Ringkasan Khotbah : 25 September 2011

Perjalanan Iman Kristen: Bagaimana Memahaminya?

Nats: Mazmur 122  

Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan

 

Mazmur 122 merupakan salah satu dari kumpulan nyanyian ziarah. Nyanyian ziarah merupakan kumpulan dari catatan pengalaman sejarah bangsa Israel ketika Tuhan memimpin mereka keluar dari Mesir menuju ke tanah Kanaan, yang digubah sedemikian rupa sehingga menjadi lagu-lagu yang dinyanyikan di dalam perayaan-perayaan. Konteks dari nats kita pada hari ini adalah mereka sudah berada di tanah perjanjian. Dari beberapa catatan yang ditemukan, kita mendapatkan beberapa data seperti: 1) raja Daud yang memerintah di sana, 2) suku-suku Israel belum terpecah menjadi 2 bagian, 3) setiap tahunnya mereka harus pergi ke Yerusalem untuk berziarah atau mengadakan perayaan. Perayaan yang diadakan di Yerusalem yaitu: perayaan roti tidak beragi untuk mengingat bagaimana Tuhan melepaskan mereka dari tangan Mesir dengan cara yang ajaib, di dalam perayaan ini mereka mengadakan perayaan Paskah; perayaan dimana orang Israel bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan sudah memberkati hasil ladang mereka, yang disebut dengan perayaan panen gandum/ perayaan Pentakosta; perayaan dimana orang Israel bersyukur karena sudah berhasil memanen buah-buahan. Jadi dalam setahun, orang Israel harus pergi ke Yerusalem untuk mengadakan perayaan sebanyak 3 kali untuk mengingat akan keselamatan yang sudah Allah berikan dan pemeliharaan Tuhan melalui hasil panen mereka.

Ada sebuah seruan yang dicatat pada awal nats hari ini yaitu: “Mari kita pergi ke rumah Tuhan”. Mari kita pergi ke rumah Tuhan untuk mengingat semua pekerjaan besar yang Allah telah lakukan, dan juga untuk kita menikmati adanya damai sejahtera, sentosa, dan keamanan (ayat 6-8). Ada perikop lain dalam Kitab Mazmur yang berbicara mengenai Yerusalem, kota Allah kita. Di dalam Yerusalem itulah Tuhan bertahta, Tuhan menyatakan semua hukum-hukum dan aturan-aturan-Nya, dan di sanalah ditemukan sentosa, sejahtera dan keamanan. Yerusalem berarti kota sejahtera. Tetapi pada zaman sekarang, kita tidak akan menemukan Yerusalem yang sama dengan konteks pada zaman itu.

Yerusalem sekarang ini menjadi perebutan dari 3 agama besar yang masing-masing menyatakan bahwa kota tersebut adalah kota suci mereka. Tuhan Yesus berkata: Carilah dulu Kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu. Hal ini berarti kita tidak akan menemukan Kerajaan Allah seperti konteks kerajaan dengan benteng yang besar dan tinggi dengan penjaganya yang selalu waspada, kerajaan dengan pintu gerbang yang tinggi besar. Pernyataan Tuhan Yesus diatas sebaiknya ditafsirkan demikian: bagaimana Allah menyatakan hukum-hukum-Nya yang akan memerintah dalam diri setiap orang yang percaya. Jadi Kerajaan Allah bisa terdapat dalam setiap pribadi orang. Kerajaan Allah menyatakan pemerintahan Allah dan hukum-Nya Allah, dan bertahta dalam diri setiap umat tebusan-Nya. Dalam kondisi seperti itulah maka seluruh damai sejahtera, sentosa dan keamanan dapat dinikmati dan dialami oleh tiap-tiap orang percaya.

Seruan dalam Mazmur 122 itu juga menunjukkan bahwa di kota Allah itulah kita bisa menemukan rasa syukur yang besar karena disanalah orang percaya dapat menemukan sentosa dan keadilan Allah. Pemazmur mengajak kita ke Yerusalem untuk bersyukur kepada Allah, sekaligus juga untuk berdoa bagi Yerusalem. Dan pada saat itu pula muncullah 2 kata “biarlah” dan kata “semoga” dalam ayat 6-8. Hal ini menunjukkan adanya harapan yang dicantumkan dalam doa tersebut. Mengapa harus berupa harapan dan bukan berupa sebuah kepastian? Hal ini menunjukkan kepada kita realita-realita pergumulan iman ketika mengalami perjumpaan dengan Tuhan.  

Di satu sisi kita tahu bahwa kalau Tuhan hadir memberikan kepastian karena Dia sendiri memberikan jaminan bahwa segala yang dijanjikan-Nya pasti akan terjadi. Kalau demikian, seharusnya tidak ada kata semoga/ biarlah. Berarti pergumulan iman memiliki dimensi misteri tersendiri. Pada waktu kita berjumpa dengan Allah, kita akan menemukan bahwa Allah yang ada di pikiran kita tidaklah sesuai dengan fakta yang kita alami. Banyak hal yang terjadi dalam PL yang memunculkan pertanyaan bagi kita, seperti: Tuhan langsung menghukum bangsa Israel yang bersalah tanpa memberi kesempatan untuk mereka bertobat terlebih dahulu, bahkan yang turut dihukum adalah sanak keluarganya dan ternak-ternaknya. Setiap kali berjumpa dengan Allah, selalu ada masalah yang timbul. Alkitab menyuruh kita pergi ke rumah Allah untuk bersyukur dan untuk bersiap hati menerima kenyataan-kenyataan yang belum bisa kita terima pada saat ini.

Saya akan mengajak saudara menggumulkan realita percaya kepada Tuhan melalui pembahasan Mazmur 122. Pengalaman ini bukanlah suatu hal yang mudah untuk dikerjakan. Ketika kita berbicara tentang Tuhan, berarti kita sedang berbicara tentang diri Allah sendiri, otoritas-Nya, kehendak-Nya, rencana-Nya dan semua yang Dia miliki. Tetapi tidak semua bagian itu bisa langsung kita pahami karena ada bagian-bagian yang belum pernah disingkapkan. Kalau Allah telah membentangkan semua rencana-Nya di depan kita maka kita tidak perlu lagi bergumul bersama Dia dan kita menjadi allah yang satu level ada di bawah Dia.

Walaupun banyak ketidak mengertian orang Israel akan Allah, mereka tetap setiap tahun datang ke rumah Allah, mengucap syukur dan menghadapi kenyataan: biarlah dan semoga, dengan kata lain: membuka diri terhadap dimensi lain yang akan Allah bukakan. Hal itu juga menjadi natur dari doa kita, karena memang ada dimensi yang tidak bisa kita kuasai/ kita genggam. Ada pengalaman orang lain yang tidak tentu kita alami juga. Ada 3 aspek yang perlu kita gumulkan bersama yaitu:

1)   Kita masih menjumpai kenyataan bahwa kita memiliki kesulitan untuk mempercayai Allah.

Kita sudah percaya kepada Allah tetapi masih memiliki kesulitan untuk mempercayai Dia. Kita percaya kepada Allah adalah merupakan pengalaman masa lalu dimana kita menjumpai Allah dan merasakan kehadiran-Nya tetapi kemudian kita masuk ke dimensi yang baru dimana Allah hadir dan menyatakan diri-Nya dan rencana-Nya. Dimensi yang baru yang belum pernah kita alami ini akan membawa kita kepada kesulitan untuk mempercayai Dia. Kita tidak boleh menganggap pengalaman masa lalu adalah sama dengan pengalaman masa depan karena hal ini berarti Allah tidak punya cara yang baru.    

Orang Israel yang gagal panen pun tetap harus pergi ke Yerusalem tiap tahun dan mengucap syukur di sana. Hal ini tentu bukan hal yang mudah. Kita termasuk kategori berdosa jika kita mendiskreditkan Dia dengan mengatakan bahwa kita sulit percaya kepada Allah untuk saat ini. Tetapi hal ini dikatakan tidak berdosa jika kita memiliki hati mau tetap berdiri di atas pondasi perintah Tuhan walaupun hal tersebut sulit untuk kita mengerti. Kalau kita memiliki hati seperti ini maka Tuhan akan membawa kita untuk menemukan jalan-jalan-Nya dan kemuliaan-Nya. Inilah yang disebut dengan Tuhan membukakan dimensi yang baru.

2)     Seperti apakah bentuk percaya kita?

Problema percaya melibatkan seluruh kondisi mental seseorang. Mental tersebut akan mempengaruhi emosi. Seorang gadis tahu bahwa dirinya tengah mencintai seorang pemuda, tetapi dia tidak tahu apakah pemuda tersebut mencintai dia atau tidak. Repotnya, pemuda ini memberikan sinyal bahwa dia mencintai gadis itu, dan yang lebih repot adalah dia tidak pernah mengemukakannya kepada gadis itu. Kondisi seperti ini akan menyiksa gadis itu. Hal yang mirip juga terjadi dalam relasi kita dengan Allah, yaitu: Allah sulit untuk ditebak. Contohnya: dalam hukum perjanjian dikatakan bahwa kalau kita taat kepada Allah maka Allah akan memberkati kita. Tetapi dalam kenyataannya kita menjumpai bahwa meskipun kita sudah taat, Tuhan tetap tidak memberkati kita. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak mau diatur atau dibelenggu oleh konsep doktrinal iman kita. Dia pasti menggenapi janji-Nya tetapi dengan cara-Nya sendiri.

Iman selalu mencari bentuknya. Tuhan selalu menuntut kita untuk tetap percaya kepada-Nya. Tuntutan Tuhan adalah percaya itu harus dalam kesempurnaan. Iman bukanlah semata-mata hitam atau putih (surga atau neraka) tetapi ada semacam tingkatan-tingkatan yang menuju kepada kesempurnaan. Tuhan bukan sekedar menuntut kesempurnaan tetapi Dia juga sensitive. Sedikit saja ketidakpercayaan yang kita tunjukkan maka kita akan menuai akibatnya. Janganlah kita mengira bahwa ketika kita percaya kepada Tuhan maka kita sudah mengerti hati-Nya. Ketika kita membongkar iman kita dan sampai pada dimensi lain yang Tuhan bukakan, maka kita akan mulai mempertanyakan: bagaimanakah bentuk iman kita? Setiap bagian yang Tuhan bukakan kepada kita itulah yang nantinya akan membentuk suatu bangunan baru dari iman kita. Iman kita dibangun dari pengalaman-pengalaman yang kita alami. Ada banyak momen yang Tuhan pakai untuk menekuk kita sampai kita bisa mengeluarkan pernyataan iman. Iman memang bukan dibangun atas dasar pengalaman, tetapi iman memerlukan pengalaman untuk mengkonfirmasi kebenaran iman itu sendiri.  

3)     Bagaimana definisi percaya kita?

Iman kita bukanlah sekedar kumpulan rumusan doktrinal semata tetapi merupakan temuan kita akan rumusan, sebagaimana yang Tuhan katakan dalam Alkitab, dalam hidup kita. Dengan rumusan tersebut kita bisa mengaminkan pernyataan Allah. Inilah yang disebut dengan mendefinisikan percaya kita.

Theologi Reformed memiliki pernyataan demikian: Saya bisa percaya kepada Tuhan karena Tuhan yang membuat saya bisa percaya kepada-Nya. Kalimat ini mempunyai  kandungan ketidakmungkinan dan kontradiksi di dalamnya. Bagaimana saya bisa percaya kepada Tuhan kalau Tuhan tidak mengangkat penghalangnya? Inilah kemustahilan dalam  iman kita. Kita harus menyingkirkan semua kemustahilan itu kalau kita mau percaya kepada Allah. Kalau kita mau mendefinisikan iman kita, kita harus mencoba memahami Dia terlebih dahulu tanpa adanya kontradiksi di dalammya. Kalau kita memasukkan aspek kontradiksi maka kita sedang tidak membicarakan apapun tentang Dia, melainkan hanya merupakan omong kosong yang kita pakai untuk menutupi kegelisahan dalam hati kita akibat perjumpaan dengan Dia.

Kalau kita percaya kepada Allah, maka di belakang pernyataan itu ada pengakuan bahwa Dia Maha Kuasa. Dia Maha Kuasa untuk membawa saya menuju apa yang Dia inginkan. Janganlah meletakkan kemustahilan di sana. Jangan pakai kata: jika, kalau, karena. Kalau kita memakai kata-kata itu, maka definisi iman kita tidak bisa kokoh.

Semakin kokoh perjalanan iman kita bersama dengan Allah, maka kita akan menemukan 3 aspek diatas secara berulang-ulang dalam hidup kita.Tuhan akan terus mengawasi, dan menopang kita.  

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)