Ringkasan Khotbah : 20 Maret 2011

Truth Needs No Defense

Nats: Matius 26:51-54

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Matius 26 dan 27 merupakan pasal terpanjang dalam Alkitab, yang terdiri dari 75 dan 66 ayat, yang menceritakan kejadian dalam 1 hari (hari Jumat) mulai dari pukul 6 sore sampai kepada pukul 6 sore hari berikutnya. 2 pasal itu bertemakan tentang via dolorosa/ jalan salib. Melalui kejadian demi kejadian dalam kurun 24 jam tersebut banyak pelajaran yang dapat kita peroleh.

Matius 26:47-50 menceritakan pertemuan antara Yudas dengan Tuhan Yesus, sedangkan nats hari ini merupakan kejadian lanjutannya yang memperlihatkan reaksi dari murid Tuhan yang melihat Gurunya ditangkap. Ketika orang-orang suruhan Imam Besar menangkap Tuhan Yesus, salah satu murid Tuhan mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. Seandainya kita ada di posisi murid Tuhan tersebut (Petrus), kita mungkin akan mempunyai segudang alasan rasional untuk membenarkan tindakan tersebut, karena ini merupakan situasi kritis dimana orang di pihak Tuhan Yesus hanya 12 orang sedangkan jumlah lawan lebih banyak dan bersenjatakan pedang dan pentung. Dalam situasi terjepit seperti ini adalah lebih baik melawan daripada mati konyol, selain itu kita juga harus membela Guru kita, itulah alasan-alasan logis yang mungkin akan kita lontarkan. Langkah yang kita ambil dalam kondisi kritis adalah perwujudan dari seluruh keberadaan kita secara riil, yang merupakan reaksi dari pola pikir yang kita miliki.

Dalam kehidupan ini kita juga berhadapan dengan kondisi kritis semacam ini, terjepit, terintimidasi, dan bukan kita yang memulai, maka kita wajib untuk membela diri. Alasan ini sangatlah logis dan rasional tetapi Tuhan Yesus dan iman Kristen tidaklah menyetujui tindakan diatas.  

Kejadian dalam nats hari ini (ayat 51) memperlihatkan adanya 3 macam kelompok dengan pola pikir dan reaksi masing-masing yaitu: 1) kelompok Yudas dengan tentara Bait Allah yang diperintahkan oleh Imam Besar, yang datang dengan jumlah banyak agar rencana penangkapan Tuhan Yesus tidak gagal; 2) kelompok murid Tuhan yang beranggapan wajib membela diri mereka agar tidak mati konyol; 3) Tuhan Yesus sendiri yang memiliki cara berbeda dengan 2 kelompok lainnya. Pola pikir kelompok Yudas dengan tentara Bait Allah dan kelompok para murid Tuhan sebenarnya adalah sama tetapi memiliki model yang berbeda. Andaikan Tuhan Yesus membiarkan para muridNya melawan maka akan terjadi pertumpahan darah, dan kelompok para murid yang akan mengalami kekalahan, sedangkan Tuhan Yesus pasti tidak dibunuh karena perintah Imam Besar adalah menangkap Tuhan Yesus hidup-hidup. Kalau terjadi seperti ini, layakkah tindakan para murid dan apa yang sebenarnya mereka perjuangkan?

Sikap manusia berdosa adalah ingin mencapai keinginannya dengan sikap kekerasan dan sikap ingin menghancurkan orang lain. Inilah natur manusia berdosa. Para hamba Imam Besar melakukan kejahatan untuk menangkap Tuhan Yesus sedangkan para murid Tuhan juga melakukan kejahatan untuk membela diri mereka, jadi keduanya adalah sama-sama dipengaruhi oleh natur dosa. Dalam kondisi kritis orang sudah tidak bisa lagi melakukan tindakan yang normal tetapi akan bereaksi menurut natur aslinya. Reaksi ini bukanlah reaksi bawah sadar, yang merupakan anggapan umum, melainkan merupakan perwujudan dari pola pikir seseorang. Semua tindakan kita adalah berdasarkan pola pikir kita, dan di saat kritis kita tidak keburu untuk pakai “topeng“ sehingga pola pikir yang asli yang muncul dalam wujud tindakan.

Petrus berulang kali berhadapan dengan kondisi kritis dan tindakan yang diambilnya adalah keluar dari pola pikir yang dimilikinya, sedangkan pola pikir tersebut keluar dari iman yang dimilikinya. Paulus dalam Roma 12:2 mengajarkan bahwa iman yang beres haruslah disertai dengan pembaharuan akal budi. Kalau pola akal budi ini tidak dibereskan maka kita akan kembali kepada pola yang lama. Ketika kita mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, sudahkah pola pikir kita pun betul-betul percaya kepada Dia? Natur dosa mencengkeram manusia dengan luar biasa, maka diperlukan perjuangan yang keras setelah pertobatan. Dalam pertobatan yang sejati harus ada iman yang sejati, dan iman yang sejati haruslah dikerjakan dengan sungguh-sungguh, dengan takut dan gentar. Setiap murid Tuhan dididik senantiasa oleh Tuhan Yesus bagaimana menggarap pola pikirnya agar kembali kepada Tuhan.

Apa yang dilakukan oleh Petrus mewakili semua orang, yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus tetapi bisa melakukan hal yang sama sekali berbeda dengan Tuhan Yesus. Dalam Matius 16 Tuhan Yesus pertama kalinya mengungkapkan tentang kematianNya diawali dengan pertanyaanNya kepada para murid: Menurut kamu, siapakah Aku? Petrus menjawab: Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup! Informasi yang diperoleh Petrus tidaklah salah.

Ketika kita salah bertindak, penyebabnya bisa karena salah atau kurangnya informasi yang kita terima. Tetapi penyebabnya bukan hanya itu karena ternyata sebagian besar manusia salah bertindak karena masalah paradigma. Masalah paradigma diibaratkan masalah pemakaian kacamata. Ketika kita memakai kacamata hijau maka semua yang kita lihat akan berwarna hijau, dan kalau kita berganti kepada kacamata bening maka semua yang kita lihat menjadi berubah pula. Informasi yang kita terima sama tetapi tergantung pada “kacamata“ yang kita pakai. 

Dalam Matius 16 Petrus memiliki informasi yang benar mengenai Tuhan Yesus yang adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, kemudian Tuhan Yesus memberitahu lebih lanjut bahwa sebagai Mesias Dia harus pergi ke Yerusalem, menderita aniaya, lalu mati diatas kayu salib, dan bangkit pada hari ke-3. Reaksi Petrus adalah menarik tangan Tuhan Yesus dan berkata: Tuhan, hal seperti itu tidak mungkin terjadi kepadaMu, kiranya Allah akan menjauhkan hal itu daripadaMu. Reaksi ini merupakan perwujudan pola pikir Petrus. Menurut pikiran Petrus dan manusia berdosa lainnya, adalah tidak mungkin seorang Mesias mati diatas kayu salib, dan Allah tidak mungkin menyerahkan AnakNya mati diatas kayu salib. Inilah paradigma yang salah! Tuhan Yesus langsung menengok kepada Petrus dan menghardik dia dengan keras: Minggir setan! Engkau memikirkan bukan yang dipikirkan oleh Allah melainkan yang dipikirkan oleh manusia.

Semua manusia dan semua agama termasuk Kristen yang salah selalu berpikir menurut pikiran manusia dan untuk kepentingan manusia. Itulah fatalnya iman yang salah. Theologi Reformed diperlukan untuk menjadi kacamata yang benar. Dengan menjadi Kristen tidaklah menjadikan kita langsung memiliki kacamata yang beres maupun iman yang beres karena cengkeraman natur dosa amatlah dahsyat. Iman kita perlu senantiasa diuji dan dibereskan.

Bagaimana mengatasi natur dosa ini? Tuhan Yesus berkata: Kalau kamu mau sungguh-sungguh menjadi muridKu maka kamu harus menyangkal diri, pikul salib, dan ikut  Aku. Menyangkal diri berarti berkata tidak terhadap keinginan diri. Kalau kita mengikuti cara kita sendiri maka kita akan habis. Tuhan memiliki cara yang lebih baik yaitu memberikan DiriNya ditangkap dan meminta tentara membiarkan para muridNya pergi. Petrus juga tidak mau pikul salib, dia tidak mau dibuat menderita oleh tentara Bait Allah, maka dia melawan terlebih dahulu. Di tengah dunia ini sangatlah sulit bagi orang benar untuk pikul salib karena adanya konsep yang salah bahwa orang yang hidup benar tidak mungkin pikul salib. Konsep yang benar adalah dunia pasti tidak menyukai orang yang hidup benar sehingga orang benar pasti akan pikul salib. Orang yang berbuat dosa lalu menderita bukanlah pikul salib melainkan harus menanggung hukuman karena dosa.

Tuhan Yesus sudah terlebih dahulu memberikan teladan pikul salib. Dalam Alkitab tidak ada 1 mujizat pun yang membela Tuhan Yesus. Kehidupan iman adalah kemenangan melewati penderitaan. Inilah pengharapan kemenangan.

Dalam skenario film, lakon utama akan selalu dijaga oleh sutradara sehingga walaupun harus menderita di awal tetapi pada akhirnya akan menang juga, sedangkan pemain figuran hanya bertahan sebentar saja lalu mati. Dalam kehidupan ini, di manakah posisi kita, di jalur utama ataukah di jalur figuran? Tuhan sebagai sutradara telah mengatur jalannya dan kita hanya diminta untuk mengikuti Dia.

Matius 26:52: Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.“ Artinya: barangsiapa mengikuti cara dunia ini, dia akan binasa. Cara dunia akan menghantam balik pemakainya. Cara Tuhan membuat seluruh paradigma/ pola pikir tidak bisa dikenali oleh dunia dan dunia tidak bisa menaklukkannya. Cara dunia adalah menggiring kita kemudian menjepit kita sehingga kita akan menjawab menurut cara dunia; kita dibawa kepada kondisi kritis kemudian harus segera mengambil langkah. Cara pikir yang benar haruslah dikembalikan kepada Kebenaran karena Kebenaran berada di atas logika dan semua tatanan manusia.

Matius 26:53: Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari 12 pasukan malaikat membantu Aku? Para murid berpikir bahwa Tuhan Yesus perlu dibela. Pada hari ini pun banyak orang Kristen yang berpikir bahwa kita perlu membela iman kita dan Tuhan kita. Seharusnya, semua yang kita percaya tidaklah boleh kita bela dan justru dia yang harus membela dan menolong kita. Kita harus meminta pertolongan dari pihak yang ada di atas kita dan bukan yang ada di bawah kita. Tuhan Yesus adalah Tuhan yang sejati. Dia tidak memerlukan pembelaan dari manusia. Dia yang mengatur semuanya sehingga Dia menuntut kita untuk bersandar sepenuhnya kepadaNya. Iman yang sejati adalah jika engkau datang kepada Kebenaran yang sejati, Kebenaran itu tidaklah memerlukan pembelaanmu. Dialah yang akan memimpin dan membela kita. Theologi Reformed mengajak kita melihat bahwa Allah yang sejati adalah Allah yang berdaulat, yang adalah Kebenaran yang tidak perlu pembelaan manusia.

Matius 26:54: Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian? Semuanya itu haruslah dialami oleh Tuhan Yesus. Kalau para murid menolong Dia, apa yang akan terjadi? Pemain film tidak berhak untuk ikut mengatur, semuanya ada di tangan sutradara. Sepertinya semuanya kalah, tetapi semuanya itu harus terjadi, dan hal itu bukan berarti kalah. Tuhan sudah mengatur semuanya. Kita hanya perlu taat. Kalau kita melawan apa yang diatur oleh Tuhan maka kita sendiri yang akan celaka karena kita keluar dari jalur. Pada waktunya Kebenaran akan muncul! Kebenaran tidak bisa ditutupi. Waktu merupakan penguji terbaik. Semua yang di depan kelihatan seperti kalah, pada waktunya nanti akan terlihat yang benar.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)