Ringkasan Khotbah : 15 Agustus 2010

Eksposisi Bilangan 14

Nats: Bilangan 14:1-10,26-34

Pengkhotbah : Pdt. Solomon Yo    

 

Sebelumnya kita telah membahas Bilangan 13, sekarang kita akan membahas Bilangan 14. Jika dalam Bilangan 13 kita memfokuskan pembahasan pada kesalahan dari sepuluh pengintai itu, maka dalam Bilangan 14 ini kita akan memfokuskan pembahasan pada kesalahan respons bangsa Israel itu yang berakibat fatal paa mereka, yaitu menjadi bangsa yang terbuang.

Dua belas pengintai itu kembali dengan membawa dua macam laporan yang ber­beda: laporan yang jahat membawa pemberontakan dan kematian, serta laporan yang penuh iman sehingga mendatangkan berkat bagi yang taat. Tetapi sayang sekali, bangsa itu memilih untuk mendengarkan laporan yang salah. Seharusnya tidak ada alasan bagi generasi yang telah melihat campur tangan Tuhan yang dahsyat, seperti: tiang awan, tiang api, manna, air yang keluar dari cadas, dll, ini untuk mempercayai laporan sepuluh pengintai tersebut. Pertanyaannya ialah bagaimana mereka dapat memilih secara salah sehingga menyebabkan mereka memberontak kepada Tuhan.

Hal ini terjadi karena hati mereka condong kepada yang jahat. Kita harus menjaga hati kita karena hati adalah sumber kehidupan. Hati yang condong kepada yang jahat menyebabkan mata seseorang tertutup, telinganya tertutup, dan hatinya tertutup kepada setiap Kebenaran, tidak lagi memiliki kepekaan kepada apa yang baik, tetapi cenderung suka kepada yang jahat dan sesat. Manusia baru diberi anugerah hati yang condong kepada kebaikan, tetapi sayang sekali hal ini tidak dimiliki oleh bangsa Israel.  

Walaupun bangsa Israel adalah umat pilihan Tuhan, mereka tetap memiliki respons yang salah karena mereka pernah menjadi warga Mesir. Mereka lahir, bertumbuh dengan segala budaya, etika, nilai keagamaan kekafiran. Pada waktu mereka keluar dari Mesir, sisa-sisa budaya dan agama kafir masih melekat pada diri mereka. Orang Kristen lahir di dunia berdosa, membawa tubuh yang memiliki sifat dosa, dengan anugerah Tuhan orang Kristen sejati akan mengalami lahir baru, memiliki hati yang baru, tetapi masih ada sisa-sisa kekafiran di dalam diri kita. Pergumulan manusia lama kita adalah pergumulan seumur hidup. Jikalau kita tidak mematikan dosa dalam diri kita maka dosa yang akan mematikan kita. Itulah yang diajarkan oleh Rasul Paulus dan diulas dengan sangat baik oleh beberapa tokoh Puritan seperti: John Owen. Kalau kita tidak berhati-hati, maka ada pergumulan-pergumulan yang akan menyeret kita ke dalam dosa. Orang Kristen sejati tidak akan membiarkan dirinya terseret oleh arus melainkan akan terus berperang sambil terus menanti anugerah pertolongan Tuhan. Dalam diri kita ada campuran antara kesalehan dan hal-hal yang negatif, maka tidaklah heran jika ada orang Kristen yang sudah aktif melayani sekian lama tetapi memiliki sikap yang negatif. Itulah sisa-sisa kekafiran yang harus senantiasa kita perjuangkan untuk kita matikan agar kita bisa sama seperti Kristus.

Biarlah kita boleh memiliki kepekaan rohani, peka akan suara Roh Kudus, sehingga hati kita senantiasa mengarah kepada apa yang dicintai Tuhan, Kebenaran Tuhan, dan senantiasa peka terhadap tawaran yang menggiurkan. Ketika hati dipenuhi ketamakan, maka orang tersebut akan menjadi korban penipuan yang paling empuk. Biarlah hati kita condong kepada apa yang benar, yang mulia, yang saleh, yang menjadi isi hati Tuhan, sehingga kita tidak jatuh dari titik yang paling dasar/paling inti.

Kesalahan kedua bangsa Israel adalah mereka melakukan penafsiran yang sangat keliru. Hati yang condong kepada kejahatan tidak akan mengerti jalan Tuhan, tidak menghargai janji Tuhan, tidak memiliki wawasan rohani, dan tidak memiliki kesiapan untuk mengikuti pimpinan Tuhan. Tuhan akan membawa mereka ke negeri Kanaan yang berlimpah susu dan madunya, tetapi mereka memandangnya sebagai tempat yang mematikan. Mereka melihat secara terbalik dengan apa yang Tuhan lihat. Apa yang dikatakan baik oleh Tuhan, mereka katakan buruk, dan sebaliknya. Mereka lebih memilih untuk kembali ke Mesir walaupun Mesir adalah tempat perbudakan, tempat pembinasaan, tidak ada kasih, tidak ada anugerah, dan janji kepada Abraham tidak pernah terwujud. Orang yang berhati jahat akan memiliki mata yang kotor sehingga menghalangi mereka melihat dari cara pandang Tuhan. Kebenaran Tuhan dan janji Tuhan tidak bisa mereka lihat.

Tuhan Yesus berkata: Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah. Hal ini berarti: orang yang berhati suci akan dimampukan untuk melihat tangan Tuhan/pekerjaan Tuhan/pimpinan Tuhan dengan kepekaan rohaninya. Orang yang suci hatinya akan memiliki kepekaan untuk melihat dan menghindari dari hal-hal yang berujung maut. Seringkali kita tidak mau belajar Firman, tidak mau mengerti Tuhan, tetapi langsung memvonis bahwa Tuhan tidak baik ketika doa kita tidak didengarkan Tuhan, lalu kita meninggalkan Tuhan. Yang menjadi rugi adalah diri kita sendiri.

Dalam perumpamaan tentang talenta, hamba yang menerima 5 dan 2 talenta mengembangkannya sehingga menghasilkan 5 dan 2 talenta lagi dan mereka mendapatkan perkenanan Allah tetapi hamba yang menerima 1 talenta berkata kepada tuannya bahwa tuannya kejam dan jahat, yang menuai di tempat dia tidak menanam, maka tuannyapun menghukum dia sesuai dengan apa yang dikatakannya. Orang yang berpikir bahwa Tuhan itu jahat, maka dia akan mengalami kerasnya Tuhan, bukan karena Tuhan tidak baik melainkan karena dia yang punya hati yang tidak beres/jahat. Ketika kita memiliki hati yang jahat, kita akan marah, bersungut-sungut, memberontak, dan mendatangkan celaka bagi diri kita sendiri.

Jalan Tuhan bukanlah jalan kita. Seringkali kita merasakan jalan di depan kita begitu gelap, nantikanlah pertolongan Tuhan. Tangan Tuhan sedang merenda suatu karya yang indah dan mulia. Kita harus punya hati yang beriman, tulus, percaya didalam Tuhan Yesus Kristus. Ayub tetap berkata bahwa Allah itu baik walaupun dia menderita. Orang yang mengalami campur tangan Tuhan dalam hidupnya akan mengalami proses pemuliaan hidup.

Kesalahan ketiga bangsa Israel adalah mereka takut mati di Kanaan. Tidak ada manusia yang tidak pernah takut, tetapi seharusnya dapat menyiasati rasa takut secara benar. Ketika kita takut, kita akan mencari tempat yang aman; dan tidak ada tempat yang aman kecuali Tuhan sendiri. Ketika bangsa Israel takut mati, seharusnya mereka datang kepada Tuhan. Takut yang benar akan membuat orang semakin bertumbuh dalam iman dan makin dekat kepada Tuhan. Takut yang salah akan membinasakan.

Seharusnya bangsa Israel pada waktu itu tidak perlu takut, karena mereka telah melihat Mesir sudah ditaklukkan oleh Allah sedangkan Kanaan tidaklah sepenting Mesir. Allah yang berperang bagi mereka, tetapi karena hati mereka yang tidak beres, perspektif mereka untuk melihat Kebenaran Tuhan, Firman Tuhan, janji Tuhan menjadi hancur, maka iman menjadi tidak ada. Inilah takut yang salah tempat. Mereka tidak memiliki takut akan Tuhan yang dapat mengalahkan takut apapun. Ketika orang Kristen tidak takut mati, tidak takut sakit, tidak takut rugi, tidak takut menderita, maka dia akan menjadi hamba Tuhan yang luar biasa. Orang yang demikian akan membuat setan kewalahan. Banyak orang Kristen yang hidup dalam ketakutan, kegelapan, dan Tuhan mungkin tidak menolong mereka, maka orang tersebut akan cenderung untuk kompro­mi/ melacurkan diri/ menjual iman.

Hati yang condong kepada kesesatan, membawa pada perspektif/interpretasi yang salah menjadi afeksi yang salah, akhirnya menimbulkan keanehan dalam diri bangsa Israel, mereka mulai berkelakuan dan berbicara yang tidak benar. Ini adalah kesalahan keempat. Ada suatu ketidakwarasan dalam perkataan mereka yaitu: sekiranya kami mati di Mesir atau padang gurun. Mereka sepertinya siap mati di Mesir atau di padang gurun tetapi mereka takut mati di Kanaan. Padahal lebih baik mereka mati di Kanaan karena mereka taat untuk masuk ke sana. Bahkan kalau mereka taat, mereka justru tidak akan mati di Kanaan. Akhirnya mereka menuduh Tuhan hendak mematikan mereka, padahal Tuhan sudah sedemikian menyertai dan memelihara mereka. Inilah ketidakberesan manusia berdosa.

Orang yang hatinya tidak beres, tidak suka mendengar Firman Tuhan, kemudian akan menaruh afeksi yang salah yaitu takut kepada manusia tetapi tidak takut kepada Tuhan, dan akhirnya orang demikian akan cenderung menjadi aneh, dalam dirinya ada kekacauan, di satu sisi dia cinta Firman tetapi di sisi lain dia juga cinta dosa. Orang yang dipengaruhi oleh dosa menjadi orang yang bodoh, gila, aneh, dan memusuhi diri sendiri. Orang berdosa menolak berkat yang paling besar untuk mencari hukuman. Kiranya Tuhan menolong kita untuk melihat wajah asli dunia. Dunia selalu tampak menarik tetapi di dalamnya mengandung racun yang menggerogoti jiwa kita. Berkat sejati adalah dari Tuhan yang akan mencukupkan kita, memberikan kebahagiaan kepada kita.

Pada akhirnya, hati yang jahat tersebut membuahkan pemberontakan. Bangsa Israel menolak Tuhan, dan hendak mengangkat pemimpin baru untuk membawa mereka kembali ke Mesir. Pada saat itulah Kaleb dan Yosua bersaksi kepada mereka bahwa yang menyertai bangsa Kanaan sudah meninggalkan Kanaan. Yosua dan Kaleb adalah saksi/ pembawa suara Kebenaran bagi bangsa Israel. Kalau mereka mau mendengarkan kedua orang tersebut maka mereka akan selamat. Tetapi bangsa Israel yang sudah dikuasai dosa justru mau merajam kedua orang itu. Itulah yang disebut dengan menindas Kebenaran dengan kelaliman. Bangsa Israel yang semula merupakan bangsa yang dikasihi dan diberkati Tuhan, kini berubah menjadi bangsa yang jahat dan mengerikan. Mereka telah mengalami transformasi kemerosotan. Akhirnya hukuman dari Tuhan dijatuhkan atas mereka.

Hukuman Tuhan atas bangsa Israel diulang berkali-kali yaitu dalam Bilangan 14:22-23, 26-34. Tuhan menghukum mereka sesuai dengan apa yang mereka katakan (ayat 28). Kita harus berhati-hati dengan apa yang kita katakan, kita lakukan secara diam-diam, Tuhan selalu melihat dan mencatatnya, dan kelak semuanya itu akan menjadi alat untuk kita dihakimi.

Bangsa Israel menjadi generasi yang dimurkai,  Tuhan muak dan tidak lagi menyayangi bangsa itu. Hukuman Tuhan merupakan pembersihan atas “sampah-sampah yang tidak berguna“. Orang yang melanggar Firman Tuhan adalah orang yang sedang memusuhi diri sendiri. Bangsa Israel yang dihukum Tuhan tidak akan masuk ke Tanah Kanaan melainkan akan mati bergelimpangan sebagai bangkai-bangkai. Hanya Kaleb dan Yosua yang akan masuk ke Tanah Kanaan, inilah hukuman yang menyakitkan bagi bangsa Israel.

Kita janganlah berpikir bahwa Allah itu baik lalu kita bisa berbuat seenaknya kepada Dia. Kita haruslah takut akan Tuhan dan tidak bertindak liar. Kita harus membereskan hati yang cenderung kepada kejahatan dengan anugerah lahir baru sehingga kita memiliki pengharapan. Kita harus selalu belajar Firman Tuhan, kehendak Tuhan, lalu taat, dan meletakkan afeksi kita di tempat yang benar, mencintai apa yang dicintai Tuhan, takut akan Tuhan, jangan biarkan kegilaan menguasai hati kita. Janganlah kita berontak kepada Tuhan sehingga kita bisa bersaksi bahwa Tuhan itu baik.  

 

 

Renungkanlah:

  1. Hal apakah dalam hidup yang pernah membuat Anda sangat takut untuk hadapi dan menggoyahkan iman percaya Anda kepada Allah? Apakah konsekuensi kejadian tersebut bagi hidup Anda? Pelajaran iman apa yang Anda dapatkan dari peristiwa tersebut dan komitmen apa yang Anda mau perbaharui dengan segera untuk hal tersebut?

  2. Apa yang Anda dapat pelajari dan aplikasikan secara konkrit atas teladan iman “Kaleb dan Yosua” di dalam konteks kehidupan Anda saat ini (dlm bergereja, keluarga, pekerjaan, masyarakat)? Berdoa & lakukan hal tsb dg tulus & iman di hadapan Tuhan.

    (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)