Ringkasan Khotbah : 24 Juli 2011

Who is the Judge?

Nats: Matius 27:19-26

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno  

 

Pengadilan Pilatus adalah pengadilan yang sangat krusial bagi orang Israel karena berada di titik tertinggi, sehingga keputusan yang diambil bersifat final. Nats hari ini berbicara mengenai vonis yang telah dijatuhkan oleh pengadilan yaitu Barabas dibebaskan sedangkan Yesus disesah lalu disalibkan. Pengadilan yang diharapkan menjadi tempat keadilan justru mengambil keputusan yang terbalik, yang tidak adil.

Bukan berarti Pilatus tidak berniat untuk membebaskan Yesus dan untuk menegakkan keadilan, tetapi yang terjadi tidaklah seperti yang dia harapkan. Ketika Pilatus sedang menjalankan pengadilan, istrinya mengirimkan pesan kepada dia, bahwa jangan main-main dengan Yesus karena Dia adalah orang benar, dia semalam mendapatkan mimpi yang begitu menakutkan. Di sini kita lihat bahwa Allah berbicara kepada dia melalui mimpi yang begitu menakutkan bahwa urusan ini bukanlah urusan yang sederhana. Saya yakin bahwa Pilatus juga setuju dengan pesan dari istrinya tersebut, bahkan kemungkinan dia juga bertekad untuk melakukan yang terbaik.

Pilatus menyodorkan 1 opsi yang sangat bagus yang diharapkannya dapat menyelesaikan permasalahan ini. Dia menyodorkan Barabas, seorang kriminal, yang sangat jahat, dibandingkan dengan Yesus yang sangat baik. Dengan perbandingan yang begitu kontras ini diharapkan orang banyak tidak salah dalam mengambil keputusan. Ternyata fakta tidak seperti yang diduga olehnya. Orang banyak menuntut Barabas dibebaskan, dan menuntut Yesus disalibkan. Pilatus kaget dan bertanya: Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?

Hukuman salib adalah hukuman yang paling tinggi dan paling keji dalam kekaisaran Romawi, yang disediakan untuk kriminal kelas berat. Orang banyak tidak mau menjawab tentang alasan untuk Yesus disalibkan. Mereka sudah memutuskan untuk menyalibkan Yesus tanpa mau tahu kesalahannya. Ini bukan lagi urusan keadilan, dan tidak perlu ada argumen, yang penting adalah keputusan sudah diambil. Inilah yang dinamakan anarkis. Saat seperti itu, Pilatus mengambil jalan keluar yang paling pragmatis yaitu: ambil air, dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak serta berkata: Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini, itu urusan kamu sendiri! Orang Yahudi lebih gila lagi menjawab: Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!

Ketika pengadilan berada di titik krusial kita bisa melihat Allah Bapa mengambil langkah dengan mengkonfirmasi posisi Kristus melalui istri Pilatus. Dalam PB, kita melihat bahwa Allah Bapa tidak banyak bersuara, karena Firman itu telah ada di tengah-tengah kita. Sedangkan dalam PL, Allah Bapa banyak sekali berbicara untuk memimpin dan menyadarkan umat-Nya. Setiap kali Allah Bapa berbicara, selalu berorientasi kepada Kristus, yaitu ketika baptisan Tuhan Yesus, Allah Bapa mengkonfirmasi Kristus sebagai Anak-Nya yang tunggal, ketika Kristus berada di posisi kritis hendak menuju ke Golgota, Kristus dipermuliakan di atas bukit dan ada bersama dengan Musa dan Elia, pada saat itu Allah Bapa sekali lagi mengkonfirmasi Kristus sebagai Anak-Nya yang Dia kasihi, dan pada kali ke-3 Allah Bapa sekali lagi berbicara melalui istri Pilatus, kembali Dia mengkonfirmasi bahwa Yesus adalah orang benar.

Manusia mencoba menyelesaikan keadilan secara hukum. Pada saat Yesus masuk ke dalam jalur hukum, Dia harus mengalami tuntutan hukum dan hukuman secara hukum. Yesus telah diperlakukan dengan sangat tidak adil sampai disalibkan. Apakah Yesus memang bersalah sehingga Dia harus dihukum mati? Jawabannya adalah: Allah Bapa mengkonfirmasi. Allah Bapa menginterupsi dengan menyatakan berita melalui seorang wanita. Ini adalah konfirmasi langsung untuk menunjukkan otoritas pembenaran yang jauh lebih valid daripada semua urusan manusia.  

Hukum manusia berdosa seringkali gagal untuk menegakkan keadilan. Ada 3 tingkatan kesulitan hukum yaitu: bagaimana harus berniat dan rela berkorban untuk mencari keadilan, sulitnya mencari bukti untuk penegakan keadilan, hukum hanya mampu melihat dan menindak hal-hal fenomenal (hukum tidak bisa menjangkau aspek motivasi). Jiwa hukum yang seharusnya bukan untuk menjadi jebakan, bukan untuk menghukum, melainkan untuk menjaga supaya orang jangan melanggar hukum. Hukum dibuat supaya manusia dapat berelasi dengan baik, manusia bisa hidup nyaman, tujuannya adalah cinta kasih sehingga manusia bisa hidup. Ketika hukum diberikan, dia tidak bisa lepas dari maksud Allah ketika mencipta manusia, Allah ingin supaya tujuan kebenaran itu ditegakkan. Allah ingin agar hukum juga menjangkau motivasi. Manusia tidak mampu mengerjakan itu. Hanya Tuhan yang memiliki kapasitas untuk menyelidik sampai ke isi hati manusia. Allah adalah posisi tertinggi yang menjalankan keadilan. Hanya Allah yang bisa secara komprehensif mengerti segala aspek, hanya Dia yang bisa menjadi Hakim Tertinggi/ terakhir.

Tuhan memberikan konfirmasi bukan melalui orang rohani seperti: Imam Kepala, ahli Taurat, ataupun tua-tua Yahudi, karena mereka sudah rusak. Tuhan mau pakai istri Pilatus karena dia adalah orang yang paling peduli dengan situasi saat itu, dia adalah orang yang peduli untuk menegakkan kebenaran. Pada zaman ini kita seringkali terlalu nyaman dengan segala macam status kita sehingga kita gagal memiliki kerohanian yang benar. Status seseorang tidak menjamin bahwa kerohaniannya benar. Orang Kristen belum tentu peka mengenai isi hati Tuhan. Kekristenan berpusat pada Kristus. Seringkali kita hanya sibuk dengan label “Kristen” tetapi tidak mengerti tentang Kristus, tentang Allah Tritunggal. Seberapa jauh kita sebagai orang Kristen lebih peduli kepada Kristus, pikiran kita berpusat kepada Kristus? Seberapa jauh hidup spiritualitas menjadi inti dari hidup Kristen kita, mengerti dan mengenal siapa yang kita sembah, dan betul-betul mau peduli kepada Dia?

Istri Pilatus ini secara manusia adalah orang kafir, mirip dengan Rahab yang adalah seorang pelacur, secara status manusia mereka tidak ada harganya tetapi secara moral mereka memiliki kepekaan untuk mengerti Allah Yahwe. Tuhan memperhatikan wanita yang seperti ini. Cara Tuhan melihat sangat jauh berbeda dengan cara manusia melihat. Tuhan lebih melihat hati manusia. Seberapa jauh dalam hidup kita, kita mau hidup berkenan di hadapan Tuhan? Kalau kita mau hidup berkenan di hadapan Tuhan, maka Tuhan juga mau berdekat dengan kita.

Tuhan menyatakan kebenaran-Nya tetapi tetap membiarkan semuanya terjadi. Seringkali cara berpikir kita terbalik, yaitu kalau Allah Bapa sudah menyatakan bahwa Yesus benar, maka seharusnya Allah membebaskan Yesus dari semua tuntutan/ hukuman/ kecelakaan. Cara pikir seperti ini sama seperti yang dialami Petrus ketika mendengar bahwa Anak Manusia harus pergi ke Yerusalem untuk dianiaya dan disalibkan. Petrus merasa hal itu tidak mungkin terjadi karena Yesus adalah orang baik, orang benar, Allah kiranya akan menjauhkan hal itu. Tuhan Yesus menjadi marah. Tuhan tidak suka kalau kita berpikir memakai cara pikir manusia. Yesus memang orang benar, tetapi bukan berarti kecelakaan/ penderitaan itu menjauh dari Dia. Tuhan mempunyai keinginan yang tidak sama dengan keinginan kita. Seluruh berita tertua dalam Alkitab adalah berita mengenai kebenaran yang disengsarakan. Cerita yang dimunculkan adalah mengenai Ayub.

Ayub adalah seorang saleh yang sangat memperhatikan Tuhan. Tuhan menerima hal itu, bahkan menantang iblis dengan membanggakan Ayub. Ayub tidak merasa dirinya baik tetapi selalu takut berdosa/ bersalah di hadapan Tuhan. Setelah dipuji Tuhan, Ayub justru mengalami semua sengsara, yaitu seluruh hartanya habis, semua anaknya meninggal, istrinya menjadi gila, dia sendiri mendapat penyakit yang mengerikan.

Setelah Allah mengkonfirmasi bahwa Yesus adalah orang benar, Yesus tetap harus mengalami penderitaan dan mati karena Allah memiliki rencana yang sangat besar, yaitu Yesus harus menjadi penebus umat manusia. Untuk menjadi penebus, Dia haruslah orang benar. Di sini kita melihat Allah sedang mengerjakan 1 misi paradoks yang luar biasa. Allah membiarkan segala ketidakadilan tetap berlangsung.

Orang Israel tidak mau menegakkan keadilan, yang dipentingkan adalah keinginan dirinya terlaksana. Satu-satunya hal yang mempengaruhi dan membawa dunia kepada kehancuran adalah kebutuhan. Kebutuhan seharusnya menjadi ekses, bukan menjadi target hidup. Orang yang sudah dikuasai oleh keinginan akan menjadi liar dan bermata gelap. Berapa banyak dari kita yang akan mengorbankan siapapun di saat berbicara tentang kemauan/ kebutuhan?

Pilatus ketika melihat situasi sudah tidak terkendalikan lagi, dia cuci tangan, tidak mau menanggung kesalahan. Kesalahan fatal dari Pilatus adalah ketika dia mengaku bahwa dia tidak bersalah, karena sebenarnya dia berada di posisi yang bisa menjatuhkan keputusan yang adil. Untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dia harus mengambil resiko yang sangat besar, misalnya: kariernya akan hancur, dia seharusnya berkorban untuk itu. Orang harus bayar harga untuk berdiri dalam kebenaran. Pilatus mau menegakkan keadilan tetapi tanpa bayar harga. Ketika kita hidup, kebenaran haruslah ditegakkan. Kita tidak diajar untuk mengurus semua hal dan menjadi juruselamat semua orang, tetapi Tuhan menuntut kita untuk menjadi agen kebenaran dalam wilayah tanggung jawab kita. Kalau kita tidak menjalankan tugas tersebut, berarti kita sudah berdosa. Dosa yang paling esensial adalah tidak menghargai Allah dan kebenaran-Nya. Kristus yang adalah Kebenaran Sejati memberikan teladan kepada kita, Dia berkorban demi kebenaran.

Hakim yang asli pada waktu itu adalah orang banyak yang gila. Mereka tidak mengerti persoalan, mereka hanya punya mau. Timbullah anarkis. Di tengah-tengah permainan manfaat/ kebutuhan, ketika diasumsikan sebagai kebutuhan orang banyak maka akan terjadi kecelakaan besar. Segala cara bisa ditempuh karena kebenaran tidak lagi dihiraukan. Ekonomi dunia sekarang ini sedang berada dalam kondisi yang tidak terkontrol karena ekonomi terserak di tengah-tengah permainan manusia, yang bermain dalam kepentingan masing-masing. Manfaat terbesar untuk orang banyak (menjadi slogan dari utilitarianisme) adalah cara pragmatis yang menghancurkan. Orang banyak dalam nats hari ini adalah hasil hasutan. Orang banyak seringkali dibeli oleh kaum minoritas untuk kepentingan minoritas tersebut. Minoritas memanipulasi, mengontrol, membeli dan mengatur mayoritas untuk menjepit minoritas lainnya.

Berapa banyak gereja yang melakukan hal yang sama, dengan mengeduk jemaatnya untuk kepentingan sang pendeta, dengan dalih untuk kepentingan jemaat? Itulah sebabnya GRII menuntut jemaatnya untuk belajar Firman Tuhan baik-baik agar tidak bisa dibodohi oleh pendeta. Jemaat harus peka dan tahu akan Firman Tuhan, kehendak Tuhan, sehingga bisa menjadi jemaat yang bertumbuh, yang dewasa, yang tidak bisa dikerjain. Hanya Tuhan yang berhak memakai kita karena Dia telah mati bagi kita. Dia bukan mengeduk kita melainkan Dia berkorban untuk kita. Dia bukan mencari keuntungan dari kita, Dia mati untuk menopang kita. Itulah jiwa seorang Hamba yang menderita. Biarlah itu juga menjadi jiwa kita. Amin.

 

RENUNGAN:

1.     Bagaimana Anda merespond tuntutan lingkungan sekitar Anda atas suatu situasi yang ingin menindas kebenaran dan keadilan? Apakah peringatan yang mungkin pernah diberikan oleh pasangan/rekan seiman/hamba Tuhan pada Anda di situasi tersebut menolong Anda bersikap benar? Sharingkan pengalaman dan pelajaran iman atas situasi yang pernah Anda alami tersebut.

2.     Hal apakah yang Anda akan lakukan di minggu ini bagi sesama Anda yang Anda ketahui mungkin sedang dalam situasi diatas? Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)