Ringkasan Khotbah : 7 Februari 2010

Penderitaan, Ketekunan dan Kebahagiaan

Nats: Yakobus 1:2-3

Pengkhotbah : Pdt. Nico Ong

 

Latar belakang Surat Yakobus ini adalah Yakobus memberikan surat ini kepada orang Yahudi yang berada di luar Palestina. Surat ini ditujukan kepada 2 saudara yaitu: kepada saudara kedagingan (sesama orang Yahudi) dan kepada saudara di dalam Tuhan. Yakobus harus menghadapi segala tantangan, penderitaan, maupun cercaan dari orang-orang yang tidak mengenal Injil Kristus, baik orang Yahudi maupun orang non-Yahudi. Gereja yang baik dan benar, orang Kristen sebagai orang yang beriman harus dipersiapkan untuk menikmati/ menelan arti penderitaan. Pada hari ini banyak gereja yang sudah menghilangkan theologi penderitaan. Dalam kita mempelajari theologi penderitaan, kita bukannya dipanggil untuk menjadi orang yang masokhis (orang yang suka menderita), melainkan kita dimengertikan bahwa bukan dengan menderita kita baru dimengertikan tentang iman, tetapi orang Kristen tidak mungkin dihindarkan dari penderitaan. Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit akan selalu biru, kehidupan kita selalu sukses adanya.

Marilah kita menanggapi Yakobus 1:2-3 dengan memiliki hati yang sungguh-sungguh, hati yang terus berkobar, hati yang terus konsisten didalam pelayanan baik didalam suka maupun duka, bukan hanya dengan perkataan semata. Sebagai orang Kristen kita haruslah memiliki pengetahuan yang menyelamatkan, bukan hanya pengetahuan secara doktrinal/ akademis melainkan juga pengetahuan secara pengalaman nyata dimana kita dituntut untuk berjalan bersama-sama dengan Tuhan dalam suatu realita, bukannya dalam dimensi mimpi seperti yang ditawarkan oleh Walt Disney.

Orang Kristen haruslah memiliki kerinduan yang besar (dalam arti: passion). Passion ini sebagai suatu gairah/ antusias/ semangat/ emosi yang kuat yang memaksakan dilakukannya suatu tindakan, bukan sekedar beban. Passion dalam bahasa aslinya diambil dari kata pasko. Pasko jika dihubungkan dengan kata kerja mempunyai arti menderita. Menderita disini menunjuk pada penderitaan Anak Domba Allah yaitu Yesus Kristus. Setiap orang Kristen tidak mungkin tidak menghadapi penderitaan berat. Jadi passion adalah yang padanya kita berkomitmen sangat kuat sehingga kita bersedia menderita untuk mati/ untuk berkorban. Tidak ada hasrat yang kuat yang tidak mengandung penderitaan. Orang yang memiliki passion yang kuat haruslah siap berkorban. Setelah siap berkorban, dia harus memahami pengorbanan itu. Janganlah kita menjadi orang Kristen/ orang beriman yang mau berkorban, tetapi tidak memahami pengorbanan itu. Setelah kita memiliki passion yang kuat, yang siap berkorban/ siap mati, kita diminta untuk memahami pengorbanan itu, dan setelah itu kita harus berani menjalankan tujuan. 

Dari Surat Yakobus ini kita melihat dari pencobaan berakhir dengan suatu kemenangan. Kita mungkin menjadi korban tetapi pada akhirnya kita menjadi pemenangnya. Theologi Reformed mengajarkan kita bahwa pada waktu kita menikmati suatu kemenangan dari kekalahan/ pencobaan, itu bukanlah hasil usaha kita, itu bukan karena kebaikan kita, tetapi karena kedewasaan kerohanian kita. Pada waktu kita memiliki passion yang kuat ini, kita akan dimampukan bukan karena diri kita sendiri. Dalam ordo salutis (langkah-langkah penebusan) dikatakan bahwa kita adalah pasif yang diaktifkan; tidak ada sesuatupun dari diri kita yang mengaktifkan dan menggantikan keberadaan Tuhan dengan menganggap diri kuat.  

Yakobus meminta kita untuk menganggap sebagai suatu kebahagiaan apabila kita jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. “Anggaplah“ ini haruslah dengan sikap yang gembira, tidak dipaksa/terpaksa. Kita seharusnya tahu dan sadar akan hal ini. “Anggaplah“ adalah suatu tindakan menilai, berarti kita diminta untuk dengan tahu dan sadar menilai. “Anggaplah“ adalah suatu pandangan yang memiliki 2 pengertian yaitu anggaplah dan bersikaplah. Cara pandang akan menentukan hasil akhirnya, dan cara menyikapi akan menentukan tindakan. Yakobus menulis demikian berarti dia tidak menjanjikan bahwa kehidupan orang Kristen selalu baik adanya, sama seperti Tuhan Yesus Kristus juga tidak pernah menjanjikan hidup kita selalu aman, makan-tidur enak, tiap hari tidak ada masalah. Kata “anggaplah“ ini mempunyai tema yang begitu besar, kita harus mencoba menilai karena menilai mempunyai arti pandangan dan bagaimana sikap kita menempatkan diri. Pandangan akan menentukan hasil dan sikap akan menentukan tindakan.

Yakobus memakai kata “apabila kamu jatuh“ bukan “kalau kamu jatuh“ karena “kalau kamu jatuh“ ada kemungkinan penderitaan itu tidaklah riil, tetapi “apabila kamu jatuh“ berarti panggilan kita sudah jelas, kita dipanggil menjadi orang Kristen berarti kita harus siap menyangkal diri, memikul salib, mengalami ketidak adilan, kepahitan, fitnah, dan cercaan. Apapun yang terjadi, kita harus berani menghadapi realita penderitaan. Janganlah kita melarikan diri dari penderitaan, tetapi hadapi penderitaan itu dengan sukacita, tanpa paksaan, karena kita sudah menilai, sudah memandang, sudah menyikapi hal itu didalam iman bahwa hidupmu bukanlah dirimu lagi.

Kita diperhadapkan kepada berbagai pencobaan karena kita adalah bangsa Allah yang sudah dicerai beraikan, dan kita bukanlah bangsa Allah yang selalu dilindungi, yang selalu dinina bobokan, tetapi kita dididik didalam kebenaran Firman Tuhan untuk menghadapi berbagai permasalahan itu. Selain pengetahuan yang menyelamatkan, kita harus memiliki pengetahuan secara doktrin karena iman tanpa pengetahuan adalah iman yang buta. Pengetahuan/ pengertian adalah imbalan iman. Maka dari itu kita harus belajar, dan bukan hanya sekedar belajar sampai “kepala membesar tetapi badan tetap kecil“ karena tidak pernah menjalankan.

Pertanyaan yang seringkali dilontarkan adalah: mengapa saya harus menderita, mengapa saya harus mengalami pencobaan? Karena diri kita adalah manusia semata-mata. Manusia tidak dapat dilewatkan dari sakit penyakit, kecelakaan, kekecewaan, dan tragedi. Penyebab penderitaan yang kedua adalah: karena kita adalah orang beriman. Orang beriman tidaklah perlu mempertanyakan pertanyaan diatas. Kita tidak boleh bersungut-sungut ketika penderitaan terjadi. Tuhan Yesus pernah berkata untuk kita menyangkal diri, memikul salib, barulah mengikut Dia. Sebagai orang beriman, keberadaan iman kita akan dibakar dalam kobaran penganiayaan, siksaan, kepahitan, ketidakadilan, untuk membuktikan apakah dalam semuanya itu kita akan timbul sebagai emas.

Ketika saya mengikuti pendidikan dari Philip Yancey, dia menceritakan pengalamannya pergi ke pedalaman Amazon, penterjemahnya mengajak dia terlebih dahulu melihat 1 nisan. Nisan tersebut sangatlah berarti bagi suku Indian yang berada di sana karena tanpa nisan tersebut mereka akan tetap menjadi suku yang barbar dan pemakan daging manusia. Nisan tersebut adalah nisan dari anak misionaris USA yang meninggal di sana akibat muntaber. Misionaris tersebut sudah mendidik suku di sana dengan kebudayaan yang baik, iman kepada Yesus Kristus. Ketika anak mereka meninggal, suami-istri misionaris itu menangis dengan sangat sedih dan mempertanyakan mengapa hal ini menimpa mereka, bukankah mereka sudah berkorban, bukankah mereka sudah meninggalkan seluruh keberadaan mereka. Ibu anak itu akhirnya bisa menerima keadaan ini, tetapi ayahnya setiap hari mengukir nisan anaknya dengan 10 jarinya sambil terus mempertanyakan hal ini kepada Tuhan. Setelah mendengar cerita ini mungkin kita semakin dibakar dalam semangat pelayanan kita, tetapi jika kita tidak menjiwainya maka kita tidak layak menjadi seorang misionaris. Pada malam harinya, ketika saya pulang dan melihat anak saya yang sedang tidur, saya mempertanyakan jika hal itu terjadi pada diri saya, apakah saya lebih kuat daripada misionaris itu? Mungkin saya tidak akan kuat, tetapi mohon Tuhan berikan kepada hambaMu kekuatan dan pengertian ketika saya harus menghadapi berbagai tantangan dalam pelayanan. Ketika melihat keberadaan orang lain, secara pengetahuan kita dapat menyampaikan berbagai macam “seharusnya“, tetapi pada saat kita mengalaminya sendiri, kita akan berteriak.

Pencobaan dan pengujian yang datang adalah mirip sekali tetapi hasilnya bisa sangat berbeda. Pencobaan berasal dari setan, dapat dianggap sebagai pengujian dari luar/ eksternal. Pengujian adalah secara internal, dari dalam, dalam hal kontak batin kita dengan Tuhan. Tuhan sedang menguji apakah kita adalah anakNya yang mengerti akan kebenaran Firman Tuhan dan yang tidak pernah bersungut-sungut.

Karena kita dicipta menurut gambar dan rupa Allah, karena kita adalah orang yang beriman yang sudah menerima anugerah keselamatan, maka kita siap untuk menderita, dan kita diperhadapkan dalam medan pertempuran. Hidup ini adalah peperangan bahkan dalam semua aspeknya. Pergumulan adalah juga peperangan, baik terhadap diri maupun terhadap lingkungan. Kuasa kegelapan tidak pernah tinggal diam pada waktu kita mau melayani Tuhan.

Yakobus menuliskan: “apabila kamu jatuh“, “jatuh“ disini bukan berarti suatu kecelakaan yang bodoh melainkan berarti kita diperhadapkan/ bertemu dengan arti penderitaan, menghadapi penderitaan dengan kesadaran, dengan kejelasan, tahu bahwa segala sesuatu aku hadapi bukan karena kemampuanku/ kekuatanku tetapi dengan bersandar kepada Tuhan. Allah yang mengatur dan mencampur warna-warni dalam kehidupan kita, pengalaman-pengalaman kehidupan kita, dan hasil terakhirnya akan indah pada waktunya. Permadani yang hand-made sangatlah bagus di bagian depannya tetapi di bagian belakangnya terlihat warna-warni yang saling mengikat, saling menjerat, saling tumpang-tindih. Demikian juga halnya dengan kehidupan kita yang penuh dengan warna-warni pengalaman kita. Kalau kita berjalan hanya dengan pengetahuan secara pengalaman, akan sangat berbahaya karena kita akan masuk ke dalam dunia mistik. Kalau kita berjalan dengan pengetahuan doktrin ditambah dengan pengetahuan pengalaman, akan menghasilkan suatu pengetahuan yang indah yaitu pengetahuan yang menyelamatkan, yang akan membuat kita terarah dalam perjalanan dimana Tuhan menyertai dan memimpin.

“Anggaplah“ menyangkut penilaian maka nilai-nilai hidup yang kita yakini memerlukan penilaian kita. Menjadi orang beriman pasti kita diperhadapkan pada meyakini suatu konsep/ nilai-nilai tertentu yang sudah Tuhan tetapkan yang tidak akan pernah berubah. Nilai-nilai hidup yang kita yakini akan menentukan penilaian diri kita. Jikalau kita lebih mementingkan kenyamanan/ materi/ fasilitas daripada pembentukan watak dan karakter diri kita, maka pencobaan itu akan mengalahkan diri kita, kita tidak akan menjadi seorang yang dipakai oleh Tuhan. Dalam hal ini, lebih baik kita meminta pembentukan karakter/ sikap karena sikap itu akan menentukan tindakan. Jika kita menghargai materi dan perkara-perkara jasmani lebih daripada perkara-perkara rohani, maka kita tidak akan dapat menganggap pencobaan itu sebagai suatu kebahagiaan, karena segala sesuatu dihitung untung ruginya.

Ada seorang hamba Tuhan yang sudah berumur sekitar 70 tahunan ditangkap oleh tentara komunis di Cina. Ketika ditanya oleh tentara alamat-alamat jemaatnya, hamba Tuhan tersebut menyatakan tidak tahu. Hamba Tuhan tersebut kemudian dipukuli dan puncaknya adalah diberi minuman yang berisi air seni, kotoran manusia dan sisa-sisa makanan. Dalam penderitaannya, hamba Tuhan tersebut tetap tidak mau memberitahukan alamat jemaatnya. Setelah 7 hari dia dicekoki dengan minuman itu, hamba Tuhan itu dilepas dan dibiarkan tergeletak di jalan. Tidak ada orang yang berani menolongnya. Pada tengah malam 2 saudara seiman menolong dia dan membawanya ke gereja bawah tanah. Menurut hasil pemeriksaan dokter, hamba Tuhan tersebut sudah terinfeksi seluruh tubuhnya, dia mengalami luka dalam yang parah. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, dia muntah darah dan berkata: aku dari dulu tidak pernah menjual saudaraku. Mungkinkah kita dapat menghadapi tantangan ini? Mungkinkah kita yang sudah belajar banyak hal bisa menghadapi dan mengerti?

Yakobus memberitahu untuk menganggap sebagai suatu kebahagiaan, bukanlah dengan kemampuan kita, bersandarlah kepada Tuhan, karena manusia sebenarnya adalah makhluk yang tidak pernah mau menderita, tidak pernah puas dengan semua yang sudah dinikmati/ sudah diterima/ sudah dimiliki, kepuasan manusia mempunyai tingkat yang tidak terbatas. Jika kita hidup hanya untuk saat ini, mementingkan kepuasan sesaat, dan kita melupakan masa yang akan datang, maka pencobaan akan menjadi kepahitan bagi kita dan tidak akan menjadikan kita jauh lebih baik. Ayub memiliki pandangan yang benar. Ayub 23:10 mencatat: Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. Dalam segala kepahitan hidup yang dia alami, Ayub tahu akan hari esoknya di tangan Sang Juruselamat.  

Untuk melihat solid tidaknya iman seseorang: 1) kita melihat imannya, 2) kita melihat pengajarannya, 3) kita melihat pengaruhnya/ kesaksian hidupnya. Sebagai orang percaya, hidup kita sedang dilihat oleh orang lain dalam 3 hal diatas. Pada waktu pencobaan datang, marilah kita belajar mengucap syukur kepada Tuhan, dengan sukacita dan jangan dengan ekstasi/ menghipnotis diri/ berpura-pura. Pandanglah pencobaan itu dengan iman, bukan dengan kekuatan diri, karena pandangan itu menentukan hasil. Agar berakhir dengan sukacita, maka mulailah dengan sukacita. Amin. (Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

 

Renungkanlah:

  1. Apa dan bagaimana respond Anda saat mengalami realita harus menderita karena Kristus (kebenaran)? Sejauh mana Anda memiliki hati yang sungguh-sungguh berkobar menghadapi segala penderitaan yang mungkin sedang Anda alami?

  2. Apa yang Anda mau lakukan di bulan ini untuk terus saling menguatkan sesama orang beriman baik di lingkup gereja, tempat kerja, maupun keluarga Anda sendiri. Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut dengan sungguh-sungguh

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)