimat di atas langsung memberikan keteduhan dalam hati kita, tapi segera kita sadar bahwa kalimat tersebut menuntut pengertian logis dan konkrit. Pada waktu kita membuka mata, kita melihat kenyataan bahwa beriman kepada Allah tidaklah mudah. Di satu sisi kita ingin memegang janji Tuhan, tetapi di sisi lain seakan-akan janji itu ada di dunia antah berantah. Kalau kita tidak merasakan hal ini berarti sebagai orang Kristen kita tidaklah terlalu memperhatikan pengalaman iman kita secara faktual. Ternyata ada jurang pemisah yang terlalu besar antara apa yang kita mengerti dengan apa yang kita jumpai.

Pernyataan bahwa Allah tidak pernah membiarkan dan tidak pernah meninggalkan bukanlah berasal dari penulis Surat Ibrani melainkan merupakan kutipan dari PL yaitu dalam Yosua 1:5. Pada saat itu Yosua baru saja menggantikan posisi Musa sebagai pemimpin bangsa Israel untuk masuk ke Kanaan. Ketika Musa masih hidup, Yosua berada di belakang Musa, dan Musalah yang menanggung segala urusan berkaitan dengan bangsa Israel. Ketika Musa sudah mati, Yosualah yang harus berjalan di depan bangsa Israel dan menanggung segala urusan mereka. Itulah sebabnya Tuhan berkata kepada Yosua: Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau. Inilah awal bagi Yosua dalam menjalani penganiayaan demi penganiayaan imannya, di mana terjadi benturan antara fakta dan imannya.

Penulis Surat Ibrani mengutip ayat di atas dengan anggapan bahwa kondisi umat Israel pada zaman Yosua sama dengan kondisi jemaat Ibrani yang tengah masuk ke dalam masa penganiayaan. Dalam 1Tawarikh 28:20 juga dicatat bahwa Dia tidak akan membiarkan dan meninggalkan engkau. Daud berkata seperti itu kepada Salomo karena dia sendiri telah mengalaminya walaupun belum selesai. Penulis Surat Ibrani mengutip ayat-ayat di atas karena dia mau mengatakan bahwa Allah kita adalah Allah yang berpengalaman, artinya bukti bahwa Dia tidak membiarkan dan tidak meninggalkan itu pernah dilakukan-Nya kepada semua orang suci dalam PL dan orang-orang suci itu juga telah mengalaminya sehingga dapat berdiri dan bersaksi tentang hal itu. Allah tidak pernah membiarkan dan tidak pernah meninggalkan adalah mau menunjukkan bahwa Allah tidak pernah kehabisan cara dan tidak pernah terlelap untuk hadir dalam hidup setiap orang percaya. Setiap manusia pasti akan lebih yakin dengan yang telah berpengalaman. Apakah perkataan itu juga memberikan kekuatan dalam kehidupan kita?

Ibrani 13:7: Ingatlah akan mpemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. Mereka berjuang menghadapi kesulitan antara janji Allah yang akan mengutus Mesias/ Juruselamat dengan kenyataan yang tidak kunjung mereka alami. Ketika kita mulai memikirkan realita dari penyertaan Tuhan, berarti kita tengah dibawa ke dalam momen untuk mengerti akan Dia. Janganlah kita menuntut Tuhan untuk mengerti akan kesusahan kita karena Dia bukanlah Allah yang dungu, Dia jelas mengerti kesusahan kita. Dalam setiap pergumulan yang kita jalani, kita haruslah menyadari posisi kita, Allah mengajar kita untuk selalu hormat kepada-Nya. Bukan Allah yang harus mengerti kita melainkan kita yang harus mengerti Dia. Pergumulan sejati seharusnya membawa manusia semakin menghormati Tuhan.

2)   Marilah kita melihat bagaimana Allah bertindak dalam kualitas-Nya sebagai Allah.

Ketika Allah memberikan iman kepada seseorang, maka Dia tidak pernah memberikan iman yang lemah melainkan iman yang kuat, Dia tidak pernah memberikan iman yang pasif, yang tanpa arah, yang tanpa isi, yang buta. Dia memberikan iman dengan kualitas yang mampu membawa seseorang untuk semakin percaya kepada-Nya. Iman yang hidup adalah iman yang berubah menjadi semakin percaya kepada-Nya, yang tidak mau dikalahkan oleh kondisi yang ada. Iman Kristen merupakan pergumulan bagaimana memahami cara kerja Tuhan dan menerima kenyataan bahwa Tuhan menyediakan dan memberikan kekuatan. Kekuatan kita dipertemukan dengan kekuatan Tuhan, seperti Paulus yang berkata bahwa justru di dalam kelemahankulah kuasa-Mu menjadi nyata. Ketika menemukan kelemahan diri maka kita akan disadarkan bahwa kita tidak lebih dari debu belaka, dan di situlah kita harus melipat lutut dan berseru kepada Dia di dalam doa. Setiap kesulitan iman harus dicari solusinya dengan titik tolak bahwa kita tidak mau dikalahkan dan kita tidak mau melakukan tindakan gegabah seakan-akan kita lebih pintar daripada Tuhan. Yang perlu kita kerjakan adalah bersabar karena pikiran Tuhan jauh lebih besar daripada kita. Tuhan tidak mudah ditebak tetapi Dia secara diam-diam mengerjakannya yaitu tidak pernah membiarkan dan tidak pernah meninggalkan kita.

3)   Bagaimana kualitas iman kita di tengah-tengah penganiayaan rohani.

Kualitas iman kita seharusnya bersifat lintas zaman, artinya bukan hanya kita sendiri yang mengalaminya melainkan orang-orang lain di waktu yang lampaupun juga mengalaminya. Orang-orang dalam PL maupun PB sudah mengalami janji Tuhan dan sekarang mereka sudah memiliki bukti bahwa Allah sungguh tidak pernah membiarkan dan tidak pernah meninggalkan. Mereka dapat menunjukkan bukti tersebut melalui hidup mereka. Penulis Surat Ibrani menuliskan agar kita meneladani iman mereka. Warisan dari mereka, mengenai iman yang tidak mau dikalahkan, telah diturunkan kepada kita, berarti iman yang lintas zaman.  

Iman, yang sudah diwariskan, akan terus dikerjakan. Allah yang kekal akan terus menerus mengerjakan sejarah, bagaimana Dia tidak pernah membiarkan dan tidak pernah meninggalkan. Hal ini bukan berarti kita tidak pernah mengeluh ataupun kecewa tetapi makin sedikit mengeluh dan kecewa; bukan berarti kita tidak pernah berputus asa tetapi makin tahu alasan untuk tidak berputus asa. Hal ini menunjukkan adanya pertumbuhan dalam bangunan iman kita.

Kita membutuhkan bukti, dan Allah menunjukkan bukti itu. Ada satu kebiasaan dari suatu suku pedalaman Papua yaitu sebagai tanda kedewasaan, seorang ayah akan membawa anaknya masuk ke sebuah hutan dan kemudian menyuruhnya pulang dengan mencari jalan sendiri. Pergumulan si anak adalah menghadapi rasa takut tetapi juga harus berusaha untuk mendapatkan pengakuan akan kedewasaannya. Sebenarnya, sang ayah tidak pernah jauh dari anaknya, dia terus mengawasi dan menjaga anaknya, dengan tanpa diketahui oleh anaknya. Begitu anak ini kembali ke kampungnya, maka semua penghargaan diberikan kepadanya sebagai seorang laki-laki dewasa. Tuhanpun tidak jauh dari kita, dan banyak hal yang dikerjakan-Nya yang tidak kita ketahui. Dia menjaga kita siang dan malam, Dia tidak pernah terlelap, dan Dia menjadikan pengalaman kita akan pemeliharaan-Nya sebagai bukti bahwa Dia adalah Allah yang berpengalaman. Tuhan mau mengerti kualitas iman kita dan Dia mau kita memiliki kualitas iman yang lintas zaman.   

Janganlah pernah kita meminta Tuhan mengubah perilaku-Nya, tetapi mintalah supaya kita dapat sabar menantikan cara Dia menolong kita mengerti akan apa yang sedang Dia kerjakan atas diri kita. Ada banyak orang Kristen yang telah menemukan intan dalam pergumulan iman mereka. Mereka memiliki kumpulan kata-kata bahwa sungguh Dia benar, Dia tidak pernah membiarkan dan tidak pernah meninggalkan. Bagaimanakah dengan hidup kita, dapatkah kita menunjukkan bukti hidup yang menyatakan bahwa Allah tidak pernah berubah, Dia tidak pernah membiarkan dan tidak pernah meninggalkan kita?

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)