Ringkasan Khotbah : 6 Januari 2013

Church and Her Calling

Nats: Matius 28:18-20       

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Sebelum Tuhan Yesus kembali ke Surga, Dia memberikan amanat agung yang terus menerus menjadi panggilan gereja di sepanjang sejarah zaman. Nats hari ini merupakan panggilan gereja tersebut. Perintah ini begitu solid, ketat, dan komplit, tetapi seringkali direduksi/ disederhanakan oleh berbagai macam pikiran dunia sehingga totalitas dari tugas ini menjadi tidak tergarap secara utuh.

Perintah inilah yang membawa gereja kepada 3 panggilan gereja, yang harus diemban oleh setiap hamba Tuhan, setiap pengurus, dan setiap jemaat di setiap wilayah gereja, yaitu: penginjilan, penggembalaan dan pengajaran. Setiap gereja harus menjalankan ketiganya dan tidak boleh dikorting. Di tengah-tengah era post-modern ini dengan tantangan dunia yang semakin menggila maka 3 panggilan ini semakin hari menjadi semakin redup. Salah satu sebab semakin redupnya panggilan ini adalah karena ketika gereja bermaksud menjalankan ketiganya, pada saat yang sama gereja tidak punya kekuatan keyakinan mengenai mengapa gereja harus menggarap ketiganya di tengah dunia. Di tengah-tengah tentangan teknologi dan isu-isu seperti: hipnotis, new-age movement (gerakan zaman baru), terapi modern, motivasi-motivasi humanistik yang begitu banyak, membuat orang mempertanyakan mengenai signifikansi penginjilan dan signifikansi menjadi Kristen. 

Kebenaran tidak pernah mengenal istilah kuno karena kebenaran bersifat kekal/ selamanya. Orang yang menilai Alkitab sebagai hal yang kuno, berarti orang tersebut tidak mengenal kebenaran dan hidupnya bergantung pada hal yang bersifat relatif/ yang selalu berubah. Ketika kita berada dalam perjalanan dunia yang bersifat relatif, dengan berbagai macam isu dunia yang terus bergeser, seberapa jauh kita bisa berhenti pada sebuah kebenaran yang tidak pernah perlu geser/ ganti karena bersifat absolut dan ketat? Hal ini bukanlah hal yang mudah.   

Manusia modern masuk ke dalam sebuah permainan yang bersifat skeptik total, agnostiksisme yang mengerikan, penuh dengan kompetisi, sehingga manusia menjadi tidak damai. Tidak damai disebabkan perasaan takut, kuatir dan ancaman. Kalau kita menjadi murid Tuhan maka kita akan memperoleh janji damai dari Tuhan Yesus, seperti tertulis dalam Matius 28:20b: Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Janji ini terwujud ketika kita dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ketika kita diajar untuk melakukan segala sesuatu yang telah Tuhan perintahkan. Damai sejahtera dan penyertaan Tuhan tidak diberikan kepada semua orang, melainkan hanya diberikan kepada umat pilihan-Nya/ orang yang percaya. Inilah yang menjadi kekuatan yang sangat besar bagi kita, yang membuat kita betul-betul merasakan damai sejati bersama dengan Allah. Bagaimana hal ini dapat terjadi?

1)   Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.

Alkitab mengajar kita bagaimana di tengah dunia ini menjadi murid Tuhan adalah orang yang paling aman dan bukan menjadi orang yang direndahkan. Orang menjadi murid Tuhan adalah orang yang dipilih oleh Tuhan (adalah konsep predestinasi). Konsep predestinasi inilah yang memberikan kekuatan besar kepada murid Tuhan. Ketika orang tidak mengerti bagaimana dia dipilih oleh Tuhan, maka kepercayaan/ konfidensinya menjadi hilang. Orang yang membangun konfidensi di atas diri sendiri adalah orang yang gagal karena diri manusia tidaklah layak untuk disandari.

Penginjilan merupakan kekuatan Kristen yang membuat kita bisa hidup sungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Tuhan sehingga seluruh arah hidup kita menjadi berubah. Untuk menapaki tahun 2013, hidup yang terbaik bisa dicapai dengan menjadi murid Kristus. Menjadi murid Kristus adalah anugerah terbesar yang mungkin terjadi, mujizat yang paling agung dan paling dahsyat yang mungkin dialami oleh manusia di tengah-tengah dunia berdosa. Bagaimana seorang manusia yang egois bisa mengaku berdosa, lalu bertobat, dan hidup taat kepada Tuhan, adalah merupakan mujizat dan sesuatu yang sangat dahsyat serta merupakan perubahan cara pikir yang sangat besar, yang tidak bisa dijelaskan secara logika.

Ada orang yang berkata bahwa mendengarkan khotbah di GRII sangatlah susah, bukan karena memakai bahasa asing, melainkan karena yang dikhotbahkan melawan apa yang ada di pikiran, sehingga sangatlah sulit untuk bisa betul-betul kembali kepada Tuhan. Hal ini tidak bisa diatasi dengan memakai cara manusia, kecuali Tuhan sendiri yang beranugerah. Allah memilih umat-Nya dan orang yang terpilih adalah orang yang beroleh anugerah untuk hidup seperti yang Tuhan mau. 

Secara hitungan logika, sangatlah tidak mungkin mengubah orang yang egois menjadi orang yang hidupnya berpusat pada Tuhan. Hal ini bisa terjadi jika ada mujizat Allah yang bekerja atas orang tersebut. Memuridkan seseorang/ membawa seseorang yang tadinya melawan Tuhan menjadi hidup memuliakan Tuhan dengan menyangkal diri, rela berkorban, rela sengsara, bahkan rela mati untuk Tuhan, adalah merupakan mujizat terbesar, yang tidak bisa dikerjakan oleh manusia. Mujizat bukanlah pemenuhan keinginan manusia.

Ketika kita menjadi murid Tuhan, kita menjalani format kehidupan yang berbeda dengan yang dunia kerjakan. Orang yang punya hati besar untuk Tuhan pasti akan memberikan persembahan dalam jumlah besar untuk Tuhan, sebaliknya orang yang tidak punya hati untuk Tuhan akan sangat pelit dalam memberikan persembahan, mempersoalkan persembahan orang lain, dan ribut meminta persembahan untuk diri. Murid Tuhan sejati akan memiliki hati yang berkorban bagi Tuhan.  

Seorang murid akan memberikan persembahan dengan rela dan motivasi yang benar. Beberapa alasan yang salah dalam orang memberikan persembahan yaitu: ingin punya nama besar/ dihormati, mendambakan Tuhan membalas dengan berkali-kali lipat. Itu bukanlah jiwa seorang murid. Pemuridan menjadikan kita berubah menjadi berfokus hanya pada Tuhan.  

2)     Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.

Hal ini berarti proklamasikan iman di tengah-tengah dunia ini, merupakan pembukaan dari sebuah fakta yang tidak kelihatan. Roh Kudus mempertobatkan seseorang merupakan pekerjaan yang tidak kelihatan, yang bersifat personal dan tidak diketahui orang lain. Ada orang yang menganggap proklamasi iman ini tidaklah penting, yang penting adalah hatinya. Kalau hatinya memang bertobat, mengapa tidak mau menyatakannya keluar dan mewujudkan komitmen itu dengan rela berkorban? Tuhan Yesus berkata: Kalau kamu malu mengakui Aku di depan umum, maka Aku juga malu mengakui kamu di depan Bapa-Ku.

Komitmen kita haruslah menyatakan diri, bagaimana kita hidup sebagai anak Tuhan. Inilah aspek penggembalaan. Mengapa kita perlu ke gereja setiap hari Minggu? Mengapa pada zaman dahulu ketika kekristenan mendapatkan ancaman mati jika bersekutu dan beribadah, mengapa orang masih juga mengadakan kebaktian dan tidak berdoa sendiri saja di rumah masing-masing? Karena inilah kesaksian. Orang seringkali tidak mau bayar harga/ menanggung resiko untuk menyatakan kekristenannya.

Orang yang siap menanggung segala resiko akibat memproklamasikan imannya di depan umum adalah orang yang akan dipakai oleh Tuhan selamanya. Orang yang sejak pertama menjadi Kristen sudah membangun semangat egois, pasti tidak akan dipakai Tuhan, karena Tuhan memanggil orang bukan untuk masuk Surga, melainkan untuk bekerja dan menghasilkan buah.

Alkitab menyatakan bahwa kita diselamatkan karena iman, karena kasih karunia Tuhan, bukan hasil usaha kita, bukan hasil pekerjaan kita, melainkan merupakan pekerjaan Tuhan, maka janganlah ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini adalah buatan Allah, yang dicipta dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang disiapkan Allah sebelumnya; Dia mau supaya kita hidup di dalamnya. Ketika kita bisa menyelesaikan tugas kita maka surga disediakan bagi kita. Paulus dalam Surat Filipi menyatakan bahwa dia tidak menghiraukan nyawanya untuk menyelesaikan tugas yang Tuhan berikan kepadanya, untuk memberitakan Injil kasih karunia Allah. Setiap kita haruslah bertekad untuk menjadi orang yang dipakai Tuhan, dibangun dalam gereja Tuhan, menggarap proklamasi sebagai umat Tuhan, menjalankan Kerajaan Surga di tengah dunia ini.

Mengapa kita harus menggarap hal di atas? Karena itulah makna hidup yang sejati. Binatang tidaklah punya makna hidup. Manusia dapat memikirkan asal dan tujuan hidupnya/ makna hidupnya/ nilai hidupnya. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki aspek epistemologis (berkaitan dengan kebenaran) dan aksiologis (berkaitan dengan nilai). Siapakah yang berhak menilai hidup kita (sukses atau tidaknya)? Hanya Allah Sang Pencipta satu-satunya yang berhak menentukan sukses atau tidaknya hidup kita. Karena itu kita harus hidup menjalankan apa yang Tuhan kehendaki supaya di akhir hidup nanti kita tidak dibuang oleh Tuhan. Seberapa kita di dunia ini menuntaskan tugas dari Tuhan, bukan menurut pikiran dan cara kita, tetapi menurut Tuhan, sehingga sampai kita mati mencapai garis akhir? Penilaian Tuhan dari sudut waktu yaitu kesetiaan dan dari sudut kualitas yaitu kebajikan.  

3)     Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Aku perintahkan.

Hidup orang Kristen adalah hidup dalam doktrin/ ajaran yang kuat. Seberapa pedulikah orang Kristen terhadap ajaran yang Tuhan berikan? Anehnya, manusia lebih bersemangat mempelajari hal-hal yang diajarkan oleh orang-orang binasa/ dunia. Alkitab memang bukanlah buku matematika/ bisnis/ ilmu pendidikan, dll, melainkan semua dasar dari ilmu-ilmu itu ada dalam Alkitab, karena Alkitab adalah kebenaran. Betapa sayangnya kalau kita membiarkan otak kita diisi dengan ajaran dunia yang tidak beres tetapi tidak mau diisi dengan kebenaran/ Alkitab. Orang yang otaknya diisi dengan kebenaran akan dapat melihat realita dunia secara tajam sehingga hidup menjadi lebih stabil. Alkitab mendidik kita dalam semua bidang, mulai dari prinsip membentuk sebuah keluarga, menata harta dan semua yang Tuhan percayakan kepada kita, menata struktur sosial masyarakat menjadi masyarakat yang sejahtera, dll.   

Ilmu dunia tidak ada apa-apanya, hanya hidup takut akan Tuhan dan menjalankan prinsip-prinsip kebenaran yang membuat hidup mempunyai nilai. Kekristenan seharusnya menjadi titik acuan dalam mempelajari dan mengimplikasi segala ilmu/ segala aspek dalam alam semesta ini.

Seberapa jauh kita mau menjadi saluran berkat bagi orang lain dengan memberitakan Injil? Seberapa jauh kita menjadi gereja yang membangun komitmen untuk menjadikan anak-anak Tuhan rela berkorban bagi Tuhan? Seberapa gereja mengajar jemaat sampai jemaat mengerti dengan kuat Firman Tuhan sehingga dapat mengatasi kesulitannya dalam segala bidang kehidupan? Ini merupakan urusan kita semua. Kiranya Tuhan menolong kita dalam menuntaskan tugas kita di tahun 2013 ini.

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)