Ringkasan Khotbah : 02 Mei 2010

Pengakuan Iman dan Kehidupan Iman

Nats: Amsal 3:5-6, Ulangan 6:1-9

Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan

 

 

Dalam Ulangan 6:1-9 diceritakan bagaimana Musa menetapkan kembali apa yang harus dikerjakan oleh bangsa Israel sebelum mereka masuk ke Tanah Kanaan. Mereka tidak boleh melupakan bahwa Allah itu esa dan mereka harus belajar untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, dan dengan segenap kekuatan. Hal ini disampaikan oleh Musa dengan tujuan menghindarkan bangsa Israel dari dosa melupakan Tuhan dan mencobai Tuhan (Ulangan 6:12,16). Pernyataan ini harus terus menerus diturunkan sebagai sebuah warisan kepada anak-anak mereka, bahkan tidak pernah boleh dilupakan. Dapat pula dikatakan bahwa isi dari pernyataan itu merupakan sebuah pengakuan iman yang harus terus menerus mereka tetapkan dalam pikiran, dan pengakuan iman yang akan meluputkan mereka dari dosa-dosa yang tidak perlu.

Pengakuan bahwa Allah itu esa, banyak menjadi warna dari berbagai pengakuan gereja sepanjang abad dan tempat, dimulai dari Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea, Pengakuan Iman Konstantinopel, dll. Semua pengakuan iman itu dimulai dengan penegasan bahwa Allah itu ada dan Allah itu esa. Hal ini bertujuan agar orang Kristen dapat mengerti dengan jelas akan imannya, di titik pertama harus diketahui bahwa Allah itu ada dan tidak ada Allah yang lain, dan sebagai tuntutannya adalah kasihilah Allah supaya orang Kristen diluputkan dari banyak hal yang tidak perlu. Pengakuan iman sangatlah penting karena akan memelihara gerejaNya, memelihara setiap orang yang mengaku percaya kepada Allah.  

Pembahasan pada hari ini mencoba untuk mengaplikasikan pengakuan iman ini dan menunjukkan bahwa pengakuan iman bukan hanya sebuah pernyataan ataupun sebuah kalimat, melainkan berkaitan dengan kondisi hidup seseorang. Sebagai contoh, seseorang menyatakan bahwa “Allah itu besar“ ketika menyadari bahwa dirinya begitu kecil sekali; seseorang menyatakan bahwa “Allah menjadi Tuhan dalam kehidupanku“ ketika dia memiliki kebutuhan yang sangat mendesak sekali sehingga dia mengakui kekuasaan Allah. Pernyataan “Allah itu penolong“ dikeluarkan ketika seseorang tengah mengalami kegagalan. Semuanya itu tidaklah salah! Khotbah kali ini bukan untuk melihat antara yang benar dan yang salah melainkan mencoba untuk melihat antara benar dan yang benar, maksudnya adalah mencoba membuka helai demi helai di balik perjalanan iman dan pengakuan iman kita.

Pengakuan iman muncul pada waktu terjadi kesesakan, ada kebutuhan akan kehadiran Allah, dan hal ini tidaklah salah. Seringkali juga didengungkan bahwa iman itu muncul dari kesulitan, iman akan menjadi kokoh karena terpaan dari kesulitan. Ilustrasi yang sering dipakai adalah: pohon di tepi pantai akan memiliki akar yang sangat dalam, mengikat dengan sangat kuat di dalam tanah, sehingga ketika badai menerpa, dia akan tetap berdiri; tetapi harus diingat bahwa pohon itu bertumbuh dari pohon yang kecil; dan ketika masih kecil pohon itu menerima angin yang sepoi-sepoi; angin melatih pohon itu sampai memiliki akar yang tahan terhadap terpaan angin yang semakin lama semakin besar. Tuhan melatih kita melewati lorong kegelapan dan di situ kita berjumpa dengan Dia.

Pengakuan iman itu akan menjadi suatu kekuatan besar yang akan menopang kita sehingga akan menghindarkan kita dari dosa-dosa yang tidak perlu, dari rasa marah kepada Allah, meluputkan kita dari ego iman kita, bahkan akan menolong kita untuk tahu berterima kasih kepada Allah. Kita memiliki pengakuan iman yang sudah dipelihara oleh Tuhan ribuan tahun lamanya, kita menghidupinya dan kita bersukacita didalamnya. Apakah sukacita itu muncul begitu saja ataukah ada kemungkinan lain ketika kita melewati perjalanan iman kita? Pengakuan iman memiliki bahaya-bahaya yang tidak boleh kita sepelekan. Ada 2 bahaya besar yaitu:

1)     Keraguan

Pengakuan iman tidaklah meluputkan orang Kristen dari keraguan. Pada saat orang Kristen menemukan suatu kondisi hidup yang tidak mengenakkan, langit begitu kelam, dan awan kelabu menyelubungi seluruh hidup, orang percaya tidak akan kehilangan imannya. Pada saat kondisi seperti diatas, mereka masih bisa berseru kepada Tuhan untuk minta tolong, walau dengan berbagai motivasi di belakangnya. Hal ini berarti: mereka masih memiliki pengharapan akan adanya Tuhan. Jadi mereka tidaklah kehilangan iman! Theology Reformed juga mengajarkan adanya doktrin tentang pemeliharaan atas orang-orang kudus, artinya mereka yang percaya kepada Allah akan berada dalam pemeliharaanNya yang sempurna dan pasti tidak akan kehilangan iman.

- Dalam kondisi kesulitan, orang Kristen justru cenderung masuk kedalam kondisi tidak tahu bagaimana harus meletakkan imannya, tidak tahu bagaimana harus mengerjakan imannya. Mereka akan masuk kedalam situasi bertanya apakah imannya akan dapat berhasil.

Dalam Alkitab ada bagian yang menceritakan tentang seorang bapak yang anaknya sakit keras. Dia datang kepada Yesus untuk minta kesembuhan bagi anaknya. Datanglah utusan dari rumahnya yang mengabarkan bahwa anaknya sudah mati. Yesus berkata: Jangan takut, percaya saja, anakmu tidak mati, melainkan tidur. Percayakah engkau akan hal ini? Bapak itu menjawab: Tuhan, aku percaya, tetapi tolonglah aku yang tidak percaya. Sebenarnya, orang ini percaya ataukah tidak? Saya yakin, orang itu percaya kepada Tuhan Yesus. Kalimat itu menggambarkan kondisi dan kebutuhan yang dia punyai saat itu, artinya: aku percaya tetapi tidak tahu bagaimana harus percaya, bagaimana harus berjalan dengan percayaku, dengan kata lain: aku ragu apakah percayaku ini akan berjalan ataukah tidak. Seruan ini seharusnya menjadi gambaran dari seruan kita dalam doa kita kepada Tuhan. Tuhan akan menjawab doa seperti diatas karena Dia adalah sumber iman, Dia akan memimpin iman dan membawa iman kepada kesempurnaan.

- Setiap orang Kristen pasti memiliki pengalaman iman bersama dengan Tuhan. Problemanya adalah: kita menganggap pengalaman itu berlaku untuk semua pengalaman. Kita suka bersikap seperti anak kecil yang bergantung kepada ayahnya, yang yakin kalau ayahnya akan datang dan melindungi dia, karena itu dia merasa tidak perlu bertanggung jawab dalam banyak aspek. Ketika kita masih belajar melihat kehadiran Tuhan, Tuhan sepertinya memberikan segala kemudahan, yang akhirnya membuat kita berpikir bahwa semua tanggung jawab ada di tangan Allah dan kita tidak perlu berpikir banyak. Kita telah berpikir salah dalam hal ini sebab seiring dengan jalannya waktu kita menjumpai realita iman yang berbeda dengan waktu yang lalu. Setiap bagian dari realita iman akan memiliki cerita sendiri-sendiri. Tidak ada suatu rumusan yang dihasilkan dari suatu pengalaman iman yang dapat berlaku untuk semua pengalaman yang lain.

- “Aku percaya“ bukanlah kalimat mantera, melainkan memiliki kandungan tanggung jawab yang sangat dalam. Orang Kristen yang dewasa harus memikirkan pemahaman dan pertanggung jawaban, harus memikirkan semua aplikasi dari kemungkinan yang Tuhan izinkan terjadi.

Kita menjadi ragu-ragu karena kita tahu bahwa Allah bertindak bukan untuk semua bagian melainkan setiap bagian berbeda dengan bagian yang lain.

2)     Asumsi-asumsi dibelakang pengakuan iman.

Asumsi-asumsi itu dibangun diatas dasar kebenaran Firman, bukan berdasarkan pengertian filosofi kafir. Tanpa kita sadari, asumsi-asumsi itu akan menghancurkan. Misalnya: orang menganggap dirinya adalah anak Allah; pengakuan iman ini tidaklah salah; asumsi yang muncul adalah: kalau aku adalah anakNya maka aku berhak mendapatkan perlakuan sebagaimana seorang anak. Orang seperti ini adalah seperti anak kindergarten, karena dia berpikir bahwa Allah tidak mungkin mengecewakan dan membiarkan anak-anakNya mendapatkan penderitaan; dan memang semua anak yang masih kecil akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari orang tuanya.

Orang Kristen yang bertumbuh haruslah berbicara tentang sesuatu yang lebih, tidak berpikir dengan suatu asumsi yang berhenti di tempat, yang mengharapkan 1 untuk semua.

Terkadang kita juga berpikir dengan memakai improvisasi dari kebenaran Firman, misalnya: kita menganggap diri sebagai anak Raja, yang mana tidak pernah ada istilah ini dalam Alkitab. Akibatnya: kita berkutat dalam kebanggaan diri sendiri, merasa Allah sepatutnya membuat semuanya itu dan kita patut menerima semuanya itu. Asumsi seperti itu akan merontokkan iman, akan memanjakan iman, dan akan mematikan iman itu sendiri. Jadi pengakuan iman bukanlah jaminan.

Salah mengerti akan pemeliharaan Tuhan akan membawa kita kepada keluhan-keluhan kosong, dan menyalahkan Tuhan. Kita menganggap semua berkat yang telah kita terima haruslah terus terjadi.

Dengan mengetahui adanya 2 bahaya diatas, bagaimanakah kita seharusnya hidup? Ada 2 aspek yang berkenaan dengan hal ini yaitu:

1)     Perkataan “aku percaya“ memiliki implikasi ketundukan yang dalam.

Perkataan itu muncul seringkali dalam konteks hidup menderita/kesesakan/ketidak mengertian. Perkataan itu seharusnya membalik keadaan, membongkar semuanya. Amsal 3:5 mengatakan: Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Seruan ini mengajak kita untuk membongkar semua yang ada dalam diri. Membongkar dalam arti: pengakuan iman itu tidak hanya diucapkan pada saat kesesakan tetapi juga dalam perkara yang kecil/sederhana sekalipun. Kita harus berlatih untuk berkata “aku percaya“ tanpa menunggu saat awan kelabu sehingga saat awan kelabu itu datang kita tetap dapat berkata: Tuhan, aku tetap percaya kepadaMu.

Kita perlu melatih diri untuk membongkar diri dalam arti mengakui keterbatasan diri dengan jujur, kita tidaklah mempunyai kekuatan untuk memegang semuanya. Rasa percaya yang rapuh adalah jauh lebih kuat daripada rasa percaya diri yang angkuh!

Petrus ketika di kali ke-3 ditanya oleh Tuhan Yesus mengenai apakah dia mengasihi Tuhan, dia mengalami pembongkaran diri dan menyadari akan ketidak mampuannya mengasihi Tuhan, dia mengakui kegagalannya dan setelah itu menemukan kekuatan besar dari Tuhan.

2)     Menata ulang pikiran terhadap Allah.

Hal ini perlu dilakukan karena kita telah membangun asumsi-asumsi tertentu terhadap Dia dan pekerjaanNya. Kita perlu melihat ulang bagaimana cara Tuhan memelihara dan melindungi kita agar kita tidak terjebak dalam upaya untuk menutupi kegelisahan hati. Perlu dipertanyakan: pada saat kita mencari Tuhan, betulkah kita sedang mencari Tuhan ataukah untuk kepentingan diri?

Kita cenderung lebih disibukkan untuk meneduhkan hati yang gelisah daripada melihat dan menerima kehadiran Dia sebagai yang cukup. Kita cenderung sibuk memikirkan “dompet Tuhan“ daripada Tuhan itu sendiri.

C.S. Lewis dalam bukunya dengan memakai bahasa perang, dia menggambarkan Allah berkata: kalau kamu mau meletakkan senjatamu, barulah kita bicara. Mari kita berlatih meletakkan senjata kita, kalau tidak maka pada momen-momen tertentu kita akan berontak. Pemberontakan itu dipicu oleh pengakuan iman yang kita miliki. Mari kita berlatih untuk mengakui keTuhanan Kristus, mulai dari hal-hal yang sederhana. Mengakui Tuhan menuntut penundukan diri, penyangkalan diri dan tinggal tenang. Jangan sebut Nama itu kalau tidak punya jiwa mau tunduk.

Kita perlu pertolongan Tuhan dalam menjalani pengalaman iman, untuk dapat menikmati kehadiranNya, dan dapat men-Tuhankan Dia dalam segala aspek hidup kita.

 

Renungkanlah:

  1. Apakah dampak pengakuan iman percaya Anda dalam kehidupan pribadi Anda sehari-hari yang sudah pernah Anda alami? Sharingkan satu pengalaman yang Anda pernah alami baru-baru ini.

  2. Apakah pengakuan iman percaya Anda juga sudah menjadi kesaksian yang hidup bagi orang disekitar Anda dan memuliakan Kristus, khususnya bagi yang belum percaya? Komitmen apa yang Anda mau lakukan di bulan ini supaya hal ini boleh lebih nyata terjadi dalam hidup Anda. Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)