Ringkasan Khotbah : 6 Desember 2009

Melihat Kemuliaan Tuhan

Nats: Yohanes 1:14

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Yohanes 1:14 merupakan ayat paling penting tentang doktrin inkarnasi. Perenungan kita atas ayat ini akan kita mulai dengan memfokuskan pada frasa “kita telah melihat kemuliaan-Nya“.

Betapa penting bagi kita untuk melihat kemuliaan Kristus. Jika kita gagal melihat kemuliaan Kristus kita juga akan gagal melihat kemuliaan Allah, sebab hanya melalui Kristuslah kita dapat mengenal Allah Bapa. Dengan melihat kemuliaan Kristuslah kita dapat melihat kemuliaan Allah yang sejati, yang didalamnya kita memperoleh agama yang sejati (Matius 11:27).

Ada suatu paradoks dalam pengenalan manusia akan Allah. Di satu sisi dikatakan manusia mengenal Allah; tetapi di sisi lain dikatakan tidak ada yang mengenal Allah. Bagaimana men­jelas­kan hal ini? Allah memberikan wahyu umum sehingga setiap orang dapat mengetahui bahwa Allah ada. Pengetahuan ini membuat manusia tidak dapat berdalih bahwa ia tidak mengenal Allah pada saat ia diadili karena tidak bersyukur dan beribadah kepada Allah sejati. Tetapi Allah juga memberikan wahyu tentang diri-Nya yang bersifat menyelamatkan dalam PL dan PB, khu­sus­nya dalam diri Firman Hidup (Yesus Kristus). Melalui Yesus Kristus kita mengenal Bapa, dan sekaligus diberi karunia untuk dipulihkan relasi kita dengan-Nya. Tuhan Yesus berkata: “Inilah hidup yang kekal itu yaitu bahwa mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.“

Melihat kemuliaan Yesus Kristus adalah hal yang tidak dapat diberikan oleh agama-agama. Agama-agama tidak akan memberikan kepada kita pengenalan yang spesifik tentang Allah yang sejati yang hanya ditemukan dalam Yesus Kristus. Agama-agama hanyalah memberikan kepada kita rumusan-rumusan formal tentang Allah secara abstrak. Dalam agama-agama bisa didapati formulasi-formulasi doktrin yang merupakan cetusan hati manusia mengenai konsep Allah yang seagung mungkin yang dapat mereka pikirkan, tetapi semuanya itu tidak membawa manusia kepada pengenalan yang menyelamatkan. Agama tidak akan membawa manusia kepada pengenalan Allah yang sejati bahkan agama dapat menjadi penghalang bagi manusia untuk mengenal Allah yang sejati. Ketika seseorang sudah mengadopsi konsep yang salah dan memu­tlakkannya maka kebenaran yang datang kepadanya akan dianggap sebagai musuh, dan makin dia memutlakkan konsep yang salah makin dia menghancurkan kebenaran yang sejati. Agama natural tidak akan membawa kita untuk mengenal Allah Tritunggal, tidak dapat mengenalkan kepada kita tentang Allah yang datang untuk menyelamatkan kita.

Hanya melalui Yesus Kristus kita dapat mengenal Allah sejati, bukan hanya secara kognitif tetapi dibawa kepada suatu relasi yang baru, berupa pengampunan dosa, relasi yang dipulihkan sebagai anak sehingga kita boleh memanggil Allah sebagai Bapa kita. Hidup kekal itu diperoleh di dalam pengenalan akan Allah sejati, yang didapat di dalam pengenalan akan Anak (Yoh. 17:3).

Melihat kemuliaan Yesus Kristus akan memberikan manfaat rohani, itulah sebabnya Tuhan mau kita melihat kemuliaan-Nya. Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya: pulanglah dan ceri­ta­kanlah kepada bapa segala kemuliaanku di negeri Mesir yang telah kamu lihat, lalu segera­lah bawa bapa kepadaku. Perkataan Yusuf ini bukan untuk menyombongkan diri. Pada waktu itu Yakub sudah tua, dia merasa tinggal di Kanaan itulah kehendak Tuhan, dan di sanalah dia akan dikuburkan, mengapa harus pindah ke Mesir yang jauh? Maka Yusuf mau bapanya tahu kemu­lia­annya di Mesir sebagai jaminan bagi Yakub bahwa kepergiaannya ke Mesir itu tidak salah. Di Mesir dia bukan saja akan bertemu dengan Yusuf tetapi akan dipeliharanya, dan ada janji Tuhan bahwa nanti ia akan dibawa kembali ke Kanaan. Jadi menceritakan segala kemuliaannya kepada bapanya bukanlah untuk kepentingan Yusuf, tetapi untuk menyakinkan bapaknya.

Tuhan mau kita melihat kemuliaan-Nya bagi manfaat kita, supaya kita semakin menghargai iman kita kepada Allah. Seorang anak yang tidak melihat nilai keagungan bapanya akan dipe­nuhi dengan perasaan kecewa kepada bapanya. Karena itu, orang tua perlu membukakan dan men­didik anak­nya untuk melihat nilai-nilai dalam diri orangtuanya, misalnya pengabdian orang­tuanya sebagai rohaniwan, sehingga timbul kebanggaan dan hormat anak tersebut kepada orang­tuanya. Banyak orang yang tidak menghargai Yesus Kristus karena tidak melihat kemu­lia­an-Nya. Tuhan ingin kita melihat kemuliaan-Nya agar kita dapat menghargai Dia, menghormati Dia, mengagumi dan mencintai Dia, dan tidak mengkhianati Dia.

Orang Kristen di masa gereja awal begitu menghargai Yesus Kristus dan beriman teguh. Me­reka rela menderita dan mati demi Kristus. Mereka begitu berani menghadapi kematian yang mengerikan ketika di­ger­gaji, dibakar, sebab mereka memandang kemuliaan Yesus. Dalam gereja masa kini, Gereja lebih menghargai dunia, dan kurang menghargai Yesus Kristus, sebab mereka tidak lagi melihat kemuliaan Yesus, sehingga mereka terus-menerus mengompromikan iman dan mengkhianati Yesus Kristus. Sudahkah kita melihat kemuliaan Kristus ataukah kemulia­an-Nya semakin redup dalam gereja? Biarlah mata kita terus meman­dang kepada Dia dan jiwa kita tidak menjadi lesu, sebaliknya iman kita semakin kuat dalam mengikuti Dia.

Di musim natal ini kiranya khotbah-khotbah dan drama-drama natal yang disampaikan menolong membersihkan mata rohani kita supaya dapat melihat kemuliaan Yesus Kristus, sehingga jiwa kita dipenuhi dengan kekaguman dan kehangatan kasih Kristus.

Kemuliaan apakah yang harus kita lihat dalam diri Yesus Kristus?

1. Melihat kemuliaan Kristus dalam inkarnasi-Nya (dalam perendahan diri-Nya)

Inkarnasi adalah peristiwa yang paling mulia yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Neil Amstrong berkata, “Hal yang paling ajaib bukanlah ketika manusia berjalan di bulan tetapi ketika Anak Allah inkarnasi menjadi manusia, berjalan di tengah-tengah kita untuk menjadi Juru­selamat kita.“ Firman kekal, yaitu Pribadi kedua Allah Tritunggal, yang melalui-Nya segala sesuatu diciptakan, yang adalah sumber hidup dan terang manusia, pada suatu saat datang ke tengah dunia. Firman menjadi manusia yang riil, yang terdiri dari darah dan daging, dikandung oleh seorang perawan, dilahirkan sebagai seorang laki-laki di kandang hewan Betlehem, bertumbuh di Nazaret. Setelah dewasa melayani, mengajar, dan menolong orang-orang, memberitakan Ke­rajaan Allah, dimusuhi, ditangkap, disiksa, dan disalibkan di Golgota pada pemerintahan Pon­tius Pilatus. Musuh-musuh-Nya menutup mata atas setiap tanda ajaib yang menyertai-Nya. Mereka begitu bernafsu menginginkan kebinasaan-Nya. Mereka berpikir telah berhasil membungkam Yesus dengan penyaliban-Nya.

Tetapi murid-murid-Nya melihat sesuatu yang berbeda dalam diri Yesus Kristus, ada misteri bukan hanya pada karya ajaib-Nya tetapi juga dalam pribadi-Nya. Yesus adalah pribadi dengan otoritas ilahi. Ia berkata-kata dengan otoritas Illahi, menuntut orang untuk memperlakukan Dia seperti kepada Allah. Dia memberikan jaminan dan janji yang hanya dapat diberikan oleh Allah. Dia mengklaim sesuatu yang lebih daripada yang dapat dilakukan seorang nabi. Siapakah Dia? Bagaimanakah kita harus memperlakukan Dia?

Yesus adalah pribadi yang unik, yang berbeda dengan semua manusia yang lain, Dia lebih daripada seorang nabi atau raja Israel. Dalam diri-Nya ada sifat keillahian. Nubuat-nubuat PL dan meterai dari Allah yang menyertainya dan yang membangkitkan-Nya dari kematian dan Roh Kudus yang dikaruniakan dalam diri para murid, akhirnya menyadarkan mereka bahwa Yesus Kristus adalah Allah dan sekaligus manusia. Dia berasal dari sorga turun ke dunia. Dia bukan baru ada sejak lahir di Betlehem, melainkan sudah ada sejak purbakala. Para murid harus dengan kagum mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia. Ini adalah misteri yang tidak mungkin akan mereka ciptakan, karena mereka yang telah terbentuk dalam mono­theisme yang ketat begitu sulit menerima­nya. Tetapi mereka tidak bisa menolak kebenaran ini ketika datang kepada mereka. Dengan anugerah Tuhan, mereka menerimanya, maka mereka menyaksikan bahwa Yesus adalah sekaligus Allah dan manusia. Yohanes yang menerima inspirasi Roh Kudus menyatakan bahwa Firman kekal itu telah menjadi manusia (Yohanes 1:14). Itulah rahasia ibadah kita, rahasia iman kita.

Bagaimana Tuhan bisa disalibkan? Bagaimana Anak Allah bisa mengalir darah dan mati? Orang tidak ber­iman akan melihat kepercayaan Kristen ini sebagai keanehan, karena mem­per­cayai hal yang berkontradiksi dalam satu pribadi. Tantangan mereka membuat orang Kristen yang tidak terdidik dalam iman merasa malu bahkan goyah imannya. Sebab mereka tidak memahami kemuliaan inkarnasi Kristus, yang walaupun adalah Allah sejati tetapi rela meng­ambil natur manusia dalam diri-Nya dan walaupun Ia memiliki kuasa ilahi tetapi menyerahkan diri-Nya seperti domba kelu yang dibawa ke pembantaian, demi keselamatan kita. Kristus yang berkuasa rela menjadi lemah, Kristus yang mulia rela dihina, Kristus yang menjadi sumber hidup manusia rela hidup-Nya diambil dari-Nya, semua itu Ia lakukan bukan karena kesalehan-Nya, tetapi Ia sedang memikul hukuman atas dosa kita. Dengan pengertian inilah kita terjadi suatu revolusi dalam cara pikir dan nilai hidup Kristen. Salib lambang kehinaan itu kemudian menjadi lambang mulia. Pada natal ini biarlah mata kita yang rabun, jiwa kita yang bengkok dipulihkan untuk dapat memandang cahaya kemuliaan dari Firman yang berinkarnasi. Melalui teladan perendahan diri Anak Allah ini juga maka kerendahan hati menjadi nilai kebajikan yang sangat dijunjung.

2. Melihat kemuliaan Kristus dalam ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa demi keselamatan kita.

Sebutan Anak Tunggal Bapa berbicara mengenai relasi intim Kristus dengan Allah Bapa dan menekankan ketaatan mutlak Anak kepada Bapa dalam masa inkarnasi-Nya. Sang Anak Tunggal Bapa datang untuk melaksanakan kehendak Bapa-Nya. Yesus berkata, makanan-Ku ialah melaku­kan kehendak Bapa-Ku (Yoh. 4:43). Filipi 2:8 mengatakan: Setelah inkarnasi menjadi manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Seluruh hidupnya adalah suatu ketaatan kepada kehendak Bapa, dan di atas kayu salib Ia memenuhinya secara tuntas, sehingga Ia berkata: Tetelestai! (artinya: sudah selesai). Dia menggenapkan seluruh kehendak Bapa untuk keselamatan manusia. Dalam hidup-Nya tidak ada satupun kepentingan untuk diri-Nya sendiri. Dalam doa Imam Besar Agung Yesus berkata: Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang telah Engkau berikan kepadaKu untuk melakukannya. Oleh karena itu ya Bapa, permuliakanlah Aku dengan kemuliaan yang te­lah ada pada diri-Ku sendiri yaitu kemuliaan yang Aku miliki di hadiratMu.“ Dia datang ke dunia, meninggalkan kemuliaan-Nya, untuk menuntaskan rencana Allah, Dia telah memper­mulia­kan Allah. Inilah tujuan yang tertinggi, lebih daripada menyelamatkan kita.

Agama-agama gagal membawa manusia kembali kepada kemuliaan Allah, Yesus Kristus datang supaya kemuliaan Allah dinyatakan. Kedatangan-Nya mewujudkan kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi. Walaupun Ia adalah pencipta, tetapi Ia rela menjadi manusia dan melalui ketaatan-Nya yang sempurna membuat memulihkan kita kembali dalam tujuan Allah, yaitu supaya kita memuliakan Allah, setelah itu baru ada damai sejahtera bagi kita. Kristus meng­genapkan apa yang tidak dapat dilakukan oleh agama. Kita melihat kemuliaan Kristus dalam ke­taatan-Nya yang penuh pengorbanan untuk mengembalikan apa yang dirusak oleh dosa, me­ngem­balikan kemuliaan Allah dan kita dibawa untuk memuliakan Allah. Agama bukanlah untuk pemuasan egoisme.

3. Melihat kemuliaan Kristus yang penuh kasih karunia dan kemurahan demi keselamatan kita

Tuhan Yesus berkata: Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh. 10:10). Tuhan Yesus berkata: Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.“ (Mrk. 10:45). Tanpa penebusan Kristus, tidak ada seorang pun yang kembali kepada Bapa. Yesus Kristus datang ke dunia sebagai manusia yang bisa mati dan bangkit kembali, yang melalui karya penebusan-Nya Ia menyelamatkan kita. Setelah kembali ke Surga Ia terus menyertai kita, mengoreksi kita, menuntun kita, membawa kita masuk dalam hidup kelimpahan. Ia menyela­mat­kan kita dengan nyawa-Nya yang sangat mahal. Ia ingin hidup yang mulia dihasilkan dalam diri kita. Ia rela menjadi manusia supaya melalui kematian-Nya Ia mengalahkan kuasa dosa dan maut, dan membebaskan kita dari Iblis dan kutuk dosa dan maut. Ia telah mengalami penderi­taan, pencobaan, dengan demikian Ia dapat menjadi Imam Besar Agung kita yang mengerti se­tiap pergumulan kita. Alkitab banyak berbicara tentang apa yang dikerjakan Kristus demi kita. Betapa besar kasih-Nya bagi kita! Kasih karunia demi kasih karunia yang tak habis-habisnya, dengan penuh kemurahan, bagi orang yang tidak pantas, dicurahkan secara berlimpah.

Orang akan sangat berterima kasih pada seorang dokter yang telah menyembuhkannya, bahkan ada yang memberikan pemberian berharga sebagai ungkapan balas budi kepada dok­ter tersebut. Bagaimana sikap kita kepada Tabib Agung yang sudah mengorbankan seluruh diri-Nya untuk kita? Dia sudah menyembuhkan kita, bahkan terus memelihara kita, memperkaya kita, membimbing kita, dan  dijadikan sebagai biji mata-Nya sendiri. Kita telah melihat kemulia­an-Nya dalam kasih pengorbanan-Nya bagi keselamatan kita. Biarlah kita juga merespons kasih-Nya yang mulia itu dengan respons kasih dan ketaatan kepada-Nya. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)