|
Ringkasan Khotbah : 31 Januari 2010
Nats: Matius 24:7-8 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Akibat dari Matius 23, ketika murid-murid Tuhan bertemu dengan Tuhan Yesus, mereka bertanya tentang bagaimanakah keadaan akhir zaman itu. Tuhan Yesus memberikan 4 gambaran tanda yang seringkali dianggap oleh orang sebagai tanda-tanda akhir zaman, tetapi sebenarnya itu bukan merupakan tanda akhir zaman, melainkan merupakan proses menuju akhir zaman. Tanda pertama yang diberikan oleh Tuhan Yesus merupakan tanda yang paling serius yaitu munculnya penyesatan yang begitu dahsyat, banyak orang mengaku dirinya adalah Kristus lalu menyesatkan banyak orang. Alkitab menyatakan bahwa makin ke belakang kekristenan bukan semakin benar tetapi justru semakin banyak macam konsep pengajaran yang menyesatkan. Jemaat justru semakin pragmatis dan acuh tak acuh, mereka semakin tidak bisa membedakan antara ajaran yang benar dan yang salah. Kita harus waspada terhadap ajaran sesat yang semakin menggila.
Tanda kedua adalah terjadi perang di mana-mana. Perang muncul bukan karena kebencian tetapi karena ketamakan manusia. Perang terjadi karena bertujuan untuk menjajah, untuk memiliki milik orang lain. Tempat yang tidak ada prospeknya tidak mungkin ada perang tetapi sebaliknya tempat yang prospeknya bagus akan mengalami perang. Selama keserakahan terus bercokol dalam diri manusia, maka peperangan tidaklah mungkin selesai. Alkitab menyatakan bahwa peperangan akan semakin banyak. Sejarah membuktikan bahwa perkataan Tuhan Yesus 2000 tahun yang lalu ini benar-benar terjadi. Menurut statistik, seluruh jumlah peperangan dan seluruh jumlah korban yang terjadi selama 100 tahun terakhir dalam abad ke-20 adalah jauh lebih besar dibanding dengan jumlah total seluruh peperangan dari tahun 0 sampai tahun 1900.
Pada pembahasan hari ini kita akan membahas tentang 2 tanda yang terakhir yaitu perseteruan dimana bangsa bangkit melawan bangsa, kerajaan melawan kerajaan. Perseteruan muncul akibat kebencian. Perseteruan dapat memicu perang tetapi rata-rata tidak memicu perang. Satu orang benci terhadap satu orang yang lain akan memicu kebencian antar kelompok, akhirnya akan muncul kekuatan korps. Gejala ini mengakibatkan dunia tidak akan pernah damai sampai kapanpun. Selama kebencian masih muncul dalam diri manusia, tidak mungkin muncul damai. Kebencian bukan hanya antar personil melainkan juga antar otoritas/kekuatan. Kalau ini semua terjadi, akan berefek pada bencana alam yaitu munculnya gempa bumi, kelaparan, dll. Apa yang sebetulnya ada di belakang isu 2 tanda terakhir ini?
Mengapa orang bisa begitu benci kepada orang lain? Inti dari suatu kebencian adalah karena kita terganggu egoisitasnya. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, ada 2 ciri yang langsung terjadi yaitu perseteruan antar manusia karena hubungan manusia dengan Tuhan sudah tidak harmonis lagi, seluruh dunia dan ekstensinya akan terkutuk karena dosa tersebut. Orang semakin egois akan semakin banyak merasa “terganggu“ sehingga segala sesuatu akan menimbulkan kebencian terhadap orang lain. Orang yang tidak peduli ketika dia dirugikan, difitnah, dibangkrutkan, tidak akan membenci orang lain. Perseteruan merupakan demonstrasi dari munculnya fakta dosa. Fakta dosa berusaha ditutup atau dilupakan oleh manusia, tetapi dengan adanya perseteruan justru menunjukkan bahwa dosa itu ada dengan begitu jayanya bahkan makin lama semakin matang. Dunia mencoba menyelesaikan masalah ini dengan cara mengglobalkan dunia ini. Di era komunikasi yang semakin maju ini, dunia seolah-olah semakin menyatu sehingga muncul istilah “dunia tanpa batas“. Ketika dunia tanpa batas, manusia justru semakin sektarian/ berkelompok-kelompok, manusia saling mencurigai, sehingga manusia “pasang pagar“ setinggi mungkin. Makin “pasang pagar“ manusia semakin tidak bisa rukun, perseteruan semakin banyak terjadi. Bahkan dalam 1 kelompok pun menjadi pecah. Semakin orang egois/memikirkan diri/diri menjadi pusat, akan semakin banyak perseteruan.
Dunia saat ini justru terus mendorong semangat egois. Suara-suara yang menyuarakan untuk menyerang orang lain yang merugikan diri terus didengungkan. Di saat seperti itu, Tuhan justru menyatakan bahwa Dia mengasihi manusia. Setiap momen Perjamuan Kudus, kita diingatkan bahwa Yesus turun ke dunia bukan untuk kepentingan diriNya melainkan untuk mati bagi orang yang tidak cocok dengan Dia. Inilah cinta yang betul-betul mau berkorban, mau memberi, mau memikirkan orang lain. Cinta yang demikian adalah cinta yang altruis, lawan dari egois. Altruis adalah kerinduan kita untuk melihat orang lain lebih baik daripada kita, mau berkorban demi kebaikan orang lain, kita rela diperlakukan buruk sekalipun. Ketika merasa dirugikan, anak Tuhan harus memandang kepada salib, berapa banyak Tuhan Yesus sudah dirugikan. Tuhan Yesus mencintai orang-orang yang begitu membenci Dia, Dia mati untuk manusia yang masih berdosa. Kita seharusnya belajar untuk mencintai sesama kita sebagaimana Tuhan Yesus sudah meneladankannya kepada kita.
Kebencian juga muncul karena semangat kompetitif/ persaingan. Ketika masuk ke dalam persaingan, kebencian menjadi lebih jahat karena tidak suka melihat orang lain lebih baik, berposisi lebih tinggi, lebih sukses dari diri. Jiwa persaingan yang seperti ini akan menghasilkan kerusakan relasi karena selalu terjadi benturan, makin tinggi makin besar benturan yang terjadi.
Di saat manusia mau di posisi yang lebih tinggi bahkan dengan cara menjatuhkan orang lain, Tuhan Yesus rela turun dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Tuhan Yesus rela merendahkan diri bahkan sampai pada tingkat budak, dan menjadi budak sampai mati. Dia puas dihina, diejek, diludahi, karena dianggap miskin, kekurangan, rendah. Itulah kerendahan diri.
Di saat manusia mati-matian menggeber dosanya untuk menjadi seperti Tuhan, Tuhan justru mendemonstrasikan bagaimana Dia merendahkan diri. Pada saat Yesus turun ke bawah, Allah memuliakan Dia/ meninggikan Dia melampaui segala sesuatu, karena itu Dia membawa kita naik ke atas. Orang yang merendahkan diri akan dipermuliakan oleh Tuhan. Orang yang sombong akan dihancurkan oleh Tuhan.
Kita perlu membalikkan posisi kepada jiwa kekristenan yang sesungguhnya. Kristus datang ke dunia untuk menebus kita, penebusan inilah yang membalikkan kita kepada posisi yang seharusnya. Kalau tadinya kita hidup dalam cengkeraman dosa, penuh dengan kebencian, penuh dengan persaingan, penuh dengan kesombongan, maka sekarang Tuhan mengajak kita kembali, hidup mengikuti prinsip Tuhan yaitu penuh dengan cinta kasih, mengasihi orang lain, belajar merendahkan diri, belajar untuk melayani. Jadilah budak yang rendah hati!
Salah satu ekstensi dari keegoisan manusia adalah merusak seluruh alam. Manusia yang sudah terkutuk karena dosa akan menjadi kutukan bagi seluruh isi alam semesta. Gempa bumi dan bencana di mana-mana adalah karena ulah manusia sendiri. Banjir terjadi karena hutan digunduli sampai habis. Efek banjir ini memang tidak langsung terjadi pada saat penggundulan hutan melainkan terjadi setelah bertahun-tahun kemudian. Air tidak terserap ke dalam tanah, akibatnya air tanah menjadi semakin kurang, tanah menjadi kurang subur sehingga hasil tanahpun tidak lagi mencukupi akan kebutuhan pangan, terjadilah kelaparan di mana-mana. Kehancuran ini adalah akibat dosa manusia.
Manusia juga dengan serakahnya menyedot seluruh hasil bumi sehingga lapisan tanah di bawah permukaan bumi menjadi berlubang. Akibatnya terjadi gempa tektonik di mana-mana. Ketika manusia menghancurkan alam, akibatnya temperatur bumi menjadi naik, setiap 3 tahun naik 1 derajat, lapisan es di kutub menjadi banyak yang cair, berarti air di permukaan bumi menjadi naik. Semuanya itu menimbulkan kekacauan ekologi.
Konyolnya adalah manusia menyalahkan Tuhan jika terjadi kecelakaan. Timbullah pertanyaan: kalau ada Tuhan mengapa kita sengsara? Manusia hanya melihat bagian ujungnya dan tidak mau mengakui kausalitas, lalu melempar kesalahan kepada Tuhan. Ketika akan mengerjakan sesuatu manusia tidak bertanya kepada Tuhan, tetapi ketika tiba sengsara maka Tuhan yang disalahkan. Hukum kausalitas menyatakan bahwa apa yang terjadi sebelumnya akan berdampak sekarang, dan hal ini akan terus berputar; efek yang terjadi sekarang harus kita lihat penyebab sebelumnya.
Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk ikut Dia. Ketika kita di titik pertama sudah meninggalkan Tuhan, maka semua resiko harus kita tanggung sendiri. Ketika Tuhan sudah melepaskan/membiarkan kita untuk berjalan sendiri maka kita akan mengalami kehancuran diri, karena pada saat Tuhan memalingkan diri, setanlah yang bermain bersama dengan kita. Kuncinya adalah kita harus hidup didalam Tuhan, kalau tidak kita akan diterkam oleh kehancuran.
Bertobat berarti tidak lagi mengulangi dosa/kesalahan yang telah dilakukan, tetapi tetap harus bayar atas kesalahan yang terdahulu. Contoh: setelah membunuh, lalu bertobat, tetapi tetap harus masuk penjara. Orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh, dengan baik, maka akan mendapatkan upahnya. Orang yang melakukan cara-cara curang akan menuai badai nantinya. Semua pekerjaan yang kita lakukan haruslah dilakukan dengan beres dan rapi sejak dari awal sehingga dapat tetap beres sampai pada akhirnya karena Tuhan beserta. Prinsip kerja sama yang harus kita terapkan adalah: jangan bekerja sama dengan siapapun kecuali dengan orang yang kita anggap sama jahatnya, sama buruknya dengan kita, karena dengan demikian kita akan merundingkan dan memikirkan segala hal yang buruk yang mungkin terjadi sehingga kerja sama tersebut nantinya dapat berlangsung dengan baik.
Janganlah kita terkecoh dengan orang yang memakai label Kristen supaya dipercaya tetapi tidak mau membereskan dan merapikan segala keburukan yang mungkin terjadi. Orang Kristen sejati akan mengerjakan segala hal dengan bertanggung jawab, mau memikirkan segala kemungkinan terburuk yang dapat terjadi sejak dari awal kerja, bukan memakai label “Kristen“ untuk dipercaya oleh orang lain. Orang yang suka menggampangkan segala sesuatu biasanya selalu tidak gampang pada akhirnya, karena itu kita harus berhati-hati dengan orang yang demikian.
Biasanya manusia mudah tergiur dengan uang sehingga tidak lagi berhati-hati ketika bekerja sama dengan orang lain dan akhirnya mengalami kerugian. Manusia yang selalu melihat pada uang di titik awal akan mengalami kehancuran, kalau tidak di dunia ini, nanti di akhirat. Dewa mamon atau uang sangatlah jahat, merupakan perwakilan iblis. Adalah sangat susah untuk dapat keluar dari situ. Hanya kematian dan kebangkitan Kristus yang dapat menerobos semuanya itu. Karena itu, sangatlah penting untuk kita memiliki iman yang beres.
Tuhan ingin kita bertobat, memotong kesalahan yang tidak perlu sehingga kita tidak menumpuk kesalahan di belakang hari. Kesengsaraan yang dihasilkan akibat dosa tidaklah mendapat pahala apapun. Orang Kristen yang sungguh-sungguh juga akan mengalami kesengsaraan hidup. Matius 24:8 merupakan kunci penting untuk memahami hal ini. Semua efek dosa akan menghasilkan kecelakaan/ kesengsaraan yang akan membawa orang berdosa kepada kehancuran. Sebagai orang Kristen yang sungguh-sungguh, kita juga akan mengalami efek dari dosa yang diperbuat orang lain, misalnya: ketika terjadi banjir, orang Kristen juga ikut mengalaminya, tetapi efek ini tidak akan membawa kepada kehancuran.
Kata “penderitaan“ dalam Matius 24:8 berasal dari kata asli yang berarti sakit melahirkan. Sakit melahirkan mempunyai 2 kondisi yang berbeda dengan sakit yang lain yaitu: sakit melahirkan tidaklah untuk waktu yang lama dan akan berhenti pada tingkat tertentu. Anak Tuhan akan mengalami penderitaan hanya sampai pada tingkat tertentu dan tidak akan melampaui batasan yang Tuhan tetapkan, tidak melampaui kekuatan kita karena Tuhan akan menjaga dan menyertai kita. Kondisi kedua, sakit melahirkan akan menghasilkan hidup. Hal ini akan mendatangkan sukacita yang luar biasa karena begitu bernilainya hidup yang dihasilkan sehingga penderitaan sebelumnya menjadi tidak ada apa-apanya. Semua penderitaan yang dialami oleh anak Tuhan akan menghasilkan hidup sedangkan yang dialami oleh orang berdosa akan menghasilkan kebinasaan. Yesus rela menderita, mati diatas kayu salib agar kita dapat memperoleh hidup. Penderitaan yang dialami Kristus adalah layak/bernilai karena menghasilkan hidup bagi kita semua. Betapa bahagianya kalau orang lain juga boleh mendapatkan hidup melalui penderitaan yang kita alami, dengan melihat hidup kita, melalui apa yang kita kerjakan.
Kita melihat dunia yang rusak ini, kita tidak perlu menyalahkan dunia ini tetapi kita juga tidak perlu bermain di dalamnya. Kristus datang ke dunia ini, tidak pernah menyalahkan lingkungan, tapi Dia menjalankan tugasNya. Orang Kristen tidak dapat menjadikan dunia ini menjadi tidak berdosa melainkan tugas orang Kristen adalah mengajak orang berdosa untuk bertobat dan menjadi tidak berdosa. Karena itu kita perlu menjadi teladan di titik pertama.
Renungkanlah:
Apa dan bagaimana respon Anda saat mengalami realita harus menderita karena Kristus (kebenaran)? Sharingkan pada rekan seiman Anda satu anugerah yang Anda pernah alami melalui situasi tersebut.
Apa yang Anda mau lakukan di bulan ini bagi sesama yang belum percaya kepada kristus melalui pemberitaan Injil? Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut dengan sungguh-sungguh.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)