|
Ringkasan Khotbah : 27 Desember 2009
Nats: Lukas 2:36-38 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Di penghujung tahun 2009 ini banyak sekali upaya orang untuk menyegarkan sehingga dapat memasuki tahun 2010 dengan penuh pengharapan, punya semangat untuk maju. Kita harus realistis melihat kondisi krisis ekonomi global yang tidak terselesaikan dalam kurun waktu 3 bulan saja. Krisis ini mulai tercium pada bulan Maret 2008 tetapi kemudian meledak sampai seluruh dunia mengetahuinya pada bulan September 2008. Semua orang terkejut tetapi tidak bisa berbuat apa-apa dan kondisi semakin merosot sampai dengan Januari 2009. Orang memasuki tahun 2009 dalam keadaan galau luar biasa. Beberapa orang mencoba memberikan pengharapan dengan mengatakan bahwa kondisi ini tidaklah lama dan dalam waktu 3 atau 4 bulan akan kembali normal. Sepanjang tahun 2009 keadaan ekonomi dikatakan semakin meningkat tetapi PHK banyak terjadi. Banyak orang termasuk orang Kristen yang setiap saat merasa waswas berapa lama lagi dia masih dapat bekerja, jangan-jangan sebentar lagi dia di-PHK. Hidup menjadi putus asa.
Dalam kondisi seperti ini, dunia mengalami tekanan, apakah sebenarnya yang sedang kita alami dan bagaimanakah kita menghadapinya, itulah yang penting. Setiap kali suatu realita terjadi, reaksi dan output terhadap realita tidaklah sama pada semua orang. Tuhan sudah menuntun kita di sepanjang tahun 2009, inilah aspek yang penting yang akan membawa kita pada cara pandang yang baru dan yang tepat. Sudut pandang yang tepat berdasarkan kebenaran Firman adalah sudut pandang Allah. Sudut pandang Allah tidak bersifat relatif melainkan absolut. Dengan sudut pandang Allah kita akan mengerti seluruh setting dari realita dengan tepat sekali.
Ketika menghadapi masalah, orang yang menipu diri akan menganggap realita itu bukanlah masalah dan dia sanggup melewatinya, walaupun dalam hatinya dia sadar bahwa dirinya tidak mampu untuk melewati masalah yang begitu besar/global. Orang yang seperti ini akan mengalami jurang yang sangat besar antara apa yang diimpikan dengan apa yang dihadapi tetapi dia tidak berani mengakui bahwa realita tersebut terlalu berat. Setelah lelah berjuang, orang akan jatuh kepada ekstrim berikutnya yaitu orang akan mencari penyelesaian yang pragmatis (penyelesaian dengan cara cepat). Orang akan melakukan bunuh diri. Pada zaman dulu, bunuh diri adalah tindakan yang memalukan yang menggambarkan sebuah kegagalan, tetapi pada zaman ini bunuh diri menjadi ajang pamer yang memberikan opini kepada seluruh umat manusia akan adanya cara cepat untuk mengatasi masalah. Selama perjalanan hidup kita enak, kita tidak akan berpikir untuk bunuh diri, tetapi ketika terpaan badai kehidupan melanda mulailah terpikir untuk melakukan jalan pintas seperti bunuh diri. Bunuh diri adalah cara pemberontakan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya adalah korban dari dunia dan sudah lelah dengan semuanya ini. Dengan bunuh diri masalah tetap tidak selesai, bahkan bunuh diri semakin banyak. Dunia ini dikatakan oleh Alkitab: semakin materialis, semakin humanis dan semakin rusak.
Nats Alkitab kita pada hari ini berbicara tentang seorang nabi perempuan yang bernama Hana. Alkitab tidak banyak menceritakan tentang nabi ini, hanya 3 ayat tersebut diatas saja. Dari 3 ayat tersebut kita sudah dapat melihat banyak hal karena sudah menggambarkan seluruh keberadaan baik secara lingkungan, personal maupun dunia. Nabi Hana sudah berusia lanjut yaitu 84 tahun. Dia hidup sebagai janda setelah menikah selama 7 tahun. Sepanjang waktu itu, dia tidak keluar dari Bait Allah dan tiap hari berpuasa dan berdoa. Orang ini memiliki kehidupan yang sangat berat. Janda pada zaman itu tidak sama dengan janda pada zaman sekarang dimana wanita lebih “perkasa“ daripada pria. Pada zaman para rasul, hidup para janda ditanggung oleh seluruh kerabatnya. Bahkan sampai dibentuk diaken untuk melayani para janda dan yatim piatu. Hana bukanlah manusia yang menikmati hidup nyaman secara keduniawian dengan kekayaan yang banyak. Orang akan menilai dia sebagai orang yang putus asa dan sengsara. Tetapi Tuhan justru memakai dia untuk menyatakan suatu berita yang tidak dibukakan melalui Simeon.
Hana memiliki kehidupan yang penuh dengan pengharapan dan apa yang menjadi pengharapannya tidaklah sia-sia karena dia bisa melihat pengharapannya itu yaitu Kristus hadir sebagai manusia. Ketika Kristus hadir, dia bersyukur kepada Tuhan dan dia beritakan hal itu kepada setiap orang yang dia temui, semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
Kondisi bangsa Israel pada waktu itu adalah dalam keadaan sangat putus asa, dalam kondisi terjajah. Perang Makabeus (untuk melepaskan diri dari penjajah) sudah menghabiskan uang yang sangat banyak tetapi tidak berdampak. Bangsa Israel harus berhadapan dengan tentara Makedonia kemudian tentara Romawi yang sangat ganas. Akhirnya bangsa Israel menjadi orang yang hidup menipu diri. Hal ini dapat kita lihat pada Yohanes 8:30-33 dimana mereka mengatakan bahwa mereka tidak pernah menjadi hamba siapapun! Mereka tidak bisa menerima realita bahwa mereka berada di bawah jajahan Romawi meskipun secara jelas Pilatus ada di hadapan mereka, mereka ditarik pajak untuk Romawi. Mereka sangat putus asa karena tidak ada lagi jalan keluar untuk lepas dari penjajah. Mereka sangat menantikan Mesias, tetapi mereka tidak pernah mengira bahwa Mesias yang datang tidak seperti yang mereka pikirkan/harapkan. Mereka mengharapkan seorang mesias yang duduk di kursi Herodes atau Kaisar, menggalang tentara dan maju mentaklukkan kekaisaran Romawi.
Dalam konteks kecil: Hana dalam kondisi yang berat, sedangkan dalam konteks besar: orang Israel berada dalam keadaan terjajah. Keduanya dalam kondisi yang sangat berat tetapi justru pada saat itu Hana berteriak kepada mereka untuk melihat Anak itu, bersyukurlah kepada Allah. Apa yang membuat kita bisa bersyukur seperti itu? Cara pandang akan sangat menentukan karena cara pandang yang tepat akan membuat kita bisa melihat dengan tepat dan berespon dengan tepat pula.
Konteks kita di abad ke-21 ini tidaklah jauh berbeda dengan konteks Hana maupun bangsa Israel. Masyarakat tengah berada dalam bentuk lain dari penjajahan secara pemerintahan/militer dan dalam keadaan putus asa. Masyarakat tengah menanti kelepasan dari keadaan ini. Abad inipun menawarkan berbagai versi bentuk kelepasan untuk mengatasi tekanan yang ada. Akankah kita terkungkung oleh berbagai macam opini dunia yang sepintas memberikan jalan keluar yang cepat ataukah kita bisa melihat dari apa yang Hana lihat? Apa yang bisa kita lihat dari apa yang Hana lihat?
Ketika Yesus lahir, seluruh Surga heboh tetapi seluruh dunia tenang tanpa gerakan sedikitpun, tidak ada orang yang mau tahu, semua pintu tertutup bagi Dia. Injil Yohanes menuliskan bahwa Allah pemilik alam semesta datang kepada milik kepunyaanNya tetapi milik kepunyaanNya menolak Dia. Tuhan memakai orang yang dari tempat jauh untuk datang menyembah Dia, dan orang yang paling sederhana (yaitu gembala) untuk datang menyembah Dia. Ketika di atas ada Terang besar yang turun ke dunia, di bawah gelap gulita. Sebuah kontras yang sangat besar. Kita melihat yang mana? Ketika kita melihat dari dunia maka semuanya gelap, sedangkan ketika kita melihat dari Surga maka semuanya terang. Cara melihat kita ke mana? Bisakah kita mempunyai mata yang bisa melihat sangat jauh seperti orang Majus ataukah kita memiliki mata seperti Herodes yang dalam jarak 10-20 km pun tidak bisa melihat dan tidak bisa datang kepada Anak? Apa yang dilihat orang Majus adalah berbeda dengan apa yang dilihat oleh Herodes. Tuhan melarang orang Majus untuk membagikan apa yang dilihat mereka kepada Herodes.
Kalau kita bisa melihat seperti apa yang dilihat oleh Hana maka kita tidak akan dipusingkan oleh gerak dunia ini. Setelah Hana berteriak seperti diatas, dunia tetaplah sama dan tidak berubah. Ketika Anak itu dibawa ke depan Hana maka pandangan dia terhadap dunia ini berubah sama sekali. Sejarah tetap berjalan sama, bahkan sampai Yesus bangkit dan naik ke Surga pun Israel tetap berada di bawah jajahan Romawi, tetapi orang-orang percaya/ anak-anak Tuhan mengalami perombakan dahsyat dalam kehidupannya.
Pdt. Stephen Tong pernah mengajarkan tentang siapakah seorang pemimpin sejati dalam dunia. Seorang pemimpin yang dipikirkan oleh kebanyakan pemimpin adalah pemimpin yang mau semua orang ikut kepada dia yang memimpin. Menurut Pdt. Stephen Tong, pemimpin sejati adalah orang yang bisa membukakan hal yang benar seperti yang Tuhan mau kita lihat, lalu membuat semua orang yang lain melihat itu lalu berjalan di situ. Pemimpin sejati bukanlah orang yang takluk di bawah sejarah/ tradisi/ apa yang sedang terjadi, bukan orang yang pandai menganalisa sejarah/ tahu banyak hal dan mengajarkannya pada semua orang. Pemimpin sejati adalah orang yang mampu melihat kegagalan lalu kembali melihat kepada Tuhan, lalu tahu apa yang Tuhan ingin kerjakan di dalam sejarah, lalu dia dipakai Tuhan untuk membelokkan arah sejarah, mengajak sebagian manusia melihat apa yang Tuhan mau. Bagi orang dunia, kalau pemimpinnya meninggal maka bawahannya menjadi kocar kacir dan hilang karena selama ini hanya tahu ikut si pemimpin. Tapi kalau orang bisa melihat apa yang Tuhan mau kerjakan, lalu berubah arah, ketika pemimpinnya meninggal pun mereka tetap tahu arahnya dan dapat terus berjalan.
Hana mengajak seluruh Israel untuk berubah dan melihat arah yang baru, kepada satu format yang baru. Orang-orang percaya yang melihat hal yang sama akan mengalami perubahan. Apa yang mereka lihat dan bagaimana mereka melihatnya?
1. Pekerjaan Allah yang besar.
Hana berpuasa dan berdoa bukan untuk memaksakan keinginannya tetapi untuk melihat Allah bekerja. Mata manusia melihat semua hal yang terjadi adalah sebagai kebetulan dan tidak dapat melihat bahwa Allah bekerja dan sampai sekarangpun masih bekerja. Tsunami memang gejala alam, tapi bisakah kita melihat di belakang gejala alam itu, mengapa hanya pada tempat tertentu, siapakah yang mengatur semuanya itu? Ketika mata kita tidak bisa melihat apa yang Tuhan kerjakan di tengah dunia ini maka mata kita gelap.
Bagaimana kita bisa melihat seperti Hana? Hana memiliki sifat tekun untuk benar-benar mau bersandar kepada Allah. Dia tahu bahwa dirinya dalam posisi yang sangat tidak berdaya tetapi kondisi tersebut tidaklah menjadikan dia hancur/takluk di bawah situasi. Dia hanya tahu akan dirinya yang lemah tetapi Tuhannya kuat. Dirinya tidak bisa apa-apa tetapi Tuhan bisa segala-galanya.
Semakin manusia merasa hebat dan mampu segala-galanya, Tuhan tidak lagi diperlukan dan semakin fiktif di mata dia. Tuhan terkadang membiarkan kita dalam kondisi putus asa agar kita tahu akan keterbatasan kita dan ada Tuhan yang bisa melakukan segalanya.
Kristus datang adalah suatu rencana yang begitu dahsyat yang dipersiapkan ribuan tahun untuk memberikan kelepasan kepada manusia. Itulah Allah bekerja. Ketika Allah bekerja, Dia tidak pernah gagal. Di tengah-tengah kondisi putus asa/sulit jika kita bisa melihat Allah bekerja maka kita akan merasa sangat bahagia. Kalau kita adalah orang yang dipilih oleh Tuhan menjadi seorang yang berbagian dalam kebenaran Tuhan, melihat Firman Tuhan, itu adalah kekuatan yang besar luar biasa yang tidak bisa didapatkan oleh orang yang bukan anak Tuhan. Orang non Kristen bisa mempunyai kesempatan untuk mengerti Firman Tuhan hanya karena anugerah Tuhan semata. Seberapa jauh Tuhan membukakan kepada kita di setiap aspek untuk melihat apa yang sedang Dia kerjakan, bukan hanya untuk kepentingan personal melainkan juga untuk kepentingan Kerajaan Tuhan?
2. Kasih yang paling besar yang Tuhan berikan kepada manusia dengan menyerahkan AnakNya yang tunggal untuk mati menjadi juru selamat.
Kalau Tuhan sudah memberikan anugerah besar kepada kita, janganlah anugerah tersebut kita makan sendiri. Kalau kita sudah mendapatkan anugerah yang besar, berkat yang besar, seberapa jauh kita sudah menjadi berkat bagi orang lain? Di tengah dunia yang sudah sangat lelah dengan egoisme, dunia membutuhkan berkat dan cinta kasih.
Hana tahu dia sudah beroleh anugerah untuk dapat melihat Yesus lahir sebagai wujud cinta kasih Tuhan kepada manusia. Setelah melihat hal itu, Hana tidak menyimpannya untuk dirinya sendiri melainkan dia berteriak mengabarkannya kepada semua orang yang juga sedang putus asa, yang sedang menantikan kelepasan bagi Yerusalem. Bukan hanya diri kita sendiri yang lelah/ penuh tekanan tetapi di luar kita juga banyak yang mengalaminya. Akankah kita hanya mengasihani diri kita ataukah kita mau menjadi berkat dan menolong orang lain? Banyak orang yang menipu sehingga sulit untuk bisa percaya kepada orang lain, bahkan orang yang menemukan tuhan yang salahpun merasa tuhannya tidak bisa dipercaya, orang tidak tahu lagi harus percaya kepada siapa. Marilah kita belajar menjadi orang yang altruis (tidak egois), mau menjadi berkat, menolong orang lain.
Orang yang hanya mengeruk keuntungan untuk diri sendiri tidak akan bahagia hidupnya, justru semakin hari akan semakin serakah. Orang akan bahagia ketika dia menjadi berkat bagi orang lain. Hidup ini janganlah dipersempit hanya untuk diri sendiri tetapi hendaklah dibuka selebar dan seluas mungkin. Pdt. Stephen Tong mengatakan: kita tidak pernah menjadi minoritas kalau kita menjadi berkat bagi banyak mayoritas. Begitu kita menjadi berkat bagi banyak mayoritas, kita pun menjadi mayoritas. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)