Ringkasan Khotbah : 21 Februari 2010

The Dynamics of Sanctification

Nats: 1Tesalonika 4:1-8

Pengkhotbah : Ev. Warsoma Kanta 

 

Kekudusan merupakan suatu hal yang normatif, yang tidak bisa dilepaskan dari umat Tuhan. Salah satu atribut Tuhan yang paling dekat dan tidak bisa dilepaskan adalah atribut kekudusan. Dari 1Tesalonika 1-3 kita dapat melihat bahwa jemaat di Tesalonika adalah jemaat yang luar biasa. Dalam 1Tesalonika 1:8 tertulis bahwa jemaat di Tesalonika ini adalah jemaat yang terkenal di seluruh wilayah Makedonia dan Akhaya. Makedonia dan Akhaya bukanlah wilayah yang sempit dan di dalamnya terdapat juga jemaat-jemaat lain yang lebih besar dari jemaat di Tesalonika ini. Yang mengagumkan adalah bahwa jemaat di Tesalonika ini menjadi teladan bagi setiap orang yang percaya.  

Paulus bukan hanya bangga dengan jemaat di Tesalonika ini, dia juga mengucap syukur dengan tiada henti karena pelayanan yang dia kerjakan bersama timnya tidaklah sia-sia, pelayanan mereka menghasilkan buah yang tidak terlupakan oleh Paulus dan timnya. Menjadi suatu pertanyaan, jikalau jemaat di Tesalonika ini sedemikian baik mengapa Paulus memberikan nasihat kepada mereka untuk hidup kudus. Apakah karena Paulus melihat adanya dualisme di dalam jemaat Tesalonika, di luar menjadi teladan tetapi di dalamnya sendiri adalah jemaat yang bobrok? Kalau memang kualitas jemaat di Tesalonika demikian, apakah terlalu berlebihan ketika Paulus memuji-muji jemaat tersebut?

1Tesalonika 4 adalah pasal yang membedakan antara 1Tesalonika 1-3 dan 1Tesalonika 4-5. 1Tesalonika 1-3 merupakan laporan dari Timotius yang membuat Paulus dan teman-temannya beroleh sukacita dan memuji jemaat Tesalonika, sedangkan 1Tesalonika 4-5 merupakan suatu perintah sekaligus prognosis terhadap kehidupan iman orang-orang di Tesalonika.

Tema khotbah pada hari ini adalah tentang dinamika sebuah pengudusan. Paulus memang sudah memuji jemaat Tesalonika sedemikian baik, bahkan disebutnya jemaat Tesalonika sebagai penurut Tuhan dan penurut mereka (1Tesalonika 1:6), tetapi dia melihat adanya suatu kemungkinan yang sangat berbahaya yaitu: masalah kekudusan. Mengapa hal ini merupakan suatu kebahayaan?

Latar belakang kehidupan jemaat Tesalonika adalah mereka hidup di tengah-tengah bangsa kafir (bangsa Yunani), bahkan di kalangan jemaat ada yang bersuamikan bukan orang percaya. Paulus juga mendengar dari laporan Timotius bahwa ada praktik-praktik yang dilakukan orang Yunani yang dapat meracuni jemaat Tesalonika. Paulus sebelumnya pernah mengajarkan tentang hidup kudus dan hidup berkenan kepada Allah, dan hal tersebut sudah dituruti oleh jemaat Tesalonika, tetapi Paulus meminta mereka untuk melakukannya dengan lebih bersungguh-sungguh lagi (1Tesalonika 4:1,10). Jadi ayat 1 dan 10 ini merupakan ayat paralel; jika ayat 1-8 menyatakan tentang hidup kudus, maka ayat 9-12 menyatakan tentang hubungan antar jemaat di wilayah Makedonia dan Akhaya.

Surat 1Tesalonika ini bukanlah surat yang sarat dengan doktrin, berbeda dengan surat Roma, surat Korintus. Dalam surat 1Tesalonika ini Paulus hanya mengungkapkan doktrin (yang menonjol) yaitu tentang kedatangan Tuhan yang kedua kalinya dan jemaat diminta untuk berjaga-jaga. Dalam nats Alkitab kita pada hari ini, Paulus menjelaskan tentang suatu hal yang lain yaitu tentang kekudusan. Mengapa hal ini sedemikian penting? Karena:

1)        Pengudusan adalah suatu panggilan hidup Kristiani.

Karena merupakan suatu panggilan maka mau tidak mau haruslah dipelajari, haruslah dimengerti. Kekudusan menjadi suatu cap dari setiap orang percaya. Dalam Imamat 20:26 dikatakan: Kuduslah kamu bagiKu, sebab Aku ini, Tuhan, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milikKu. Jadi kekudusan bukan sekedar kualitas ataupun sekedar atribut perilaku tertentu, melainkan merupakan suatu cap yang dimiliki dan diberikan oleh Tuhan kepada setiap orang percaya, bahkan ketika pertama kali Allah berinteraksi dengan orang percaya. Kudus haruslah menjadi ciri dan panggilan hidup dari setiap anak Tuhan.

1Tesalonika 4:3 menyatakan: Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan. Pada 1Tesalonika 4:7 dikatakan: Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Apakah artinya pengudusan merupakan sebuah panggilan? Sebagai sebuah panggilan, kekudusan memiliki 2 konsep. Anthony Hoekema dalam bukunya Saved by Grace menyatakan bahwa kekudusan adalah suatu karya Roh Kudus yang melibatkan manusia/orang percaya untuk berpartisipasi sehingga melepaskan kita dari pencemaran dosa dan masuk ke dalam pembaharuan keseluruhan hidup kita menurut gambar Allah dan memampukan kita untuk menjalankan hidup yang diperkenan Allah. Jadi disini ada suatu rahasia besar, Allah sudah memisahkan orang percaya dari bangsa-bangsa lain melalui proses adanya pemilihan Tuhan, proses orang-orang itu menjadi milik Tuhan, dan bukan lagi seperti orang-orang biasa. Hal itu dari 1 sisi yang bersifat pasif. Di sisi yang lain, sisi yang bersifat aktif, hal itu melibatkan partisipasi orang percaya. Jadi panggilan ini bersifat aktif sekaligus pasif. Disebut aktif karena Tuhan memanggil orang percaya untuk masuk ke dalam proses pengudusan. Disebut pasif karena manusia tidak mampu melakukan tanpa adanya campur tangan Allah yang memisahkan dan memilih mereka menjadi umatNya. Kalau kita melihat 2 ciri dari pengudusan ini, maka hal ini seharusnya menjadi suatu kebanggaan dari umat percaya. Kudus mempunyai 2 aspek yaitu aspek pasif dimana orang Kristen mendapatkannya dari Tuhan, dan aspek aktif dimana orang Kristen dituntut untuk mengerjakannya.

 Cap pengudusan itu seperti cap hak milik yang dimiliki oleh Tuhan terhadap setiap orang percaya. Kalau kita tidak memiliki kekudusan hidup, maka perlu dipertanyakan: milik siapakah kita? Paulus menegaskan bahwa hal ini adalah hal yang sangat bernilai yang harus tetap dipelihara, tetap dijaga dan tetap dipikirkan oleh setiap orang percaya. Hidup kudus bukanlah suatu pilihan melainkan merupakan suatu fakta yang tidak bisa ditolak kalau kita adalah anak-anak Tuhan.

Kekudusan ini merupakan hal yang sangat penting bagi jemaat Tesalonika agar kehidupan rohani mereka tidak teracuni dan kemudian menjadi hancur, agar semua kebaikan yang telah mereka raih tidak menjadi redup lalu mati. Setiap orang percaya harus menyadari bahwa selain memiliki panggilan untuk bersaksi, kita juga memiliki panggilan yang begitu mulia yaitu panggilan hidup kudus. Ketidak kudusan hidup tidak menghancurkan manusia secara tiba-tiba melainkan setahap demi setahap.

2) Pengudusan adalah hak dari setiap orang percaya.

Tidak semua orang bisa masuk ke dalam jalur pengudusan, kalau Allah tidak pernah mendahului dengan tindakan melahir barukan, dengan mengirim Roh Kudus, dengan memberikan anugerahNya terlebih dahulu. Jadi pengudusan ini merupakan suatu hak istimewa, seperti hak sulung bagi orang-orang Israel. Hak kesulungan adalah hak yang tidak bisa diterima oleh seorang anak kalau dia tidak pernah dilahirkan, kalau dia tidak menempati posisi sulung dari semua saudaranya. Jadi hak ini didahului oleh tindakan Allah sendiri.

Kalau kita melihat kehidupan imam besar, tidak semua imam boleh masuk ke dalam ruangan Maha Suci melainkan hanya imam besar. Jadi imam besarlah yang memiliki hak istimewa untuk itu. Dengan konotasi ini, maka hak tersebut haruslah dijaga oleh imam besar tersebut dengan cara: tidak melalukan hal-hal yang cemar, harus memahami dan melakukan peraturan-peraturan yang ada, harus menjaga hidupnya sebagai perwakilan umat Allah dalam memberikan korban kepada Tuhan, harus memakai baju efod. Kalau sampai imam besar melakukan kesalahan walau kesalahan kecil dalam proses pemberian korban di bait Allah maka Tuhan akan membinasakan dia.

Paulus mengingatkan bahwa pengudusan adalah hak orang percaya dan pada saat yang sama kita harus menjauhi hal yang tidak kudus/baik. Hak ini harus dilakukan oleh setiap umat Allah. Tanpa hak ini, orang tidak mungkin bisa menjauhi percabulan. Jadi kekudusan ini adalah sesuatu yang harus terus menerus dijaga sebagai suatu harta karun, sampai kita bertemu dengan Tuhan. Ketidak kudusan itu bisa masuk ke dalam kehidupan orang percaya melalui lapisan demi lapisan, setahap demi setahap dari luar sampai ke dalam tanpa disadari. Dengan adanya orang percaya yang bersuamikan bukan orang percaya, dengan adanya pergaulan dengan orang-orang Yunani yang belum mengenal Tuhan, maka ketidak kudusan dapat menjadi ragi yang akan menghancurkan kesaksian orang percaya, khususnya orang Tesalonika.

Sama halnya dengan putri kecantikan yang telah beroleh gelar sebagai ratu kecantikan dunia, kalau dia tidak bisa menjaga tindakannya dengan mengikuti fotografi yang salah atau melakukan tindakan yang salah selama masa jabatannya yang hanya 1 tahun, maka gelar ratu kecantikan tersebut akan dicabut. Tuhan kita adalah Tuhan yang setia, yang tidak mungkin memberikan kepada kita suatu situasi yang menyebabkan kita tidak mampu, Dia juga memberikan Roh Kudus kepada kita. Hak kekudusan tersebut harusnya kita pertahankan karena kita memiliki Roh Kudus dalam hati kita.

Seringkali kita selalu mengkaitkan tuntutan hidup kudus dengan kewajiban. Paulus hendak menjelaskan bahwa hidup kudus adalah kehendak Allah, yang tidak bisa dimiliki oleh orang yang tidak dimiliki oleh Tuhan.

3)        Pengudusan adalah tanggung jawab dari kehidupan Kristiani.

Hal ini seringkali menjadi momok bagi setiap orang Kristen, yang menjadikan kehidupan orang Kristen terasa berat. Kalau orang Kristen sadar akan panggilan dan haknya atas hidup kudus maka dia akan menjalankan tanggung jawabnya secara luar biasa. Tidak semua orang bisa menjadi saksi iman bagi orang yang belum percaya kepada Tuhan, tetapi untuk itu kita harus sepadan dalam hidup kita. 1Tesalonika 4:4 adalah salah satu contoh yang menunjukkan bahwa orang-orang di Tesalonika pada waktu itu begitu biasa mempunyai istri lebih dari 1 sehingga Paulus mengingatkan jemaat untuk memiliki istri hanya 1. Mengapa Paulus khusus menyoroti hal ini? Karena percabulan adalah hal yang sangat mengerikan dan dapat merusak paradigma pemikiran jemaat. Ketika “ragi“ mulai masuk ke dalam kehidupan yang paling rahasia dari suami-istri, pada saat yang sama dia sudah tidak bisa lagi menjaga kehidupannya dan tidak bisa lagi menuntut orang lain untuk hidup kudus.

Orang yang terjebak dalam perzinahan pada mulanya tidak sadar bahwa suatu saat nanti mereka akan terjebak. Pada awalnya mereka hanya bermaksud menolong karena orang tersebut perlu dikasihani tanpa menyadari adanya jurang yang begitu tipis sehingga lambat laun mereka semakin berjalan menuju maut. Orang begitu mudah melakukan permainan hati dengan mengatakan cinta kepada pasangannya tetapi di lain tempat melakukan zinah. Bahkan ada yang sampai dibutakan logikanya oleh ketertarikannya kepada orang lain selain kepada pasangannya. Percabulan bisa masuk dengan begitu halus. Kalau hal ini masuk kedalam kehidupan jemaat maka kehidupan jemaat bisa menjadi hancur.

Paulus tahu bahwa jemaat Tesalonika sudah mengetahui akan hal-hal diatas, tetapi Paulus mau mengingatkan mereka untuk mereka tidak sekedar tahu tetapi juga bertanggung jawab menerapkannya (1Tesalonika 4:5-6), artinya: mereka harus dapat memilah/mengenali kelemahan dirinya, mereka harus berpartisipasi ketika mereka berada dalam kehidupan yang berusaha menjatuhkan mereka, mereka memiliki tanggung jawab untuk menjaga diri mereka. Setiap orang mempunyai titik-titik lemah tertentu yang jika tidak waspada maka akan dapat jatuh dalam bidang tersebut.

4) Pengudusan adalah dinamika kehidupan Kristen.

Paulus menempatkan pengudusan sebagai dinamika peperangan rohani, bukan sekedar peperangan antara karakter yang baik dan yang tidak baik, tetapi peperangan rohani antara menerima Tuhan dan menolak Tuhan. Ada realita cemar dan kudus di sana, ada realita Tuhan dan iblis di sana sebagai pihak yang saling bertentangan. Adalah tidak mungkin Allah yang kudus bersanding, bercakap-cakap dengan orang yang tidak kudus, yang mendua hati. Dinamika hidup ini adalah dinamika peperangan rohani yang harus kita lakukan dengan sungguh-sungguh walaupun mungkin tidak kita sadari. Mungkin juga kita masih pilih-pilih dalam mengerjakannya, kita masih berusaha mempertahankan kesukaan tertentu kita, walau itu sebenarnya menyedihkan hati Tuhan. Kehidupan kita diibaratkan dengan rumah yang memiliki banyak ruangan, dimana ada ruangan-ruangan yang sangat bersih, tetapi juga ada ruangan rohani yang sangat kotor yang kita tutupi dari orang lain, termasuk pasangan kita sendiri. Marilah kita bersikap jujur di hadapan Tuhan, sampai seberapa jauh kita ada di hadapan Tuhan. Seberapa jauh kita siap memenuhi panggilan Tuhan? Seberapa jauh kita membuka hati seluas-luasnya agar hidup kita semakin dipakai oleh Tuhan? Seberapa jauh kita terbuka di hadapan Tuhan dalam dinamika peperangan rohani yang kita jalani sehingga kita boleh meminta Tuhan untuk menyertai kita senantiasa? Seberapa jauh pengudusan yang kita alami sebagai dampak dari pengetahuan yang kita peroleh dari kita belajar Firman Tuhan? Pengudusan seharusnya membuat kita bertanya: apakah ada hal-hal yang kita sukai yang membuat hati Tuhan sedih. Hal tersebut haruslah kita bersihkan dan kuduskan.

 

Renungkanlah:

  1. Bagaimana Anda dapat tetap hidup kudus di hadapan Tuhan di tengah-tengah dunia yang semakin cemar? Bidang mana dalam hidup Anda yang masih perlu diperbaiki supaya hidup Anda boleh lebih diperkenan Tuhan? Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut dengan sungguh-sungguh.

  2. Dampak apa yang Anda sudah berikan bagi lingkungan dimana Anda berada (bagi sesama) dalam aspek kekudusan sehingga mereka boleh dibawa mengenal dan boleh percaya pada Kristus Yesus? Sharingkan pengalaman yang Anda pernah alami.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)