Ringkasan Khotbah : 21 Agustus 2011

Iman yang Hidup

Nats: Mazmur 121:1-8

Pengkhotbah : Pdt. Thomy Matakupan

 

Mazmur 121 merupakan nyanyian ziarah yaitu kumpulan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan dalam suatu perayaan orang Israel. Isinya berkisah tentang catatan sejarah pengalaman perjalanan iman mereka di padang gurun setelah Tuhan melepaskan mereka dari Mesir menuju ke Tanah Kanaan. Kumpulan nyanyian ziarah dimulai dari Mazmur 120 dan diakhiri dalam Mazmur 134. Nyanyian ini untuk mengingat semua yang telah mereka alami maupun rasakan selama perjalanan tersebut. Lirik demi lirik merupakan ekspresi dari apa yang mereka temukan dalam kaitannya dengan pemeliharaan Tuhan selama perjalanan itu.

Penulis dari nyanyian ziarah ini tidaklah diketahui, tetapi yang pasti dia ikut berjalan dalam perjalanan tersebut. Inilah cara Allah untuk menyatakan Firman-Nya dan sungguh ini adalah Firman-Nya yang hidup; Ia ingin Firman-Nya diketahui oleh orang-orang di sepanjang abad dan di segala tempat.

Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung untuk mencari sumber pertolongan. Lalu penulis menutup dengan sebuah kesimpulan bahwa Tuhan akan menjaga keluar masukmu dari sekarang sampai selama-lamanya. Ini merupakan catatan dari sebuah iman yang hidup. Iman yang hidup itu seperti apa?

Kita dikenal sebagai orang yang beriman kepada Allah. Bibit iman yang Tuhan tanamkan dalam diri kita haruslah bertumbuh dan menghasilkan buah. Tapi kita perlu tahu apakah iman kita itu hidup. Mazmur 121 ini akan menolong kita menjawab pertanyaan itu. Mazmur ini memberikan kepada kita sebuah warisan kebenaran.

Ada 4 catatan berkaitan dengan iman yang hidup yaitu:

1)     Iman itu hidup kalau iman itu mencari dan menemukan.

Pemazmur mengatakan bahwa dia melayangkan matanya ke gunung-gunung untuk mencari sumber pertolongan. Menurut orang Israel, salah satu tempat Tuhan bertahta adalah pada gunung Sion. Gunung ini Allah pillih, dimana Allah menyatakan Diri-Nya. Setiap bangsa pada zaman itu akan selalu melihat gunung sebagai tempat allah mereka bertahta. Gunung mewakili keterpisahan, ketinggian, kekokohan, dan kestabilan. Penulis tahu bahwa gunung menempati posisi yang sangat penting dalam kerohanian Israel pada saat itu. Pemazmur memakai kata gunung-gunung untuk menunjukkan bahwa dia sedang mencari pilihan lain supaya bisa menemukan sumber pertolongan yang lain.

Orang pada zaman itu tahu bahwa Allah adalah satu-satunya sumber pertolongan. Pemazmur mencari sumber pertolongan lain karena sangat mungkin dia sedang mengalami ketidak puasan. Dalam perjalanan mereka dari Mesir menuju Tanah Kanaan, ada banyak keberatan yang mereka ungkapkan, ada banyak ketidak puasan terhadap pimpinan Musa dalam perjalanan tersebut. Mereka pernah berkata kepada Musa bahwa Musa membuat mereka menderita dengan perjalanan itu, sebaiknya kembalikan mereka ke Mesir saja, walaupun di sana mereka dijadikan budak, tetapi mereka bisa makan daging dan minum minuman yang enak. Musa tidak pernah mengizinkan hal itu terjadi, dia memerintahkan untuk terus berjalan. Ketidak puasan inilah yang menyebabkan pemazmur mencari sumber pertolongan yang lain, tetapi dia tidak menemukannya. Hanya Gunung Sionlah pertolongan sejati baginya.

Kita tahu iman itu hidup kalau iman itu terus bergerak mencari dan menemukan. Pada waktu kita mencari, bukan berarti iman kita sebelumnya adalah salah. Iman haruslah beranjak menuju level yang lebih tinggi. Pada 1 level tertentu kita memiliki pengalaman bersama Allah yang memuaskan kita, tetapi bersiap hatilah untuk menjadi tidak puas lagi pada level yang lebih tinggi. Kemudian kita akan mencari dan mencari sampai kita menemukan-Nya, itulah 1 level baru yang kita capai. Cepat atau lambat kita akan merasakan ketidak puasan lagi, begitu seterusnya. Allah tidak akan membiarkan kita terus berada dalam posisi statis. Dia akan menolong kita menemukan dimensi lain dari kehadiran-Nya dan pertolongan-Nya di dalam dimensi lain yang kita temukan.

Pada saat kita tidak puas, kita tentu tidak akan membuang Allah dan mencari Allah yang lain, tetapi kita sulit untuk mempertemukan realita hidup dengan Firman Tuhan yang kita pahami. Itulah proses mencari dan menemukan yang terjadi terus menerus. Di dalam proses itu terdapat 1 bagian yang penting yaitu kebutuhan akan pertolongan. Perpindahan dari aspek puas menuju tidak puas ditandai dengan butuhnya pertolongan. Dalam hal ini muncul beberapa model manusia yaitu: 1) orang yang tahu hanya ada 1 sumber pertolongan yaitu dari Allah tapi dia tidak tahu untuk minta tolong apa, 2) orang yang tahu bahwa dirinya perlu pertolongan tetapi dia terlalu angkuh untuk memintanya, 3) orang yang tidak sadar bahwa dirinya memerlukan pertolongan. Kita termasuk model yang mana?

Iman selalu dimulai dengan kondisi nol/ kondisi tidak berpengharapan. Dengan kondisi inilah maka kita tahu bahwa kita perlu pertolongan dari Allah. Inilah proses mencari dan menemukan yang terus menerus.

2)     Iman itu hidup pada waktu kita melihat kesimpulan akhir bahwa Allah kita adalah Allah yang menjadikan langit dan bumi.

Pemazmur mengatakan: pertolonganku ialah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Itulah sumber pertolongan terakhir. Saya yakin pemazmur sudah tahu akan hal ini sejak dari awal. Pernyataan yang dikemukannya adalah pernyataan ulang iman. Pernyataan ulang iman tidak boleh berbeda dengan pernyataan iman yang lama bahwa Allahku adalah Allah langit dan bumi. Inilah kesimpulan final. Dari kesimpulan ini barulah ditarik turun ke bawah untuk mencoba menemukan jalan ke sana. Jalan tersebut akan terarah dan terpimpin menuju kepada kesimpulan itu.

Iman akan adanya Allah menimbulkan masalah, masalah tersebut bukan pada iman itu sendiri melainkan pada Diri-Nya Allah. Ada seorang mahasiwa yang melontarkan pernyataan bahwa ketika doanya tidak dijawab adalah masalah, tetapi kalau Tuhan menjawab doa tersebut juga merupakan masalah. Pada waktu Tuhan menjawab doa, berarti Dia menyatakan kehendak-Nya, sedangkan kehendak kita seringkali bertentangan dengan kehendak Allah. Maka mencari Allah berarti harus siap hati untuk menemukan masalah baru. Pemazmur juga menyampaikan bahwa kakinya goyah, dalam konteks perjalanan menuju ke Tanah Kanaan. Melalui Musa, mereka yakin bahwa Allah akan menyertai mereka di sepanjang perjalanan mereka. Mereka mengamini hal ini tetapi ketika mereka berjumpa dengan Allah, mereka menemukan masalah baru untuk mengenal Allah yang mereka jumpai tersebut.

Tuhan muncul dan menyatakan kehendak-Nya, Tuhan hadir sebagai jawaban dari doa mereka yang minta pertolongan Tuhan untuk melepaskan mereka dari Mesir. Mereka ada di padang gurun adalah merupakan jawaban atas doa mereka, tetapi muncullah masalah-masalah baru. Mereka berjalan dengan kaki yang goyah. Tiang awan dan tiang api yang menyertai dan memimpin mereka berjalan tanpa jadwal waktu tertentu dan seakan-akan tidak mau tahu dengan kondisi mereka yang sudah lelah. Seakan-akan Tuhan terlihat kejam. Pengakuan iman kita tidaklah langsung menjadikan iman kita menjadi beres. Pengetahuan tentang Allah yang ada dalam pikiran kita tidaklah secara otomatis menjadikan diri kita beriman. Sangat mungkin, semakin tahu banyak tentang Allah, semakin kita tidak beriman. Bukan berarti, tahu sedikit menjadikan kita beriman. Alkitab mengatakan: iman timbul dari pendengaran akan Firman.

Kita mungkin mulai mempertanyakan: mengapa Allah bersikap demikian, tidak sama dengan Allah yang dulu kita kenal. Tetapi kita tetap akan percaya kepada Allah. Walaupun kita bisa mengeluarkan komitmen seperti itu, kita harus tetap menyelesaikan pergumulan kita untuk dapat berdamai dengan Allah. Tuhan memberikan kesempatan itu karena Tuhan sudah memberikan kesimpulan akhirnya yaitu: Allah kita adalah Allah yang menjadikan langit dan bumi. Perkataan itu menjaga dan membentengi, mengawasi setiap pergumulan iman. 

3)     Iman yang hidup lahir dari aktivitas sehari-hari.

Iman itu lahir bukan dari hal spektakuler melainkan dari aktivitas sehari-hari. Allah terus mengawasi sampai pada detail aktivitas kita. Pemazmur mengeluarkan pernyataan dari pengalaman hidup mereka sehari-hari seperti: kakimu tidak akan goyah, penjagamu tidak akan terlelap dan tertidur karena perjalanan mereka terbuka dan penuh dengan resiko, matahari tidak menyakiti pada waktu siang. Pengalaman itu menjadi sulit karena kita selalu mengkaitkan kontekstual dan situasional. Kita tahu Tuhan menjaga, maka secara tidak disadari, relasi kita dengan Tuhan menjadi relasi syarat. Sepertinya kita berkata kepada Tuhan: Tuhan, ada syarat yang harus Engkau penuhi supaya aku dapat beriman kepada-Mu. Tuhan sendiri mempunyai syarat yang tidak bisa dinegosiasi, sehingga Tuhan pasti tidak akan peduli kepada syarat yang kita ajukan kepada-Nya. Kalau begitu, apakah cukup hanya kalau kita percaya dan cinta kepada Tuhan?  

Cinta kepada Tuhan tidaklah cukup tetapi pernyataan itu haruslah dibangun dengan berbagai macam  alasan. Orang situasional akan berkata demikian: Tuhan, dulu saya menemukan bahwa Engkau menolong saya, tetapi saya rasa sekarang tidak lagi. Atau dia akan berkata: sekarang saya akan taat mengikut Engkau tetapi lain waktu belum tentu. Atau dia akan berkata: kalau Tuhan pelihara saya, maka itulah guna Tuhan dalam hidup saya. Inilah yang dimaksud dengan melayangkan mataku ke gunung-gunung. Allahnya tetap sama tetapi sikap dan pandangan kita bisa berbeda. 

Perjalanan bangsa Israel diwarnai dengan “kekejaman” Allah. Satu generasi bahkan Musa juga dilarang masuk ke Tanah Kanaan. Kita juga pernah mengalami hal yang sama, kita tahu Allah berjanji tetapi sampai dengan saat ini kita tidak mengalami penggenapan dari janji tersebut. Inilah kesulitan bagi kita untuk melihat kehadiran dan pimpinan Tuhan. Setiap momen dalam hidup kita akan menyatakan hadirnya Allah.

4)     Iman yang hidup adalah iman yang menemukan ketenangan didalam ketidakpastian.

Pemazmur menyatakan: Tuhan akan menjaga keluar masukmu dari sekarang sampai selama-lamanya. Momen menemukan ada di wilayah sekarang, sedangkan momen mencari ada di wilayah selama-lamanya. Ibrani 11:1: Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Apa yang kita harapkan sudah kita temukan, tetapi harapan yang tidak kita lihat ada di wilayah selama-lamanya. Pada awal perjalanan keluar bangsa Israel dari Mesir, mereka diliputi perasaan sukacita karena dibebaskan dari penjajah dan menuju tanah perjanjian. Mereka tidak pernah berpikir bahwa perjalanan itu akan memakan waktu 40 tahun. Tidak heran kalau Miriam dan Harun sampai memberontak terhadap Musa di dalam ketidakpastian yang mereka hadapi (dimensi selama-lamanya). Musa lebih tenang di dalam ketidakpastian yang juga dihadapinya. Di dalam gejolak yang ada, kita seharusnya dapat menemukan ketenangan karena Alllah kita yang menjadikan langit dan bumi. Kalau kita melihat sekeliling kita dan hati kita maka kita akan susah dan tertekan, tetapi jika kita melihat kepada Yesus maka kita akan tenang. 

 

RENUNGAN:

1.     Dalam hidup Anda sebagai orang percaya, bagaimana pengertian/ konsep “iman” yang Anda sudah miliki dapat berperan dengan benar sesuai prinsip Firman Allah dalam realita hidup Anda sehari-hari? Sharingkan pada rekan seiman Anda satu peristiwa yang Anda alami baru-baru ini.

2.     Apa yang Anda mau lakukan bagi rekan seiman Anda di minggu ini yang Anda ketahui pada saat ini sedang dihadapkan dalam pergumulan iman? Berdoa dan dukunglah rekan Anda tersebut dengan tulus.

  

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)