|
Ringkasan Khotbah : 28 Februari 2010
Nats: Matius 24:9-10 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Nats Alkitab kita pada hari ini bukanlah ayat yang menyenangkan tetapi merupakan ayat yang menguatkan dari Theologi Reformed. Sejak zaman Yohanes Calvin, setiap gereja dituntut untuk mengeksposisi ayat Alkitab secara urut dan teliti, dengan tujuan agar kita dapat setia kepada Firman Tuhan. Adalah sangat berbahaya ketika mimbar dipakai untuk membicarakan sesuatu yang bersifat topikal. Khotbah yang bersifat topikal cenderung memilih ayat-ayat yang disukai oleh pengkhotbah dan pendengarnya, sedangkan ayat yang sulit dan kurang dikuasai oleh pengkhotbah cenderung tidak pernah dikhotbahkan. Nats Alkitab hari ini cenderung tidak disukai sehingga jarang/tidak pernah dikhotbahkan.
Mengapa Tuhan Yesus menyatakan kalimat dalam ayat diatas? Seluruh pembicaraan pada waktu itu tidak terlepas dari Matius 23 bagian akhir dimana Tuhan Yesus menyatakan bahwa Yerusalem akan dihabisi, kemudian para murid Tuhan mengajak Tuhan melihat bangunan Bait Allah yang begitu indah, mereka bertanya: Tuhan, akankah bangunan ini juga hancur? Tuhan Yesus menjawab: Ya, bahkan tidak akan ada batu di atas batu lainnya. Para murid sangat terkejut akan hal ini dan membawa mereka bertanya: Tuhan, kapankah hal itu akan terjadi, kapankah kesudahannya, kapankah kiamat itu? Tuhan Yesus menjawab: Kalaupun semuanya itu terjadi, itu belumlah akhir, itu barulah penderitaan menjelang zaman baru. Ketika Injil Kerajaan sudah diberitakan, barulah tiba kesudahannya.
Dalam kebudayaan manusia berdosa, termasuk orang Yahudi, muncul 1 konsep yang tidak beres/salah yaitu: kalau saya ikut Tuhan maka saya tidak akan celaka, saya tidak mungkin mengalami siksaan dan aniaya apalagi sampai dibunuh. Konsep ini sangat mencengkeram orang Yahudi. Bagi mereka adalah tidak mungkin orang Yahudi yang memiliki iman yang sangat kuat dengan Yerusalem sebagai pusatnya, bahkan Bait Allah dimana Tuhan hadir di dalamnya, bisa hancur. Pada saat Tuhan Yesus berkata: Aku akan pergi ke Yerusalem, menanggung penderitaan, disiksa oleh imam-imam kepala dan para ahli Taurat, lalu dibunuh, mati dan bangkit pada hari ketiga. Petrus kaget dan langsung memberikan reaksi perlawanan dengan menarik Tuhan Yesus dan berkata: Tuhan, hal seperti ini tidak akan terjadi padaMu, Allah pasti akan menjauhkan hal itu daripadaMu. Perkataan Sang Kebenaran dilawan oleh Petrus yang merasa diri lebih benar dan lebih tahu dari Allah. Tuhan Yesus mengkoreksi konsep ini. Tuhan berkata: kamu akan diserahkan untuk disiksa, kamu akan dibunuh, akan dibenci karena namaKu. Pada saat itu akan banyak orang yang murtad lalu mengkhianati orang dekatnya demi untuk menyelamatkan diri mereka.
Problema diatas tidak hanya terjadi pada saat itu, bahkan sampai 21 abad kemudian yaitu pada zaman sekarang ini. Murid-murid Tuhan Yesus sendiri tidak banyak yang bertobat, bahkan sampai Tuhan Yesus bangkit pun mereka masih bertanya: Tuhan, kapankah kerajaan itu jadi? Di abad ke-21 inipun banyak gereja yang masih mengajarkan bahwa kalau ikut Tuhan pasti tidak akan celaka, tidak akan sengsara, tidak akan mengalami penyakit. Nats Alkitab hari ini memberikan kepada kita 2 gambaran yaitu: gambaran langsung bagi orang-orang yang berada dekat dengan Tuhan Yesus pada waktu itu, yaitu: para murid Tuhan dan para rasul; dan tidak hanya berhenti sampai disitu karena Firman Tuhan ini juga dibawa sampai ke zaman kita ini dan akan berjalan terus sampai pada kesudahannya nanti. Jadi “kamu“ dalam ayat diatas juga berarti setiap orang yang berjalan sepanjang sejarah, yang berjalan dan bergumul bersama dengan Tuhan, yang dekat dan berkait dengan Tuhan, termasuk kita di sini yang mengaku berkait dengan Tuhan Yesus. “Kamu“ yang berkaitan langsung dengan Tuhan Yesus pada waktu itu, yaitu para rasul, sudah mengalami siksaan, aniaya, dan dibunuh. Alkitab dan Tuhan Yesus tidaklah pernah bohong, walaupun manusia berusaha mati-matian untuk menutupinya.
Disini terlihat adanya jurang pemisah yang sangat besar antara apa yang diidamkan oleh manusia, khususnya orang Kristen, dengan realita yang sesungguhnya. Ketika Tuhan Yesus membukakan tentang kebenaran, Dia membukakan realita yang sesungguhnya. Paulus dalam 2Timotius 3:12 menyatakan: Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya. Kunci kehidupan seperti ini haruslah dibuka secara jujur karena ketika manusia menipu dirinya dengan impian kosong, manusia tidak siap ketika harus mengalami realita yang sesungguhnya, dan akhirnya menjadi marah kepada Tuhan. Tuhan berkata bahwa orang Kristen yang sungguh akan menjadi korban dari dunia yang memang membenci orang Kristen. Kalau kita menyadari ayat ini, maka kita akan dapat bersiap diri untuk menghadapinya.
Mengapa orang yang hidup setia kepada Tuhan harus mengalami siksaan, aniaya dan penderitaan?
1) Realita dasar/sejati.
Alkitab membukakan kepada kita kesadaran akan realita yang sejati, realita dasar tentang apa yang sebetulnya terjadi di tengah dunia ini, yang selama ini ditutupi oleh iblis. Allah memelihara dan menjaga anak-anak Tuhan yang hidup benar, suci, adil; sedangkan yang hidup tidak benar akan dihukum. Sedangkan iblis memelihara dan menjaga manusia yang hidupnya berdosa, sedangkan yang hidup benar, suci, setia, haruslah dihancurkan. Jadi anak-anak Tuhan yang hidup benar akan diserang. Ini membuktikan bahwa dunia ini adalah dunia yang rusak, yang jahat. Di manakah posisi kita, di bagian orang benar yang dimusuhi oleh orang jahat, ataukah di bagian orang jahat yang memusuhi orang benar?
Pembahasan hari ini berkaitan dengan pertumbuhan perkembangan dan kematangan dosa. Ketika dosa sudah menjadi matang, dosa akan membuahkan kejahatan yang paling menakutkan, dosa itu tidak menyukai semua kebajikan, semua kebenaran, semua kerohanian yang sejati. Iman yang sungguh-sungguh berpaut kepada Tuhan akan dibenci habis. Orang yang hidup benar akan mendapat tekanan yang besar dari dunia ini dan hidupnya akan semakin susah. Penyiksaan-penyiksaan di abad ke-21 ini berbeda bentuk dengan penyiksaan di abad ke-1, dan lebih mengerikan karena meskipun secara fisik tidak kelihatan tetapi justru terkena seluruhnya yaitu dari fisik dan psikis sampai diri kita habis dan mati. Kalau Tuhan sudah menjaga dan memelihara para rasul pada abad ke-1 maka walaupun dunia menjepit, kalau kita setia kepada Tuhan maka Tuhan juga akan selalu menjaga dan memelihara kita.
Ketika kita realistis, kita akan menjadi kuat dalam menghadapi keadaan, kita menjadi siap dalam menghadapi kondisi. Sebagai ilustrasi, di salah satu daerah Tangerang, rumah-rumah yang berukuran kecil dibuat bertingkat untuk bersiap menghadapi banjir yang selalu dialami setiap tahunnya. Kalau kita sudah bersiap terhadap sebuah bahaya maka tidak akan terjadi korban. Celakalah kita kalau ditipu tentang realita, misalnya: dikatakan orang bahwa daerah ini tidak akan banjir, ketika tiba-tiba terjadi banjir maka habislah kita. Tuhan membukakan realita tentang penderitaan ini bukanlah karena Tuhan ingin kita menderita melainkan karena Tuhan ingin membukakan fakta tentang jahatnya dunia yang berdosa ini, jahatnya manusia yang berdosa ini. Seberapa jauh kita siap menghadapi realita ini, akan membuat kita dapat siap dan bertahan.
2) Tujuan akhirnya adalah melawan Tuhan.
Penderitaan, kebencian antar masyarakat bukanlah hanya sekedar urusan sosial. Ada isu yang lebih besar daripada sekedar kebencian maupun moralitas, dan Alkitab membukakan 1 hal yaitu karena hal itu berkaitan dengan nama Tuhan. Selama kita terkait dengan nama Tuhan, membawa sifat Tuhan, menyatakan kebenaran Tuhan, maka terjadilah kebencian dan penderitaan itu. Sebenarnya, bukan orang Kristen yang menjadi tujuan penghantaman melainkan Tuhanlah yang menjadi tujuannya, agar Tuhan tidak bisa dikembangkan lagi. Permusuhan latent antara iblis dengan Tuhan Yesus, sejak Kejadian 3, tidaklah pernah selesai, sehingga di seluruh perjalanan sejarah dari sejak awal iblis mati-matian berjuang untuk menghentikan Tuhan Yesus. Ketika bangsa Israel berada di Mesir, bangsa ini berusaha dipunahkan, karena kalau sampai bangsa ini punah maka Tuhan Yesus tidak akan pernah hadir di dalam dunia. Usaha iblis ini gagal, tetapi kembali pada zaman Ester, bangsa Israel berusaha dipunahkan. Ketika bangsa Israel dibuang ke Babel, kembali bangsa ini berusaha dipunahkan. Akhirnya Tuhan Yesus tetap datang ke dunia ini. Iblis tetap mati-matian berjuang untuk membunuh Tuhan Yesus. Usaha ini “sukses“ karena Tuhan Yesus berhasil dibunuh. Iblis sangat senang, tetapi pada hari ketiga Tuhan Yesus bangkit. Hal ini di luar rencana dan pengetahuan iblis. Ketika Tuhan Yesus bangkit, habislah kekuatan setan. Kekuatan kebinasaan/ kematian dihabisi oleh kekuatan kebangkitan Kristus. Iblis belum berhenti, terus berusaha mati-matian untuk menghentikan dampaknya. Sepanjang sejarah perkembangan kekristenan, kita melihat kekristenan yang baru bercikal bakal, yang masih kecil ini, berusaha dipunahkan secepat-cepatnya. 7 dari 10 kaisar Romawi pada waktu itu adalah merupakan kaisar yang sangat jahat dan kejam terhadap orang Kristen. Begitu banyak orang Kristen pada masa itu yang harus mengalami aniaya, siksaan, dibenci, difitnah. Akhirnya banyak orang Kristen yang menjadi murtad, mereka menyerahkan saudaranya, orang Kristen yang lain kepada musuh. Walaupun banyak orang Kristen yang dikorbankan, kekristenan tidaklah punah. Yang terjadi adalah: makin berusaha dipunahkan justru jumlahnya semakin banyak. Mengapa bisa demikian? Karena Tuhan Yesus tidak pernah bohong dan membukakan realita akan penderitaan itu bagi setiap anak Tuhan yang sungguh, maka anak-anak Tuhan siap menghadapi semuanya itu, mereka tahu bahwa itulah harga yang harus dibayar. Pada saat seperti itu, makin banyak orang yang ditarik untuk melihat ketidak-benaran dan ketidak-adilan sehingga mereka mau mengikut Tuhan.
21 abad kemudian, kekristenan semakin berkembang dan Tuhan memakainya dengan luar biasa. Iblis tidak berhenti, iblis terus berusaha mengepung anak-anak Tuhan yang hidup benar, yang setia kepada Firman, yang takut akan Tuhan, mereka terus dijepit dan berusaha dihancurkan. Di sepanjang sejarah zaman, apa yang dikatakan dalam ayat 9 dan 10 diatas tetaplah terjadi. Sejauh kita tidak berkait dengan nama Kristus, sejauh kita menjadi anak setan, kita akan aman. Seberapa jauh kita sebagai orang Kristen sadar bahwa iblis bukanlah hal yang bohong dan merupakan barang mainan semata? Janganlah kita pernah berpikir bahwa iblis itu baik. Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk mengambil pilihan dengan resiko yang harus manusia tanggung, sedangkan iblis merasuki manusia sehingga manusia tidak bisa bergerak menurut kemauan sendiri. Roh Kudus memimpin manusia, sedangkan roh setan merasuki manusia. Manusia yang dirasuk akan kehilangan kebebasan, sedangkan orang yang dipimpin tetap memiliki kebebasan. Betapa jahatnya setan!
3) Kita perlu waspada.
Kita perlu setajam-tajamnya menyadari bahwa hal ini bukan sekedar berhubungan dengan dunia luar, tapi kita harus dalam kondisi yang sangat siap bahkan dalam kondisi yang sangat buruk sekalipun, yaitu ketika kita dikhianati oleh orang terdekat kita.
Ketika kita dikalahkan oleh musuh di luar, kita tidak akan terlalu merasa jatuh, kita merasa sedikit goyah, tetapi kita masih memiliki semangat untuk bangun. Yang paling mematikan kita adalah ketika kita ditikam dari belakang oleh musuh dalam selimut. Hal ini bisa membuat kita menjadi putus harapan. Kita haruslah berhati-hati karena Kristus sendiri juga harus menghadapi seorang pengkhianat yaitu salah satu dari muridNya sendiri/ kalangan terdekatNya. Yang menyerahkan Tuhan Yesus adalah muridNya dengan memakai ciuman.
Kita perlu dalam kondisi sangat siap karena kehancuran seringkali karena faktor dari dalam sendiri. Prinsip penting yang harus dijalankan adalah: berpikirlah hal yang paling jelek, tetapi kerjakan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Seringkali kita terlalu percaya kepada orang yang dekat dengan kita sehingga kita menjadi tidak waspada. Tetapi kalau terlalu berlebihan maka kita akan menjadi orang yang paranoid. Jadi di tengah-tengah kehidupan ini kita harus menjadi orang yang selalu bersiap menghadapi keadaan yang terburuk.
Tuhan Yesus sudah berulang kali memperingatkan Yudas Iskariot mulai dari cara yang paling halus sampai yang paling kasar, tetapi Yudas tetap melakukan. Ketika Yudas mengkhianati Tuhan, Tuhan siap, sehingga tidak membuat seluruh jajaran menjadi hancur dan tetap berjalan terus. Janganlah hidup kita menjadi hancur karena adanya pengkhianat. Itu semua wajar untuk terjadi karena dosa sudah mencengkeram, tetapi hidup dalam kebenaran tidaklah boleh dikalahkan oleh hal seperti itu. Kalau kita bisa balik kepada kebenaran Firman Tuhan maka hidup kita akan lebih siap, lebih realistis. Seberapa jauh kita sebagai anak Tuhan menyiapkan hidup yang beres sehingga jangan sampai kita sendiri yang menjadi pengkhianat, yang menjadi orang jahat?
Kita juga tidak boleh berhenti dengan egois kita sendiri. Kita juga harus memikirkan orang lain di luar yang banyak menjadi korban. Kalau kita dipakai Tuhan untuk menjangkau orang-orang di dekat kita saja, maka kita sudah sangat menolong keadaan yang ada dan mengurangi resiko yang ada. Semakin banyak orang di dekat kita merupakan anak Tuhan yang sungguh maka kemungkinan akan pengkhianatan akan tereleminir. Semakin lingkaran itu diperbesar/diperluas, akan semakin banyak orang yang terhindar menjadi korban/ terhindar dari kehidupan yang jahat. Kiranya ini menjadi tekad kita khususnya di abad ke-21 ini. Amin.
Renungkanlah:
Sebagai orang percaya sudahkah Anda menetapkan dimana posisi iman Anda dengan jelas di tengah-tengah dunia ini? Dengan posisi tersebut bagaimana Anda boleh tetap teguh menghadapi tantangan-tantangan dunia dan tetap melakukan hal-hal yang benar? Sharingkan satu peristiwa yang Anda pernah alami baru-baru ini.
Bagaimana Anda dapat tetap mengasihi dan mengampuni sesama Anda yang telah membenci dan mengkhianati Anda? Sharingkan pengalaman yang Anda pernah alami tersebut.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)