|
Ringkasan Khotbah : 20 Desember 2009
Nats: Matius 24:3-4 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Khotbah hari ini berusaha mencakup 3 hal yaitu: 1) untuk mengajak jemaat yang dibaptis, sidi dan atestasi melihat kembali dasar iman dan kebenaran di dalam Kristus menjadi satu-satunya landasan yang dibutuhkan di tengah-tengah dunia ini. 2) berkaitan dengan natal: Allah Bapa mengutus malaikat untuk datang kepada Maria dan berkata: Maria, janganlah takut, engkau akan dianugerahi, dan engkau akan melahirkan seorang bayi laki-laki, dan engkau harus memberi Dia nama Yesus. Malaikat juga diutus untuk datang kepada Yusuf dan berkata: Yusuf, janganlah ragu mengambil Maria menjadi istrimu, karena dia mengandung seorang bayi laki-laki dari Roh Kudus, engkau harus memberinya nama Yesus yang berarti: juru selamat, karena Dia harus menyelamatkan umatNya dari dosa mereka. 3) melanjutkan eksposisi Injil Matius yang sudah berlangsung sampai hari ini. Jadi saya akan mengajak kita melihat bagaimana hidup iman kita berkaitan dengan natal melalui Matius 24:3-4.
Pada pembahasan yang lalu disampaikan bahwa Matius 24:1-2 merupakan ayat jembatan yang menghubungkan Matius 23 dan Matius 24. Dalam ayat tersebut diceritakan bagaimana murid-murid Tuhan Yesus mengajak Tuhan melihat balik kepada bangunan Bait Allah setelah sebelumnya Tuhan Yesus memberikan kritik yang keras dan prinsip-prinsip hidup kepada para muridNya dengan merefleksi hidup dari orang Farisi dan ahli Taurat (orang yang dianggap saleh/rohani). Pada akhir Matius 23 Tuhan Yesus menangisi/ mengutuki kota Yerusalem. Kota Yerusalem adalah kota pusat religiositas, di situ semua pemimpin agama berkumpul, seharusnya kota ini sangatlah religius tetapi ternyata kota ini sudah membunuh nabi-nabi Tuhan, umat Tuhan yang setia, bahkan Anak Allah yang turun ke tengah dunia. Kota ini begitu religius tetapi juga begitu brengsek. Maka Tuhan berkata bahwa kota ini akan hancur. Pusat dari pusat Yerusalem yaitu Bait Allah, merupakan sebuah bangunan yang sangat indah dan megah, melambangkan tempat Allah berdiam. Para murid Tuhan masih belum mengerti mengapa Yerusalem harus ditangisi sedemikian, apakah mungkin Yerusalem akan menjadi tempat yang sunyi, para murid mengajak Tuhan Yesus melihat balik kepada bangunan Bait Allah sebagai lambang tahta Tuhan. Jawaban Tuhan Yesus sangatlah keras, mengkontraskan dengan apa yang mereka pikirkan, yaitu: bangunan yang megah ini akan rata dengan tanah, bahkan tidak ada satu batu yang melekat pada batu yang lain. Tahun 70 AD semua yang dikatakan Tuhan Yesus terjadi.
Mengapa religiositas seperti itu bisa hancur sedemikian? Konsep ini begitu sulit untuk dimengerti oleh orang-orang pada zaman itu juga pada zaman ini. Ternyata Allah berkata: Allah tidak tinggal di dalam religiositas yang bermodel seperti Yerusalem, seperti Bait Allah, karena mereka tidak mempunyai iman yang beres, tidak mempunyai pengertian religiositas yang sejati. Para murid masih belum puas dengan jawaban Tuhan Yesus seperti diatas, ketika berada di Bukit Zaitun mereka bertanya lagi kepada Tuhan: kapankah semuanya itu akan terjadi dan apakah tanda kesudahan dunia? Tuhan tidak menjawab waktu dan tandanya melainkan: waspadalah, jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Dalam ayat-ayat selanjutnya Tuhan membukakan hal yang selalu disangkal dari zaman dahulu sampai zaman yang akan datang sekalipun yaitu mengenai kemerosotan dunia menuju kehancuran.
Dunia yang sudah berdosa ini akan semakin merosot menuju kehancuran. Tetapi di saat yang sama manusia selalu diberi pengharapan bahwa dunia ini semakin hari semakin maju dan baik. Maka terjadilah jurang/krisis yang semakin hari semakin gawat. Ketika sudah sampai pada krisis yang berat, orang akan bertanya: berapa lama lagi selesai? Dalam PL ada kasus yang mirip dengan kasus ini yang dihadapi oleh nabi Habakuk, dan pertanyaan yang keluar persis sama yaitu: Tuhan, berapa lama lagi? Tuhan, mengapa mataku harus melihat problema seperti ini? Tuhan tidak menjawab waktunya, juga tidak menjawab mengapa manusia harus mengalami seperti itu.
Kalau kita tidak mengerti esensi dari problema yang ada, maka kita akan masuk ke dalam masalah yang semakin pelik, dan kita akan kembali mengulang pertanyaan yang salah yaitu: berapa lama lagi selesai? Inilah gambaran dari keputus asaan manusia. Ketika manusia bertanya: kapan?, itulah titik dia akan hancur. Karena pertanyaan itu tidaklah bisa dijawab, tidak ada jawaban, tidak perlu dijawab, karena pertanyaan tersebut adalah salah. Karena itu Tuhan Yesus menjawab pertanyaan tersebut dengan: waspadalah!
Ketika kita hidup, kita tidak bisa lepas dari semua krisis. Setiap kita akan selalu berada dalam krisis, bahkan dunia ini makin ke belakang akan mengalami krisis yang merosot dengan curam dan berakhir kepada kiamat. Manusia kemudian mencari solusi dengan memberikan pengharapan palsu. Ketika dunia sedang merosot tajam ke bawah, manusia diberi pengharapan ke atas, akibatnya terjadi jurang pemisah yang makin hari makin besar, sampai akhirnya manusia tidak lagi bisa tahan dan masuk ke dalam kondisi putus asa. Dalam kondisi ini manusia menghancurkan dirinya sendiri.
Manusia selalu berusaha menyelesaikan permasalahan dengan menutupinya dengan “topeng“ bukan menyelesaikan akar permasalahan itu sendiri. Manusia ingin melarikan diri dari masalah, maka eskatologi menjadi jawabannya. Di tengah-tengah krisis yang berat tidaklah heran jika film Armagedon atau 2012 menjadi laris. John Calvin mengatakan bahwa kita perlu kembali kepada esensi dari permasalahan, menghadapinya dan berusaha keluar dari jerat masalah.
Manusia tengah menghadapi masalah yang sangat berat, yang tidak mampu diselesaikannya, yang merupakan esensi dari permasalahan itu sendiri. Untuk itulah natal ada! Permasalahan manusia dimulai sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa. Orang harus dikeluarkan dari dosa supaya tidak menjalani hidup yang merosot dengan curam, supaya dapat menjalani hidup yang menaik. Bagaimana manusia bisa keluar dari dosa? Alkitab mengatakan: Dia harus datang, dan untuk itu Dia harus dinamai Yesus, karena Dia yang menyelamatkan manusia dari dosa.
Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, manusia tidak memerlukan bertanya: sampai kapan dan apa tandanya?, karena dengan pertanyaan itu manusia akan tetap berada dalam dosa. Pertanyaan itu hanyalah untuk mencari penyelesaian singkat untuk keluar dari masalah, bukan untuk keluar dari dosa. Ketika kita menghadapi masalah, kita seharusnya bertanya: dosa saya apa, apa yang harus saya bayar untuk dosa tersebut. Kalau selama ini kita sudah berani melawan Tuhan, berjalan menurut kehendak diri, maka sekarang saatnya kita harus bayar harganya. Semua kesengsaraan yang kita hadapi merupakan upah dari dosa yang telah kita lakukan. Dunia tidak mau menghadapinya, dunia mau penyelesaian yang cepat. Ketika kita melakukan penyelesaian yang cepat dengan tanpa memikirkan efeknya, kita sedang menumpuk permasalahan yang lebih berat untuk waktu mendatang, bahkan sampai akhirnya kita tidak bisa menanggungnya lagi.
Ketika kita berbuat dosa, kita seharusnya berdoa kepada Tuhan, memohon pertolongan Tuhan agar kita memiliki kekuatan untuk berbalik. Permasalahan yang ada bukan diselesaikan dengan melihat ke depan/ eskatologis melainkan dengan melihat ke belakang yaitu kepada penciptaan dan kejatuhan ke dalam dosa supaya kita bisa mendapatkan penebusan. Untuk penebusan itulah Kristus datang ke tengah dunia ini.
Problema yang muncul di tengah dunia ini adalah:
1) problema kekinian.
Segala problema dipikirkan untuk waktu sekarang, tidak peduli waktu yang akan datang, yang dipentingkan adalah penyelesaian yang cepat. Manusia seharusnya melihat dari sudut kekekalan, dari sudut Tuhan, dari sudut tatanan global rencana Tuhan. Efek yang mengerikan dari kekinian ini adalah manusia semakin membabi buta menghantam sana sini.
2) manusia menurunkan derajad kehidupan.
Untuk mencapai hidup yang mulia memerlukan perjuangan yang sulit, perlu belajar. Dunia ini semakin mengerikan, semua standard etika diturunkan. Beberapa negara bagian Amerika tengah memperjuangkan agar homoseksual dilegalisir sehingga nantinya gereja yang tidak bersedia memberkati pernikahan pasangan homoseksual pendetanya akan dimasukkan ke dalam penjara. Kalau kita mengikuti cara setan kita akan dilindungi hukum, sedangkan mengikuti cara Tuhan akan dihukum. Inilah kerusakan Amerika! Ketika banyak orang yang cinta Tuhan, yang takut akan Tuhan hidup di Eropa, Eropa mengalami kejayaan. Setelah Eropa meninggalkan Tuhan, dia mengalami kehancuran dan posisinya digantikan oleh Amerika yang pada mulanya dihuni oleh pengungsi-pengungsi Inggris, orang-orang Puritan, orang yang cinta Tuhan. Bahkan dalam lembaran uang Amerika tertulis: In God We Trust (artinya: dalam Allah saja kami percaya). Amerika bertumbuh menjadi negara adijaya. Tetapi sayang, generasi berikutnya adalah generasi atheis, bahkan muncul gerakan yang berusaha untuk membuang tulisan “In God We Trust“. Begitu meninggalkan Tuhan, Amerika semakin hari semakin merosot, puncaknya adalah pada tahun 2008 Amerika hancur total. Itu adalah gambaran sejarah secara makro, bagaimanakah dengan hidup kita? Semakin kita menurunkan derajad hidup kita, kita meninggalkan Tuhan, semakin kita menuju kehancuran.
3) manusia hanya mau yang bersifat fenomenal, yang bersifat sensasional (dapat dirasakan secara indera) Ketika manusia meninggalkan konsep yang sejati/ Firman/ kebenaran dan lari kepada konsep praktika maka manusia sedang menghancurkan dirinya. Orang yang hanya mencari “tanda“ akan terombang-ambing oleh permainan dunia. Orang yang hanya mencari “tanda“ berarti hanya mencari segala sesuatu yang bisa dibaca oleh inderanya. Manusia sedang bermain dengan subyektifitas dan ilusinya sendiri. Semakin manusia bermain dengan subyektifitas dan ilusinya sendiri, manusia akan makin diombang-ambingkan oleh berbagai rupa angin pengajaran yang menyesatkan. Semakin kita berpegang pada prinsip, walau dunia terus bergolak kita akan tetap dapat tersenyum dan tidak dipusingkan oleh gerak dunia. Orang yang hanya melihat pada gejala dunia/alam akan terus dipermainkan oleh gejala dunia/alam. Orang yang dididik dalam kebenaran Firman Tuhan akan mengalami pertumbuhan. Anak-anak yang sejak kecil dididik dalam kebenaran Firman secara ketat akan menjadi anak-anak yang cinta Tuhan, setia ikut Tuhan. Orang yang hidup dalam kualitas iman yang beres akan terus dipelihara oleh Tuhan dan tidak akan mudah dihancurkan oleh dunia.
Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk waspada. Kalau kita bertanya: berapa lama lagi dan tandanya apa berarti kita sedang mengikuti format dunia yang akan membawa kita kepada kehancuran. Kembalilah kepada kekekalan, yang mulia, yang Tuhan mau, secara konseptual berjuang dalam hidup, keluar dari dosa karena penebusan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus, lalu hidup menjauhi dosa, hidup taat kepada Tuhan. Itulah cara satu-satunya mengatasi permasalahan hidup. Semuanya itu tidaklah mudah tetapi harus dilakukan.
Kalau ada orang yang menawarkan penyelesaian yang mudah, cepat, enak dan legal kepada kita, beranikah kita mengatakan: iblis, pergi dari hadapanku! Semua penyelesaian yang ditawarkan itu adalah mutlak dari iblis. Tuhan mengajar kita untuk mengejar kualitas yang tinggi dan tidak ada cara yang gampang untuk mencapai hal itu. Semuanya itu memerlukan perjuangan yang berat, usaha yang sungguh, dan semuanya menuntut pengabdian hidup untuk mau menyatakan kemuliaan Tuhan. Kalau hal ini kita jalankan di tengah dunia yang sedang krisis luar biasa, kita akan tetap stabil, karena kita tidak digoncang oleh permainan dunia ini. Kiranya Tuhan menguatkan kita. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)