|
Ringkasan Khotbah : 13 Desember 2009
Nats: Kolose 1:10a,12 Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo |
Dalam Kolose 1:10a Paulus hendak memberitahukan kepada setiap orang Kristen bahwa sebagai orang percaya yang mengaku bahwa Allah itu ada, Allah melihat segala sesuatu yang kita kerjakan, dan kita mengerjakan segala sesuatu di hadapan Tuhan. Biarlah apa yang dikatakan Paulus dalam ayat ini menjadi sesuatu hal yang terus menerus kita tanyakan, bukan sekedar bagaimana kita hidup di hadapan Tuhan, melainkan juga seberapa jauhkah hidup kita sudah layak di hadapan Tuhan. Seberapa pedulikah kita untuk mempertanyakan tentang kelayakan hidup kita di hadapan Tuhan?
Seringkali dalam kehidupan ini kita memiliki dualisme yang sangat besar. Dalam pekerjaan kita sangatlah mementingkan standard kelayakan. Kita sangat takut mengecewakan konsumen kita. Kita akan sangat menjaga standard kelayakan agar kualitas tidak turun terlalu jauh. Pada saat kita berbicara mengenai standard kelayakan ini, memiliki arti lain yaitu bekerja tidaklah boleh sembarangan, bekerja harus dengan serius. Kelayakan adalah identik dengan suatu keseriusan. Pernahkah kita mempunyai penekanan pada kelayakan yang sama dengan di atas terhadap Tuhan? Ataukah kita mempunyai pemikiran bahwa Tuhan Maha Kasih, penuh pengertian, sehingga kita boleh tidak memperhitungkan tentang kelayakan?
Hidup di hadapan Tuhan juga memiliki standard kelayakan. Dalam PL kita juga menemukan konsep kelayakan ini, seperti: memberikan persembahan/ korban kepada Tuhan ada syarat yang harus dipenuhi yaitu tidak boleh bercacat dan pada usia yang terbaik. Kalaupun si pemberi korban tidak mempunyai uang, bukan berarti dia boleh memberikan lembu/domba yang cacat karena harganya murah, melainkan Tuhan meminta orang yang miskin mempersembahkan burung merpati yang sangat murah harganya, tetapi harus tidak bercacat. Allah kita bukanlah Allah yang menerima apa adanya, Dia adalah Allah yang tahu bagaimana harus memberi dan bagaimana menghargai suatu pemberian, Dia tahu bagaimana menghargai DiriNya sebagai Allah. Kita tidaklah boleh main-main terhadap Allah. Hidup di hadapan Allah haruslah memenuhi suatu standard kelayakan.
Tuhan Yesus berkata: barangsiapa tidak membenci ibunya, ayahnya, suaminya, atau istrinya, dan tidak mengasihi Aku, orang itu tidak layak di hadapan Allah. Ada suatu keseriusan yang harus baik-baik kita perhatikan. Banyak orang Kristen yang tidak peduli dengan hal ini sehingga menjadi orang Kristen bertahun-tahun bahkan puluhan tahunpun tetap saja seperti itu. Mereka tidak tahu bahwa hidup di hadapan Tuhan juga memerlukan suatu perjuangan. Hal rohani bukanlah terjadi secara otomatis, melainkan perlu suatu keseriusan dan perjuangan.
Kolose 1:10b-14 menunjukkan kepada kita kriteria hidup layak di hadapan Tuhan, yaitu: memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik (ayat 10b), bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah (ayat 10c), bisa menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar (ayat 11), mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa (ayat 12). Pertama-tama, Paulus mengatakan bahwa hendaklah perbuatan baikmu itu nyata. Sebagai orang Kristen, hidup kita memberikan kesan apa kepada orang-orang di sekitar kita. Sebagai orang Kristen seharusnya memberikan kesan baik, perbuatan baiknya nyata. Kedua, bertumbuh dalam pengertian Firman Tuhan, semakin dalam dalam pengertian iman Kristen. Ketiga, mempunyai kekuatan, kesetiaan, ketekunan, kesabaran untuk boleh menanggung segala sesuatu yang harus kita tanggung. Keempat, perlu menjadi orang yang bersyukur untuk mau hidup sesuai dengan standard kelayakan Allah.
Kolose 1:12 menyatakan: dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa. Ayat ini menekankan pada mengucap syukur bukan sekedar bersyukur. Bersyukur dapat dilakukan dalam hati, tetapi mengucap syukur berarti syukur yang dinyatakan/ diucapkan/ dipanjatkan. Dalam PB kata “syukur“ mayoritas berkenaan dengan ucapan, ucapan syukur dalam kehidupan sehari-hari.
Orang Timur tidaklah terbiasa untuk memuji orang lain bahkan orang yang kita kasihi. Berapa banyak diantara kita yang sudah hidup berumah tangga pernah mengatakan kepada pasangan kita betapa kita bersyukur memiliki pasangan kita dan kita tidak bisa membayangkan kalau kita tidak bertemu dengan pasangan kita? Bagi orang Timur perasaan itu tidak perlu diucapkan, yang penting sudah dinyatakan dalam perbuatan. Ternyata Alkitab tidaklah berkata demikian.
Point keempat ini sepertinya tidaklah begitu penting jika dibandingkan dengan point-point yang lainnya yang menyangkut perbuatan, akal budi, dan emosional inteligence/ sikap. Paulus mengatakan bahwa kita perlu memiliki perbuatan yang baik, akal budi yang baik, sikap yang baik, juga ucapan yang baik. Jadi ucapan adalah hal yang penting dan tidak sembarangan. Dalam PL khususnya kitab Mazmur kita melihat bagaimana Daud memuji Tuhan, mengagung-agungkan Tuhan, memuliakan Tuhan dengan kalimat-kalimat yang begitu indah. Dalam PB khususnya kitab Wahyu kita juga melihat hal yang sama yaitu orang-orang kudus dan malaikat-malaikat memuji-muji Tuhan. Baik PL maupun PB menyatakan bahwa perbuatan dan mulut adalah 2 hal yang berjalan bersama-sama. Dalam PL pernah dinyatakan bahwa Tuhan muak dengan orang yang ucapan mulutnya baik tetapi perbuatannya buruk. Di lain pihak, Tuhan tetap ingin pujian itu dinyatakan melalui mulut.
Mengapa pujian itu perlu dinyatakan? Apakah karena Tuhan merasa kurang mulia kalau kita tidak memuji Dia? Alkitab menyatakan kepada kita: Allah Bapa memuji Allah Anak (Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan), Allah Anak memuji Allah Bapa (BapaKu lebih besar daripadaKu) dan Allah Roh Kudus (Lebih baik bagi kamu jikalau Aku pergi karena jikalau tidak maka Penolong yang lain itu tidak turun, atau dengan kata lain: adalah lebih baik jika Roh Kudus menyertai kamu), Allah Roh Kudus memuji Allah Anak (pada hari Pentakosta Roh Kudus memimpin Petrus untuk berkhotbah mengajak orang memuliakan Kristus sehingga 3000 orang menjadi percaya kepada Kristus). Jadi meskipun kita tidak memuji Allah, Dia tidaklah kurang kemuliaan. PB terus mendorong orang untuk memuji Allah karena memang sudah seharusnya demikian, karena memang Allah kita layak untuk dipuji. Kita harus belajar untuk memberikan puji-pujian kepada yang layak menerima pujian. Kita selalu mengajar anak kita untuk berterima kasih kepada orang yang telah memberinya sesuatu, bukan karena orang itu akan kekurangan jika anak kita tidak berterima kasih melainkan karena memang sudah seharusnya demikian. Celakalah kita kalau anak kita tidak tahu berterima kasih pada saat dia telah menerima kebaikan!
Yang harus dipertanyakan adalah: mengapa kita sulit untuk memuji Tuhan/ berterima kasih kepada Tuhan? Dalam Kolose 1:12 Paulus menyatakan alasan untuk kita memuji Tuhan yaitu karena Bapa telah melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang, dengan kata lain: Tuhan sudah menyelamatkan kamu, sudah memindahkan kamu dari kerajaan kegelapan kepada kerajaan terang. Karena Tuhan sudah menganugerahkan keselamatan kepada kita, maka seharusnya membuat kita tidak pernah tidak punya alasan untuk memuji Tuhan. Itulah yang dinamakan natal, yaitu Allah pencipta langit dan bumi turun ke dalam dunia bukan untuk kunjungan sesaat, Dia menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inilah anugerah besar yang seharusnya tidak membuat kita kehabisan alasan untuk bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan.
Kita yang sejak kecil sudah menjadi Kristen, sudah mendengar tentang natal dan paskah berkali-kali, sehingga kita tidak lagi merasakan anugerah besar ini jika dibandingkan dengan orang yang sebelum menjadi Kristen adalah orang yang rusak/hancur hidupnya, orang ini akan merasakan kasih karunia yang sangat besar jika dia boleh diselamatkan. Anak-anak tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada orang tua karena sudah disekolahkan, tetapi mereka berterima kasih ketika dibelikan hadiah, padahal uang sekolah mulai dari TK sampai universitas adalah lebih mahal daripada hadiah. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak pernah berpikir bahwa uang sekolah adalah anugerah yang besar dan menerimanya sebagai sesuatu yang biasa. Seharusnya orang Kristen tidak boleh merasa biasa kalau Tuhan mati bagi kita, Tuhan menyelamatkan kita, juga atas pemeliharaan Tuhan.
Jikalau kita menganggap peristiwa yang tidak enak yang menimpa kita dapat dijadikan alasan untuk tidak memuji Tuhan, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup orang percaya di dunia tidak akan mengalami kesusahan, bahkan Tuhan sudah memimpin kita dalam banyak hal yang lain dan memberikan kepada kita banyak sekali. Kita cenderung peka sekali untuk melihat hal yang buruk. Inilah dualisme yang menyedihkan dari diri manusia. Kita cenderung mudah percaya terhadap janji-janji yang indah dari dunia ini. Orang akan ikut MLM karena melihat ada 1 orang yang tidak dikenalnya berhasil ketika ikut MLM. Dalam hal ikut Tuhan justru kebalikannya, orang tidak mau ikut Tuhan lagi karena kecewa dengan 1 orang saja dalam gereja dan tidak mempedulikan beberapa orang yang memperhatikan dirinya. Banyak sekali penyertaan Tuhan dalam kehidupan kita yang seringkali tidak kita pedulikan.
Ada 1 saudara seiman kita yang bernama Even menderita kanker. Kita mungkin bertanya: mengapa orang yang setia, cinta Tuhan, mengalami penyakit yang demikian parah? Mengapa Tuhan izinkan dia meninggal dunia di usia yang masih sangat muda? Di manakah kasih Tuhan? Di manakah penyertaan Tuhan? Banyak hal yang baik pada diri Even, sebagai guru sekolah minggu dia bisa dengan sabar menangani anak yang nakal sekalipun, dalam pekerjaannya di Momentum dia rela mengurangi waktu cutinya untuk mengganti waktu yang dihabiskannya ketika pelayanan dalam Sekolah Alkitab Liburan atau untuk dekorasi di gereja. Kalau kita melihat dia lebih dalam, kita akan melihat penyertaan Tuhan dengan jelas. Dia tetap dapat memberikan persembahan kepada Tuhan dalam jumlah yang besar walaupun dia dalam keadaan yang sangat memerlukan banyak uang untuk pengobatannya. Apakah dia mempersembahkan semua uangnya karena dia tahu hidupnya sudah tidak lama lagi? Pada hari dia meninggal barulah semuanya itu terjawab. Kakak Even menyatakan keheranannya atas selalu tercukupkannya uang untuk kemoterapi dari Even, dan ternyata uang persembahan Even yang besar itu adalah persembahan persepuluhannya. Ada orang yang pernah berkata kepada saya bahwa untuk biaya pengobatan orang yang kena penyakit kanker dengan jual pabrik pun bisa kurang. Even bukanlah orang yang mampu tetapi dia selalu berkecukupan ketika dia memerlukan, bahkan sampai titik terakhirnya.
Kita seringkali berteriak kepada Tuhan ketika mengalami sedikit saja permasalahan dalam hidup, kita tidak bisa melihat betapa banyaknya kebaikan Tuhan, penyertaan Tuhan yang sudah kita alami. Jadi kita tidak seharusnya bertanya: mengapa Tuhan harus dipuji dengan mulut kita, bukankah kita sudah berbuat baik, memiliki sikap yang baik, sudah belajar Firman Tuhan? Pertanyaan tersebut adalah salah, pertanyaan yang benar adalah: mengapa kita sulit memuji Tuhan? Apakah kita sudah tidak lagi melihat betapa besarnya, betapa agungnya apa yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidup kita?
Dalam Kolose dicantumkan 4 dosa yang serius sekali yaitu: dosa murtad, dosa undur (yang pertama menjadi yang terakhir), dosa karena tidak bertumbuh dalam pengertian kebenaran (terus seperti bayi dalam pengertian kebenaran), dosa bersungut-sungut. Tuhan tidak berkenan kepada orang yang bersungut-sungut/ mengomel/ tidak pernah puas. Adalah sesuatu yang salah jika orang lain melihat kita sebagai orang Kristen yang terus menerus menggerutu/ kecewa/ tidak pernah puas. Hidup yang seperti itu tidak dapat memberikan kesaksian hidup yang indah karena orang lain tidak dapat melihat kasih karunia Allah dinyatakan secara berlimpah dalam hidup ini. Kalau kita ingin hidup berkenan di hadapan Tuhan, kita perlu belajar untuk senantiasa mensyukuri, menyatakan ucapan syukur kita di hadapan Tuhan.
Adalah sesuatu yang menyedihkan jika seseorang datang beribadah dengan wajah yang serius dan pulang beribadah tetap berwajah serius, tidak ada sukacita, tidak ada puji-pujian yang dinaikkan di hadapan Tuhan. Seharusnya kita datang ke gereja adalah untuk bertemu dengan Tuhan, untuk memuji Tuhan karena Dia memang layak untuk dipuji, layak untuk disembah, layak untuk dipermuliakan. Ibadah yang benar seharusnya adalah indah, karena orang yang menyanyi tahu mengapa harus menyanyi, tahu apa artinya kasih Tuhan, tahu apa artinya penyertaan Tuhan. Pada hari ini, ibadah yang benar identik dengan membosankan. Kita sebagai orang Kristen harus belajar memuji Tuhan setiap hari Minggu, bahkan juga di setiap hari, belajar untuk melihat penyertaan Tuhan, dan bukan hanya peka melihat sesuatu yang kurang/ buruk, karena Allah kita adalah Allah yang layak untuk dipuji! Amin ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)