Ringkasan Khotbah : 01 Agustus 2010

Pergumulan Kristen: Apakah Itu?

Nats: Matius 19:16-22

Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan 

 

Nats Alkitab kita pada hari ini merupakan salah satu contoh yang Kristus ajarkan tentang bagaimana mengikut Dia. Tuhan Yesus berkata kepada orang muda itu demikian: ada yang masih perlu kamu kerjakan agar sempurna yaitu juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin lalu ikutlah Aku. Orang muda itu merasa susah untuk melakukan apa yang Tuhan mau. Injil Lukas mencatat bahwa orang muda itu adalah seorang pemimpin, berarti dia mempunyai kemampuan untuk mencerna apa yang Tuhan Yesus katakan. Orang muda ini adalah orang yang sangat rohani, dia berani berdiri dengan kepala tegak dan berkata kepada Tuhan Yesus bahwa semuanya itu sudah dia lakukan sejak masa mudanya, masih adakah lagi yang kurang. Tuhan Yesus berkata bahwa masih ada yang kurang. Jawaban ini tidak pernah terpikirkan oleh orang muda ini lalu dia pergi membelakangi Tuhan Yesus. Ada semacam pertimbangan pemikiran di dalam diri orang muda ini.

Khotbah pada hari ini hendak menyoroti tentang pergumulan Kristen. Kita banyak sekali menggunakan istilah “pergumulan“ ini. Apa yang sebenarnya menjadi pergumulan orang muda ini? Mengapa dia bergumul? Apa yang menjadi esensi pergumulan Kristen?

Apakah pergumulan itu sebenarnya? Secara realita, ketika kita berkata bahwa kita sedang bergumul, sebenarnya kita sedang ada masalah. Sebagai orang Kristen, kita lebih cenderung memilih kata “bergumul“ daripada kata “masalah“ untuk menjaga identitas kekristenan kita. Pergumulan Kristen yang sebenarnya adalah ketika dalam menghadapi suatu masalah orang tersebut mencari kehendak Allah dalam masalah tersebut. Jikalau tidak menyertakan Tuhan dalam masalah yang sedang dihadapi, maka hal tersebut bukanlah merupakan pergumulan.

Kita menemukan suatu problema yang besar dalam suatu pergumulan yaitu Allah memiliki kehendak sedangkan kitapun memiliki kehendak. Jadi pergumulan itu muncul ketika kita berusaha menempatkan kehendak kita bersama-sama dengan kehendak Allah; mulailah muncul konflik didalamnya karena terjadi benturan kehendak; kita tidak ingin kalau kehendak kita dikesampingkan. Kalau kita taat kepada kehendak Tuhan maka tidak akan ada lagi kesusahan/ benturan. Selama kita masih merasa susah merupakan tanda bahwa pergumulan kita belum selesai, kita masih “bertarung“ dengan Tuhan sama seperti Yakub yang bertarung dengan Allah semalaman dan menyerah ketika menjelang fajar setelah Tuhan mematahkan pangkal pahanya. Kita bergumul sampai “fajar tiba“, mungkin sampai 1 minggu atau 1 bulan atau 1 tahun atau bahkan bertahun-tahun.

Kita sebenarnya mempunyai pergumulan yang sama dengan orang muda ini. Kita bertanya tentang kehendak Tuhan. Setelah Tuhan memberitahukan kehendakNya, kita mempertimbangkan dan memikirkannya. Di sinilah mulai muncul permasalahan, hati kita menjadi tidak senang lalu kita pergi meninggalkan Tuhan. Kalau kita mau taat kepadaNya maka kita akan dengan hati tenang berkata: Tuhan, kehendakMu yang jadi. Kita akan hidup dengan hati tenang dan tanpa kesulitan jika kita hidup dalam kehendak Tuhan.

Ada 4 penyebab dari pergumulan yang belum selesai yaitu:

1)       karena kita merasa ada sesuatu yang berharga dalam hidup kita.

Sesuatu yang berharga itu bukanlah materi melainkan keinginan untuk mengatur diri sendiri. Orang muda ini senang dengan hal-hal rohani, dengan apa yang Tuhan kerjakan, bahkan dia mengerjakan semuanya itu sejak kecil. Tetapi ketika Tuhan Yesus menyuruhnya untuk menjual segala miliknya lalu mengikut Dia, orang muda itu menolak. Hal ini menunjukkan adanya wilayah dalam hidup orang muda ini yang tidak keberatan untuk diberikannya kepada Allah, tetapi ada juga wilayah yang dia keberatan kalau dituntut Tuhan dari dia. 2 wilayah ini mungkin juga ada dalam hidup kita. Ada “wilayah aman“ dimana kita rela mengorbankan apapun karena kerugiannya hanya sedikit, ada juga wilayah dimana Tuhan menuntut hati kita dan wilayah inilah yang sangat sulit untuk kita berikan kepada Dia. Kita bermain-main dengan Allah, seakan-akan Allah tidak tahu kalau kita mempunyai wilayah seperti itu. Tuhan menuntut wilayah yang tak terbatas yaitu hati kita. Alkitab mencatat bahwa orang muda ini sedih karena hartanya banyak. Hal ini sebenarnya bukan karena hartanya banyak melainkan karena hatinya tidak rela memberikan hartanya yang banyak itu.

Sepanjang kita mempunyai keingian sendiri yang dianggap sangat berharga maka pergumulan kita tidak akan selesai. Untuk menyelesaikan pergumulan kita, kita mulai memakai metode-metode tertentu seperti: a) metode tawar menawar, contohnya: Tuhan, aku akan setia jika Engkau meluluskan permintaanku; b) metode tukar guling, contohnya: Tuhan, aku akan tukar bagian saya dengan bagianMu, jangan lupa dengan yang telah aku berikan; c) metode tarik ulur, contohnya: Tuhan, sekarang saya patuh kepadaMu, tetapi ... Semua metode itu muncul karena kita ingin menyertakan keinginan kita sendiri berjalan bersama dengan kehendak Tuhan. Kita lupa bahwa Tuhan bukanlah seorang juru runding. Tuhan tidak punya penawaran, yang dipunyaiNya adalah tuntutan. Manusia tidak punya penawaran, yang dipunyainya hanyalah ketundukkan.

2)       karena adanya perasaan kepemilikan.

Kita tahu bahwa semua yang ada pada kita adalah milik Tuhan, bukan milik kita, tetapi di sisi lain kita masih juga susah ketika harus memberikannya kembali kepada Tuhan karena kita merasa semua yang Tuhan berikan kepada kita adalah menjadi milik kita, telah terjadi perubahan status kepemilikan. Kita merasa sulit untuk melepaskannya karena sudah terlanjur mencintai hak kepemilikan tersebut.

Kita harus sadar bahwa suami/istri/anak kita bukanlah milik kita, dan ketika suatu hari Tuhan mengambilnya kembali maka kita boleh sedih sekaligus mengingat bahwa itu bukanlah milik kita. Tuhan mengambil bukan berarti orang tersebut meninggal dunia tetapi bisa juga dalam arti Tuhan mau memakainya menjadi hambaNya. Tuhan mengambil untuk memberikan kembali yang baik dan untuk membawa kita kepada kebenaran bahwa kita tidak memiliki apa-apa. Alkitab mencatat bahwa kita datang ke dunia ini telanjang dan pulang telanjang. Tuhan mengambil untuk meluputkan orang tersebut dari dosa merasa memiliki apa yang Tuhan miliki.

3) karena kita merasa mempunyai hak untuk diperlakukan sepatutnya.

Orang muda ini merasa mempunyai hak untuk diperlakukan dengan sepatutnya oleh Tuhan karena sejak kecil sudah melakukan apa yang Tuhan mau. Tuhan Yesus hendak menunjukkan bahwa dia tidaklah sempurna, ada kurangnya. Kemudian orang muda ini sepertinya berkata: Tuhan, aku sudah melakukan semuanya itu tetapi mengapa justru Engkau yang membuat hubungan ini menjadi buruk?

Ada seseorang di abad ke-16 yang hidupnya sangat rohani, senang berdoa. Suatu hari dia menemukan bahwa pengalaman doa bukan lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan tetapi justru menyakitkan karena dia menjumpai keadaan dimana Allah tidak menjawabnya. Sampai-sampai dia menuliskan kalimat demikian: Tuhan, kalau memang demikian Engkau memperlakukan sahabat-sahabatMu, maka tidaklah heran kalau Engkau punya banyak musuh.

Kita mungkin tidak berani berkata seperti diatas tetapi kita mungkin akan bertanya:“ Mengapa Engkau membuat semuanya menjadi buruk?“ ketika kita menerima perlakuan tidak seperti yang kita pikirkan sepatutnya kita terima. Perlu kita sadari bahwa Allah berhak melakukannya.  

3)       karena takut kepada tuntutan Allah.

Setiap kehendak Allah selalu disertai dengan konsekuensi. Jangan ingin mengerti kehendak Allah jika tidak bersiap menerima konsekuensinya. Tidak ada kehendak Allah yang tanpa konsekuensi. Janganlah kita berpikir bahwa ketakutan itu muncul karena problema psikologi. Ketakutan itu muncul karena kita tidak siap menerima kehendak Tuhan.

Alkitab mengatakan bahwa Allah mungkin hadir dalam semua kekacauan hidup manusia. Allah tidak selalu hadir dalam ketenangan. Ketika kita menjadi susah hati karena kehendak kita berbenturan dengan kehendakNya, justru itulah momen dimana Allah hadir dalam hidup kita. Dia hadir dan menyatakan kehendakNya maka kita akan gelisah. Janganlah mencari ketentraman yang lain kecuali kita tunduk kepadaNya maka kita akan menemukan ketenangan dalam jiwa kita.

Elia menemukan kehadiran Tuhan dalam peperangan, dalam ketakutan dan gemetarnya dirinya pada saat bertarung dengan nabi-nabi Baal. Bagaimana jadinya kalau Tuhan tidak menurunkan api ketika dia memintanya? Elia menjadi gemetar. Elia juga menemukan Allah didalam angin sepoi-sepoi ketika dia bersembunyi di gua dalam pelariannya.

Apa sebenarnya yang menjadi esensi pergumulan kita? Dengan kata lain: apa yang menjadi masalah dalam kerohanian kita? Yang menjadi masalah adalah :

1)       pergumulan untuk mengenal dan mengasihi Dia.

Orang muda ini lulus dalam hal melakukan perintah Tuhan yang berkaitan dengan sesama tetapi dia kurang dalam hal mengasihi Tuhan. Kita seharusnya lebih banyak mengesampingkan keinginan kita dan memberikan perhatian lebih banyak kepada keinginan Tuhan. Selama pergumulan kita hanyalah berkisar apa yang Tuhan buat bagi kita dan apa yang bisa kita dapatkan dari Tuhan maka itu bukanlah esensi dari pergumulan. Marilah kita menyelesaikan pergumulan utama kita yaitu bagaimana kita bisa mengenal dan mengasihi Tuhan.

2)       pergumulan untuk bisa percaya dan menerima Dia.

Kita berada dalam kondisi yang susah untuk bisa percaya kepada Dia. Kalau kita tidak bisa percaya kepadaNya maka kita tidak akan bisa menerima Dia. Kalau kita punya keinginan untuk percaya merupakan tanda bahwa Tuhan sudah hadir dalam hidup kita dan mencondongkan hati kita untuk mencari cara agar hati kita bisa percaya. Kalau kita mengabaikannya berarti kita telah membuang anugerah dan kesempatan itu. Kita patut berterima kasih kepada Tuhan kalau kita ada keinginan untuk percaya, dan minta Tuhan untuk mengajarkannya kepada kita. 

Kalau kita memulai dengan iman yang tidak beres mencari kehendak Tuhan, maka hasilnya adalah kita akan pergi membelakangi Tuhan dan menjadi kecewa. Iman yang tidak beres akan menghasilkan ketidaksediaan untuk mau percaya. Marilah kita katakan kepada Tuhan: Tuhan, aku mau mengizinkan hatiku untuk mau percaya kepadaMu dan tunduk kepada kebenaran Tuhan. Lalu tetapkan dalam hati kita bahwa hati kita adalah milik Dia.

3)       pergumulan untuk tetap mengikut Dia.

Kalau kita merasa ikut Tuhan adalah senang selalu, mungkin sekali kita sedang hidup dalam iman yang tidak mempedulikan kehendak Tuhan. Hidup ikut Tuhan tidaklah selalu senang. Pada saat awal kita mengikut Tuhan, kita memiliki kehidupan rohani yang menyenangkan karena setiap doa kita dijawab oleh Tuhan, setelah sekian lama hal ini tidak lagi terjadi dan hati kita merasa susah, disinilah kita sedang mengalami pertumbuhan iman. Pertumbuhan selalu membawa kesusahan/ kesakitan. Kita harus terima kenyataan bahwa ikut Tuhan itu susah. Janganlah kita lari/ menolaknya karena mungkin  Tuhan hadir disana. Semakin kita dewasa, kita harus dapat menerima realita hadirnya Tuhan, dan kita masuk ke dalam pergumulan bagaimana untuk tetap ikut Dia.

Kristus memanggil kita untuk memikul salib, menderita, masuk ke dalam kekudusan tetapi zaman ini memanggil kita untuk bersenang-senang di dalam Dia, menikmati kenyamanan di dalam Dia, dan menikmati kebahagiaan murahan yang menjijikkan.

 

Renungkanlah:

  1. Hal apakah yang paling bernilai dalam hidup Anda? Apakah hal ini sudah Anda persembahkan pada Allah? Berdoa dan hal apa lagi yang Anda mau lakukan supaya hal tersebut boleh menjadi persembahan yang lebih diperkenan oleh Allah?

  2. Sharingkan pada rekan seiman Anda sebuah pelajaran iman yang Anda dapatkan atas satu “pergumulan” yang pernah Anda alami baru-baru ini dalam saling membangun iman percaya pada Kristus.

    (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)