Ringkasan Khotbah : 06 November 2011

Eli Eli Lama Sabakhtani (2)

Nats: Matius 27:47-49

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Nats hari ini merupakan klimaks dari momen-momen hidup Kristus. Teriakan Kristus: Eli, Eli, lama sabakhtani?, yang berarti: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?, merupakan teriakan yang dahsyat dan sulit dimengerti. Bagaimana Allah Tritunggal yang begitu menyatu harus dipecahkan? Bagaimana Allah Bapa yang begitu dekat dengan Allah Anak, di satu momen Allah Bapa harus memalingkan muka-Nya dari Allah Anak? Betapa beratnya putusnya cinta kasih antara Allah Bapa dan Allah Anak. Kasih yang merupakan natur dari Allah, kasih yang begitu besar antara Allah Bapa dan Allah Anak, kasih tersebut harus dipecahkan. Hal ini menunjukkan betapa dahsyatnya kematian Kristus di atas kayu salib. Kristus diperlakukan seperti itu bukan karena Dia telah berdosa/ berbuat salah, melainkan karena Dia harus menanggung dosa kita semua. Dia harus menanggung hukuman atas manusia yang melawan Tuhan, manusia yang berdosa, yang seharusnya dihukum mati. Dosa inilah yang membawa Kristus harus naik ke atas kayu salib.

Manusia sulit untuk bisa mengerti bahwa dirinya telah berdosa dan seharusnya dihukum mati. Kalau kita bisa mengerti akan hal ini, maka hal itu merupakan anugerah Tuhan yang besar bagi kita. Hal ini bukan karena kepandaian kita tetapi karena Tuhan masih berkenan membukakan rahasia-Nya bagi kita, mau melembutkan hati manusia yang keras sehingga manusia mau membuka pikirannya melihat satu kebenaran Tuhan yang besar. Ketika Kristus naik ke atas kayu salib, mengharuskan kita untuk berespon dengan tepat kepada Dia. Adalah hal yang membahagiakan jika ketika melihat suatu peristiwa kita bisa memberikan respon yang tepat, kita bisa mengerti dengan tepat apa yang terjadi, kita bisa menghargainya, lalu kita bisa menjalankan kehidupan dengan tepat.  

Seluruh respon kita yang beruntun akan menentukan seluruh arah hidup kita. Dari nats hari ini kita melihat suatu respon yang sangat salah di tengah dunia ini. Dalam nats hari ini kita melihat 3 model respon yang perlu kita pikirkan.

1)    Ayat 47: Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: “Ia memanggil Elia.”

Respon demikian merupakan respon komentator, artinya hanya memberikan komentar tapi tidak berbuat apapun. Respon ini merupakan respon yang paling umum. Komentar yang dikemukakannya mutlak salah, tapi orang itu tidak merasa bersalah, bahkan orang lain ikut terpengaruh olehnya.

Kita hidup dalam era dengan subyektifitas yang sangat besar dimana setiap orang merasa berhak untuk beropini, sehingga muncul banyak wacana. Tapi, hidup bukanlah wacana/ komentar! Hidup merupakan implikasi dari sebuah komentar/ wacana/ pikiran. Pdt. Stephen Tong mengajar kita untuk tidak hanya omong tetapi harus menjalankan omongan kita (who say, who pay). Hidup adalah mempertanggung jawabkan apa yang kita katakan. Hidup haruslah berani bayar harga dalam menjalankan setiap perkataan kita.

Sejak paruhan kedua abad ke-20 manusia dibawa masuk ke dalam permainan pikiran yang tidak bertanggung jawab. Setiap orang berhak berkata-kata secara subyektif karena setiap kalimat tidak ada tuntutan tanggung jawabnya. Dalam Post-modern hal ini dikenal dengan istilah: Matinya Sang Pengarang. Setiap seseorang berbicara, orang-orang yang lain berhak menangkap dengan pengertian masing-masing tanpa perlu diverifikasi kembali kepada pembicaranya. Karena itu tidaklah heran ketika orang menafsirkan secara sembarangan terhadap Alkitab, tanpa perlu bertanya kepada Tuhan sebagai penulisnya, karena Tuhan dianggap sudah mati.

Di tengah-tengah kesemrawutan dunia, kita perlu kembali kepada referensi yang tepat. Orang di ayat 47 ini sebetulnya butuh melihat Kristus sebagai yang lain, yang istimewa, bukan sekedar seorang manusia, karena sejarah telah menunjukkan keunikan Kristus. Sebelum waktu itu, peristiwa penyaliban sudah sering dilakukan oleh orang Romawi. Tetapi tidak pernah terjadi sebelum itu, kegelapan pada pukul 12 siang selama 3 jam. Seolah-olah alam hendak mengatakan bahwa Allah sedang berkabung, dan kegelapan sedang menguasai seluruh dunia. Kalau orang bisa melihat Kristus secara tepat maka komentar yang dilontarkanpun akan tepat. Yesus itulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup!

Kebenaran bukanlah pada diri si komentator, tetapi pada diri Dia yang seharusnya didengarkan. Seharusnya manusia kembali kepada Firman yang adalah Kebenaran. Apa yang Kristus katakan bukanlah kalimat baru, melainkan merupakan kebenaran yang sudah dinyatakan sebelumnya, yang sudah berkali-kali didengar oleh orang Yahudi, yaitu dalam nyanyian Mazmur 22:2 yang merupakan mazmur mesianik, yang berulang kali dinyanyikan dalam ibadah orang Yahudi di Bait Allah.

Orang-orang yang ada di sekitar salib pada waktu itu dapat diasumsikan sebagai orang Yahudi karena: 1) hanya orang Yahudi yang berkepentingan dengan Yesus sehingga tetap berada di sekitar salib selama 3 jam yang gelap, 2) orang asing enggan untuk berkomentar karena dia minoritas, 3) orang Yahudi yang mengenal Elia. Sebagai orang Yahudi seharusnya dia mengerti kebenaran itu dan kembali kepada kebenaran itu, dan Yesuslah kebenaran itu. Manusia yang menganggap diri sebagai kebenaran, di titik pertama dia tidak akan mengerti kebenaran karena seluruh pemikirannya sudah dijepit oleh relativitas subyektif yang dimilikinya.

Kalau kita mau kembali kepada Firman, maka seluruh cara pikir kita menjadi beres dan hidup kita juga menjadi beres. Orang akan merasa bersalah ketika bertemu dengan kebenaran. Ketika bertemu dengan Kristus, seharusnya kita mengakui Dia sebagai kebenaran yang asasi. 

2)    Ayat 48: Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum. 

Respon ini kebalikan dari respon pertama yaitu: orang yang tidak berkata apapun tapi langsung bertindak, orang yang penuh belas kasihan. Ini merupakan gambaran humaniora, yang pada hari ini sangat dikagumi. Adalah berbahaya jika mengukur tindakan kebajikan dari sudut pandang manusia yang relatif. Kegagalan respon kedua ini justru lebih parah daripada respon pertama, karena respon pertama dapat langsung diketahui salahnya dan dapat langsung dikritik, sedangkan respon kedua sangat sulit dilihat kesalahannya, bahkan hampir semua manusia menganggapnya sebagai suatu kebajikan. Respon kedua ini bukanlah sebuah kebajikan melainkan merupakan langkah bunuh diri. Asumsi ini tidak mudah untuk dimengerti dan diterima.

Teriakan Tuhan Yesus tidaklah menunjukkan bahwa Dia membutuhkan anggur asam. Memang anggur asam itu sudah disediakan untuk menghadapi orang yang berteriak kesakitan. Penyaliban adalah hukuman mati yang sangat berat dan paling mengerikan karena matinya lama (bisa berhari-hari). Anggur asam berfungsi untuk meringankan penderitaan. Tindakan orang itu sebenarnya sudah umum dan berulang-ulang dia lakukan. Orang itu tidak mengerti mengapa Yesus berteriak demikian, mengapa Yesus naik ke kayu salib. Penyaliban Kristus hendak menyatakan bahwa Kristus adalah penebus. Teriakan Tuhan Yesus merupakan penggenapan dari Mazmur 22. Yesus adalah Mesias sejati. Ratusan nubuat digenapkan oleh Kristus dalam seluruh hidup-Nya. Seharusnya orang bisa melihat penggenapan ini sehingga bisa menyimpulkan bahwa Yesus adalah Sang Mesias, Sang Penebus.

Di atas kayu salib itulah Yesus menanggung dosa kita. Penderitaan itu tidak boleh diringankan karena bersifat menanggung penderitaan yang sebenarnya. Pembiusan dengan anggur asam akan mementahkan fungsi Kristus sebagai penebus. Seringkali kita berbuat baik tidak dari sudut pandang yang benar melainkan karena baik menurut pikiran kita sendiri. Kita merasa diri kita sudah benar dan baik sehingga perbuatan kitapun dianggap baik. Inilah kejahatan manusia berdosa. Aristoteles pernah berkata bahwa baik atau tidak baik bukanlah ditentukan oleh subyektifitas maupun egois kita. Seringkali kebaikan kita justru menganiaya orang lain. Yang lebih parah adalah ketika kebaikan kita melawan Allah dan menganggap Allah tidak baik. Melakukan suatu hal harus melihat kepentingan Kerajaan Allah, bukan untuk kepentingan diri ataupun golongan tertentu.

Kalau kita gagal melihat Kristus sebagai penebus maka kita akan menjadi lawan dari penebusan kita. Orang yang berbuat “baik” akan sangat sulit menerima Injil. Yesus pernah berkata kepada seorang anak muda: Tidak ada yang baik kecuali Satu. Kebaikan yang sejati adalah Allah sendiri.       

3)    Ayat 49: Tetapi orang-orang lain berkata: “Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia.”

Respon ini merupakan respon sirik, jawaban yang skeptik dan bersifat theologis. Konsep orang tersebut adalah: kalau Dia memang orang baik maka Elia pasti akan menolong Dia. Tuhan Yesus dan banyak orang lain lagi tidak ditolong oleh Allah karena misi dan panggilan jauh lebih dahsyat. Respon ketiga ini salah total dan paling mengerikan karena dapat mengacaukan iman. Pernyataan itu seolah-olah begitu rohani.

Tuhan Yesus naik ke kayu salib adalah untuk menolong, bukan untuk ditolong, dan untuk menjadi berkat, serta untuk mati sebagai Juruselamat. Yesus adalah Juruselamat melalui kematian.

Orang Kristen mengalami penderitaan yang dahsyat pada 380 tahun pertama kekristenan. Orang Kristen dikejar-kejar untuk dibunuh. Tuhan tidak menolong mereka.  Iman mereka justru semakin kuat pada kondisi seperti itu. Adalah sesat ajaran yang menyatakan bahwa Tuhan pasti tolong orang Kristen yang sedang menderita. Orang yang menerima ajaran seperti ini akan langsung meninggalkan Tuhan pada saat mengalami penderitaan. Ayub mengalami penderitaan justru karena dia beriman dengan sangat kuat; imannya dipertaruhkan oleh Tuhan di hadapan iblis.

Melihat Yesus sebagai Juruselamat berarti mengerti mengapa Dia mati untuk kita. Yesus yang tidak ditolong oleh Allah dan Elia menunjukkan kepada kita bahwa murka Allah sedang dijatuhkan kepada Yesus. Kalau Yesus ditolong oleh Elia maka kita tidak diselamatkan.

Tiga respon inilah yang terjadi dalam hidup kita dan merusak hidup kita, karena kita tidak mengerti siapa yang kita responi dan bagaimana respon yang seharusnya. Apa yang dipikirkan manusia seringkali tidaklah Kristosentrik. Marilah kita belajar melihat Yesus sebagai Kebenaran yang asasi, sebagai penebus, dan sebagai Juruselamat kita.   

 

 

RENUNGAN:

1.     Apa yang dapat menyebabkan Anda tidak dapat melihat suatu situasi/peristiwa yang Anda hadapi dari sudut pandang Allah dan meresponnya dengan benar (bdk Mat 27:47-49)? Evaluasi satu peristiwa yang Anda alami baru-baru ini dan pelajaran iman yang Anda dapatkan melalui peristiwa tersebut.

2.     Apa yang Anda akan lakukan di minggu ini supaya Anda lebih dapat melihat dan merespon suatu peristiwa dengan benar? Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut dengan sungguh-sungguh.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)