Ringkasan Khotbah : 20 November 2011

Kematian yang Mematikan Kematian

Nats: Matius 27:50-54

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Nats hari ini merupakan klimaks berita dari apa yang dipaparkan dalam Matius 26 dan 27, yang merupakan inti pemberitaan dari Injil Matius. Dua pasal terpanjang dalam Injil Matius tersebut menceritakan tentang peristiwa yang dialami Tuhan Yesus selama 24 jam, dari Kamis pukul 6 sore sampai dengan Jumat pukul 6 sore.

Tema kematian merupakan tema yang paling penting dalam kehidupan manusia. Orang sangat takut untuk berbicara tentang kematian, khususnya orang Timur, tetapi kematian adalah fakta yang tidak dapat dihindari. Ada 2 hal yang paling sulit tentang kematian bagi manusia yaitu: 1) kematian tidak bisa lepas dari kejatuhan manusia ke dalam dosa, 2) setelah kematian akan menuju ke mana.  

Seorang filsuf agama mengatakan bahwa agama membicarakan perihal setelah kematian. Salah satu sebab manusia beragama adalah karena takut memikirkan hal-hal setelah kematian. Agama menjawab problema ini dengan spekulasi masing-masing. Ada agama yang mengatakan bahwa setelah kematian akan ada hidup lagi tanpa mengetahui hidup lagi yang seperti apa, ada pula yang mengatakan bahwa setelah kematian maka selesailah semuanya tanpa adanya pertanggungjawaban (golongan materialisme). 

Manusia kemudian mulai mengejar keselamatan yang dianggap ada di balik kematian. Konsep selamat yang dimaksudkan yaitu tidak mengalami celaka setelah kematian. Konsep ini juga masuk ke dalam kekristenan. Hal ini berarti kekristenan telah masuk ke dalam jebakan agama. Dalam Kitab Galatia, Paulus memperingatkan agar kita tidak salah dalam soteriologi (doktrin keselamatan). Salah menangkap konsep keselamatan Kristen justru membawa kepada kematian.

Keselamatan Kristen seringkali dipikirkan sebagai masuk Surga. Inilah kecelakaan besar yang bukan hanya terjadi pada zaman Paulus melainkan sampai dengan hari ini. Begitu kita berpikir bahwa selamat berarti masuk Surga, maka hal itu akan membawa kita justru masuk neraka, karena pada saat itu berarti kita tengah menjadikan Kristus sebagai pelayan dosa (Galatia 2). Tuhan Yesus bukanlah tukang bersih-bersih dosa! 

Konteks keselamatan yang sesungguhnya adalah menyangkut penggenapan misi Allah menyelesaikan problema dalam Kejadian 3. Di sana dikatakan bahwa kalau manusia makan buah yang dilarang Tuhan maka manusia akan mati, berarti: kalau manusia tidak makan buah itu maka manusia akan hidup. Jadi misi keselamatan adalah membuat manusia menjadi hidup. Ketika manusia dicabut/ dikeluarkan dari kematian maka manusia akan masuk ke dalam hidup. Hidup yang kekal, hidup yang baru, hidup yang kembali kepada Tuhan, itulah yang menjadi tema kekristenan.

Empat ayat renungan hari ini merupakan ayat yang paling sentral, yang membicarakan tentang anthropologi Kristen. Anthropologi adalah filsafat tentang manusia, yang mempelajari tentang: esensi/ hakekat dan tujuan hidup manusia. Anthropologi sejati haruslah anthropologi yang Kristologis. Mengapa harus Kristologis/ berpusat pada Kristus?

Matius 27:50: Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Kristus harus mati pada hari itu bukanlah karena Dia harus dimatikan, tetapi karena Dia menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya. Hal itu merupakan penggenapan seluruh misi Dia seperti yang dikatakan-Nya sebelumnya yaitu: Tetelestai, yang berarti: sudah genap. Tuhan Yesus juga pernah berkata bahwa Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Kristus memang datang untuk mati, untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Bapa-Nya. Dia harus menggenapkan hidup-Nya, dan setelah genap maka Dia kembali kepada Bapa. Jadi kematian adalah titik penggenapan.

Dalam Theologi Reformed kita mengenal istilah Creation-Fall-Redemption-Consumation (artinya: penciptaan-kejatuhan-penebusan-penyempurnaan). Titik alfa kita adalah C pertama, sedangkan titik omega kita adalah C terakhir. Kehidupan secara makro kosmik dan mikro kosmik (tiap pribadi) dibentang dari C pertama kepada C terakhir.

Pdt. Stephen Tong beberapa waktu yang lalu divonis oleh dokter menderita Hepatitis C yang secara teori hanya bisa bertahan hidup selama 3 tahun. Setelah mendapat vonis tersebut, Pdt. Stephen Tong langsung bertindak dengan lebih cepat dan efektif memakai sisa waktu hidupnya, beliau keluar dari SAAT dan mulai menggarap Gerakan Reformed Injili Indonesia. Sampai saat ini Gerakan Reformed Injili Indonesia sudah berjalan selama 23 tahun dan beliau masih hidup. Inilah bedanya antara orang yang hidup dan yang mati. Orang yang hidup tahu bagaimana harus menyelesaikan hidupnya bukan melulu berpikir tentang kematian. Seperti yang dikatakan oleh Paulus: hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan. Menjelang akhir hidupnya, Paulus berkata bahwa dia telah sampai pada garis akhir, dia sudah menyelesaikan pertandingan dengan baik, dan dia sudah memelihara iman, maka sekarang tersedia mahkota bagi dia.

Orang Kristen harusnya tahu hidupnya untuk apa, dan hidupnya terbatasi oleh waktu, dia harus menuntaskan kehendak Tuhan atas hidupnya. Orang yang bukan Kristen tidak akan pernah mengerti bagaimana menggarap hidupnya. Kematian-Nya telah menghidupkan kita, kematian-Nya membuat kita bisa menggenapkan pekerjaan baik yang telah disediakan Allah. Kita harus hidup mengerjakan pekerjaan Tuhan dan menuntaskannya.

Raja Hizkia berdoa kepada Tuhan demikian: Tuhan, ingatlah kepada hamba-Mu yang telah hidup tulus hati dan setia kepada-Mu, dan Engkau tahu aku sudah melakukan semua yang berkenan kepada-Mu. Beranikah kita berdoa demikian? Setelah berdoa demikian, umur Hizkia diperpanjang 15 tahun lagi oleh Tuhan, tetapi sayangnya dia tidak lagi bisa hidup tulus dan setia di hadapan Tuhan. Kalau kita diberi umur yang panjang oleh Tuhan, kita harus dapat menuntaskan hidup kita sampai garis akhir hidup kita. Jangan kita minta hidup yang panjang tetapi mintalah hidup yang produktif.

Matius 27:51: Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah. Ayat diatas menunjukkan bahwa kematian Kristus bukanlah sebuah kegagalan melainkan membawa manusia menjadi manusia yang sejati. Manusia yang sudah berdosa adalah objek murka Allah yang harus dihukum mati. Kematian Kristus ditetapkan oleh Allah Bapa menjadi jalan pendamaian bagi manusia (Roma 3:24). Pendamaian ini terjadi pada saat Kristus mati di atas kayu salib.

Tabir Bait Suci merupakan pemisah antara wilayah Allah (Ruang Maha Suci) dengan wilayah manusia. Manusia tidak pernah boleh melewati tabir itu memasuki Ruang Maha Suci, barangsiapa memasukinya akan mengalami kematian. Satu tahun sekali Imam Besar, sebagai wakil Tuhan Yesus, diizinkan masuk untuk memohon pendamaian. Kalau Imam Besar itu tidak betul-betul suci, maka dia masuk Ruang Maha Suci dan tidak keluar lagi karena mati. Ritual ini dijalankan ribuan tahun lamanya, sejak zaman Musa. Tuhan Yesus mati sekitar jam 3 sore, sama dengan saat dimana domba Paskah disembelih untuk korban penebus dosa. Ketika Kristus mati, semua murka Allah yang seharusnya ditimpakan kepada kita menjadi ditimpakan kepada Kristus. Waktu Kristus mati, selesailah hutang dosa, Tuhan yang berinisiasi membelah tabir Bait Suci, yang berarti: antara Allah dan manusia telah terjadi pendamaian. Hal ini menunjukkan pula bahwa bukan manusia yang menemukan jalan untuk bertemu dengan Tuhan melainkan Tuhan yang menetapkan jalan pendamaian itu.

Ada 2 implikasi penting dalam hal ini yaitu: 1) implikasi theologis yaitu Tuhan Yesus bukan bayar hutang kepada setan untuk bisa menarik keluar manusia dari dosa melainkan Tuhan Yesus bayar murka Allah/ seluruh murka Allah ditimpakan kepada Tuhan Yesus, 2) implikasi praktis yaitu menjadikan pengharapan bagi orang Kristen, karena dosa masa lalu tidak lagi mengikat dan kita hidup dalam keterbukaan relasi/ berdamai dengan Allah. Hidup kita yang sekarang adalah hidup yang sungguh-sungguh untuk Kristus dan tidak mau diikat oleh masa lalu yang kelam.

Matius 27:52-53: dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang. Peristiwa ini sangatlah heboh tetapi hanya dicatat dalam Injil Matius. Karena tidak ada data lebih jauh lagi mengenai peristiwa diatas maka kita tidak perlu berspekulasi mengenai ayat ini terlalu jauh. Yang dimaksud dengan orang kudus sangatlah mungkin bapa-bapa patriakh, atau hakim-hakim, atau nabi-nabi, atau imam-imam. Karena tidak berkorelasi langsung dengan masyarakat waktu itu maka tidaklah terjadi kehebohan di kalangan orang Israel. Sangatlah mungkin, kebangkitan orang kudus untuk menunjukkan adanya kebangkitan manusia yang disebabkan oleh kematian dan kebangkitan Kristus.

Matius memasukkan cerita ini dengan tujuan supaya orang menangkap point yang penting dalam Kerajaan Surga yaitu Kristus adalah Raja yang tidak pernah kalah. John Owen mengatakan bahwa kematian Kristus bukanlah kekalahan, kematian Kristus justru merupakan kematian yang mematikan kekuatan kematian. Setan hancur dalam 2 tahap dalam senjang 2 hari yaitu: begitu Kristus mati, seluruh hutang dosa dibayar, tabir Bait Suci sudah dibuka, berarti setan sudah tidak bisa lagi menguasai manusia tetapi setan masih belum dikalahkan. Setan dikalahkan pada saat Kristus bangkit.

Dengan pemikiran seperti diatas, Matius hendak menunjukkan bahwa kematian Kristus bukanlah sebuah kekalahan melainkan merupakan kemenangan seorang Raja yang melepaskan umat pilihan-Nya melalui kematian-Nya. Kemenangan Sang Raja adalah sejak kematian-Nya. Kematian Kristus dahsyat adanya!

Matius 27:54: Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut … , lalu berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.” Kematian Kristus bukanlah hanya menyelesaikan masa lampau, tetapi juga membawa kita melihat ke depan kepada pengharapan dan bersifat misionaris. Kematian Kristus begitu dahsyat sampai orang kafirpun mengakui bahwa Dia adalah Anak Allah.

Misi Kristen adalah misi yang Kristologis. Kita harus membawa orang kembali kepada Kristus karena Kristus telah mati bagi dia. Berita tentang kematian Kristus bagi manusia berdosa merupakan berita terpenting yang membuat manusia menjadi berpengharapan.

Anthropologi sejati dimulai dari berita bahwa Kristus mati bagi manusia berdosa sehingga manusia bisa menjadi manusia yang benar/ yang sejati. Kita harus terus mengumandangkan berita Injil yang memberitakan kematian Kristus, karena tidak ada cara lain untuk memperoleh hakekat hidup selain memandang kepada Kristus yang tersalib. 

 

RENUNGAN:

1.     Apa makna kematian bagi Anda? Hal-hal apa saja yang berkenan bagi Kristus yang sudah Anda lakukan dalam menghadapi kematian Anda? Berdoa dan evaluasilah hidup yang Anda sudah lalui di minggu yang lalu.

2.     Apa yang Anda akan lakukan di minggu ini supaya kelak bila kematian menjemput Anda, hal tersebut boleh membawa orang lain disekitar Anda boleh melihat Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat dunia dan mereka merespon kematian dengan benar? Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut dengan sungguh-sungguh.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)