Ringkasan Khotbah : 09 Oktober 2011

Yesus Raja Orang Yahudi

Nats: Matius 27:37-39

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

 

Pada pembahasan yang lalu kita melihat para penjaga/ petugas penyaliban Tuhan Yesus yang hampir saja kehilangan anugerah karena mereka terbelenggu oleh suatu rutinitas professional. Cara melihat realita bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk kita kerjakan. Kita perlu belajar bagaimana mempunyai sudut pandang yang tepat sehingga kita bisa mengerti realita dengan benar. Ketika kita gagal memiliki bijaksana, maka keputusan-keputusan yang kita ambil bersifat prematur. Keputusan-keputusan yang prematur akan menjadi bumerang yang menghantam balik kita, yang disebut dengan faktor penghancur diri sendiri.

Ayat 37 mencatat : Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: “Inilah Yesus Raja orang Yahudi.” Mengapa bisa ada papan tulisan demikian, bukankah di setiap penyaliban tidak diperlukan laporan seperti itu? Dua orang penjahat yang disalib di samping Tuhan Yesus juga tidak diberi papan bertuliskan alasan mereka disalib. Pilatus pada saat itu tengah berada dalam posisi yang terjepit. Pilatus pikir dia sudah mengambil langkah yang paling bijaksana, tetapi dia sebenarnya dalam posisi dilematis, dan dia berusaha untuk melarikan diri dari posisi itu. Pilatus tahu sekali bahwa Yesus tidak bersalah, tetapi dia juga tahu bahwa dirinya tengah dalam bahaya. Pilatus tahu sekali bahwa dia harus menegakkan kebenaran, tetapi dia juga tidak mau kehilangan posisinya kalau sampai orang Yahudi memusuhi dia. Inilah dilema yang dihadapi Pilatus, antara menegakkan kebenaran dan menyelamatkan diri. Akhirnya Pilatus mengambil titik kompromi; dia cuci tangan dan menyerahkan keputusan kepada orang banyak. Setelah Yesus disalibkan, ternyata persoalannya tidak selesai. Semua keputusan yang diambil oleh Pilatus harus dipertanggung jawabkan kepada Kaisar Roma. Pilatus lalu mencari cara untuk mensahkan tindakannya menyalibkan Yesus. Pada saat itu orang bisa disalibkan hanya oleh 2 kemungkinan alasan yaitu: kriminal berat atau subversi/ pemberontak terhadap Kaisar. Pilatus hanya menemukan 1 lubang pada diri Yesus yaitu Dia mengaku sebagai raja orang Yahudi, yang dapat dikategorikan sebagai subversi. Itulah sebabnya dia menyuruh prajurit untuk menempelkan papan bertuliskan: Yesus Orang Nazaret, Raja orang Yahudi. 

Orang Yahudi justru menjadi marah dengan adanya papan bertuliskan seperti di atas karena mereka tidak merasa mengakui Yesus sebagai raja mereka. Kali ini Pilatus justru begitu keras menghadapi orang Yahudi. Dia tetap bersikukuh untuk menempelkan papan itu. Seharusnya Pilatus bersikap keras sejak dari semula sebelum Yesus disalib karena orang Yahudi tidak berdaya untuk menentang dia. Pilatus berbuat seperti itu karena dia berambisi besar untuk menjadi Kaisar. Ternyata Roma mengetahui bahwa pengadilan yang dilakukan oleh Pilatus tidak sesuai dengan keadilan, sehingga Pilatus langsung dipensiunkan dini. Habislah seluruh karir Pilatus.

Ketika mempertimbangkan suatu hal antara menegakkan kebenaran dan kepentingan diri, kita cenderung mementingkan kepentingan diri kita. Setan akan memberikan dukungan dengan memberikan keuntungan sesaat, dan Tuhan akan membiarkan hal itu sebagai kebebasan manusia dalam mengambil pilihan. Tuhan berkata bahwa kebenaran akan menuntut keadilan. Tuntutan balik dari kebenaran akan menjadi bom dari dalam diri. Hidup yang telah dicengkeram oleh ketidakbenaran, akan menjadi bom di dalam diri. Bom yang di luar diri masih dapat dicegah, tetapi bom yang di dalam diri tidak bisa ditutupi. Egoisme itulah yang menjadi bom yang meledak.

Tuhan seringkali membiarkan manusia-manusia sombong yang sok bisa mengatur segala sesuatu dengan kekuatan diri, tetapi pada saat-Nya tiba Dia akan bertindak. Semua yang dilakukan manusia akan memukul balik dirinya sendiri dan menggenapkan rencana Allah. Pilatus semula tidak perlu mengakui tentang siapa Yesus, tetapi sekarang dia terpaksa harus mengeluarkan pengakuan bahwa Yesus adalah raja orang Yahudi. Begitu uniknya cara Tuhan menggarap keinginan-Nya dengan memakai cara manusia yang begitu gila.

Memikirkan kepentingan diri dan menolak kebenaran merupakan pemikiran yang paling bodoh di tengah dunia. Bodoh yang dimaksud oleh Alkitab tidaklah berhubungan dengan IQ. Orang yang mempunyai IQ tinggi bisa memiliki tingkah laku yang sangat bodoh karena dia tidak mengerti apa yang dia putuskan, dia tidak mengerti untuk mengambil langkah bijaksana. Orang bijaksana akan selalu merasa diri bodoh, sebaliknya orang yang bodoh selalu merasa diri tidak bodoh.

Paulus menyadari bahwa dirinya sangat bodoh karena otaknya yang memiliki IQ tinggi ternyata tidak menolong dia untuk dapat menemukan kebenaran, dia justru terus melawan kebenaran sampai akhirnya Tuhan memukul dia. Di tengah dunia, orang seperti Paulus banyak bermunculan. Otak yang pandai tidak dipakai untuk tunduk kepada kebenaran, sehingga egoisme yang menguasai hidup.

Orang Farisi dan para pemimpin agama yang semula merasa telah sukses menyalibkan Yesus, menjadi marah dengan adanya papan yang ditempel di salib Yesus. Ejekan menjadi berbalik kepada mereka bahwa raja mereka disalib. Cara Tuhan bekerja begitu unik sampai manusia dibuat terkejut melihatnya. Allah adalah Allah yang berdaulat. Manusia yang tidak mengakui kedaulatan Allah justru akan dengan terpaksa mengakui kedaulatan Allah pada akhirnya, dan menghancurkan dirinya sendiri. Mari kita menata ulang semua yang kita pikirkan, supaya kita bisa mempunyai penerobosan.  

Ayat 38 menyatakan bahwa Yesus disalibkan di antara 2 orang penjahat. Secara sepintas, Yesus tidak ada bedanya dengan 2 penjahat itu, tetapi papan yang ditempelkan di salib-Nya yang menjadi pembedanya. Kalau tidak ada papan itu berarti Yesus hanyalah salah satu dari sekian orang. Dia bukanlah salah satu dari sekian orang! Kita juga seringkali terjebak dengan fenomena dan gagal melihat esensi. Setiap orang harusnya belajar untuk mengerti esensi melampaui ekstensi. Kalau kita gagal mengerti esensi, maka kita akan cenderung tertipu oleh gejala yang kelihatan.

Secara gejala, Yesus sama dengan 2 penjahat di sampingnya, sama-sama disalib dan sama-sama mati,  tetapi beda pada alasan disalibnya yaitu: 2 orang itu disalib karena berbuat kriminal, sedangkan Yesus disalib tanpa berbuat salah. Sebagai orang Kristen kita mungkin mempunyai gejala yang nampak sama dengan yang lainnya, tetapi esensinya berbeda. Orang Kristen bisa sakit akibat mengerjakan pekerjaan Tuhan. Orang Kristen bisa dipenjara karena menegakkan kebenaran. Mari kita terus berusaha untuk tidak menjadi salah satu dari sekian orang. Apa yang melandasi perbuatan kita sangatlah menentukan siapakah diri kita.  

Ayat 39 menyatakan bahwa orang-orang yang lewat di sana, melihat Yesus, lalu menghujat dan geleng-geleng kepala. Mereka menghujat karena adanya papan di atas salib-Nya. Mengapa bisa muncul reaksi yang seperti itu? Seringkali kita melihat suatu keadaan dengan menggunakan cara setting presuposisi kita. Cara pikir kita menangkap semua gejala lalu diolah berdasarkan cara pikir kita, itulah yang disebut dengan presuposisi. Presuposisi itu kita paksa masuk ke dalam objek lain yang sedang kita selidiki. Ini merupakan sudut pandang yang sempit, yang akan merusak seluruh relasi kita.  

Setiap orang memiliki sudut pandang yang sangat sempit sehingga tidak dapat melihat sesuatu secara komprehensif. Untuk dapat melihat secara keseluruhan, manusia memerlukan “cermin” di mana-mana. Sayangnya, manusia menolak “cermin” karena tidak percaya kepada “cermin” itu. Manusia mempunyai sifat cenderung membatasi seluruh konsep hanya sebatas pikiran dia sendiri dan memaksa semua orang lain untuk berpikir seperti yang dipikirkannya. Di dunia hal ini sering disebut sebagai “kacamata”. Kalau saya memakai kacamata hijau maka semua yang saya lihat akan berwarna hijau. Ketika anda berkata bahwa anda tidak hijau, saya akan memaksa anda dan menganggap anda hijau. Ketika orang mengatakan bahwa kacamata saya yang menyebabkan semuanya menjadi hijau, saya tidak mengakui bahwa saya memakai kacamata. Itulah kecelakaan manusia.

Seorang filsuf Jerman mengeluarkan teori Monadologi. Teori ini mengatakan bahwa ada monad utama dan monad-monad kecil yang tidak berjendela. Karena tidak berjendela/ menutup diri, maka monad yang satu tidak mungkin bisa mengerti monad yang lain; satu-satunya lubang yang dimiliki menghadap ke atas untuk berelasi dengan monad utama. Untuk mengerti monad yang lain, monad perlu mendapatkan pantulan dari monad utama yang mendapatkan kiriman dari monad yang lain. Relasi ini mirip dengan relasi mistik, tetapi bedanya adalah pada relasi mistik: sesuatu yang di atas tersebut bersifat pasif seperti cermin belaka, sedangkan pada teori Monad: monad utama merupakan pengontrol dan pemantul interpretasi dari monad lain dan sekitarnya. Fungsi monad utama menjadi begitu aktif dan menyatukan berbagai pengertian yang ada, karena dengan semua naik ke atas maka seluruh pengertian menjadi tunggal.  

Ketika saya meng-interpretasi anda maka saya akan menggunakan subyektif saya, yang disebut dengan paradigma saya, yang dikenal sebagai presuposisi, untuk mengenal anda. Jadi saya tidak akan pernah mengenal anda karena saya menggunakan paradigma saya. Demikian juga sebaliknya ketika anda mau mengenal saya. Kita berdua tidak mungkin saling mengenal. Untuk bisa saling mengenal, kita harus naik ke atas, mengenal orang  lain dengan melihat interpretasi dari Tuhan. Manusia takut diterkam oleh presuposisi orang lain sehingga menutup diri rapat-rapat; akibatnya dia tidak mengenal diri dan orang lain. 

Orang-orang melihat Kristus dengan salah karena mereka tidak rela seluruh sudut pandangnya dilihat dari sisi Kristus. Seluruh cara interpretasi dunia tidak mau dilihat dari sudut pandang Tuhan. Akibatnya manusia gagal mengerti realita. Ketika mereka menghina Tuhan Yesus, Tuhan Yesus justru berdoa meminta pengampunan bagi mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.  Kalau kita bisa melihat realita dengan sudut pandang yang tepat yaitu dari sudut pandang Allah/ Monad Utama maka kita akan dapat bertindak dengan sangat bijak karena sesuai dengan yang Tuhan pikirkan/ inginkan.

Di tengah dunia yang berusaha untuk membawa kita ke dalam pelbagai opini, kita harus terus belajar untuk membatasi agar tidak mudah dipermainkan oleh subyektivitas. Kita harus naik ke atas dan memandang segala sesuatu dari sudut pandang Allah, inilah yang disebut sebagai sudut pandang Kristen.

 

RENUNGAN:

1.     Apakah kesulitan / pergumulan dalam hidup yang Anda pernah alami lebih sering disebabkan oleh karena ketaatan Anda kepada Kristus? Evaluasi bagaimana Anda merespond situasi yang Anda pernah alami baru-baru ini dan sharingkan prinsip dan pertumbuhan iman yang Anda peroleh melalui situasi tersebut pada rekan seiman Anda!

2.     Apa yang Anda akan lakukan di bulan ini supaya setiap kesulitan maupun berkat yang Anda pernah alami dapat dimengerti dalam konteks untuk lebih memuliakan Kristus? Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut dengan sungguh-sungguh.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)