Ringkasan Khotbah : 15 Januari 2012

Yakub & Kekuatannya

Nats: Kejadian 32

Pengkhotbah : Ev. David Tong

 

Saya yakin bahwa setiap kita sudah mengenal tokoh Yakub. Kejadian 25 menceritakan tentang kisah kelahiran si kembar Yakub dan Esau. Kita bisa melihat cara kerja Tuhan yang begitu unik di dalam sejarah, Tuhan memanggil Abraham, Ishak dan Yakub. Panggilan Tuhan diberikan kepada orang-orang yang tidak layak, yang tidak berkualifikasi untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan. Tuhan memanggil Abraham dan berjanji kepadanya akan memberikan keturunan yang sangat besar jumlahnya. Janji tersebut diberikan kepada orang yang tidak berkualifikasi untuk menjadi bangsa yang besar, lagipula istri Abraham, yaitu Sarai, mandul adanya. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pekerjaan Tuhan bukanlah milik kita dan bukan tergantung pada kontribusi kita. Tuhan seringkali memakai kelemahan kita untuk menunjukkan kebesaran-Nya.

Anak Abraham, yaitu Ishak, mempunyai istri (yaitu Ribka) yang juga mandul. Istri Yakub, yaitu Rahel, juga seorang yang mandul. Dalam sejarah keselamatan, pada suatu hari lahirlah Yesus Kristus dari rahim seorang wanita yang belum menikah. Ada 1 benang merah dalam sejarah keselamatan yaitu Tuhan menjadikan sesuatu itu ada dari sesuatu yang tidak ada. Tuhan Sang Pencipta sanggup menciptakan ex nihilo (dari sesuatu yang tidak ada), maka menciptakan 1 bangsa pun adalah suatu hal yang mudah bagi Dia.

Ishak dan Ribka harus menunggu selama 20 tahun sampai akhirnya mereka mendapatkan anak kembar yang diberi nama Yakub dan Esau. Kedua anak itu bertolak belakang sekali sejak di dalam kandungan sampai-sampai Ribka berdoa: apa gunanya saya memiliki kedua anak yang tidak normal ini. Firman Tuhan berkata: “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain; dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.” Secara natural, anak yang muda seharusnya menjadi hamba dari anak yang tua. Tetapi kedaulatan Allah berbeda dengan kisah natural, kedaulatan-Nya menetapkan sejarah menurut kehendak-Nya. Esau lahir terlebih dahulu, Yakub yang lahir kemudian sambil memegang kaki Esau. Arti nama Yakub adalah penipu, dan dia betul-betul menghidupi nama itu. Yakub berulang kali menipu orang lain, salah satunya adalah menipu Esau untuk mendapatkan hak sulung Esau. Esau dengan begitu bodoh merelakan hak sulungnya demi mendapatkan semangkuk sup kacang merah. Bagi Esau hak kesulungan/ janji Tuhan adalah tidak penting, kebutuhan pada saat itu adalah yang lebih penting. Celakalah kita jika lebih mementingkan kebutuhan hidup sehari-hari kita daripada rencana kekal Allah.

Yakub akhirnya mendapatkan hak kesulungan dan berkat yang diperuntukkan bagi Esau dengan cara menipu. Esau menjadi begitu benci kepada Yakub sehingga bertekad hendak membunuh Yakub jika Ishak sudah meninggal. Oleh karena itu, Yakub lari ke tempat yang sangat jauh, keluar dari tanah perjanjian. Inilah konsekuensi dari dosa Yakub. Pada Kejadian 31:3 Tuhan menyuruh Yakub untuk pulang ke negeri nenek moyangnya. Kita akan melihat pergumulan Yakub dalam Kejadian 32.

Yakub sebelumnya adalah orang yang merasa dirinya cukup pandai, cukup baik sehingga dapat mengatasi segala persoalan dengan kemampuan diri. Dia tidak pernah bersandar kepada Tuhan. Dalam Kejadian 32, Yakub bertemu dengan malaikat Allah, tetapi dia tidak takut sedikitpun kepada malaikat Allah itu. Yang ditakuti oleh Yakub adalah Esau. Yakub sangat ketakutan dan sesak hati. Pada momen ini Tuhan sepertinya hendak bertanya kepada Yakub bahwa siapakah yang dapat menjadi sandarannya pada saat seperti ini. 

Yakub berdoa kepada Allah Abraham dan Ishak. Yakub sadar bahwa tidak ada jalan keluar selain bersandar kepada Tuhan. Dalam doanya, Yakub menyatakan bahwa dirinya tidaklah layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan Tuhan. Seringkali dalam hidup kita, doa yang terindah keluar pada saat kita sedang dalam kesesakan, kita berada di tempat paling rendah. Di saat kita menerima berkat Allah, justru kita jarang menaikkan doa yang indah.   

Yakub sadar bahwa dirinya tidak ada apa-apanya, dan dia mau taat menjalankan perintah Tuhan untuk dia kembali ke tanah perjanjian. Tuhan izinkan kesulitan terjadi dalam hidup kita dengan maksud untuk mendidik kita. Tuhan “mengocok” hidup kita supaya kita sadar bahwa diri kita tidak ada apa-apanya dan harus kembali hidup bergantung kepada Tuhan.

Kejadian 28 menceritakan Yakub sedang berada di Betel, sebelum keluar dari tanah perjanjian. Kejadian 32 menceritakan Yakub sedang berada di Pniel, sebelum masuk kembali ke tanah perjanjian. Sebelum keluar dan masuk tanah perjanjian dia berjumpa dengan malaikat Tuhan, dia memiliki pengalaman dengan Tuhan. Pada saat di Betel, Tuhan berjanji kepada Yakub tetapi Yakub belum mengenal Tuhan secara sepenuhnya. Kejadian 28:20 menyatakan kekurangajaran Yakub terhadap Tuhan, dimana dia menuntut suatu syarat kepada Tuhan, barulah Tuhan menjadi Allahnya. Pergumulan kita seharusnya juga membuat kita semakin mengenal diri kita dan mengenal Allah secara lebih mendalam.  

Banyak orang Kristen yang mengakui Dia sebagai Allahnya sebatas ucapan bibir tetapi belum menerima Dia sebagai Juruselamatnya. Kita tahu secara teori bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta, yang mengirimkan Anak-Nya yang tunggal untuk mati menebus dosa-dosa kita, tetapi kita  belum pernah menerima cipratan anugerah Allah dalam hidup kita. Kita hanya memiliki pengetahuan tetapi belum mengalami.    

Di satu pihak Yakub memang mau bersandar kepada Tuhan, tetapi di lain pihak dia masih akan menipu. Setelah dia berdoa memohon keselamatan dari Tuhan, dia masih tetap mengandalkan kekuatan dirinya. Dia bermaksud memberikan persembahan ternak sebanyak 550 ekor kepada Esau. Hadiah sebesar ini sangatlah cocok untuk diberikan kepada raja. Yakub bermaksud mengambil hati Esau dengan hadiahnya itu. Yakub tidaklah berbeda dengan Yakub pada puluhan tahun yang lalu, yang berusaha mengambil hati Esau dengan semangkuk sup kacang merah. Yakub betul-betul belum bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Hidup kitapun tidak jauh berbeda dengan Yakub. Di satu pihak kita bergantung kepada Tuhan tetapi di pihak lain kita juga mengandalkan kekuatan diri. Kisah Yakub menunjukkan betapa bodoh dan munafiknya hidup kita. Di satu pihak kita berdoa kepada Tuhan, tetapi di lain pihak kita tidak percaya bahwa Tuhan akan menjawab doa kita.

Setelah menyeberangkan anak-anak dan istri-istrinya, lalu Yakub tinggal seorang diri. Banyak penafsir menilai bahwa Yakub adalah seorang pengecut dan masih memikirkan untung rugi bagi dirinya. Ketika dia tinggal seorang diri, terjadilah sebuah pergumulan. Banyak orang menilai bahwa hal ini merupakan hal yang begitu gelap dalam hidup Yakub, khususnya di zaman modern ini. Ketika banyak orang Kristen hidup dalam segala kenikmatan dan kemudahan teknologi yang ada, maka bergumul merupakan suatu hal yang tidak diinginkan, apalagi jika kita dipukul kalah oleh Tuhan dalam pergumulan itu.

Kisah yang dialami Yakub ini begitu menyedihkan tetapi merupakan kisah terbaik dalam hidup Yakub. Keindahan dari pergumulan Yakub adalah:  

1)     Yakub sedang menjalankan perintah dari Tuhan.

Mengapa kita bergumul? Apakah kita bergumul akibat kita berbuat dosa ataukah kita bergumul karena sedang menjalankan perintah Tuhan? Sebagai orang Kristen, khususnya yang melayani Tuhan, pasti akan mengalami pergumulan.

2)     Yakub bergumul ketika seorang diri.

Seorang Kristen, yang karena Kristus, harus bergumul dalam hidupnya, tidaklah mungkin bergumul seorang diri, karena Tuhan juga akan bergumul bersama dengan dia.

3)     Pergumulan ini dimulai oleh Tuhan.

Apakah pergumulan kita dimulai oleh dosa-dosa kita? Pergumulan yang terjadi ketika kita mengerjakan pekerjaan Tuhan adalah pergumulan yang dimulai oleh Tuhan dan atas izin Dia. Tuhan bukanlah kalah dengan Yakub tetapi Dia dengan mudahnya mengakhiri pergumulan itu. Di sini kita lihat bahwa Tuhan yang memulai, Tuhan pula yang mengakhirinya. Seringkali kita tidak sabar menantikan akhir dari pergumulan kita dan kita berusaha mencari jalan keluar sendiri.

Kita harus belajar untuk menikmati keindahan dari pergumulan. Yakub akhirnya berubah secara total setelah mengalami pergumulan itu. Yakub tidak lagi berjalan di belakang rombongannya melainkan dia berjalan di depan untuk berhadapan dengan Esau. Perubahan ini dimungkinkan karena Tuhan sudah menjadi Tuhan yang personal dalam hidup dia (Kejadian 33:20), sebelumnya Tuhannya adalah Allah Abraham dan Ishak.

Yakub hidup sebagai penipu sampai usia tuanya sehingga secara teori psikologi Yakub tidaklah berpengharapan untuk bisa diubah. Tetapi Tuhan dapat mengubah hidup kita kapanpun Dia mau. Tuhan adalah Tuhan yang menciptakan kita, yang menebus kita, yang terus bekerja dalam hidup kita, bergumul bersama kita, dan Dia merubah kita. Keindahan kisah Yakub ini bukanlah terletak pada diri Yakub melainkan pada diri Allah.

Kita semua tentu sudah tahu 5 inti sari pengajaran kaum Calvinis yaitu Total depravity (kerusakan total), Unconditional election (pemilihan tidak bersyarat), Limited atonement (penebusan terbatas), Irresistable grace (anugerah yang tidak dapat ditolak), Perseverance of the saints (ketekunan orang kudus). Kita dimulai dengan keadaan berdosa, rusak dalam semua hal, tetapi diakhiri dengan sesuatu yang begitu indah yaitu ketekunan orang kudus. Kita dipanggil dari orang berdosa untuk menjadi orang kudus. Perubahan besar terjadi dalam hidup kita, dikarenakan adanya pemilihan tidak bersyarat, penebusan yang terbatas, dan anugerah yang tidak dapat ditolak dari Tuhan. Karena keselamatan itu berasal dari Tuhan maka ada jaminan bahwa keselamatan itu dapat kita peroleh. Kita dapat bertekun sampai pada akhirnya karena Tuhanlah yang bertekun. Tuhan yang memulai misi penyelamatan, Dia pula yang menuntaskan dan yang menopang semuanya sampai pada titik akhir.

Allah pada akhirnya berkenan dijuluki sebagai Allah Yakub. Allah memiliki atribut-atribut yang begitu tinggi, sedangkan Yakub kebalikannya. Yakub di mata Tuhan adalah seperti cacing. Hal ini menunjukkan keagungan Tuhan kita. Inilah kisah seorang penipu di tangan Allah yang besar. Kekalahan dalam pergumulan Yakub justru mengubah hidupnya.

 

Renungan:

1.     Situasi/kondisi apakah yang mungkin sedang menjadi pergumulan Anda pada saat ini? Bagaimana dan tindakan apa yang Anda akan lakukan dalam merespon pergumulan Anda tersebut dalam terang Firman Allah secara benar? Sharing hal ini pada rekan seiman Anda.

2.     Apakah yang Anda mau lakukan bagi sesama rekan seiman Anda yang sedang dalam situasi pergumulan di minggu ini? Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut dengan tulus.

 

 

    (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)