Ringkasan Khotbah : 27 Maret 2011

God's Plan & the Power of Darkness

Nats: Matius 26:55-56

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno     

 

Tema pembahasan Matius 26 dan 27 adalah via dolorosa/ jalan salib. Nats hari ini berisi dialog antara Tuhan Yesus dengan orang-orang yang menangkap Dia. Pada saat itu terdapat 3 golongan yaitu Tuhan Yesus sendiri, Yudas dan murid-murid Tuhan yang lain, orang banyak termasuk tentara Bait Allah. Dialog Tuhan Yesus ini mempertanyakan tentang esensi dari penangkapanNya, mengapa dan bagaimana Tuhan Yesus ditangkap. Dia ditangkap pada malam hari, di tengah-tengah sebuah taman yang terpencil, supaya tidak ada orang yang tahu. Kalau memang Tuhan Yesus adalah seorang kriminal, mengapa harus ditangkap pada malam hari di taman yang terpencil, bukankah lebih baik kalau ditangkap di depan orang banyak atau di Bait Allah (tempat Tuhan Yesus setiap hari mengajar)? Masalahnya adalah Tuhan Yesus bukanlah seorang kriminal. Penangkapan ini bukanlah isu kriminal maupun keadilan melainkan merupakan isu politik. Para Imam Besar tidak berani menangkap Tuhan Yesus di depan umum karena Tuhan Yesus tidak memiliki kesalahan dan pengikutNya banyak. Para penangkapnya melakukan penangkapan itu demi uang.   

Isu yang hendak diangkat oleh Tuhan Yesus dalam cerita ini adalah adanya suatu pertemuan ketidakadilan di Taman Getsemani. Tuhan Yesus, yang adalah kebenaran, yang begitu baik dan melakukan pelayanan yang benar, harus ditangkap pada saat itu dengan cara yang sangat tidak tepat. Disinilah kita bisa melihat problema dasar yang membawa Tuhan Yesus ke kayu salib. Betapa mengerikannya suatu ketidakadilan.. Ketika manusia mengedepankan kepentingannya, mengumbar dosanya, maka akan terjadi ketidakberesan demi ketidakberesan. Pertemuan di Taman Getsemani ini menunjukkan fakta adanya dosa.

Ketika Tuhan Yesus datang ke dalam dunia ini, Dia harus berhadapan dengan situasi dosa seperti ini, dan Dia bertugas untuk membereskannya. Peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa merupakan suatu isu besar dalam iman Kristen. Kejatuhan manusia ke dalam dosa adalah pemberontakan manusia terhadap Allah, terhadap Kebenaran. Ketika manusia melawan Tuhan/ Kebenaran, manusia dibuang oleh Tuhan. Kejatuhan mengubah seluruh natur dunia kita. Jadi, efek dosa sangatlah besar.

Ketika kejatuhan manusia sudah terjadi, maka semua yang ada di dunia ini mencerminkan natur dosa. Kalau kita hidup di tengah dunia ini mengharapkan semuanya baik dan keadilan juga berjalan baik, maka kita justru tidak hidup realistis. Di tengah dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa ini, kalau masih ada orang yang benar, adalah merupakan suatu anugerah. Adalah lazim kalau Tuhan Yesus dan kita semua harus berhadapan dengan kondisi seperti diatas. Tindakan penebusan Kristus, yaitu penderitaan yang harus dialamiNya untuk menebus dosa kita, dimulai di Taman Getsemani. Rentetan penderitaan yang panjang harus dialamiNya akibat fakta dosa. Dosa tidak bisa ditutupi dan begitu kelihatan.

Melalui peristiwa penangkapan tersebut, Tuhan Yesus ingin mengupas semua ekstensi dosa. Orang-orang beragama yang seharusnya bertindak dalam kesucian dan kebenaran justru menjadi pelaku perusak. Pemimpin politik yang seharusnya menegakkan hukum dan keadilan justru menjadi pelaku ketidakadilan. Fakta dosa inilah yang dipaparkan agar kita dapat semakin melihat kondisi riil dunia ini. Ketika manusia mencoba menutup mata terhadap realita ini atau mengelabui diri dengan ketidakberadaan fakta ini, justru akan membawa manusia kepada kecelakaan. Ajaran iman Kristen yang mengatakan bahwa orang Kristen akan mengalami segala yang baik, justru akan menjadi ajaran yang menghancurkan iman.  

Allah abad ke-20 yang diajarkan oleh sebagian besar arus kekristenan adalah Allah yang akan memberkati secara materi. Pada abad ke-21 ini Allah yang ditawarkan berganti menjadi Allah yang humanis yaitu Allah yang menghibur dan menolong, karena kondisi dunia sudah berubah akibat krisis ekonomi. Ekonomi dunia sempat jaya dalam tahun-tahun sebelum tahun 1998 sehingga Theologi Kemakmuran sangatlah digemari. Theologi ini mengajarkan bahwa kalau ikut Tuhan, manusia tidak akan menderita. Ketika krisis ekonomi terjadi pada tahun 1998, banyak orang Kristen yang mengalami kebangkrutan sehingga mereka mulai memaki-maki Tuhan dan meninggalkan Tuhan. Mereka inilah korban penipuan dari pendeta-pendeta palsu. Iman yang tidak beres akan membawa manusia kepada kehancuran/ neraka.

Orang yang diajar bahwa dunia ini tidak berdosa/ jahat, ketika harus menghadapi kejahatan dunia maka dia tidak siap hati. Manusia harus belajar kepada via dolorosa, seperti Daud yang mengatakan bahwa dia harus melewati lembah-lembah kekelaman/ daerah bayang-bayang maut, tetapi gadaMu dan tongkatMu menjadi kekuatan bagi dia. Manusia yang tidak mau melewati lembah-lembah kekelaman justru keluar dari jalur Tuhan, yang justru akan menghancurkan manusia itu sendiri. Hidup didalam Tuhan adalah hidup yang realistis dan tahu akan panggilan Tuhan untuk berhadapan dengan dunia ini.

Point penting berikutnya adalah iblis tidak pernah diam terhadap orang yang hidup benar. Inilah natur kejahatan. Iblis akan sengit melawan Gereja yang betul-betul menjalankan kehendak Tuhan, yang betul-betul berdoa. Kalau kita mempelajari kitab tertua dalam Alkitab (Kitab Ayub), kita akan melihat seseorang yang hidupnya saleh dan iblis tidak menyukainya sehingga iblis memakai segala cara untuk menghancurkan iman Ayub. Cerita pertama Alkitab ini membukakan kepada kita fakta dosa yang sejati. Karena fakta dosa inilah maka Tuhan Yesus harus datang ke dalam dunia ini untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Ketika Tuhan Yesus berhadapan dengan fakta dosa ini, banyak orang yang menganggap Tuhan Yesus kalah. Faktanya ketika Tuhan Yesus bertanya kepada para penangkapnya: “Siapakah yang kalian cari?“. Mereka menjawab: “Yesus dari Nazaret“. Tuhan Yesus menjawab: “Akulah Dia“. Maka para penangkapnya jatuh rebah ke tanah. Tuhan Yesus juga menyatakan bahwa Dia bisa meminta BapaNya untuk mengirimkan lebih dari 12 pasukan malaikat untuk menolong Dia. Tuhan Yesus bukan kalah tetapi harus menyerah karena semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi (Matius 26:56). Tuhan Yesus melakukan semuanya itu bukan berdasarkan keinginanNya/ kesukaanNya/ kepentinganNya melainkan untuk menggenapkan rencana BapaNya yang sudah dinubuatkan melalui para nabi.

Nubuat sejati bukanlah berdasarkan kepentingan manusia melainkan implikasi penyataan dari rencana Allah yang kekal ke tengah dunia. Tuhan Yesus datang ke tengah dunia ini untuk menjalankan masterplan/ rencana BapaNya. Sebelum kejadian di Taman Getsemani ini, Tuhan Yesus sudah membukakan rencana tersebut sebanyak 4 kali yaitu Dia harus pergi ke Yerusalem, menderita aniaya, mati dibunuh di atas kayu salib, bangkit pada hari ke-3. Itulah tugas utama Tuhan Yesus datang ke tengah dunia ini yang tidak bisa digantikan oleh siapapun juga.

Semua kita lahir dalam kondisi tidak ada yang tahu tujuan hidupnya. Kemudian dunia mulai mempertanyakan cita-cita. Dari sejak kecil manusia sudah dididik menjadi orang yang ambisius, yang menuruti keinginan diri. Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan memiliki rencana atas hidup setiap manusia. Kita harus menanamkan dalam diri anak kita bahwa Tuhan memiliki rencana atas hidupnya (Efesus 2:10).  Ketika Tuhan sudah menyelamatkan kita maka kita harus balik kepada Tuhan untuk mengerjakan rencana Bapa di Surga bagi setiap kita. Kita diselamatkan bukan untuk dicabut dari tengah dunia ini tetapi untuk menyatakan Kebenaran/ Firman Tuhan di tengah dunia ini. Kita dipanggil bukan untuk melarikan diri dari dunia ini tetapi untuk ambil bagian di dalamnya, bukan dalam arti ikut kepada dunia berdosa. Tuhan memanggil kita untuk menjadi orang yang hidup dalam pimpinan Tuhan, yang berjalan dalam kehendakNya, yang taat kepada rencana kekal Bapa dalam kehidupan kita.

Banyak orang menjadi Kristen untuk mencapai keinginannya. Orang yang demikian akan meninggalkan Tuhan ketika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka mau.  Banyak pula ajaran Kristen yang memakai Tuhan untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Mereka memakai istilah “visi“ tanpa melihat apa yang Tuhan mau. Visi dipakai bukan untuk menjalankan kehendak Tuhan. Visi menjadi sama dengan ambisi pribadi. Tuhan yang harus mengikuti kemauan manusia. Semuanya itu berbeda sekali dengan apa yang Tuhan Yesus lakukan.

Pada bagian lain dari Matius 26:56 kita melihat adanya kejadian yang begitu kontras dengan Tuhan Yesus yaitu semua murid Tuhan meninggalkan Dia dan melarikan diri. Disini kembali terlihat fakta dosa. Selama kondisi menguntungkan, para murid akan selalu mengikuti Tuhan Yesus, tetapi begitu kondisi kritis, mereka semua melarikan diri. Kekristenan di abad ke-21 ini akankah mengikuti Tuhan Yesus walau dalam kondisi yang tidak menguntungkan sekalipun?

Perilaku para murid yang melarikan diri sangatlah menghina Tuhan Yesus karena berarti mereka tidak percaya kepada Tuhan Yesus yang sebelumnya sudah meminta kepada para penangkapNya untuk melepaskan para muridNya. Seharusnya para murid tidak perlu lari karena jaminan Tuhan tersebut. Tingkah laku mereka begitu hina yang hanya sibuk menyelamatkan diri sendiri. Kalau kita mau mengikut Tuhan Yesus, seberapa jauh kita mengikut Dia ataukah kita hanya memanfaatkan Dia?

Tujuan penebusan dosa yang dikerjakan oleh Kristus bukan hanya untuk menyelamatkan kita dari dosa tetapi juga supaya kita kembali berdamai dengan Allah, bisa hidup berdekat dengan Allah, bisa sejalan dengan Allah. Ketika para murid berpikir hanya tentang keselamatannya maka mereka tidak bisa berdekat dengan Tuhan. Manakah yang lebih penting: bersama dengan Kristus ataukah hidup itu sendiri? Kita seringkali kacau akan hal ini. Kita seringkali mengikuti Yesus hanya supaya dapat masuk Surga tanpa mau dekat dengan Tuhan, tanpa Tuhan didalamnya.

Para murid yang melarikan diri merupakan pukulan yang sangat berat bagi Tuhan Yesus. Di saat Tuhan harus menghadapi situasi yang paling sulit, penderitaan yang paling berat, di saat Dia diperlakukan dengan tidak adil, tidak ada satupun muridNya yang mendukung Dia. Seberapa jauh kita bisa setia kepada teman dan Tuhan kita, bukan hanya dalam keadaan senang tetapi juga dalam keadaan susah sekalipun? Kiranya kita bisa tetap setia sampai mati mengikut Kristus.

 

 

     (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)