Ringkasan Khotbah : 20 Februari 2011

Persembahkanlah Tubuhmu!

Nats: Roma 12:1-2

Pengkhotbah : Pdt. Hendry Ongkowidjojo    

 

Roma 12:1 menyatakan: Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Apakah yang dimaksudkan oleh Paulus dengan kata “kemurahan Allah“? Apakah yang dimaksudkan adalah kemurahan Allah yang berlimpah-limpah yang masih tersedia bagi kita ataukah kemurahan Allah yang sudah kita terima? Seringkali ketika Paulus membahas tentang kemurahan/ kebaikan Allah, 2 hal ini seringkali berjalan bersama-sama. Di satu pihak Paulus melihat bahwa kita telah menerima kemurahan Allah, tetapi di pihak lain juga masih ada banyak/ berlimpah kemurahan Tuhan yang tersedia bagi setiap kita. Ketika kita hanya puas dengan kemurahan Allah yang kita terima maka kita beresiko kehilangan begitu banyak kemurahan Allah yang masih tersedia bagi setiap kita.

Pdt. Stephen Tong dalam khotbahnya pada tanggal 26 Desember yang lalu menguraikan ayat Firman Tuhan dalam Kitab Efesus yang menyatakan demikian: Aku berdoa bagi setiap kamu agar bisa memahami betapa panjangnya, lebarnya, tingginya, dan dalamnya kasih Kristus. Beliau menceritakan suatu gereja yang sangat unik dimana setiap minggunya menyanyikan lagu-lagu yang dikarang oleh pendetanya. Ketika Pdt. Stephen ditanya oleh pendeta tersebut tentang bagaimana pendapat Pdt. Stephen akan hal itu. Beliau menjawab bahwa hal tersebut adalah kurang tepat, bukan karena lagu-lagunya kurang baik, tetapi karena tidak ada 1 orangpun yang bisa mengerti, memahami, dan mendalami kasih Tuhan hingga sampai sedalam-dalamnya. Paulus juga menyatakan bahwa tidak ada 1 orang kuduspun yang dapat menyatakan kasih Tuhan hingga sepenuh-penuhnya, hanya dengan seluruh orang kudus barulah ada 1 bayangan akan kemurahan/ kasih Tuhan. Bagi Paulus, kemurahan Tuhan sangatlah berlimpah, panjangnya, lebarnya, tingginya dan dalamnya seolah-olah tidak terukur. Karena itu adalah sangat disayangkan kalau orang Kristen hanya puas dengan kemurahan yang telah dia terima tanpa bergumul lebih lanjut, dia akan kehilangan begitu banyak kemurahan Tuhan yang telah tersedia.

Pernyataan Paulus tentang kemurahan Allah dalam Roma 12:1 memiliki penekanan pada kemurahan Allah yang telah kita terima. Hal ini bisa kita ketahui dari 2 kata pertama dalam kalimat itu yaitu kata “karena itu“. Struktur Surat Roma dibagi menjadi 2 garis besar yaitu: Roma 1-11 berbicara tentang doktrinal, Roma 12-16 berbicara tentang praktika. Yang dimaksud oleh Paulus dengan kalimat tersebut adalah: engkau telah tahu apa yang telah aku tuliskan sebelumnya, karena itu aku berkata kepadamu untuk mempersembahkan tubuhmu.

Roma 1:18-3:20 berbicara mengenai semua manusia di luar Kristus adalah berada dalam murka Allah yang begitu besar, manusia tiada berpengharapan, tidak ada manusia yang baik, tidak ada manusia yang mencara Allah. Roma 3:21 dimulai dengan 2 kata yaitu: tetapi sekarang. Martin Llyod Jones mengatakan bahwa 2 kata tersebut adalah 2 kata yang paling indah, karena di tengah-tengah manusia yang tidak berpengharapan tetapi sekarang kebenaran Allah dinyatakan di dalam Kristus yaitu kebenaran dari iman kepada iman. Roma 3:21-4:25 berbicara mengenai situasi yang berubah dari tidak berpengharapan menjadi berpengharapan bahkan ada kepastian pengharapan, ada kepastian keselamatan, ada janji keselamatan yang pasti tergenapi di dalam Kristus, ada hidup yang pasti diberikan kepada setiap orang yang percaya. Roma 5-8 Paulus berbicara mengenai hidup itu, mengenai keindahannya, sisi-sisinya, begitu berlimpah. Puncaknya adalah dalam Roma 9-11 Paulus menyatakan bahwa Tuhan itu setia, Tuhan itu tidak pernah menyesal, Tuhan tidak pernah berganti rencana, sehingga keselamatan/ hidup yang diberikan kepada kita memiliki jaminan/ kepastian.

Setelah selesai membicarakan semuanya itu, Paulus berkata: karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah yang sudah kita dapatkan, yang tidak layak untuk kita dapatkan, demi kemurahan Allah di dalam Kristus yang menjadi suatu keselamatan, demi kemurahan Allah yang mendatangkan hidup yang begitu berlimpah, demi kemurahan Allah yang setia, yang tidak berkesudahan, aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Jadi Paulus mengajak kita untuk melihat kepada apa yang Tuhan telah berikan kepada kita. Karena itu janganlah kita hanya tahu mengejar kemurahan Allah yang lain tetapi melupakan kebaikan Allah yang telah kita terima.

Dampak dari Theologi Sukses adalah banyak orang yang belum yakin kalau dirinya telah menerima kemurahan Tuhan. Di satu sisi orang merasa belum menerima kemurahan Tuhan karena dirinya belum sukses, tetapi di sisi lain tidak yakin kalau dirinya belum menerima kemurahan Tuhan. Ada seorang ibu yang bersaksi kepada saya bahwa di dalam dompetnya tidak ada uang yang lama. Bagi dia seolah-olah hal itu merupakan bukti kebaikan Tuhan kepada dirinya. Bagi saya hal itu begitu menyedihkan karena kebaikan Allah hanya dibuktikan dengan tidak adanya uang lama di dalam dompet, bukannya bagaimana Allah telah mati bagi kita untuk menyelamatkan kita, bukannya bagaimana Allah telah memberikan AnakNya yang tunggal mati bagi kita. Banyak orang membuktikan kemurahan Allah hanya dengan hal-hal yang sepele, sehingga ketika semua hal itu tidak diperolehnya maka dapat disimpulkan bahwa kemurahan Allah belumlah diterimanya. Yang sangat mengkhawatirkan dan menyedihkan adalah apabila Tuhan mati bagi kita dianggap sebagai hal yang biasa saja.

Sebagai orang percaya kita perlu senantiasa mengingat kemurahan Allah karena: 1) kita telah menerimanya karena Allah telah secara konkret menyerahkan AnakNya untuk mati bagi kita, 2) orang yang mengingatnya harus menanggapi kemurahan Tuhan tersebut dengan melakukan sesuatu. Paulus menasihatkan kita untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai respon atas kemurahan Allah yang telah kita terima. Calvin mengatakan bahwa sangatlah sulit bagi orang untuk bisa takut dan taat kepada Tuhan tanpa dia menyadari kemurahan Tuhan. Dengan mengingat kemurahan Allah, seseorang akan didorong untuk mempersembahkan tubuhnya.

Paulus secara spesifik menasihatkan kita untuk mempersembahkan tubuh kita karena hal ini bukan berarti tidak perlu mempersembahkan akal budi, jiwa dan kekuatan, tetapi karena mempersembahkan tubuh memiliki 1 ciri yang unik yaitu: merupakan persembahan yang konkret. Semua hal yang dilakukan oleh manusia selalu berkaitan dengan tubuhnya. Ketika seseorang mempersembahkan tubuhnya bagi Tuhan berarti dia mempersembahkan hari-harinya untuk Tuhan, mempersembahkan matanya untuk melihat hal-hal yang benar, mempersembahkan telinganya, mulutnya, dll semua anggota tubuhnya. Dalam PL, seseorang harus membawa persembahan ketika datang ke rumah Tuhan. Persembahan tersebut berupa kambing/ domba/ burung yang darahnya harus dicurahkan terlebih dahulu, kemudian dibakar dan menghasilkan bau-bauan yang harum untuk kemuliaan nama Tuhan. Dalam PB, kita adalah persembahan yang hidup, berarti kita tidak bisa mempersembahkan tubuh kita cukup sekali untuk selama-lamanya, tetapi terus menerus sepanjang hidup. Selain sebagai persembahan yang hidup, juga yang kudus, berarti setiap anggota tubuh kita (semuanya) dikhususkan bagi Tuhan. Itu semuanya merupakan persembahan yang berkenan kepada Tuhan. Pada waktu orang Kristen berhenti menyalahgunakan matanya, mulutnya, semua anggota tubuhnya, semuanya itu menjadi persembahan yang harum bagi Tuhan.

Persembahan tubuh merupakan pertolongan yang sangat besar bagi seseorang yang mau memberikan persembahan kepada Tuhan. Ketika seseorang menjadi seorang Kristen, semua kebiasaan buruk/ berdosa yang dilakukan oleh anggota tubuhnya dan semua hasrat diri tidaklah langsung hilang tetapi memerlukan perjuangan/ pergumulan untuk memperbaikinya/ lepas dari semuanya. Pada saat kita mempersembahkan tubuh kita, hasrat berdosa kita mungkin masih ada, tetapi hasrat tersebut akan sangat dibatasi perwujudannya/ pernyataannya. Adalah lebih mudah mengendalikan anggota tubuh daripada mengendalikan hasrat. Ada kekuatan yang besar bagi kita untuk mengendalikan anggota tubuh kita daripada mengendalikan hasrat kita dan kita memerlukan kekuatan dari Tuhan untuk menguduskan hasrat-hasrat yang salah.

Bukanlah hal yang mustahil bagi kita untuk mempersembahkan sesuatu yang dapat memperkenankan hati Tuhan, kita diminta untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan yang kudus, karena itulah persembahan yang berkenan kepada Allah. Paulus mengatakan bahwa itulah ibadahmu yang sejati, yang masuk akal (menurut terjemahan hurufiah). Untuk menjelaskan tentang ibadah yang masuk akal, saya akan memakai 2 contoh yaitu: 1) ketika Obama berkunjung ke Indonesia beberapa waktu yang lalu, beliau dijamu nasi goreng. Nasi goreng ini tentunya berbeda dengan yang kita makan biasanya karena tidaklah masuk akal kalau koki istana membuatnya sama dengan yang kita makan. 2) seorang anak yang sudah dibesarkan oleh orang tuanya sampai menjadi orang yang berhasil bermaksud membalas budi kedua orang tuanya dengan cara membelikan rumah yang mewah, mobil yang mewah, membelikan tiket berjalan-jalan keliling dunia, tetapi dirinya tidak ada waktu untuk menemani/ melayani orang tuanya. Hal ini merupakan cara balas budi yang tidak masuk akal.

Persembahan tubuh kita merupakan persembahan yang masuk akal di hadapan Tuhan karena Tuhan bukan sekedar berencana untuk menyelamatkan kita melainkan Tuhan telah secara konkret menyelamatkan kita. Setiap rencana yang kita buat, sebaik apapun rencana tersebut, adalah tinggal rencana kalau belum diwujudkan secara konkret dalam hidup kita. Persembahan tubuh kita adalah sangat konkret sehingga tidak perlu tunggu akhir tahun untuk mengevaluasinya, tetapi saat inipun dan di tempat inipun kita sudah dapat mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan.

Biarlah kita memiliki kesadaran bahwa kemurahan Tuhan begitu berlimpah dalam hidup kita untuk waktu yang akan datang tetapi kita juga tidak boleh lupa bahwa Tuhan sudah memberikan kemurahanNya kepada kita. Kemurahan Tuhan begitu konkret dalam hidup kita. Biarlah Tuhan menolong saya untuk tidak hanya bercita-cita untuk menyenangkan hati Tuhan karena hal tersebut tidaklah masuk akal. Biarlah Tuhan memberi kita kekuatan untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepadaNya.

 

Renungkanlah:

  1. Sebagai orang yang sudah ditebus/selamatkan oleh darah Kristus, apa yang seharusnya Anda persembahkan bagi Allah (bdg Roma 12:1)? Apa yang Anda mau lakukan diminggu ini dalam aspek/bidang pengendalian tubuh Anda bagi Allah? Berdoa dan lakukan komitmen tersebut dengan sungguh-sungguh.

  2. Anda sebagai bagian dari tubuh Kristus (jemaat gereja), apa yang Anda pikir Allah  mau Anda ambil bagian dalam pekerjaan pembangunan tubuh Kristus di mana Anda berada di bulan ini? Berdoa dan lakukan hal tersebut.

 

     (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)