Ringkasan Khotbah : 10 Juli 2011

Justice & Sacrifice of Truth

Nats: Matius 27:11-14

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno  

 

Tema Injil Matius adalah tentang Kerajaan Surga. Pusat pembicaraan dari Kerajaan Surga adalah pada Sang Raja yaitu Kristus. Klimaks dari pembahasan itu adalah pada 2 pasal yaitu pasal 26 dan 27. Dua pasal ini merupakan 2 pasal yang terpanjang dari seluruh pasal yang ada dalam Injil Matius. Dua pasal yang sangat panjang ini hanya didedikasikan untuk menyampaikan kisah selama 24 jam dimana Sang Raja menjalankan misi-Nya, yaitu 24 jam pada hari terakhir dimana Kristus disalibkan. Tema dari pasal 26 dan 27 ini adalah via dolorosa/ jalan salib.

Nats kita pada hari ini menceritakan suatu bagian yang paling krusial dimana Kristus harus diadili di pengadilan tertinggi pada waktu itu yaitu pengadilan wali negeri. 600 tahun sebelum kejadian ini, Nabi Yesaya dalam Yesaya 53:7 mengungkapkan: Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Nats kita hari ini merupakan penggenapan dari Yesaya 53:7.

Sesuatu yang terjadi dalam nats kita hari ini sepertinya tidaklah masuk di akal, ditambah lagi ayat Yesaya 53:7 diatas yang menyatakan bahwa Dia tidak membuka mulutnya. Pengadilan wali negeri adalah pengadilan yang tertinggi dan sangatlah menentukan nasib terdakwa. Pengadilan ini merupakan pengadilan yang paling krusial karena keputusannya bersifat final. Sangatlah diharapkan bahwa pengadilan tertinggi ini adalah pengadilan yang adil.

Pilatus sebagai wali negeri sudah melalukan ketidakadilan dalam pengadilan Kristus. Pilatus tahu bahwa Kristus tidaklah bersalah, tetapi demi mencari kepentingan dia dan untuk menyelamatkan posisinya, dia melakukan ketidakadilan dengan menghukum mati Kristus. Hal ini menunjukkan betapa bejatnya posisi pengadilan tertinggi saat itu.    

Kita akan belajar kepada Tuhan Yesus dalam menghadapi pengadilan wali negeri supaya kita juga bisa berhadapan dengan dunia ini. Kita yang merasa diri benar ketika diperhadapkan dengan pengadilan yang tidak adil seperti ini maka kita akan merasa sakit hati dan putus asa, apalagi Tuhan Yesus yang mempertaruhkan nyawa-Nya. Kalau kita ada di posisi Tuhan Yesus maka kita akan melakukan berbagai hal untuk menyelamatkan nyawa kita. Dalam nats kita hari ini kita justru melihat hal yang terbalik. Ketika Pilatus bertanya apakah betul Yesus adalah raja orang Yahudi, Tuhan Yesus menjawab: Engkau sendiri mengatakannya, artinya: Tuhan Yesus setuju dan mengkonfirmasi pertanyaan Pilatus. Ketika muncul tuduhan-tuduhan palsu dari para Imam Kepala dan ahli Taurat, Tuhan Yesus tidak menjawab satu katapun. Pilatus heran dengan hal ini.  

Tuhan Yesus melakukan hal diatas karena Dia memiliki cara pandang yang berbeda dengan pandangan umum, karena Tuhan Yesus memiliki sudut pandang dan penglihatan dari Allah sedangkan Pilatus melihat dari sudut pandang manusia. Dalam menghadapi suatu kasus, yang terpenting bukanlah melihat responnya terlebih dahulu melainkan harus melihat cara pandangnya terlebih dahulu karena akan sangat menentukan respon kita. Respon merupakan hasil dari cara kita melihat suatu masalah. Cara pandang yang tepat akan menghasilkan respon yang tepat pula.

Pertanyaan yang diajukan oleh Pilatus kepada Tuhan Yesus, yaitu: Engkaukah raja orang Yahudi?, adalah bersifat politis dan sangat berbahaya karena dia bukan berada di posisi agama, kalau Tuhan Yesus mengakuinya berarti Dia adalah seorang pemberontak negara. Seharusnya Tuhan Yesus tidak perlu menjawab pertanyaan ini karena bersifat menjebak. Ketika Tuhan Yesus dituduh macam-macam, seharusnya Tuhan Yesus menjawab untuk mengklarifikasi, untuk membela diri. Tuhan Yesus justru melakukan kebalikannya sehingga Pilatus menjadi heran.   

Cara pandang dunia adalah untuk mengamankan diri sendiri, sehingga ketika suatu hal membahayakan dirinya maka dia tidak mau menjawab, sebaliknya ketika suatu hal dianggap merugikan dirinya maka dia harus membela diri. Kalau kita memiliki cara pandang seperti ini maka kita juga akan mengalami seperti Pilatus. Tindakan Pilatus merupakan respon dari cara pandangnya tersebut, dan hasilnya adalah kehancuran. Pilatus terbawa melihat persoalan dari untung ruginya dia sendiri.

Tuhan Yesus melihat dari sudut kebenaran. Apa yang benar dan apa yang seharusnya merupakan 2 aspek yang menentukan segala sesuatu yang kita hadapi. Pertanyaan: Engkaukah raja orang Yahudi? merupakan pertanyaan yang mempertanyakan tentang kebenaran sehingga perlu untuk mendapatkan jawaban yang benar. Tuhan Yesus menjawab pertanyaan tersebut walaupun beresiko mati. Semua kalimat yang tidak benar, seperti: tuduhan-tuduhan palsu, tidaklah perlu diresponi. Hal yang salah tidaklah perlu dibela karena kebenaran akan muncul dengan sendirinya tanpa perlu pembelaan.

Kita harus belajar untuk melihat bagaimana cara Tuhan melihat suatu kasus dan bagaimana reaksi Tuhan terhadap kasus tersebut dan kita harus sinkron dengan cara Tuhan tersebut. Dalam gerakan Reformed Injili saya belajar dari pendiri gerakan ini, yaitu Pdt. Stephen Tong, dalam menghadapi berbagai fitnahan dari orang-orang yang membenci beliau. Beberapa Hamba Tuhan ingin sekali menjawab fitnahan tersebut tetapi Pdt. Stephen Tong berkata bahwa beliau bukan dipanggil untuk menjawab fitnah, lagi pula daripada waktu kita habis untuk menjawab fitnah lebih baik kalau dipakai untuk penginjilan. Pertanyaan yang benar, ditanyakan dengan benar, harus mendapatkan jawaban yang benar. Semua pertanyaan yang salah, yang memiliki motivasi tidak benar, tidaklah perlu mendapatkan jawaban. Tidak menjawab pertanyaan yang benar adalah merupakan dosa. Menjawab pertanyaan yang tidak benar juga merupakan dosa karena telah memakai waktu dan tenaga untuk hal yang tidak benar.

Kita seringkali mengasihani diri sehingga cenderung mengurus hal-hal yang tidak penting dan meloloskan hal yang penting. Cara yang terbaik adalah mengerjakan semua hal yang penting dan meloloskan hal yang tidak penting. Kalau kita melakukan hal ini maka seluruh hidup kita akan beres.

Kita juga dituntut mempunyai hati Allah dan juga pikiran Allah, bukan hanya melihat seperti Tuhan melihat tetapi juga berpikir seperti cara pikir Tuhan. Tuhan Yesus tidak menjawab pertanyaan Pilatus bukan karena Dia tidak bisa menjawab tetapi karena Dia sengaja tidak mau menjawab. Tuhan Yesus tidak melawan bukan karena tidak bisa melawan melainkan karena sengaja tidak melawan, Dia membiarkan hal itu terjadi. Seorang Pilatus mengadili Tuhan Yesus, merupakan cara pikir yang tidak tepat sejak di titik pertama. Hal ini menyangkut penempatan diri/ posisi. Di era Post-modern ini kita cenderung dibaurkan posisinya dan kita mulai terjebak dengan permainan ikonisasi. Manusia mulai kehilangan personalitas karena diganti dengan logo dan simbol. Secara ikon, kita hanya melihat adanya hakim yang mengadili terdakwa. Bagi Tuhan Yesus, hakim dan terdakwa belumlah cukup karena bukan merupakan orangnya dan hanya merupakan definisi yang tanpa isi dari suatu posisi.  

Dalam tataran management, kita cenderung membuat suatu tatanan sistem lalu memasukkan orang kedalam tatanan sistem tersebut, dan yang kita lihat adalah sistemnya. Tanpa sadar hal ini akan menjebak kita sendiri karena banyak ketidakberesan terjadi. Hal ini saya sadari ketika pada beberapa tahun yang lalu Pdt. Stephen Tong mengeluarkan pernyataan bahwa beliau tidak suka organisasi, bukan berarti beliau anti organisasi melainkan beliau mencurigai organisasi. Kita jangan hanya melihat organisasi melainkan harus selalu melihat orangnya. Dalam setiap rapat, beliau selalu menanyakan siapa orang yang ada di posisi tertentu, lalu tepatkah dia berada di posisi tersebut.

Layakkah Pilatus menjadi hakim, bagaimanakah hidupnya, layakkah dia mengadili? Yang menjadi terdakwa adalah Kebenaran, sedangkan yang menjadi hakim adalah orang yang rusak, suatu posisi yang tidak cocok! Maka dari itu Tuhan Yesus merasa tidak perlu menjawab. Di dunia ini begitu banyak simbol untuk menutupi diri kita. Seberapa jauh kita menjaga kemurnian posisi kita sehingga ketika kita diverifikasi/ menjalani ujian kelayakan, kita dapat lulus? Ketika kita bisa melihat segala sesuatu dengan tepat maka kita tidak akan mudah terkecewakan maupun tertipu.

Bukan hanya perlu memiliki hati Allah, pikiran Allah, kita juga perlu memiliki pengorbanan seperti Allah. Kristus membiarkan Diri-Nya diam, bukan berarti kalah, melainkan membiarkan Diri-Nya untuk ditindas dan dihancurkan. Kalau Kristus kalah, gagal dalam misi-Nya, maka kekristenan hari ini juga selesai. Tuhan Yesus tidak kalah! Ketika manusia berpikir bahwa Tuhan Yesus kalah, justru disitulah terjadi kemenangan yang paling dahsyat. Ketika manusia berpikir bahwa para Imam Kepala, ahli Taurat, dan Pilatus telah menang, justru disitulah terjadi kekalahan yang paling tuntas. Tuhan Yesus membiarkan Diri-Nya berkorban dan disiksa untuk membawa Injil yang sejati. Injil yang sejati adalah Injil yang dimodali dengan penderitaan dan pengorbanan. Tidak ada Injil tanpa pengorbanan.  

Penginjilan tidak sama dengan pemasaran. Pemasaran selalu memikirkan keuntungan, sedangkan penginjilan memerlukan pengorbanan. Injil membawa sukacita bagi orang lain karena orang bisa melihat adanya orang yang berkorban demi nyawanya. Berita Injil membawa pesan sebuah pengorbanan diri. Hanya kekristenan yang memiliki jiwa pengorbanan yang dahsyat demi orang lain. Kekristenan mula-mula dianiaya habis-habisan tetapi demi Injil mereka tetap mau mengabarkan Injil. Sepanjang sejarah Gereja, inilah esensi dari pemberitaan Injil. Pada hari ini seringkali kita ingin mengabarkan Injil dengan enak. 

Suatu kali Pdt. Stephen Tong ditanya tentang cara beliau mengabarkan Injil sehingga bisa banyak orang yang bertobat. Beliau menjawab bahwa penginjilan bukan tergantung pada cara/ metode melainkan memerlukan pengorbanan diri. Itulah jiwa Injil. Injil bukan tergantung pada metodologi melainkan memerlukan hati yang seperti Kristus. Kiranya kita bisa memiliki hati yang seperti Kristus yang berkata: Aku mencintai kamu, dan Aku mati bagimu.

 

RENUNGAN:

1.     Sebagai orang percaya yang hidup ditengah-tengah dunia yang berdosa, bagaimana respon Anda saat Anda diperlakukan dengan tidak benar/adil? Sharingkan satu pengalaman yang Anda pernah alami (refleksi/bandingkan Mat 27 11-14)

2.     Hal apakah yang Anda akan lakukan di minggu ini bagi Kristus yang sudah member teladan akan pengorbanan/penyerahan diriNya dalam ketaatan penuh kepada Allah? Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)