Ringkasan Khotbah : 14 Februari 2010

Facing the Future with True Love

Nats: Matius 24:9-12

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno 

 

Hari ini ada 2 perayaan yang jatuh pada waktu yang sama yaitu perayaan tahun baru Imlek dan perayaan  hari Valentine. Nats Alkitab kita pada hari ini begitu relevan dengan 2 perayaan tersebut yaitu:  menghadapi tahun yang baru dan sekaligus mengerti arti cinta sejati di tengah-tengah dunia yang penuh dengan kebencian, penuh dengan intrik. Renungan Firman kita pada hari ini merupakan bagian dari konteks akhir zaman. Dunia kita heboh dengan munculnya deru perang, gempa bumi, kelaparan, dll. Semuanya itu dihebohkan sebagai tanda-tanda akhir zaman. Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus hati-hati, semuanya itu bukanlah tanda akhir zaman, semuanya itu memang harus terjadi, tetapi itu belumlah kesudahannya. Jadi yang selama ini diributkan oleh manusia sebagai tanda akhir zaman sebenarnya bukanlah tanda akhir zaman, sedangkan tanda akhir zaman yang sesungguhnya, yaitu Injil diberitakan di seluruh dunia, tidaklah dipedulikan. Orang tidak berfokus pada Injil yang benar, bagaimana membawa orang kepada Injil yang benar, bagaimana mengirim misionaris untuk mempertobatkan orang.

Ketika manusia heboh dengan semua hal yang disebutkan diatas, Tuhan Yesus memberikan peringatan sampai 2 kali yaitu: WASPADALAH! Janganlah kamu disesatkan oleh banyak orang! Manusia memang mudah untuk disesatkan karena kondisi yang cenderung mudah untuk disesatkan, dan makin lama akan mudah disesatkan. Yang menjadi isu problemanya adalah pada Matius 24:9-12 yaitu manusia harus berhadapan dengan kondisi yang sangat berat. Orang Kristen, secara khusus, akan menghadapi penderitaan yang luar biasa, yaitu akan disiksa, akan dibunuh, akan dibenci oleh semua orang. Pengkhianatan juga akan muncul dimana-mana, teman/saudara akan saling menyerahkan teman/saudara karena saling mementingkan kepentingan diri. Akhirnya akan muncul sangat banyak kedurhakaan sehingga manusia tidak tahu lagi akan arti cinta sejati. Segala sesuatu menjadi sangat palsu. Di tengah-tengah situasi yang begitu sulit ini, manusia mulai memikirkan bagaimana cara untuk lolos dari penderitaan ini, karena manusia paling takut menderita.

Ketika menjelang tahun baru Masehi beberapa waktu yang lalu, saya menulis di facebook bahwa tahun 2010 adalah tahun yang sangat, sangat buruk. Hal ini saya ungkapkan berdasarkan pengamatan atas perjalanan sejarah. Banyak orang terkejut dengan pernyataan saya tersebut, tetapi banyak orang yang juga setuju dengan pernyataan saya. Manusia biasanya sangat senang memasuki tahun yang baru dengan berbagai pengharapan yang palsu, berharap tahun yang baru ini akan menjadi lebih baik, manusia menjadi bermimpi dengan melupakan realita. Saat ini kita sedang menjalani triwulan pertama dari tahun 2010 (dekade I dari abad ke-21) dan sudah mulai terlihat tanda-tanda yang luar biasa. Di tataran dunia global, kita melihat krisis hilangnya kepercayaan yang luar biasa karena manusia melihat banyaknya tipuan dunia, permainan ekonomi dunia yang semakin liar. Ketika terjadi hilangnya kepercayaan, mulailah terjadi kesenjangan/renggang, hubungan antar perusahaan mulai pecah dan akan terus menggejala secara umum. Amerika mengalami krisis kepercayaan, Jepang juga mengalami krisis yang sangat berat dengan berbagai produksinya. Toyota dan Honda mengalami masalah karena beberapa spare part kecilnya lolos dari pengontrol kualitas (QC).

Ketika di dalam pesawat, saya sempat berbincang dengan seorang teknisi dari mesin Amerika. Dia menceritakan bahwa mesin Amerika tersebut sudah dibuat di China dengan tampak luar (bagian yang kelihatan) sama persis dengan kualitas buatan Amerika tetapi spare part kecil-kecilnya (bagian yang tidak kelihatan, yang terletak di bagian dalam) sudah banyak yang diganti dengan modifikasi/kualitas ala China. Inilah akibat dari semangat pragmatisme Amerika dengan otak yang materialis yang akhirnya melibas mereka sendiri. Seandainya dari sejak semula Amerika dan Eropa tidak membuka pabrik di China maka situasi ekonomi dunia kita akan tertolong. Begitu suatu pabrik dijalankan di China maka kualitaspun akan mengikuti cara China. Maka tidak heran kalau Toyota dan Honda bisa mengalami persoalan diatas.

Gaji sumber daya manusia di China bisa mencapai seperempat gaji di Amerika/ Eropa dengan kecepatan produksi mencapai 10 kali lipat dari kecepatan di Amerika/ Eropa. Maka begitu suatu pabrik Amerika/ Eropa dijalankan di China justru akan mematikan pabrik asalnya yang di Amerika/ Eropa. Dalam kurun waktu 10 tahun ke depan semua barang yang kita pakai akan merupakan buatan China karena di sanalah hampir seluruh sektor riil dunia dikerjakan. Hal ini adalah sangat bahaya karena negara China bukanlah negara yang ber-Tuhan dan ber-etika. Semua yang dikerjakan hanyalah karena uang, semuanya dihitung dari segi uang. Kalau kita mengikuti konsep ini, hidup kita akan rusak dan hancur. Dalam tataran yang tidak ada etika dan moral, yang ada hanyalah uang, maka semuanya akan menjadi rusak.

 Cara China berbisnis adalah membawa/ menyeret kita turun, yaitu semua barang dibawa kepada harga dan mutu yang terendah. Akibat dari kualitas produksi yang makin rendah, hidup juga akan memiliki kualitas yang makin rendah, tidak lagi memikirkan keagungan, nilai harkat hidup yang tinggi, maka seluruh hidup akan dikendalikan oleh nilai terendah yaitu level materi. Dalam situasi yang demikian, orang semakin panik, lalu mencari jalan pintas. Singapura mulai beralih dengan tidak lagi memikirkan perdagangan tetapi mendapatkan uang dari sektor judi. Inilah cara cepat untuk mendapatkan uang tetapi dengan moral yang rusak. Manusia mulai menerapkan cara-cara yang jahat, yang tidak etis, dengan tidak peduli akan kehancuran orang lain.

Inilah kondisi riil yang harus kita hadapi. Kita tidak perlu tutup mata akan semuanya itu. Tidak hanya secara tataran global, Indonesia juga mengalami kondisi yang sangat sulit dan berat. Indonesia dituntut untuk memasuki era perdagangan bebas tanpa kesiapan sama sekali. Indonesia akan dihajar habis-habisan dengan barang-barang produksi, profesi, dll dari luar negeri yang akan dengan bebas masuk ke Indonesia. Ketidaksiapan Indonesia disebabkan karena mentalitas bangsa kita sudah rusak bahkan sejak dari usia sekolah. Pelajar/ mahasiswa kebanyakan selalu mengerjakan tugas-tugas dari guru/dosen dengan “Sistim Kebut Sejam“. Maka sampai menjadi profesor/ pejabat pun kerjanya tetap memakai sistim ini. Tidak hanya itu, orang-orang yang berkompeten untuk menata ulang perekonomian bangsa ini juga terus digoncang dengan permasalahan-permasalahan yang dikemukakan oleh pihak-pihak yang terus ingin merongrong/ menggoncang stabilitas negara ini. Kalaupun kuartal pertama perekonomian negara masih dapat berjalan baik, kuartal kedua tidaklah menjamin dapat tetap baik tetapi cenderung akan semakin merosot.

Dalam skala yang lebih sempit lagi yaitu di kota Surabaya, PT. PAL mem-PHK 900 pekerjanya. Hal ini akan diikuti oleh beberapa perusahaan yang lainnya. Efisiensi, mentalitas, kualitas sumber daya manusia Indonesia membuat negara ini sulit berhadapan dengan dunia yang mengglobal ini. Kalau tatanan ekonomi ditata secara atheis dan tanpa regulasi yang cukup untuk menjaga berbagai hal maka tatanan tersebut akan menjadi korban sendiri, sebagaimana yang dikemukakan oleh Darwin sebagai “survival of the fittest“ (artinya: siapa kuat, dia yang menang), karena tidak ada lagi etika, yang ada hanyalah saling memakan/ membunuh demi untuk mendapatkan keuntungan diri. Dalam tataran ekonomi liberal, kita sudah melihat adanya prinsip ini.

Dunia ini semakin banyak tipuan. Orang memakai dalih “menolong“ untuk menghabisi korbannya. Demikian juga halnya dengan orang menyatakan cinta kepada orang lain berarti orang lain itu akan menjadi korbannya. Orang menyatakan cinta berarti: orang yang dicintainya tersebut harus menjadi alatnya, harus menguntungkan dia, harus bisa dikendalikan oleh dia.

Bagaimanakah kita sebagai orang Kristen seharusnya merayakan tahun baru Imlek sekaligus hari Valentine? Saya akan mengajak melihat 3 aspek agar kita dapat melihat dunia ini dengan lebih baik, tidak mudah dipermainkan di tengah dunia ini, lebih dapat bersikap waspada sebagaimana yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus, yaitu:

1)             Kita harus realistis.

Mari kita belajar membuka mata lebar-lebar melihat kondisi di pekerjaan/ kampus kita, bersikap riil, jangan menutup dengan segala macam lapisan kepalsuan, coba terobos semua lapisan kepalsuan itu. Dengan begitu kita tidak akan mudah dikecoh dengan aspek kepalsuan yang manis di tampilan luarnya tetapi penuh dengan borok di bagian dalamnya. Kalau kita tidak bisa menelisik sampai ke dalamnya, lebih baik kita menjauhinya, karena sangatlah berbahaya bagi kita jika bermain dengan kepalsuan.

Hari Valentine jangan hanya diisi dengan berpakaian yang bagus dan memberikan sekuntum mawar palsu sambil berkata: I Love You. Perlu dipertanyakan tentang apa itu cinta sejati. Sebagaimana Tuhan sudah mencintai kita, betulkah cinta kita adalah cinta yang mau berkorban untuk orang yang kita cintai, cinta yang mau membangun ke arah positif yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Hari Valentine adalah waktu bagi kita untuk memikirkan bersama, merenung bersama, mencoba untuk menapak bersama apa yang hendak kita jalankan secara realistis ke depan. Inilah hidup yang riil untuk kita mengerti cinta, mengerti relasi.

Amsal 10:32 mengatakan: bibir orang benar tahu akan hal yang menyenangkan, tetapi mulut orang fasik hanya tahu tipu muslihat. Ketika kita hidup mendengarkan mulut orang benar maka hasilnya akan sangat menyenangkan. Alkitab mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan bibir yang liar/menipu. Kita harus menjauhi orang yang penipu/ pembual.

Kita harus realistis melihat dunia dan mempertimbangkan semua aspek dengan baik agar kita tidak terjerumus/ jatuh, kita dapat terhindar dari banyak kesalahan, kita tidak jatuh ke dalam keputusan-keputusan yang tidak beres.

2)  Kita harus putar arah dan menyiapkan diri untuk berhadapan dengan kondisi riil tersebut.  

2 point penting yang membuat kita tidak mudah dikecoh, yang menjadi posisi pemilah yang sangat tajam untuk membedakan yang benar dan yang salah, yaitu dalam 1Yohanes 3:10 dikatakan demikian: Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya. Cinta dan kebenaran adalah 2 hal pemilah. Benar tanpa cinta kasih akan menjadi kekejaman, sedangkan kasih tanpa kebenaran akan menjadi keliaran dan kepalsuan. Benar dan kasih adalah perpaduan sifat Illahi bahkan juga merupakan person dari Allah sendiri. Allah adalah Kebenaran (The Truth) dan Allah adalah Kasih. Kita harus mengejar kebenaran (righteousness) didalam Allah dan harus mendapatkan Allah untuk mendapatkan kasih itu. Orang yang bukan anak Allah tidak mungkin menjalankan kebenaran dan kasih. Kebenaran dan kasih bukan secara otomatis kita peroleh tetapi kita harus memperjuangkannya di tengah dunia yang penuh dengan kebencian dan dikuasai oleh egoisme manusia yang selalu mencari keuntungan bagi diri. Yesus Kristus mau mencintai kita manusia yang sebenarnya tidak layak untuk dicintai, Dia mau mati diatas kayu salib untuk menebus dosa kita. Kalau kita betul-betul mendapatkan anugerah/ cinta kasih itu, maka tidak ada alasan untuk kita tidak mencintai, kecuali kalau kita memang tidak mendapatkan anugerah tersebut/ kita bukan anak Tuhan.

Kita juga jangan disibukkan dengan “baik-jahat“ karena bersifat sangat relatif, melainkan kita harus selalu mengejar yang benar dengan memilah “benar-salah“. Di luar kebenaran adalah sesuatu yang salah. Kita harus kembali kepada Kebenaran. Kita harus kembali kepada Theologi Reformed yang merupakan satu-satunya theologi yang tidak humanis dan materialis. Kita harus kembali kepada Firman, belajar Alkitab dengan sungguh-sungguh. Kita harus menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup kita. Hidup kita adalah milik Tuhan maka harus menjalankan apa yang Tuhan tetapkan bukannya menjalankan kemauan diri.

3)       Kita harus melihat panggilan Tuhan.

Ketika kita memberikan ucapan selamat tahun baru dan hari Valentine, perlu dipikirkan akan apa yang orang lain dapatkan, akankah mereka terhindarkan dari banyak kecelakaan setelah kita memberikan peringatan kepada mereka dan setelah mereka mengerti akan arti cinta sejati. Tuhan memanggil kita bukan untuk menjadi orang yang egois. Kita jangan sibuk dengan “tanda akhir zaman“ yang dihebohkan tetapi kita harus memberitakan Injil dan cinta sejati. Inilah waktunya untuk kita balik dan bersandar kepada Tuhan. Sekeras apapun jepitan yang kita alami, keputusan untuk berkata “tidak“ tetap berada di tangan kita walaupun kita harus dianiaya untuk itu, kita tidak akan sanggup menghadapinya sendirian dan kita perlu Tuhan. Panggilan Tuhan untuk kita balik dan bersandar kepada Tuhan bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk orang lain.   

 

Renungkanlah:

  1. Bagaimana Anda merespon segala yang terjadi setelah beberapa saat memasuki tahun 2010 ini, khususnya minggu ini yang bertepatan dengan Tahun Baru Imlek dan hari Valentine? Keegoisan dan motif pribadi mengatasnamakan kasih, namun apakah kebenaran juga menjadi latar belakang? Sudahkah kasih dan kebenaran sejati yang Tuhan ajarkan Anda aplikasikan dalam hidup Anda, terutama menguatkan saudara seiman, keluarga, atau orang lain yang sama sekali belum Anda kenal?

  2. Menghadapi realitas kondisi yang semakin sulit, tawaran keuntungan dan kenikmatan mungkin akan menjadi kunci pertolongan dan kebahagiaan saat ini. Bagaimana Anda merespon keadaan tersebut? Apakah Anda menjadi pasrah menanti segala sesuatu terjadi, ataukah kita berusaha realistis terhadap kondisi yang semakin sulit dan terus-menerus menjaga kualitas hidup agar tetap terpusat pada Tuhan dan tidak terjerumus dalam kesulitan tersebut.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)