Ringkasan Khotbah : 24 Januari 2010

Jabez : a Plea for Justice

Nats: 1Tawarikh 4:9-10

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Sejak beberapa waktu yang lalu doa Yabes yang dicantum di dalam 1Tawarikh 4:9-10 ini menghebohkan dunia karena doa ini menjadi alat dari orang-orang yang percaya kepada Injil Kemakmuran untuk mendapatkan keyakinan mereka. Secara sepintas jika kita hanya melihat 1Tawarikh 4:10 tanpa mengkaitkannya dengan 1Tawarikh 4:9 maka keyakinan orang-orang tersebut sepintas kelihatan benar. Dalam ayat 10 tersebut tercantum permintaan Yabes akan berkat yang berlimpah-limpah, daerah yang diperluas, tangan Tuhan menyertai dia, dan melindungi dia dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak akan menimpa dia, dan Allah mengabulkan permintaannya itu. Kesimpulan yang diambil adalah: mintalah seperti Yabes maka kamu akan menerimanya.  

Kata “Yabes“ adalah kata yang terkutuk, yang arti hurufiahnya adalah: kesakitan. Jadi dalam ayat 9 dan 10 itu terdapat 5 kata “kesakitan“. Ada apakah dalam doa Yabes? Pembahasan pada hari ini tidak bertujuan untuk membela diri saya atau menghadapi balik berbagai ajaran yang tidak karuan di luar, yang seharusnya mereka sendiri sadar kalau memang nama itu berarti baik mengapa tidak ada orang yang mau memakainya. Ayat 9 merupakan latar belakang dari nama “Yabes“ yaitu karena ibunya merasa kesakitan luar biasa pada waktu melahirkan Yabes. Dalam beberapa budaya memang terdapat ibu-ibu yang tidak menginginkan kelahiran anaknya karena anaknya dianggap sebagai pembawa sial, lalu diberi nama yang sial. Dan nama tersebut betul-betul menjadikan hidup anak itu terkutuk seumur hidup dan penuh dengan kejengkelan. Yabes adalah korban dari suatu kutukan. Sampai abad ke-21 inipun masih ada orang yang seperti itu.  

Di budaya Timur kutukan sangatlah mencengkeram, bahkan terbawa sampai mati. Kutukan adalah seperti meterai yang tertancap dan yang tidak bisa diubah lagi. Orang Kristen yang pikiran/konsep pikirnya masih terkait dengan kutukan-kutukan masa lampau yang dianggap tidak bisa terselesaikan, adalah suatu hal yang bodoh. Kutukan yang sebenarnya tidak ada apa-apanya tetapi karena dianggap sudah mengunci hidup kita maka kita terjebak dalam kebodohan kita sendiri.

Tema dari nats Alkitab kita pada hari ini adalah sebuah permohonan akan keadilan kepada Allah. Karena Yabes merasa bahwa dirinya adalah korban dari suatu ketidakadilan yaitu kutukan dari ibunya yang tidak rela menderita pada waktu melahirkan dia. Yabes merasakan bagaimana memiliki nama yang berarti penyebab kesakitan. Sejak kecil Yabes harus menanggung penderitaan akibat namanya, yang tidak seharusnya ditanggungnya. Dalam doanya, Yabes mencurahkan seluruh isi hatinya melihat ketidakadilan yang dia hadapi, melihat seluruh kehidupan yang sedang dialaminya. Pada hari ini, orang banyak yang menginginkan berkatnya Yabes tapi tidak mau mempunyai nama yang terkutuk seperti Yabes. Tuhan melihat apa yang dikerjakan oleh ibunya Yabes, dan Tuhan adalah Tuhan yang adil, maka Tuhan tidak membiarkan umatNya dikutuk oleh siapapun. Ketika kita kembali kepada Tuhan, maka Dialah satu-satunya pegangan kita di tengah-tengah dunia yang semakin hari semakin tidak karuan, tidak adil dan sulit ditemukan kebenaran yang berdiri tegak.

Dari doa Yabes ini kita bisa melihat Allah kita adalah Allah yang betul-betul berdiri tegak dalam keadilanNya. Allah tidak akan membiarkan ketidakadilan merajalela. Iblis dan dosa tetaplah ada di dunia ini, tetapi bukan berarti Tuhan diam saja dengan semuanya itu. Orang Kristen adalah orang yang kembali kepada Tuhan, maka seharusnya dia sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang adil. Tuhan bekerja dengan begitu dahsyat, menerobos segala kemungkinan yang ada. Orang yang bersandar kepada Tuhan akan dapat melihat betapa adilnya Tuhan. Betapa mengerikannya kalau cerita Yabes dipakai oleh manusia-manusia dalam permainannya yang justru tidak adil. Banyak orang yang berdoa seperti Yabes, tetapi ada yang diberkati dan ada juga yang tidak diberkati oleh Tuhan, maka orang-orang ini akan berteriak bahwa Tuhan tidak adil. Justru dengan memberikan kesaksian kalau berdoa seperti Yabes maka Tuhan akan memberkati, maka akan menunjukkan kepada orang lain bahwa Tuhan adalah Tuhan yang licik, yang tendensius, bukan Tuhan yang adil sebagaimana yang Alkitab nyatakan.

 

Dari cerita diatas kita juga dapat melihat kuasa dari seorang ibu, kutukan ibu sepertinya tidak bisa dilawan oleh siapapun juga. Alkitab menyatakan kepada kita bahwa Tuhan lebih besar dari kutukan seorang ibu sekalipun. Allah itu jauh lebih berdaulat dari kapasitas apapun yang manusia dapat nyatakan. Cerita diatas menyatakan kedaulatan Allah yang melampaui semua kemungkinan manusia. Siapakah yang berotoritas atas hidup kita di dunia ini? Suara-suara manusiakah atau Tuhankah yang berperan dalam hidup kita?

Banyak diantara kita yang hidupnya dipengaruhi oleh omongan orang-orang di sekitar kita. Omongan-omongan itu menyangkut di kepala kita sehingga menjadikan kita seperti omongan itu, karena kita lebih mendengarkan suara manusia daripada suara Tuhan. Kita suka sekali didikte oleh manusia dan tidak suka didikte oleh Tuhan. Ini sifat yang akan membuat seluruh hidup kita menjadi rusak. Alkitab juga menunjukkan bahwa Tuhan bukan sekedar omong, tetapi Dia juga  menjalankan apa yang Dia konfirmasikan.

Alkitab hendak menunjukkan bahwa manusia boleh bicara apapun tetapi Allah adalah jauh berdaulat daripada siapapun juga. Di abad ke-21 ini dunia sedang berusaha menguatkan suara manusia dengan konsep tuhan dari gerakan new-age. Dikatakan dalam gerakan tersebut bahwa manusia mempunyai kekuatan/kuasa suara yang sangat besar. Dalam hipnotis manusia berada dalam kuasa suara manusia. Kalau kita bukan anak Tuhan maka Tuhan akan membiarkan suara menguasai bahkan menghabisi kita. Kalau kita adalah anak Tuhan yang sungguh maka tidak seharusnya kita tunduk pada suara-suara manusia. Pada hari ini banyak orang bahkan anak-anak diajar mantra-mantra, yaitu untuk menguasai manusia dengan memakai suara. Kuasa sejati bukanlah pada suara manusia tetapi kuasa Tuhan dalam FirmanNya! Jangan biarkan hidup kita dipermainkan oleh manusia, oleh suasana berdosa yang dipakai oleh iblis.

Doa Yabes diplintir sedemikian sehingga kelihatan bahwa yang berkuasa adalah yang berdoa/yang meminta. Jadi manusia yang lebih berkuasa daripada Tuhan. Ayat yang seharusnya menyatakan kedaulatan Allah diplintir sehingga menyatakan kedaulatan manusia.

Manusia masih berusaha membenarkan diri dengan mengatakan bahwa dari doa Yabes tersebut terlihat bahwa yang penting adalah Tuhan mengabulkan permintaan kita. Tuhan mengabulkan doa tersebut karena orang yang meminta memakai nama Yabes, maukah kita juga berganti nama menjadi Yabes agar doa kita dikabulkan? Hal yang kedua yang perlu kita pikirkan adalah: manakah yang benar dari 2 pernyataan berikut: Allah memberkati Yabes dengan berlimpah terlebih dahulu barulah Yabes berdoa ataukah Yabes berdoa terlebih dahulu barulah Allah memberkati Yabes?

Dalam ayat 9 terlihat bahwa Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya, bukan lebih mulia dari saudara-saudaranya. Jadi Tuhan yang terlebih dahulu memuliakan Yabes. Tuhanlah yang berinisiatif terlebih dahulu. Beda Theologi Reformed dan Theologi Armenian salah satunya adalah dalam hal inisiatif. Theologi Armenian mengajarkan bahwa manusia yang berinisiatif terlebih dahulu barulah Allah yang berespon. Theologi Reformed mengajarkan bahwa Allah yang berinisiatif terlebih dahulu barulah manusia berespon. Allah memberikan anugerah, lalu manusia meresponinya. Inilah yang disebut dengan ketaatan. Manusia berinisiatif terlebih dahulu jika terhadap dosa. Jadi setiap kali manusia yang bertindak terlebih dahulu maka pastilah dosa dan yang berespon adalah iblis.

Yabes dimuliakan oleh Allah berarti lebih dari diberkati, dan posisinya lebih tinggi daripada saudara-saudaranya. Hal ini juga berarti sudah mencakup 4 aspek selanjutnya yaitu diberkati berlimpah-limpah, daerahnya diperluas, tangan Tuhan menyertai dan melindungi dia dari malapetaka. Jadi sebelum Yabes berdoa, Tuhan sudah terlebih dahulu memberi posisi itu, Tuhan sudah terlebih dahulu bertindak.   

Kalau kita berdoa persis seperti yang Tuhan kehendaki maka doa kita pasti dikabulkan Tuhan. Kalau kita meminta seperti keinginan diri kita sendiri maka doa kita pasti tidak dikabulkan oleh Tuhan. Andaikata, Yabes berdoa minta mati kepada Tuhan karena sudah tidak kuat menderita, maka justru kutukan ibunya yang terjadi. Alkitab hendak menunjukkan kepada kita bahwa bukan kita yang menjadi inisiator. Di tengah-tengah dunia yang terus memotivasi manusia untuk menjadi inisiator, Alkitab justru menunjukkan bahwa ketika kita terus maju dengan kepentingan kita maka kita akan habis. Tuhan mau kita menjawab/ merespon apa yang Tuhan kerjakan persis seperti yang Tuhan kehendaki.

Apa yang sebenarnya sedang diungkap di tengah-tengah sejarah ketika doa Yabes ini dinyatakan? Cerita ini adalah tentang keturunan tetapi tiba-tiba diselipkan tentang doa ini. Beberapa penafsir mengatakan bahwa ini adalah sebuah style dari cara Alkitab mengungkapkan suatu berita yang paling penting di tengah-tengah kehidupan manusia. Orang seringkali lolos akan hal ini karena sejak pertama sudah malas untuk membaca silsilah. Ketika kita terus melihat pemaparan dari suatu silsilah keturunan maka pikiran kita akan sangat humanistis karena tidak ada Tuhan di situ. Maka perlu adanya suatu perhentian di tengah-tengah untuk menyatakan bahwa Tuhan bekerja, dan kalau Tuhan tidak bekerja maka akan celaka. Di tengah-tengah kehidupan yang kelihatan begitu natural dan merupakan urusan antar manusia, Allah menyatakan bahwa Allah ada, Allah hidup, dan Allah bekerja. Seberapakah kita memiliki kesadaran akan keberadaan Allah di tengah-tengah rutinitas kehidupan kita? Di tengah-tengah kemelut hidup manusia, Tuhan hidup dan bertindak!  

Di Alkitab kita tertulis judul “Keturunan Yehuda dari cabang lain“ yang membawahi nats Alkitab kita pada hari ini. Di tengah-tengah kehidupan manusia, kita seringkali memarginalkan kehidupan. Dalam Alkitab, suku Yehuda adalah termasuk suku utama/garis ningrat. Kita seringkali mengatakan bahwa orang yang diberkati adalah orang yang termasuk jalur utama/penting, sedangkan jalur/cabang yang lain tidak diberkati. Alkitab menyatakan kepada kita: Allah berjanji memelihara garis umatNya, maka orang Yehuda adalah orang yang dipelihara oleh Tuhan. Tuhan memelihara keturunan Yehuda dengan begitu ketat, karena Yehuda adalah bangsa yang nantinya akan menurunkan Mesias. Allah memelihara dengan begitu ketat dan dahsyat bukan hanya pada jalur utama tetapi juga cabang-cabangnya. Inilah kekuatan bagi setiap anak-anak Tuhan. Dalam PB disebutkan bahwa Tuhan memelihara setiap orang percaya. Orang Kristen yang sungguh-sungguh akan terus berada dalam tangan Tuhan yang memelihara. Ada 1 jaminan yang pasti akan pemeliharaan Tuhan yang sungguh. Apakah kita akan memberontak terhadap Tuhan ataukah kita benar-benar sadar bahwa di dalam Tuhanlah hidup kita ini ada? Hanya di dalam Tuhanlah hidup kita terpelihara. Hanya di dalam Tuhanlah seluruh hidupku seharusnya/sewajarnya ada. 

Orang Kristen dan orang non Kristen sama-sama mengalami penderitaan, tetapi kalau orang Kristen akan mengalami pemeliharaan dan penyertaan Tuhan. Bukan Tuhan tidak mau menyertai orang non Kristen melainkan orang itu sendiri yang tidak mau disertai oleh Tuhan, dia memberontak terhadap Tuhan. Di tengah-tengah zaman yang semakin sulit ini janganlah kita berontak terhadap Tuhan melainkan baliklah kepada Tuhan. Ini waktunya bagi kita untuk tidak bermain di luar “kandang“ karena musuh terlalu jahat.

Melalui doa Yabes ini Tuhan hendak menunjukkan bahwa Tuhan mau memelihara umatNya, bukan hanya jalur utama tetapi bahkan seluruh cabang-cabangnya. Inilah saatnya untuk kita kembali berdasarkan kebenaran Firman, mengerti seluruh kebenaran dengan baik, tidak asal ambil ayat Alkitab tanpa memandang konteksnya. Tuhan meminta kita untuk kembali kepada inti kebenaran Firman dengan mau belajar secara totalitas, ketaatan kepada kebenaran, dan tidak suka kepada hal yang tidak benar.  

Kunci yang harus dipegang adalah: Allah itu hidup, Allah memelihara umatNya. Itulah yang akan menjadi dasar kehidupan untuk mengerti keadilan Allah, kedaulatan Allah, dan inisiasi Allah. Itulah inti kehidupan kita yang tidak boleh kita lepaskan. Amin.

 

Renungkanlah:

  1. Bagaimana Anda boleh mengerti dan menerima kedaulatan Allah dalam setiap aspek hidup Anda bahkan dalam hal yang sangat sulit sekalipun? Sharingkan peristiwa yang pernah Anda alami baru-baru ini pada rekan Anda dalam saling membangun iman.

  2. Apa yang Anda mau lakukan bagi sesama yang belum percaya kepada Kristus  supaya Anda boleh menjadi saluran berkat bagi mereka dengan memberitakan Injil pada mereka? Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut dengan sungguh-sungguh.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)