Ringkasan Khotbah : 27 Juni 2010

The Essence of Escatology

Nats: Matius 24:37-44

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno 

 

Nats Alkitab kita pada hari ini berbicara tentang eskatologi dan masih dalam konteks yang sama dengan ayat-ayat sebelumnya. Akhir zaman haruslah disikapi dengan tepat. Pada pembahasan yang lalu, Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita tentang waktu yang harus dilihat sebagai sebuah kesempatan/ momen yang menghasilkan kehidupan yang akan membawa kita kepada kehidupan yang kekal. Kaitan antara waktu, momen dan kehidupan akan menjadikan hidup yang bijaksana. Tuhan memberikan gambaran tentang akhir zaman bukanlah untuk menakut-nakuti manusia, bukan untuk manusia meramal kapan waktunya terjadi, tetapi Tuhan punya maksud yang lain.

Dalam Matius 24:37-44 akan terlihat adanya 3 plot yaitu:

1)         ayat 37-39 mengenai gaya hidup zaman Nuh (orang-orang yang mengalami kiamat pertama). Orang-orang pada zaman itu sudah hidup sedemikian rusak dan mereka tidak merasakannya. Yang mereka sibukkan hanyalah makan, minum, kawin. Semua tanda yang Tuhan berikan tidak mereka hiraukan.

2)         Kondisi kedua dimana Tuhan Yesus membukakan agar kita tidak salah pandang dalam melihat kondisi pertama yaitu kita terjebak seperti ayat 40-41 yaitu ketika ada 2 orang yang sedang bekerja, yang 1 masuk surga dan yang 1 masuk neraka.

3)         Tuhan Yesus membukakan tentang bagaimana sikap yang seharusnya pada ayat 42-44.

Manusia bisa begitu cuek karena manusia hidup dalam gaya hidup yang semakin hari semakin acuh tak acuh, manusia tidak mau memikirkan dan menyiapkan diri dalam menghadapi akhir zaman. Orang-orang pada zaman itu bisa bersikap seperti itu karena: suatu gaya hidup akan mengikat manusia sehingga semakin lama akan semakin sulit untuk keluar dari situ. Dalam perjalanan sejarah, situasi zaman Nuh akan terulang kembali dalam gradual yang lebih panjang tetapi dalam gaya yang mirip. Dengan melihat apa yang terjadi dalam zaman Nuh, kita seharusnya akan dapat melihat apa yang akan terjadi pada zaman akhir. Dengan melihat hal ini seharusnya kita mempunyai kepekaan untuk dapat mengantisipasinya. Jangan sampai terjadi seperti yang dikatakan oleh Hegel yaitu: walau mempelajari sejarah, manusia tetap tidak mau tahu dan terus mengulang kesalahan yang telah terjadi. Kalau hal ini juga terjadi pada diri kita, maka berarti kita belum tercabut keluar dari dunia ini untuk melihat kehidupan di dalam terang.

Semakin kita masuk ke dalam dunia, jepitan gaya hidup akan semakin mencengkeram, dan kita akan seperti orang aneh kalau tidak hidup dalam situasi itu. Orang yang berada dalam budaya tertentu akan sangat terjepit dengan budaya itu, dan akan sangat sulit untuk keluar dari situ karena sudah menjadi sistem pola pikir yang mencengkeram dia. Orang seperti ini sebenarnya tahu bahwa apa yang dijalankannya tidak sesuai dengan Firman Tuhan tetapi dia tidak bisa keluar dari situ.

Di belakang suatu gaya hidup ada cara berpikir yang mendasari pemikiran itu. Gaya hidup sekarang ini diwarnai dengan semangat pragmatis. Manusia tidak lagi mengerti fungsi, bagaimana menata sesuatu, bagaimana mempertimbangkan sesuatu, yang penting adalah makan, minum dan kawin. Itulah gaya hidup hedonis, yang mengutamakan kepentingan diri dan tidak mau memikirkan yang lain karena capek berpikir. Apa yang sebenarnya tengah digarap oleh dunia ini dengan gaya hidup? Strategi yang sukses pada zaman Nuh sedang diulang pada zaman ini oleh iblis. Orang-orang dalam kekristenan pun akan menjadi korban di dalamnya kalau tidak berhati-hati.

Ada 3 alasan mengapa manusia bisa bersikap pragmatis, hedonis, meremehkan segala sesuatu :

1)     manusia dipacu dengan semangat egoisme.

Egois artinya segala sesuatu ditetapkan menurut kepentingan pribadi. Orang yang egois menyempitkan dunia hanya pada dirinya sendiri. Orang yang memutar hidup pada dirinya sendiri akan menjadi orang yang hidupnya makin sempit, makin terjepit, dan makin tidak bisa berpikir jauh. Orang demikian hidupnya akan semakin kacau karena tidak dapat merelasikan diri dengan seluruh lingkungannya. Tetapi orang tidak jera dengan egoisme karena dunia terus mendorong untuk itu. Dunia terus meneriakkan untuk kita memikirkan kepentingan dan keinginan diri kita, tanpa perlu memikirkan hidup benar, hidup penuh cinta kasih.

Tuhan mengajak kita untuk membuka diri, melihat kepentingan seluruh dunia, lalu menjadi altruistik, belajar menjadi berkat di seluruh dunia, belajar memikirkan seluas mungkin.

2)     manusia mulai lelah.

Tekanan hidup semakin lama semakin keras sehingga orang menjadi lelah. Mengejar dan mengerjakan apa yang harus kita kerjakan terasa begitu melelahkan. Sebagai orang Kristen kita tidak seharusnya demikian karena kita seharusnya berada di atas kecepatan dunia. Kalau kita hidup lebih cepat dari gerak dunia ini maka kita tidak akan pernah terseret oleh zaman melainkan kita yang menyeret zaman. Ada orang yang maju mengalahkan zaman tetapi tidak tahu ke mana harus mengarahkan zaman sehingga akhirnya terjerumus sendiri. Di sinilah letak perbedaan antara orang Kristen dengan orang non-Kristen. Orang Kristen berada di depan zaman dan tahu mengarah ke mana. Manusia yang lelah akan mengambil solusi: makan, minum, kawin lalu mati, dengan kata lain: saya tidak mau memikirkan lagi.

3)     manusia tengah tersesat dalam kerancuan opini dan informasi.

Terlalu banyak opini yang muncul tanpa tahu bagaimana menyensornya dan meletakkan arah penetapan di tengah-tengah berbagai opini tersebut, membuat orang menjadi bingung dan tidak tahu solusinya, maka orang akan jatuh ke dalam kelelahan menjadi kondisi sangat acuh tak acuh. Di era post-modern ini kalau kita bersikap seperti ini maka habislah kita. Orang yang tidak punya Firman, tidak punya kebenaran absolut, tidak tahu bagaimana harus menata kebijakan. Semua pemikiran dunia bersifat subyektif. Kalau kita bermain dalam tataran relatif dan subyektif maka semua bisa terkesan benar. Belantara opini ini juga terjadi dalam kekristenan. Orang Kristen haruslah terus membaca ulang Alkitab agar konsep total kebenaran absolut ada di pikiran kita sehingga kita bisa tahu bagaimana kita hidup, tahu mana yang benar absolut. Hargailah Firman Tuhan sebagai otoritas tertinggi dalam hidup kita!

Ketika kita cuek, kita tidak bisa melihat apa yang Tuhan bukakan. Pada zaman Nuh, tidak ada orang yang tidak melihat bahtera yang begitu besar yang dibangun di atas bukit, tetapi mereka tidak mau tahu, tidak mau memikirkannya. Bahkan sampai air bah datang pun mereka masih tidak tahu apa yang sedang terjadi. Pada akhir zaman juga terjadi hal yang sama, sampai berakhir pada kematian.

Bagaimana kita sebagai orang Kristen menyikapi keadaan ini? Jangan sampai kita berpendapat bahwa hal itu merupakan urusan orang dunia yang memang akan binasa, bukan urusan kita. Ayat 40 menunjukkan kepada kita bahwa orang yang kompak sekali, yang sudah seperti saudara sehingga bekerja di ladang bersama-sama, pada akhirnya tidak menuju ke titik yang sama. Ayat 41 menceritakan tentang 2 wanita yang kompak sekali sehingga bisa mendorong kilangan bersama-sama, pada akhirnya juga tidak menuju ke titik yang sama. Kita seringkali terkecoh dengan kebersamaan, apalagi kesamaan bagian luarnya. Gereja pun pernah diupayakan untuk menggarap ke-esaan gereja dengan cara menyamakan papan namanya, liturginya, tukar mimbar setiap minggu, ayat yang dikhotbahkan sama. Setelah 10 tahun, upaya tersebut tidak berhasil karena hanya gejala luarnya yang sama tetapi dalamnya lain semua. Alkitab menuntut kita untuk mempunyai kesatuan iman, pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4:13).

Pada hari ini sangat banyak di antara kita yang sangat tertarik dengan tampilan luar karena mempunyai semangat pragmatis, yang luar gampang dilihat sedangkan yang dalam sulit untuk dievaluasi. Untuk menyeragamkan iman perlu perjuangan yang keras, tuntutan yang tegas, dan kesungguhan bersama untuk mengerjakannya. Apa yang terlihat sama di bagian luar tidak demikian halnya dengan bagian dalamnya. Bagian dalamnya yang harus kita bereskan karena itulah yang sangat menentukan.

Ayat 42 dan 43 menyuruh kita untuk berjaga-jaga, ayat 44 menyuruh kita untuk siap sedia. Kita harus berjaga-jaga seperti terhadap pencuri yang akan masuk ke rumah. Tuhan Yesus juga menyuruh kita untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyambut kedatanganNya yang kedua. Tuhan bukan menginginkan kita untuk berjaga-jaga secara pasif tetapi juga siap sedia/ mempersiapkan diri dengan baik. Orang yang demikian akan hidup secara dinamis. Di semua aspek, kalau kita melakukan penantian pasif kita akan merasa lelah dan jenuh.

Orang yang sudah divonis oleh dokter bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi, apa yang harus dilakukan? Orang yang tahu bahwa waktu hidupnya terbatas seharusnya bersikap apa? Orang yang sekedar menunggu secara pasif eskatologinya/ titik akhirnya akan memiliki hidup yang sangat negatif. Pdt. Stephen Tong yang sudah divonis mati akibat penyakit yang dideritanya justru bekerja lebih keras untuk menyelesaikan tugasnya. Ini merupakan sikap yang mengatasi kondisi, bukannya menyerah. Bersiap sedia merupakan sikap yang positif untuk menghadapi waktu karena: menyadari bahwa waktunya sudah tinggal sedikit lagi maka harus bekerja dengan lebih baik dan lebih keras. Kalau kita bisa bekerja dengan semangat seperti ini maka seluruh hidup kita akan mempunyai daya juang yang kuat sehingga kita tidak akan jenuh dan akan terus positif.

Dengan siap sedia kita tidak akan mengakhiri segala sesuatu dengan kekalahan total, melainkan dengan kemenangan total. Dengan siap sedia kita akan siap menghadapi kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Hal inilah yang membedakan antara orang yang betul-betul di dalam Tuhan dengan orang yang di luar Tuhan. Orang yang di dalam Tuhan akan tahu menggarap hidupnya dengan positif.

Tuhan menginginkan kita bukan sekedar mempunyai sikap positif melainkan juga mempunyai produktivitas. Hidup haruslah produktiv, harus ada hasil yang kita bawa, harus ada buah-buah yang kita persembahkan kepada Tuhan dan buah-buah itu yang disukai oleh Tuhan bukan yang kita sukai. Pdt. Stephen Tong mempunyai kiat: setiap saat harus memperkembangkan pekerjaan Tuhan. Kita harus selalu siap menerima dan menjalankan pimpinan Roh Kudus. Ada 3 kiat beliau untuk menghadapi waktu yaitu:

1)     mengurangi waktu.

Semua aspek direduksi waktunya, kalau biasanya mengerjakan dengan waktu 1 jam dicoba direduksi menjadi 50 menit, kemudian direduksi lagi menjadi 45 menit, demikian terus dijepit. Inilah yang disebut menjepit waktu dengan cara mengatur cara kerja, efisiensi kerja.

2)     menambah kualitas dengan waktu yang sama (yang sudah dijepit).

Dengan waktu yang sama mendapatkan hasil dengan kualitas yang meningkat (produktivitas lebih).

3)     memultifikasi waktu.

Dalam waktu yang sama bisa mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Kalau kita bisa mengerjakan hal diatas berarti efektivitas kita betul-betul dijepit habis.

 

Renungkanlah:

  1. Dalam proses penantian kedatangan Tuhan Yesus kembali, apa yang Anda akan lakukan dibulan ini supaya Anda tetap dapat waspada (alert) dengan sikap yang positif dan penuh sukacita? Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut.

  2. Apa yang Anda akan lakukan bagi Kristus supaya hidup Anda menghasilkan buah yang lebih berkenan bagiNya di bulan ini? Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut.

 (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)