|
Ringkasan Khotbah : 17 Januari 2010
Nats: Matius 24:6 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Konteks dari nats Alkitab kita hari ini adalah Matius 24:3-14 yang membahas tentang tanda-tanda akhir zaman. Ada 4 tanda akhir zaman yaitu: 1) muncul banyak Mesias (artinya: yang diurapi dari Tuhan dan berstatus sebagai raja, imam, dan nabi) palsu yang menyesatkan banyak orang, 2) muncul deru-deru perang dan kabar-kabar tentang perang, 3) perseteruan yang keras antar etnis, bangsa melawan bangsa, pemerintah melawan pemerintah, 4) gempa bumi dan kelaparan. 4 tanda ini seringkali dianggap sebagai tanda akhir zaman, tetapi sebenarnya bukan demikian, karena Alkitab mengatakan bahwa semuanya itu memang harus terjadi tetapi belum kesudahannya, artinya: setelah 4 tanda itu terjadi bukan langsung kiamat, kiamatnya masih jauh. Justru tanda dari kiamat adalah Injil diberitakan ke seluruh muka bumi, saat itu barulah tiba kesudahannya. Tanda yang seharusnya diperhatikan dan dikerjakan justru tidak diperhatikan dan dikerjakan. Inilah kesalahan fatal manusia ketika melihat dunia ini, merupakan sesuatu hal yang sangat menipu kita.
Pembahasan pada hari ini adalah pada tanda ke-2. Gejala peperangan adalah gejala latent umat manusia. Dunia berkali-kali meneriakkan tentang damai tetapi sejarah membuktikan bahwa dunia tidak pernah tambah damai. Tambah hari semakin banyak peperangan. Banyak orang melihat peperangan hanya sebagai manusia yang saling beradu dengan memakai senjata untuk saling menghancurkan. Benarkah peperangan hanyalah sekedar bangsa melawan bangsa? Matius 24:6 dipisahkan dengan Matius 24:7 karena memiliki esensi yang sama sekali berbeda.
Salah besar kalau kita melihat peperangan hanyalah dalam konteks 1 bangsa memusuhi bangsa lain. Sepanjang sejarah justru terlihat bahwa peperangan kebanyakan tidak berurusan dengan benci membenci. Ketika bangsa melawan bangsa dalam Matius 24:7, itu disebabkan karena kebencian. Kebencian ini sering dipakai sebagai isu pemicu dari peperangan untuk menutupi isu yang lebih besar yang terjadi di belakang semuanya. Ada kepentingan lain yang melandasi peperangan. Kita harus membedakan perihal Hitler membenci bangsa Yahudi (berkaitan dengan Matius 24:7) dengan Hitler yang menyulut Perang Dunia ke-2. Musolini (diktator Italia) bergabung dengan Hitler karena memiliki kepentingan yang sama, diikuti oleh Jepang yang juga ikut bergabung. Musolini dan Jepang tidak berurusan dengan membenci bangsa Yahudi tetapi mereka sama-sama berkepentingan untuk menjajah seluruh Eropa.
Ada apa sebetulnya di belakang sebuah peperangan? Apa yang mau dicapai oleh sebuah peperangan? Jawabannya adalah: UANG. Peperangan adalah ungkapan keserakahan manusia yang ingin merampok orang lain. Di belakang peperangan adalah ketidakpuasan diri dengan apa yang dimilikinya dan ingin memiliki milik orang lain. Maka peperangan tidak bisa lepas dengan penjarahan. Alkitab pun mencatat hal yang sama. Ketika Tuhan memerintahkan bangsa Israel, yang dipimpin oleh Saul, untuk membersihkan seluruh bangsa Kanaan, Saul merasa sayang untuk menghabisi ternak-ternak jarahannya. Inilah natur manusia yang selalu tidak mau merugi, sehingga selalu ingin mendapatkan hasil dari tindakan yang dilakukan, termasuk tindakan peperangan. Semua peperangan dilakukan untuk menjarah, dan akhirnya hitungannya hanyalah untung dan rugi. Semua pihak yang ikut dalam suatu peperangan, termasuk pasukan perdamaian, ketika perang selesai mereka bagi-bagi jarahan. Jadi di balik peperangan ada kepentingan ekonomis.
Jadi perang adalah eksistensi keserakahan manusia yang sampai di puncaknya sehingga tidak lagi sungkan untuk menghabisi banyak sekali orang demi untuk mendapatkan keuntungan. Ini termasuk perampokan kelas berat. Peperangan juga untuk memutar roda perekonomian. Pada saat terjadi kerusuhan tahun 1998, terjadi kepanikan sehingga banyak orang yang tadinya tidak berniat menjual barang menjadi menjual barang, dan yang semula tidak berniat membeli menjadi berniat membeli barang. Ekonomi menjadi bergerak.
Peperangan menggunakan peralatan-peralatan perang yang juga perlu diputar secara ekonomi. Semua peluru, rudal mempunyai tanggal kadaluarsa. Salah satu cara yang positif adalah memakainya untuk latihan perang. Tetapi kalau untuk latihan melulu adalah hal yang rugi, akan lebih menguntungkan kalau dipakai untuk perang yang sesungguhnya karena akan dapat menghasilkan. Ini adalah kepentingan ekonomis. Negara-negara besar tidak pernah mau berperang di tempatnya sendiri karena takut tempatnya rusak, tetapi dia selalu ikut berperang di tempat lain yang menguntungkan, dia bisa berjualan senjata sekaligus menyedot keuntungan dari negara lain yang kaya tetapi lemah. Betapa jahatnya akibat dari keserakahan manusia!
Anggaran terbesar tahun 2010 untuk negara Indonesia adalah pada sektor pendidikan yang pertama dan sektor pertahanan yang kedua. Di sini terlihat betapa besarnya anggaran yang dipakai suatu negara untuk memutar militernya. Semakin besar negara itu, akan semakin besar pula anggaran untuk pertahanannya. Mau dikemanakan uang tersebut setiap tahunnya supaya negara tidak merugi? Maka anggaran tersebut harus diefektifkan agar dapat menghasilkan. Jadi ketamakan manusia adalah pemicu peperangan.
Peperangan di dunia tidak akan bertambah sedikit/habis, apalagi manusia semakin hari semakin dipacu dengan semangat ketamakan, dengan pikiran ekonomis yang semakin gila. Di tengah dunia yang seperti ini, kita harus waspada. Dalam skala besar ketamakan ini berdampak pada peperangan, sedangkan dalam skala kecil banyak orang yang bisa mengeduk keuntungan dari kondisi terjepitnya orang lain. Kita berhadapan dengan banyak sekali orang yang seperti ini. Diperlukan pertobatan yang sungguh supaya ada sebagian orang yang kembali kepada Tuhan.
Ketika peperangan semakin banyak, kita tidak cukup hanya dengan melihat fakta, tetapi kita perlu menyadari realita fakta. Kita perlu masuk dan mengerti esensi di belakang fakta. Kita bisa terkecoh jika kita hanya tahu yang ada di depan mata tetapi tidak tahu apa di belakangnya, apalagi jika kita tidak bisa melihat apa yang menggejala di depan mata kita. Tuhan memperingatkan kita: pada waktu hal itu terjadi, waspadalah dan janganlah gelisah!
Dengan bertindak waspada, orang bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga dia tidak akan gelisah. Demikian juga, orang yang tidak gelisah akan dapat melihat semuanya dengan lebih jelas sehingga lebih berwaspada. Orang yang panik tidak dapat berwaspada dan lebih banyak yang menjadi korban. Jadi waspada dan tidak panik adalah 2 hal yang harus bersama-sama dijalankan. Mengapa peringatan Tuhan ini sangat penting?
Ketika peperangan terjadi, manusia akan cenderung panik. Menurut Maslow, masalah keamanan adalah merupakan masalah yang penting. Ketika kita berada dalam masalah keamanan, kita merasa takut sengsara, justru pada waktu itu kita akan bertambah sengsara. Dalam dunia seperti ini, justru seharusnya iman kita kepada Tuhan membuat kita dapat dengan tajam melihat semua gejala, tahu apa yang sedang dimainkan oleh dunia, dan mau kemana dunia ini dilarikan. Kalau mata kita bisa dengan tajam melihat semuanya itu, maka kita akan dapat menjaga diri kita, kita tidak akan panik. Kita bisa tahu apa yang boleh dan yang tidak boleh kita lakukan. Dalam situasi yang seperti ini, adalah penting bagi kita untuk mempunyai stabilitas iman. Maka sekarang ini Theologi Reformed adalah suatu keharusan, kita tidak bisa lagi bermain dengan theologi yang mengapung, kita memerlukan ketajaman, kekuatan untuk melihat dan tidak mau dipermainkan, ketajaman untuk kita bisa konsisten dalam mengerti kebenaran. Pembodohan masyarakat yang sudah dilakukan membuat kita menjadi kabur.
Di tengah dunia seperti ini, kita menjadi kehilangan posisi, tidak bisa waspada, tidak memiliki ketajaman untuk mengkritisi karena kita sudah dipermainkan oleh dunia ini. Didalam ketakutan dunia menghadapi masalah, justru selalu melarikan diri dari masalah. Banyak orang, termasuk orang Kristen, berusaha menyangkali realita. Positive thinking menekankan untuk tidak memikirkan hal yang negatif karena hal yang negatif itu tidaklah ada kalau kita tidak memikirkannya, misalnya: kalau kita memikirkan tentang sakit, maka kita akan sakit, sedangkan kalau kita tidak memikirkan tentang sakit, maka sakit tersebut tidaklah ada. Banyak orang yang tertipu dengan pemikiran yang menyangkal realita ini. Ketika kita melarikan diri dari realita, pengharapan kita akan semakin jauh dengan keadaan yang sebenarnya, dan hal ini menjadikan kita semakin tidak dapat waspada, karena kita tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Untuk memiliki ketajaman melihat/mengerti realita dan dapat menerobos realita untuk tahu apa yang ada di belakangnya dibutuhkan bijaksana. Hal itulah yang akan menjadikan kita tenang karena kita tahu realita dan siap untuk menghadapinya. Ketika Alkitab memaparkan tanda-tanda tersebut diatas, walau hal ini tidak berhubungan dengan akhir zaman, kita wajib untuk waspada dan mengerti dengan tepat dalam menghadapi situasi di belakang.
Alkitab juga mengatakan bahwa deru perang dan kabar perang memang harus terjadi, tetapi hal itu belumlah kesudahannya. Kita bukan hanya sekedar tahu fakta tetapi kita juga harus mempunyai sikap dalam menghadapi fakta tersebut. Kalau faktanya benar maka sikap kita juga akan benar, demikian juga sebaliknya. Tetapi hal ini bukan hanya sampai di sini, kalau kita tahu akan fakta dan siap hati menghadapinya maka hal itu hanya dalam tahap prevensi. Alkitab meminta kita melampaui hal itu karena bukan itu tujuan akhirnya.
Ketika melihat dan mendengar tentang perang, orang akan cenderung menyimpulkan terjadinya kiamat. Ketika terjadi kerusuhan tahun 1998, banyak orang Kristen yang gamang karena tidak menyangka kalau orang Kristen bisa menjadi korban. Banyak orang yang panik lalu menjual seluruh barang milik mereka dengan harga sangat murah kemudian lari ke luar negeri. Sesampai di luar negeri, hidup menjadi sulit sehingga suami-istri menjadi berantem dan keluarga menjadi hancur. Semuanya itu terjadi karena kepanikan yang terlalu berlebihan. Pdt. Stephen Tong juga disuruh lari ke luar negeri tetapi beliau berkata bahwa sebagai gembala beliau harus menjaga domba-dombanya, kalaupun mau lari maka domba-dombanya yang harus dilarikan terlebih dahulu. Bukan sekedar tidak melarikan diri, keesokkan harinya beliau memutari Bundaran Semanggi (tempat kerusuhan yang paling kritis dan GRII beribadah di Balai Sarbini yang terletak di daerah itu) dengan memakai mobil. Pada hari Minggunya kebaktian tetap diadakan di sana dan jemaat banyak yang datang karena ada gembalanya, bahkan jemaat dari gereja lain yang gembalanya kabur juga datang ke sana. Pdt. Stephen Tong melihat kerusuhan tersebut sebagai demonstrasi manusia berdosa, tindakan biadab manusia yang begitu berdosa yang dinyatakan keluar. Maka hal ini harusnya menyadarkan kita akan apa yang harus kita lakukan terhadap dunia ini. Yang harus dilakukan adalah: memberitakan Injil. Pada tahun itu, Pdt. Stephen Tong memutuskan untuk mengadakan KKR di Stadion Utama dan pada tahun yang sama juga diadakan KKR di Surabaya. Pdt. Stephen Tong berkata bahwa pada saat seperti itu bukanlah saat untuk kita lari tetapi justru Injil harus diberitakan!
Inilah saat manusia mendemonstrasikan ketamakannya, kejahatannya, dosanya, dan bukanlah saatnya bagi kita untuk lari melainkan saatnya bagi kita untuk memberitakan Injil. Semua gejala itu pasti terjadi dan harus terjadi, tetapi janganlah kita panik dan sibuk dengannya, justru hal itu yang menantang kita karena belum kesudahannya. Tugas kita adalah memberitakan Injil, karena banyak orang di sekeliling kita yang hilang, yang berdosa, yang panik luar biasa, dan yang menjadi korban. Tugas kita memberitakan Injil adalah supaya mereka terselamatkan, mereka balik kepada Tuhan.
Ketika anak-anak kecil di negara kita saat ini dihantam dengan pornografi, seks bebas, ekstasi, dan berbagai macam dosa, kita tidak boleh diam, kita harus mengabarkan Injil kepada anak-anak sekolah, kita harus cepat-cepat mengerjakannya agar mereka tidak dirusak oleh dunia ini. Kita tidak bisa berharap realita akan berubah karena hal tersebut adalah fakta yang harus terjadi. Selama dunia ini semakin tamak, uang dijadikan dasar segala sesuatu, orang dikorbankan demi uang, maka hal-hal seperti itu tidak akan bisa hilang. Tugas kita adalah memberitakan Injil supaya masih ada orang yang dapat ditarik kembali di tengah sekian banyak orang yang terseret dalam dosa dan ditarik ke dalam neraka. Setelah Injil diberitakan ke semua bangsa, selesailah semuanya.
Sebagai orang Kristen, janganlah kita hanya sibuk dengan diri kita sendiri, marilah kita membawa orang lain kembali kepada Tuhan, ajak orang untuk belajar Firman Tuhan. Di tengah-tengah pecaturan theologi yang kacau di tengah dunia ini, hanya Theologi Reformed satu-satunya yang bisa memberi kekuatan untuk bisa mengerti Firman dengan tegar dan tanpa goyang di tengah-tengah permainan humanisme manusia, tidak ada kompromi sama sekali dan betul-betul mau mendirikan kebenaran Firman. Di tengah-tengah kesulitan mari kita beri tahu Tuhan Yesus, balik kepada Dia, dan Dia akan menopang kita dengan kebenaranNya, Dia menarik kita kepada kebenaranNya, sehingga kita bisa hidup lebih stabil. Amin.
Renungkanlah:
Apa dan bagaimana respon Anda dalam melihat realita yang terjadi disekitar Anda dengan benar dan tajam? Sharingkan pada rekan seiman Anda satu hal yang Anda pernah alami yang Tuhan sudah singkapkan bagi Anda.
Apa yang Anda mau lakukan bagi sesama yang belum percaya di minggu ini supaya mereka pun boleh mendapat berkat Allah melalui kesaksian hidup Anda dalam melihat realita-realita yang sedang terjadi? Berdoa dan lakukan hal tersebut yang tulus.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)