Ringkasan Khotbah : 06 Juni 2010

Eksposisi Bilangan 11

Nats: Bilangan 11:1-6,10,18-24,31-35

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo 

 

 

Tuhan mengasihi kita, memiliki rencana yang indah atas hidup kita, dan Tuhan memimpin hidup kita. Pernyataan ini bukan sekedar pengetahuan tetapi juga merupakan pengalaman faktual dari hidup umat Allah yang dicatat di dalam Alkitab, maupun orang Kristen di sepanjang sejarah dan abad. Bangsa Israel mengalami pimpinan Tuhan yang begitu dahsyat. Ketika 10 tulah ditimpakan kepada bangsa Mesir, bangsa Israel tidak terkena sedikitpun. Bangsa Israel dapat melewati Laut Merah yang terbelah. Mereka memiliki pengalaman melihat dan menikmati mujizat Tuhan dalam hidup mereka. Mereka mendapatkan manna untuk dimakan, bimbingan Tuhan yang berupa tiang awan dan tiang api. Tidak ada generasi lain yang memiliki pengalaman lebih hebat daripada generasi ini. Kita perlu belajar tentang pentingnya respons manusia terhadap penyertaan dan pimpinan Tuhan.

Ketika bangsa Israel merespons pimpinan Tuhan tersebut secara salah maka mereka akan mengalami bencana/kehancuran. Pada hari ini kita khusus mempelajari sungut-sungut yang dilontarkan oleh bangsa Israel dan hukuman yang mereka terima akibat dari hal itu.

Bilangan 11 terdiri dari 2 perikop yaitu: ayat 1-3 dan ayat 4-35. Kita akan membahasnya satu persatu. Bagian I menceritakan tentang bangsa Israel yang bersungut-sungut. Mengapa mereka bersungut-sungut? Dalam peristiwa lain sungut-sungut mereka selalu ada alasannya, misalnya karena tidak ada air untuk diminum, mereka dihimpit oleh tentara Mesir di tepi Laut Merah, tetapi konteks Bilangan 11 ini adalah ketika bangsa Israel berada dalam penyertaan Tuhan berupa tiang awan dan tiang api. Bukankah hal ini sangatlah aneh? Hidup kita pun mungkin juga aneh. Ketika hidup kita diberkati oleh Tuhan dengan segala kebaikan Tuhan, justru kita bersungut-sungut/ mengeluh kepada Tuhan. Manusia seringkali masih juga tidak bersyukur kepada Tuhan setelah mendapatkan banyak hal dalam hidupnya.

Bangsa Israel bersungut-sungut tentang nasib buruk mereka. Tetapi bagaimanakah sebenarnya nasib mereka? Mereka tinggal di padang gurun (bukan tempat yang nyaman), mereka harus hidup tidak menetap dengan melihat pimpinan tiang awan dan tiang api. Sepertinya wajar jika mereka berkata bahwa nasib mereka tidak baik. Di sisi lain, bangsa Israel bisa dikatakan sebagai bangsa yang sangat diberkati karena tidak ada generasi lain yang mengalami pimpinan, kuasa dan mujizat Tuhan. Tuhan dengan kuasa-Nya menjawab doa mereka sehingga mereka bisa menaikkan puji-pujian kepada Tuhan. Adalah wajar jika dikatakan bahwa mereka adalah generasi yang paling beruntung. Jika demikian, burukkah nasib mereka? Hal ini tergantung bagaimana kita menafsirkannya.

Bangsa Israel menafsirkan hidup mereka dari sudut mata yang tidak bersyukur, hati yang jahat dan hanya melihat hal yang buruk dalam hidup mereka. Jika dilihat dari sudut mata iman, merasa cukup (puas dalam Tuhan), dan menghitung kebaikan Tuhan, seharus­nya kesulitan akan ditutup dengan berkat yang lebih besar dan mereka tidak akan mengatakan bahwa mereka tidak diberkati. Jikalau kita tidak belajar bersyukur dan puas dalam Tuhan maka hidup kita akan penuh dengan sungut-sungut.

Kalau kita salah menafsirkan hidup kita maka hidup kita sepertinya ada dalam neraka, tetapi kalau hidup kita penuh ucapan syukur, puas di dalam Tuhan, maka kita akan merasa bahwa hidup ini memang layak disyukuri.

Sebagai ilustrasi, orang cenderung melihat 1 titik hitam yang kecil dalam 1 bidang putih yang luas dan tidak menghiraukan bidang putih tersebut. Hal ini mewakili respons kita biasanya, misalnya: kita akan mengeluh pada saat kita sakit perut dan tidak bersyukur kalau otak kita masih berjalan dengan baik, mata dan hidung kita masih berfungsi dengan bagus. Kita cenderung melihat setitik noda di antara sekian banyak hal yang baik. Sudah­kah kita belajar bersyukur? Mari kita menafsir dengan mata iman yang benar, meng­hitung berkat Tuhan satu per satu, niscaya kita akan kagum bahwa hidup ini bukan hanya terdiri dari noda hitam kesulitan melainkan ada banyak kebaikan. Kalau kita hanya melihat hal yang buruk saja maka kita juga tidak akan bisa menghargai hal yang baik.

Ada seorang penafsir berkata bahwa secara hurufiah ayat di atas bisa diterjemahkan: “bangsa itu menjadi suka bersungut-sungut atas nasib buruk yang menimpa mereka.“ Kalau demikian halnya, maka konteks mereka untuk bersungut-sungut adalah mereka telah membentuk 1 pola hidup yang negatif, sungut-sungut adalah ciri hidup mereka. Akibatnya, Tuhan murka dan perkemahan mereka terbakar. Setelah Musa berdoa untuk mereka, Tuhan mengampuni mereka.

Sungut-sungut bukanlah hal yang ringan. Jangan biarkan benih sungut-sungut itu mulai muncul dan kemudian berkembang menjadi suatu pola hidup.

Bagian II menceritakan tentang pengaruh nafsu rakus yang semula meracuni 1 orang kemudian menjalar dan meracuni 1 bangsa. Berapa banyak harta/ milik kita yang kita jadikan berhala dalam hidup kita? Ketika 1 orang telah dikuasai oleh nafsu yang rusak maka dia akan mencemarkan seluruh komunitas; kalau hal ini kita biarkan maka pada saatnya nanti seluruh bangsa akan menangis.

Bangsa Israel menangis karena tidak dapat makan daging, padahal mereka mendapatkan manna. Tangisan tersebut adalah tangisan dosa. Kesalahan mereka adalah: 1) mereka telah dikuasai oleh nafsu rakus, mereka memikirkan masa lampau. Mereka mendapatkan manna (yang hanya ada pada saat itu), tetapi mereka menginginkan daging yang dari Mesir (yang sampai sekarangpun masih ada). Pada saat ini, manusia juga bosan dengan makanan rohani. Kita perlu melatih diri agar nafsu kedagingan kita dikontrol oleh Tuhan. Hal yang semula tidak kita sukai, asalkan terus melatih diri untuk menyukainya, lama kelamaan akan menjadi menyukainya. Kita perlu terus belajar menyukai, membaca, mentaati Firman Tuhan. Tuhan terkadang dengan keras mendidik dan membentuk kita, sampai kita mengalami transformasi. Daging kita kalau terus dibiarkan akan tambah liar, berbahaya, mendorong kita melakukan dosa. Tuhan membentuk dan membimbing kita sampai kita juga dapat menginginkan apa yang Tuhan inginkan, menyukai apa yang Tuhan sukai.

Ada berbagai kesenangan yang datang dengan iming-iming yang menyenangkan. Ketika Hawa tertarik kepada buah yang dilarang oleh Tuhan itu mengerikan. Seperti seorang anak yang tertarik kepada sebotol racun, itu sangat mengerikan orangtuanya. Orang seringkali tidak mengerti dosa yang mengerikan tetapi dianggapnya sebagai sesuatu yang menarik. Keduniawian kita haruslah ditaklukkan agar kita tidak dibinasakan olehnya.

2) Bangsa Israel berkata bahwa mereka mendapatkan ikan tanpa membayar kepada Mesir. Benarkah hal ini? Hal ini memang benar karena mereka adalah budak Mesir. Mereka tidak sadar bahwa dengan menjadi budak berarti mereka sebenarnya sudah membayar dengan hidup mereka. Kebebasan, harkat, bahkan nyawa mereka sudah mereka berikan kepada Mesir tanpa mereka sadari. Manusia yang sudah tertipu karena kerakusan mereka sendiri, akan rela dan senang hati memberikan nyawa mereka sekalipun. Hal ini merupakan suatu kebodohan. Janganlah kita melakukan hal yang sama. Marilah kita terus menjaga kebenaran dalam batin dan menyenangkan hati Tuhan. 

3) Bangsa Israel merasa diri kurus kering disebabkan terus berada di padang gurun. Mereka menganggap Mesir sebagai tempat yang menyejahterakan mereka. Anggapan ini sebenarnya adalah salah karena di Mesir mereka tidak pernah makan makanan yang berkualitas baik. Kemungkinan yang mendapatkan makanan yang baik adalah mandor-mandor yang menjadi antek Mesir, dan mereka inilah yang menghasut bangsa Israel untuk bersungut-sungut. Orang yang berada dalam keadaan susah akan cenderung mudah dihasut, menjadi mata gelap, dan akan mudah digerakkan. Orang yang menghasut cenderung membesar-besarkan sesuatu hal yang merupakan kebohongan; sama seperti iblis yang suka berbohong. Setelah dihasut, manusia akan menjadi berdosa, kerugian yang ditanggung terlalu besar dan tidak seimbang dengan yang diperoleh.

Maka Tuhan memberikan respons (Bilangan 11:10) yaitu: Tuhan murka. Terjemahan LAI bahwa Musa menganggap hal ini adalah jahat mestinya dipahami bahwa Musa men­jadi sangat tertekan. Akhirnya Tuhan memberikan 70 orang tua-tua untuk membantu Musa dan Tuhan berjanji akan memberikan daging kepada bangsa Israel selama sebulan penuh. Musa bertanya kepada Tuhan: bisa cukupkah sekian banyak kambing domba dan lembu sapi disembelih untuk bangsa Israel yang berjumlah 600 ribu orang dewasa laki-laki, atau dapatkah ditangkap segala ikan di laut bagi mereka? Tuhan menjawab: Aku akan melakukan hal yang luar biasa, yang mustahil di mata manusia, supaya mereka tahu bahwa Tuhan yang Maha Kuasa yang memelihara mereka. Tuhan tetap memberikan walaupun Dia tidak berkenan, karena mereka telah menolak Tuhan di tengah-tengah mereka.

Apa yang dilakukan oleh bangsa Israel ini adalah sama dengan orang Kristen yang berkata bahwa setelah menjadi Kristen justru hidupnya menjadi semakin susah. Hal ini adalah sama dengan menginjak salib dan menghina Injil. Tuhan telah dengan tangan teracung membela bangsa Israel, mengeluarkan mereka dari Mesir, Tuhan menyayangi mereka, seperti menggendong mereka, melindungi mereka. Tetapi mereka sekarang menghina Tuhan dengan berkata bahwa setelah keluar dari Mesir justru hidup mereka menjadi susah.

Kalau kita meminta sesuatu kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak memberikannya, dan kita tetap memaksa meminta, maka iblis yang akan memberikannya kepada kita. Janganlah pernah kita memaksa Tuhan. Pernahkah kita bersyukur ketika doa kita tidak dikabulkan oleh Tuhan? Kalau kita taat kepada Tuhan, kita akan menjadi peka atas pimpinan Tuhan yang selalu memberikan yang terbaik kepada kita. Ada banyak hal yang begitu kita inginkan, yang kita rasa begitu penting, sampai kita begitu memaksa Tuhan untuk memberikannya kepada kita. Mungkin Tuhan akan memberikannya kepada kita sebagai hukuman bagi kita, bukan sebagai berkat, atau juga mungkin setan yang memberikannya.

Datangnya banyak burung puyuh mungkin dapat dijelaskan secara ilmu pengetahuan, tetapi 1 hal yang pasti adalah karena campur tangan Tuhan. Setelah permintaan mereka terpenuhi, nafsu rakus mereka semakin bertambah sehingga tulah Tuhan jatuh atas mereka, banyak dari antara mereka yang mati. Dari hal ini kita dapat belajar bahwa berkat Tuhan adalah yang terbaik bagi kita. Biarlah kita tidak bertindak bodoh dengan menyingkirkan/ melawan Tuhan demi hal yang bodoh. Biarlah hidup kita senantiasa menginginkan berkat Tuhan, diperkenan Tuhan. Ketika Tuhan marah, segala sesuatu yang kita minta mungkin akan diberikan, tetapi akhirnya kita menjadi binasa. 

Marilah kita belajar menyukai semua hal yang Tuhan berikan kepada kita karena itulah yang terbaik bagi kita. Janganlah kita menginginkan apa yang bukan hak kita, yang merupakan tipuan setan, Jangan tanamkan benih sungut/ benih dosa, tidak beriman, tidak bersyukur, lalu kita membenamkan diri dalam dosa, maka kita akan mengalami celaka/ kerugian yang besar.

 

Renungkanlah:

  1. Situasi dan kondisi apakah yang mungkin dapat membuat Anda menggerutu atau bersungut-sungut pada Tuhan? Sharingkan satu peristiwa yang pernah Anda alami baru-baru ini, evaluasilah peristiwa yang Anda pernah hadapi tersebut dan komitmen apa yang Anda mau lakukan dengan segera atas hal tersebut.

  2. Apa yang Anda dapat lakukan bagi rekan seiman yang Anda kenal dan sedang mengalami kesulitan/pergumulan hidup, supaya mereka tidak jatuh dalam dosa dan nama Tuhan boleh dimuliakan melalui kesaksian hidup Anda. Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut.

 (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)