Ringkasan Khotbah : 13 Januari 2013

Between Faith and Tradition

Nats: Galatia 2:3-5    

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Antara iman dan tradisi seringkali menimbulkan ketegangan-ketegangan di sepanjang sejarah kehidupan Kristen. Orang Kristen di sepanjang zaman selalu diperhadapkan dengan ketegangan yang rumit, seperti: bagaimana caranya mempertahankan iman, sampai mana harus menegakkan iman, lalu relasinya dengan berbagai macam kebudayaan maupun tradisi/ kebiasaan yang biasa dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum ataupun sesudah menjadi Kristen, kita tidak lepas dari tradisi budaya/ tradisi ras. Bagaimanakah kita, sebagai orang Kristen, berurusan dengan hal itu?

Pergunjingan yang terjadi di era gereja awal, pada saat pertama kali kekristenan dibangunkan, adalah bagaimana iman Kristen berelasi dengan kebudayaan maupun kebangsaan Yahudi. Pada waktu itu semua orang Kristen dan semua rasul adalah orang Yahudi. Karena hanya meliputi 1 etnis maka antara iman dan tradisi mengalami penggabungan. Pada awalnya, semua orang Kristen adalah Yahudi, tetapi bukan berarti semua orang Yahudi adalah orang Kristen, karena ada sebagian orang Yahudi yang merupakan pengikut Yudaisme dan terjepit oleh Taurat serta tradisi-tradisi yang sudah dibangun oleh para pemimpin mereka di masa lampau. Yudaisme dan Kristen merupakan 2 konsep theologi yang berbeda.  

Ketika Paulus dipanggil oleh Tuhan untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang non-Yahudi, maka mulai muncullah orang Kristen yang non-Yahudi/ orang-orang Yunani yang disebut juga kaum helenis. Yunani menyangkut tempat negaranya, sedangkan helenis menyangkut bangsa/ orangnya. Ke manapun orang pergi, dia akan selalu membawa budayanya, karena hal ini merupakan identitas rasnya. Ketika orang Yunani menjadi Kristen maka mulai muncullah 2 budaya yang tidak sama di dalam kekristenan yaitu budaya Yahudi dan budaya Yunani. Mulailah terjadi ketegangan disebabkan karena :

1)     Orang Kristen haruslah berbudaya Yahudi.

Isu yang paling pelik dan merupakan keistimewaan orang Yahudi yang harus diikuti oleh semua orang Kristen adalah harus disunat, karena sunat merupakan identitas paling kuat dari orang Yahudi. Orang Yahudi disunat pada hari ke-8. Hal ini merupakan hal yang sangat dibangga-banggakan oleh orang Yahudi.

Problema di atas bukan hanya terjadi di zaman gereja awal melainkan terus dibawa di sepanjang zaman, khususnya di dalam era yang bersifat pluralistik. Ketegangan ini bisa muncul karena ketika seseorang menjadi Kristen, dia tidak mau melepaskan budayanya maupun tradisinya. Ketegangan inilah yang menyebabkan terjadinya “perang” antara Paulus dan Petrus. Kebanggaan etnis memang seringkali menjepit kita untuk kita tidak mau menaklukkan/ menggagalkan hal itu, karena kita merasa bahwa identitas kita berada di sana. Ras dan bangsa yang dijadikan identitas absolut akan membuat kita gagal melihat bahwa identitas Kristen adalah lebih tinggi daripada identitas ras kita.

Paulus dalam Galatia 2:5 menyatakan: Tetapi sesaat pun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kamu. Kalau sampai posisi budaya lebih tinggi daripada iman maka orang akan memperhamba Injil, artinya Injil akan tunduk di bawah budaya. Hal ini memerlukan perjuangan yang sangat keras untuk melawan prinsip iblis yang terus berusaha memutar agar iman takluk di bawah budaya. Alkitab menyatakan bahwa Injil harus berada di atas dan budaya harus takluk kepada Injil. Maka kebanggaan identitas ras/ suku bukanlah salah melainkan Alkitab menyatakan bahwa kita memang mempunyai 2 kewarganegaraan yaitu warganegara Surga dengan Kristus sebagai Sang Raja dan kebangsaan dunia. Kita tidak boleh meniadakan salah satunya tetapi harus dapat menempatkannya di posisi yang benar yaitu Kristus di atas pemerintahan dunia, berarti kita harus tunduk kepada Kristus dan kepada pemerintah dunia, tetapi lebih tunduk kepada Kristus daripada kepada pemerintah dunia.

Kekristenan bukannya harus menghapus habis tradisi melainkan harus dapat mengkritisi manakah budaya/ identitas yang masih bisa dipertahankan dan mana yang harus dibuang/ ditaklukkan karena berbenturan dengan posisi yang lebih tinggi. Ada orang yang masih merasa kesulitan dalam menjalankan hal ini karena tidak meyakini seberapa tinggi dan validnya iman Kristen.

Banyak orang Kristen yang tidak mengerti artinya menjadi orang Kristen, ada juga yang takut untuk mengakui identitas kekristenannya. Di titik pertama, orang Kristen haruslah jelas mengapa dia mengikut Kristus. Pertobatan yang sejati menjadi kunci dari iman Kristen. Orang menjadi Kristen bukanlah karena status yang diberi oleh orang lain, melainkan karena Tuhan sudah mengubah hatinya untuk menjadi umat Allah. Hal inilah yang menjadi kekuatan yang besar dalam membangun sebuah identitas Kristen. Orang Kristen adalah pengikut Kristus yang adalah Raja di atas segala raja, pemegang otoritas tertinggi. Barangsiapa tidak mengakui Kristus di titik pertama/ tertinggi, dia tidak bisa diakui sebagai orang Kristen. Marilah kita menginstropeksi diri, setelah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, betulkah kita sudah meletakkan identitas Kristen sebagai yang utama dalam hidup kita? Identitas Kristen harus berada jauh di atas identitas lainnya.

Ketika kita tegas dengan identitas kita maka kita akan memiliki kekuatan hidup. Orang yang memiliki identitas yang jelas akan hidup dengan stabil dan dapat mengambil keputusan dengan jelas dan tegas. Tetapi seberapa berani kita menggugurkan identitas yang salah dan tunduk kepada identitas yang benar? Identitas yang terbaik adalah ketika kita dengan berani menyatakan bahwa kita adalah seorang Kristen. 

2)     Paulus membawa Titus, orang Yunani yang tidak bersunat, ke dalam sidang.

Kita seringkali menilai orang lain dari aspek fenomenal/ yang kelihatan. Empirisme (menyangkut pengalaman panca indera) lebih diakui daripada rasionalisme (menyangkut pemikiran rasio) karena empirisme adalah lebih mudah. Pengalaman-pengalaman yang ditumpuk lama kelamaan menjadi sebuah kebanggaan nilai, dan mendorong kita membuat kesimpulan dari pengalaman. Semua pengalaman yang dibakukan itulah yang menjadi kebudayaan. Sebagai contoh: orang yang tidak pernah makan sayur ketika disuguhi sayur merasa tidak suka karena tidak terbiasa makan sayur; hal ini sudah begitu mengikat dan harus berani diterobos. Tidak ada kebiasaan yang tidak bisa diubah, kecuali dari dalam diri orang tersebut memang tidak mau berubah. Orang yang mengabsolutkan sesuatu yang relatif berarti dia sudah mati sebelum mati karena hanya orang mati yang tidak bisa berubah. Semua yang absolut tidaklah bersifat kebiasaan. Semua yang absolut memiliki landasan yang bersifat baku. Kalau kita tidak mau mengubah kebiasaan, berarti kita bersifat kaku, dan kekakuan itulah yang menyebabkan kita meletakkan Injil di bawah kebiasaan. Kebenaran Injil haruslah menjadi titik pusat hidup kita. 

Kebiasaan-kebiasaan kita juga seringkali mengunci kita sehingga kita tidak bisa dipakai Tuhan, misalnya: kita takut ikut pengabaran Injil ke daerah karena tidak bisa makan makanan lain di luar kebiasaan makan kita. Petrus juga pernah mengalami kesulitan untuk mengubah kebiasaannya yaitu ketika Tuhan memberikan penglihatan kepada dia berupa kain yang diturunkan dari langit yang berisi binatang-binatang haram dan Tuhan memerintahkan Petrus untuk memakannya. Tuhan berkata kepada Petrus: apa yang dinyatakan halal oleh Allah tidak boleh dinyatakan haram oleh manusia. Setelah Petrus berhasil menundukkan kebiasaannya di bawah perintah Tuhan, barulah Tuhan mengutus dia pergi ke rumah Kornelius yang merupakan orang non-Yahudi. Di kepala Petrus mula-mula adalah tidak mungkin bagi orang non-Yahudi untuk menjadi orang Kristen karena orang Kristen adalah orang Yahudi. Hal ini juga merupakan persiapan Tuhan bagi Petrus sebelum masuk ke sidang yang dihadiri oleh Paulus dan Titus.

Demi mengutamakan Kristus, maka semua kebiasaan/ tradisi yang tidak sesuai haruslah rela kita bongkar. Semua kemungkinan yang bisa menghambat kita untuk dipakai oleh Tuhan haruslah rela kita ubah. Jangan biarkan format-format tertentu hidup kita menjepit kita sehingga kita sulit untuk dipakai oleh Tuhan.

3)     Keterjepitan dalam aspek theologis dan filosofis.

Posisi inilah yang disebut sebagai konflik iman. Tanpa disadari, orang bisa menggandeng budaya dan menjadikannya sebagai imannya, sehingga ketika budayanya digugurkan dianggapnya sama dengan menggugurkan imannya dan dia akan sangat marah. Ketika budaya menjadi iman, seorang Kristen tidaklah pernah menjadi orang Kristen sejati. Bagi orang Yahudi, sunat adalah jalan keselamatan. Tuhan Yesus berkata bahwa keselamatan adalah melalui Dia yang telah mati di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia. Orang Yahudi kemudian menggabungkan keduanya; jadi keselamatan adalah melalui Kristus dan juga harus disunat.

Menggugurkan mitologi-mitologi tidaklah mudah. Sunat sudah dibakukan selama ribuan tahun yaitu sejak zaman Musa, sehingga sulit sekali untuk tidak menganggapnya sebagai salah satu jalan keselamatan. Tidak ada tradisi maupun mitos yang sah menjadi jalan keselamatan, kecuali penebusan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Ketika kita menjadi orang Kristen, sampai di mana kebenaran Injil mengatasi seluruh mitologi dunia? Orang yang melawan Kristus akan lebih sial daripada orang yang melawan mitos. Orang takut kepada setan karena dia tidak takut kepada Tuhan, sedangkan orang yang takut kepada Tuhan tidak akan takut kepada apapun.  

Ordo haruslah ditegakkan, kebenaran Injil tidak boleh takluk di bawah tradisi manusia, meskipun hal itu dikategorikan sebagai iman. Iman yang tidak kembali kepada Kristus adalah merupakan mitos. Mitos yang tidak kembali kepada Kristus merupakan sesuatu hal yang salah. Sesuatu hal yang salah, jika tidak kembali kepada Kristus, akan membawa manusia kepada kebinasaan. Seberapa jauh apa yang menjadi pergunjingan dalam Galatia 2:3-5 ini juga menjadi pergumulan kita: jangan pernah mengalah/ mundur selangkah pun agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kita?

Di era pluralis ini banyak orang yang tidak mempunyai identitas jelas sehingga mereka sangat takut pada mitos. Marilah kita terus hidup dengan berpegang pada kebenaran Injil, karena Injillah yang membuat kekristenan begitu kokoh di sepanjang sejarah zaman dan hidup kita menjadi kuat dalam menghadapi berbagai godaan dunia.

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)