Ringkasan Khotbah : 8 Juli 2012

Identitas Kristen

Nats: Galatia 1:1    

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Surat Galatia adalah surat yang pertama kali ada di PB, merupakan surat yang paling dini yang mendahului Injil Matius. Surat ini pertama-tama ditulis kepada jemaat di Galatia. Daerah Galatia merupakan bagian Utara dari Asia Kecil, dan sangat gersang serta sepi; orang-orangnya kebanyakan pedagang. Surat Galatia adalah surat yang sangat kental, sangat mendalam dan sangat seimbang antara prinsip dasar doktrin/ ajaran yang kuat dan praktika kehidupan. Beberapa penafsir setuju bahwa surat Galatia adalah miniatur dari surat Roma. Surat Roma merupakan versi panjangnya dan surat Galatia merupakan versi pendeknya, keduanya sama-sama padat dan sama isinya.

Prinsip dasar kekristenan yang paling penting yang harus dibangun pertama-tama oleh Paulus adalah: orang mengerti siapakah orang Kristen itu. Jadi prinsip pertama yang harus dibangun adalah bagaimana kita kembali kepada identitas yang asli, karena identitas sangatlah menentukan pola hidup kita. Untuk mengerti anthropologi (bagaimana mengerti tentang siapakah manusia) tidak bisa lepas dari theologi (bagaimana mengerti tentang siapakah Allah). Prinsip ini dibangun oleh Augustinus dan dipegang oleh seluruh theolog Reformed. Salah mengerti tentang Allah maka kita juga akan salah mengerti tentang diri. Membuang Tuhan berarti juga membuang diri kita.

Prinsip diatas justru menjadi permasalahan di segala zaman, menjadi suatu kesalah pengertian dalam keagamaan. Sejarah dunia ini terbentang kira-kira dalam rentang waktu 6000 tahun, dari sejak tahun 4000 SM sampai saat ini. Dalam rentang waktu itu ada 1 data yang sangat unik yaitu tidak ada 1 suku yang tidak beragama, tidak ada 1 bangsapun yang tidak berTuhan. Dapat disimpulkan bahwa konsep religius merupakan aspek yang tidak bisa ditiadakan/ dibuang dari keberadaan sebuah bangsa. Konsep ini oleh John Calvin ditajamkan dengan istilah sensus devinitatif yaitu adanya suatu perasaan illahi/ benih agama dalam diri manusia. Dalam wahyu umum, manusia mengakui adanya suatu kekuatan di atas dia. Manusia bukanlah makhluk yang paling tinggi/ berkuasa. Dalam dunia kuno, manusia takut dengan segala hal, seperti: petir, gempa, lalu mereka menyebutnya dewa halilintar atau dewa gempa. Ketakutan ini tidak hanya terjadi 4000 tahun yang lalu melainkan sampai dengan saat ini juga.

Sampai saat ini manusia tidak bisa menghentikan ketakutan ini. Sampai saat ini manusia bisa memberi jawab alasan terjadinya halilintar maupun tsunami tetapi manusia tetap tidak bisa menghentikan halilintar maupun tsunami. Negara-negara maju juga menjadi korban dari bencana alam. Manusia sadar bahwa dirinya tidak punya kapasitas cukup dan takut kepada kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Bagaimana manusia menyikapi hal ini?

Agama muncul sebagai respon dari manusia yang ketakutan, dan yang menyadari adanya sesuatu yang lebih besar di atas sana. Uniknya, setelah manusia jatuh ke dalam dosa terjadi sebuah keterkiliran dalam kehidupan manusia yang mencoba memlintir sebuah fakta. Di satu pihak manusia sadar adanya kekuatan besar yang tidak sanggup diatasinya tetapi pada saat yang sama religiositas mencoba memainkan religi yaitu berusaha menaklukkan/ membujuk ilah supaya tunduk kepada manusia, selalu menolong manusia. Inilah jiwa tuan yang ada pada diri manusia. Manusia dicipta Tuhan sebagai tuan atas semua ciptaan yang lain bahkan ciptaan yang berukuran lebih besar dari manusia sekalipun. Manusia tidak hanya puas menjadi tuan atas ciptaan yang lain, dia juga ingin menjadi tuan atas Penciptanya.

Agama membawa manusia percaya kepada Allah tetapi pada saat yang sama agama menjadikan manusia menolak Allah. Agama mengakui kedaulatan/ kekuasaan yang besar tetapi pada saat yang sama mengingkari kedaulatan itu. Agama percaya adanya kuasa supranatural di atas manusia tetapi pada saat yang sama agama berusaha menaklukkan kuasa supranatural di bawah kuasa natural. Ini semua merupakan permainan agama yang muncul di tengah-tengah dunia ini. Ketika manusia ingin menjadi tuan, dia takut untuk mengungkapkannya.

Menjelang akhir abad ke-19 menjelang abad ke-20 muncullah seorang yang jujur, yaitu seorang anak pendeta yang kemudian menjadi atheis bernama Nietszche, yang mengeluarkan 2 teori penting yang nantinya menjadi awal dari semua permainan dunia di abad ke-20. Teori tersebut adalah: 1) Allah sudah dia bunuh mati dengan pikirannya (Theologi Allah Mati), maka kita tidak perlu lagi memikirkan tentang Allah, 2) Teori Superman yang merupakan cita-cita kemanusiaan dari anthropologi humanistis yaitu manusia harus mencapai puncak tertinggi/ dignitas tertinggi.   

Teori Superman ini mencerminkan keinginan manusia di seluruh dunia. Nietszche mewakili seluruh manusia meneriakkan teriakan yang jujur. Pikiran ini mempengaruhi pemikir-pemikir besar dunia sehingga muncullah orang-orang gila di dunia ini, salah satunya yaitu Adolf Hitler. Tokoh ini menganggap orang Jerman adalah superman sedangkan bangsa lain tidaklah berharga, sehingga muncullah perang dunia ke-2. Pada saat yang sama, di Asia juga muncul bangsa yang ingin menjadi superman yaitu bangsa Jepang. Pikiran untuk menjadi superman ternyata mendatangkan malapetaka besar bagi dunia.

Manusia mau bebas, mau terus berdosa tanpa merasa dituduh oleh dosa, sehingga mendatangkan kehancuran bagi manusia itu sendiri. Kejadian seperti ini hampir melanda seorang muda yang hampir menjadi superman yaitu Saulus. Saulus berasal dari Tarsus, berdarah Yahudi yang disunat pada umur 8 hari, yang sangat kental dalam tradisi Yahudi, mempelajari dan menguasai pemikiran Yahudi, duduk di bawah pengajar terkenal zaman itu yaitu Gamaliel, di usia yang sangat muda sudah diterima sebagai orang Farisi (partai elite pada zaman itu), menguasai filsafat-filsafat yang berkibar di sekitarnya. Apa yang dicari/ dikejar sebagai keberhasilan seorang manusia ada di tangan Saulus. Seandainya dia tidak dipukul oleh Tuhan, dalam waktu 20 tahun ke depan dia akan menjadi seperti Kayafas atau Pilatus. Inilah kesuksesan yang justru akan membawa kepada kehancuran/ neraka.

Dalam kondisi seperti diatas, Saulus beroleh anugerah Tuhan. Saulus sebelumnya tidak pernah berpikir untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan bertobat. Ketika bertobat, Saulus (artinya: si besar) mengubah namanya menjadi Paulus (artinya: si kecil). Paulus menyadari bahwa semua hal yang sebelumnya dinilai sebagai kesuksesan olehnya ternyata hanyalah sebuah kebodohan. Kalau kesuksesan itu terus dipacunya maka hasil akhirnya adalah kematian.  

Pada Galatia 1:1 disebutkan: Dari Paulus, seorang rasul, Ini adalah suatu posisi yang begitu ketat dia sadari. Dia yang kecil, yang tidak ada apa-apanya, adalah seorang rasul. Pengertian ini menjadikan seluruh semangat, seluruh sikapnya, seluruh perjuangannya menjadi berbalik arah. Dia yang semula sangat ambisius untuk kepentingan manusia, sekarang sudah berubah. Dia berkata: Aku seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, Dia menjadi rasul bukan demi manusia, juga bukan disebabkan oleh manusia tetapi oleh karena Kristus. Inilah kunci penting.

Kalimat yang dianggap sah oleh teori anthropologi adalah: aku menjadi manusia karena manusia. Kalimat ini mengandung jebakan posisi eksternal yaitu pengenalan induksi terhadap suatu kasus; kita melakukan survey terhadap bagian tertentu kemudian mencoba memberikan gambaran tentang bagian tersebut; sebagai contoh: kita mengumpulkan berbagai mobil lalu menyimpulkan bahwa mobil beroda 4 dan mempunyai setir. Hal ini merupakan pendekatan eksternal terhadap sebuah hakekat; kita tidak mengerti hakekat mobil tetapi hanya menemukan gejala dari mobil. Untuk mengetahui jawaban yang sah mengenai esensi mobil, kita harus bertanya kepada pembuatnya.

Ketika manusia menyembunyikan identitasnya di dalam kelompok induksi/ sebuah komunitas maka dia sedang mencelakakan dirinya. Kalau kita salah mengenali identitas diri maka kita akan memiliki pikiran yang salah tentang diri kita dan menjalani prilaku hidup yang salah pula. Sebagai ilustrasi, seorang gila yang berpikir bahwa dirinya adalah sebutir jagung maka dia akan sangat takut dengan ayam karena takut dipatuk ayam. Orang yang tidak mengenali identitasnya akan berbuat segala sesuatu karena manusia dan akan mencari perkenanan manusia; orang demikian akan menjadi budak dari manusia lain. Akhirnya orang ini tidak bisa menjadi siapa-siapa karena selalu berada di bawah siapa-siapa. Inilah kecelakaan yang banyak dialami oleh manusia-manusia modern.

Paulus mengajarkan bahwa identitas diri kita bukan ditentukan oleh diri kita/ manusia, melainkan ditentukan oleh Kristus, karena Kristuslah penebus kita, Kristuslah pusat hidup kita, maka kita harus kembali kepada Kristus. Identitas yang demikian akan menjadi angkur yang sangat kuat dan tidak tergoncangkan oleh siapapun. Bahkan tidak hanya ditentukan oleh Kristus tetapi juga oleh Allah Bapa karena kita adalah milik Allah. Kita adalah anak-anak Allah, dicipta menurut peta dan teladan Allah, diderivasikan/ diturunkan untuk hidup mempermuliakan Allah; kita harus memikirkan Bapa yang di Surga; kalau Bapa kita suci dan benar maka kita juga harus suci dan benar. Yohanes 1:12 menuliskan bahwa kita ditebus dan diberi kuasa oleh Kristus untuk menjadi anak-anak Allah. Tuhan memberi kita kuasa supaya dapat menampilkan 1 kondisi hidup sebagai anak Allah. Sebagai anak Allah kita haruslah memiliki kesamaan esensial antara Allah dengan kita.

Konsep tentang anak ini seringkali dikacaukan sehingga muncul pertanyaan: kalau Kristus adalah Anak Allah, maka kapan Dia dilahirkan? Allah punya Anak adalah pernyataan yang benar, tetapi kapan Dia dilahirkan adalah pertanyaan yang salah. Berbicara tentang anak tidaklah berkaitan dengan kapan dia dilahirkan. Istilah anak memiliki arti esensial dan ekstensial. Anak kambing/ babi/ manusia mempunyai arti esensial, artinya memiliki esensi yang sama dengan kambing/ babi/ manusia. Anak kunci/ anak pejabat/ anak dokter mempunyai arti ekstensial, artinya tidak memiliki esensi yang sama, anak tersebut bukanlah pejabat/ dokter. Anak tidak berkorelasi langsung dengan waktu lahir melainkan dengan hakekatnya. Ketika kita menyebut diri sebagai anak Allah maka esensi Allah yang benar dan suci juga harus kita turunkan.

Seluruh identitas kita haruslah theologis dan tidak boleh dicopot dari identitas asli kita yang theologis. Saya bisa mengenal diri jika saya mengenal Allah dengan benar. Orang bisa takut dengah hantu karena doktrin Allahnya tidak beres. Mari kita mengevaluasi diri kita, seiring perjalanan waktu maka setiap perbuatan dan keputusan kita akan mencerminkan siapakah diri kita. Menjadi orang Kristen sejati adalah kembalinya identitas kita yang asli di hadapan Allah.  

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)