Ringkasan Khotbah : 29 November 2009

Pertumbuhan Iman dalam (H)Ajaran Tuhan

Nats: Yohanes 17:15, Ibrani 12:5-6

Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan

 

Dr. Dobson dalam sebuah bukunya menceritakan tentang dirinya sendiri pada waktu membawa anaknya ke meja operasi. Anak tersebut sangatlah ketakutan tetapi dia tidak bisa mengelak. Ketika berada di dalam ruang operasi, anak tersebut melihat dokter yang akan menangani, seluruh peralatan operasi yang ada, dan dia semakin ketakutan. Anak tersebut meronta-ronta sehingga beberapa perawat mulai kewalahan. Kemudian para tenaga medis tersebut meminta Dr. Dobson untuk memegang anaknya. Sembari memegang tangan anaknya, Dr. Dobson melihat pandangan mata anaknya dengan air mata berlinang dan anaknya berkata dengan lirih: Papa, mengapa?

Ketika kita membaca Yohanes 17:15 kita juga akan mengatakan kalimat yang sama kepada Allah. Tuhan Yesus berkata bahwa dunia membenci umatNya. Dalam kondisi seperti ini, kita tentunya menginginkan Allah menjaga, melindungi, meluputkan dan menolong. Tetapi yang kita jumpai adalah kalimat Tuhan Yesus yang dapat membawa kita kepada kekecewaan dan sakit hati yaitu: Aku berdoa kepadaMu Bapa supaya Engkau tidak mengambil mereka dari dunia tetapi supaya Engkau memelihara mereka. Kita menginginkan tangan Allah yang besar itu akan melindungi kita. Tetapi mengapa Tuhan Yesus berdoa demikian?

Pemeliharaan Tuhan itu seperti apakah? Selama ini pemahaman kita akan pemeliharaan Tuhan hanya berada di negeri antah berantah sana. Kita mencoba untuk menggapai tetapi kita tidak pernah dapat menemukannya. Fakta ini memang harus dihadapi. Janganlah menggunakan mekanisme pertahanan diri yang tidak perlu yaitu dengan memproyeksikan, memalsukan, mendistorsikan, atau yang lain seperti yang banyak ditawarkan oleh berbagai macam teori psikologi pada saat ini. Terlalu banyak yang kita mengerti ternyata konflik dengan apa yang kita jumpai. Apa yang kita harapkan sebagai suatu kebenaran ternyata kita jumpai sebagai sebuah ketidakbenaran yang Tuhan kerjakan. Saya percaya bahwa dalam kondisi yang demikian orang Kristen tidak akan kehilangan iman. Buktinya: dalam kondisi apapun masih sempat ingat Tuhan, walaupun mungkin dengan keberatan yang sangat. Problemnya adalah banyak sekali orang Kristen, bahkan orang yang sangat cinta Tuhan, tidak tahu dimana harus menempatkan imannya. Dalam kondisi terjepit, kita tahu Tuhan akan pelihara, Tuhan Maha Kuasa, Tuhan akan jaga, kita tahu semuanya itu. Hal ini berarti kita tidak kehilangan iman, hanya saja kita tidak tahu bagaimana seharusnya menempatkan iman kita. Kita tahu bahwa kesulitan, penderitaan, kepahitan akan membuktikan kemurnian iman kita, kita tahu Tuhan memakai itu semua untuk membersihkan dan memisahkan, kita tahu bahwa hal itu terjadi supaya kita lebih banyak berbuah, kita tahu bahwa semuanya itu terjadi karena Tuhan hendak mengajarkan sesuatu tentang diriNya kepada kita, supaya kita tidak terjatuh ke dalam penyembahan berhala, kita tahu bahwa semuanya itu terjadi karena Tuhan mau mendewasakan kita. Tetapi 1 hal yang kita tidak tahu adalah bagaimana kita harus menaruh kebenaran yang kita terima.

Ibrani 12 mengatakan bahwa Tuhan menghajar. Kalau kita mencoba mengkaitkan 2 nats Alkitab kita pada hari ini, Tuhan membiarkan tetapi Tuhan memelihara. Mata kita tidak bisa melihat dengan jelas pemeliharaan Tuhan sampai kita menjadi orang yang mengerti tetapi lambat untuk memahami, mengerti dan mau terima tetapi dalam hati menolak. Bukankah kita tidak akan berani mengatakan: Tuhan jahat atau Tuhan kejam. Tetapi Alkitab mengajar kita bahwa Tuhan menghajar orang yang diakuiNya sebagai anakNya dan mungkin sekali ini adalah didikan Tuhan untuk mengajar seseorang menempatkan iman di tempat yang seharusnya. Adalah terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa Tuhan menghajar sampai mau mati, walaupun tidak menutup kemungkinan hal itu terjadi. Sangat mungkin Tuhan mendidik kita dengan cara menjadikan kita orang-orang yang frustrasi karenanya. Kalau Tuhan menghajar/ mendidik, sebuah kebenaran itu haruslah diterima. Tuhan mendidik kita karena kita sudah salah jalan yaitu ketika kita tidak tahu bagaimana menempatkan iman, atau bahkan ketika kita tahu sesuatu itu benar tetapi kita dengan sengaja melanggarnya, dan itupun termasuk kategori tidak tahu dimana harus menempatkan iman. Atau kita sudah tahu sesuatu itu benar tetapi kita pura-pura tidak tahu bahwa itu adalah suatu kebenaran. Semua fakta itu adalah bagian yang menyakitkan dan ternyata itulah bagian realita perjalanan iman kita. Percaya kepada Tuhan itu susah. Kita tahu bahwa Tuhan mempunyai jalan tersendiri tetapi Tuhan ingin lebih dari itu. Janganlah kita berjalan dengan improvisasi sendiri, janganlah kita berjalan dalam iman dengan memakai ukuran kepatutan karena tidak selalu hal yang baik itu berkenan kepada Allah dan merupakan pernyataan dari anugerah Allah.

Apa yang bisa kita pikirkan ketika Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan mengajar kita dengan hajaran dan kita tidak bisa mengelak? Tuhan Yesus berkata: Aku meminta Engkau memelihara mereka, dan Aku menguduskan mereka dalam kebenaranMu. Berarti ada sebuah langkah ketika dibiarkan maka harus menjumpai kebenaran. Kita harus bisa menerima kebenaran itu. Ada 5 hal yang berkaitan dengan kebenaran yang bisa kita pelajari yaitu:

1)      Ajaran Tuhan akan membawa kita melihat perbedaan antara hidup di dalam Allah dan di luar Allah.

Semuanya itu terjadi untuk memisahkan seseorang dari dunia. Dipisahkan dari dunia bukan berarti kita mengundurkan diri dan tidak berkaitan dengan dunia. Kenyataannya adalah kita masih hidup di dalam dunia dan menikmati semua yang ada di dalam dunia ini. John Calvin di dalam Institutio mengatakan bahwa orang Kristen dipanggil untuk menikmati semua berkat Allah yang ada di dalam dunia. Allah menempatkan mereka di dalam dunia supaya mereka dapat menikmati semua kebaikan Allah. Berarti kita tidak pernah dipanggil untuk memusuhi dunia, untuk menyingkirkan diri dari dunia, yang ada hanyalah peringatan untuk menjadi tidak sama dengan pola hidup dunia. Peringatan ini muncul dalam berbagai surat Rasul Paulus. Salah satu peringatan Paulus dalam Kitab Galatia adalah: aku minta supaya kamu menuruti keinginan Roh, jangan menuruti keinginan daging sebab daging dengan segala nafsunya akan binasa. Kita hidup dalam suatu tegangan yaitu kita hidup dalam dunia, untuk menikmati dunia, tetapi kita harus waspada bahwa pada momen itu daya tarik dan pesona dunia itu sangatlah besar, dan panggilan Kristen adalah tidak menjadi sama dengan pola hidup dunia. Tuhan membuat kita mulai merasa asing dengan pola hidup dunia.

Kitab Mazmur menggambarkan kondisi dunia dan membuat kita merasa asing, tidak betah. Kitab Mazmur mengatakan: dunia ini adalah tanah yang kering dan tidak ada air. Di bagian yang lain Petrus mengatakan: dunia ini sebagai tempat yang gelap. Semuanya itu adalah kenyataan, dan Tuhan menaruh kita di sana, dan memisahkan dengan cara membawa kita merasakan bahwa ternyata hidup menurut pola dunia adalah sesuatu hal yang tidak enak, sesuatu yang sebenarnya menyengsarakan, membawa kepada kehausan kerohanian. Kita juga akan bertemu dengan seruan Daud yang mengatakan: jiwaku haus akan Engkau ya Tuhan. Bilakah aku bertemu denganMu? Seruan ini keluar dari hati Daud karena menjumpai adanya perbedaan yang kontras antara pola hidup dunia dengan pola hidup didalam iman. Kalau kita tidak pernah merasakan frustrasi, kita mungkin sekali tidak bisa merasakan pemisahan antara pola hidup dunia dengan pola hidup dalam iman. Jika kita tidak pernah merasakan frustrasi maka kita akan menjadi orang Kristen yang tidak haus lagi akan Allah, maka kita tidak akan mempedulikan perbedaan itu.

Manusia lama kita tidaklah berubah, tetap berusaha menaklukkan hidup baru, akan berusaha untuk menggerogoti terus tetapi dalam pemeliharaan Allah. Dia akan membuat kita satu kali tertentu kehilangan pegangan, kehilangan kepercayaan, tidak tahu dimana harus beriman. Tuhan mengangkat kesenangan-kesenangan kerohanian, mengakibatkan kita menjadi frustrasi. Itulah hajaran Tuhan. Berdoalah supaya saat-saat seperti itu tetap ada karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya sebagai anakNya. Berdoalah supaya kita bisa menemukan keindahan menemukan perbedaan antara keinginan dunia dan keinginan Roh. Berdoalah sampai ada hati yang berseru: jiwaku haus kepada Engkau ya Allah, bilakah aku dapat datang kepadaMu?

Pola hidup dunia adalah pola yang membawa kepada kematian, dan Tuhan membuat pola hidup dunia ini menjadi sesuatu yang pahit sehingga kita tidak mau mencicipinya lagi. Salibkanlah daging dengan semua keinginannya. Mintalah kepada Tuhan supaya kita bisa melihat dengan jelas sekali, supaya kita menikmati keinginan Roh lebih daripada keinginan daging. Kalau kita masih mempunyai pikiran seperti itu, berarti masih ada harapan, ada hajaran Tuhan.

2) Ada banyak pengalaman yang Tuhan ciptakan untuk membawa kita masuk kedalam menikmati Dia, kehadiranNya, keberadaanNya, kebergantungan kepadaNya.

Janganlah takut untuk menjadi putus asa/frustrasi karena mungkin sekali hal itu merupakan tanda yang Tuhan buat untuk membawa kita menikmati Dia. Kita tahu ada janji: padang rumput hijau di sana, air yang tenang di sana. Kita mau menikmatinya. Marilah kita minta kepada Tuhan untuk dapat menikmati padang rumput yang hijau dan air yang tenang itu tetapi bukan padang rumput dan airnya melainkan menikmati Engkau bersama di sana. Sebab bagi domba-domba, kehadiran gembala adalah lebih penting karena tanpa gembala domba tidak tahu dimanakah letak padang tersebut, dan letak air tersebut.

Yairus datang kepada Tuhan Yesus dengan sebuah harapan yang begitu besar bahwa Tuhan datang ke rumahnya untuk menyembuhkan anaknya yang lagi sakit keras. Dia menjadi kecewa ketika Tuhan mengalihkan perhatianNya kepada seorang wanita yang menderita pendarahan yang menjamah jubahNya, karena anaknya sudah mati pada saat itu. Yairus tahu Tuhan dapat menyembuhkan anaknya, tetapi kalau sekarang anak itu sudah mati, Tuhan masih sanggupkah? Dalam kondisi seperti ini, keinginan untuk bertemu dengan Tuhan menjadi berada di titik paling rendah. Orang yang kecewa karena menjumpai realita hidup yang tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan, akan berkata bahwa dia tidak mau menjadi Kristen lagi, tidak mau percaya lagi.

Iman Kristen tidaklah terletak pada kata-kata positif iman meskipun dikutip dari ayat-ayat Firman Tuhan, kalau tidak maka pendeta akan menjadi motivator-motivator iman dalam gereja. Kita suka sekali dibuai oleh kalimat-kalimat motivator, padahal antara kalimat dan kenyataan adalah 2 hal yang berbeda. Ada banyak realita iman yang takut untuk kita hadapi. Kalaupun hal itu tidak bisa kita hindari maka akan membawa kita kepada pengalaman tidak bisa berdamai dengan Allah. Tuhan izinkan itu supaya kita bisa menikmati kebergantungan kepadaNya, menikmati ketidak ada pengharapan kita. Tidak ada harapan adalah kunci masuk untuk menikmati kehadiran Allah. Bagaimana kita tahu kalau kita sudah tidak menikmati Dia? Ketika api dalam ruang doamu menjadi mulai meredup. Itulah tanda putus asa. Jangan berhenti sampai di situ. Itulah pintu untuk menikmati Dia. Berharaplah kepada Allah!

Ketika Yesus ditangkap, Dia tahu murid-muridNya akan sendirian, akan tercerai berai. Pada saat itu doa Yesus mulai berlaku yaitu: peliharalah mereka ya Bapa. Dalam kondisi tercerai berai, Allah tetap memelihara mereka. Kita tidak suka Allah memelihara, kita lebih suka Allah membuat mujizat dengan mengangkat dari semua penderitaan.

3)      Allah membawa kita kepada berkat dan kecukupan anugerahNya.

Konsep anugerah yang ada di pikiran kita adalah: hal yang tidak patut kita terima tetapi Allah memberikannya. Kita tahu bahwa kita tidak punya apa-apa tetapi diam-diam kita membangun semangat yang menuntut hak kita dari Tuhan. Berarti hanya sedikit saja yang kita ketahui tentang diri kita di hadapan Allah. Kita banyak kali tidak tahu diri di hadapan Dia. Ada ayat Alkitab yang mengatakan: justru di dalam kelemahanmulah kuasaKu menjadi sempurna. Ada juga ayat  yang mengatakan: marilah kita menghampiri tahta kasih karunia Allah untuk mendapatkan pertolongan pada waktunya. Di belakang semua seruan itu ternyata ada 1 jiwa yaitu: aku punya hak karena aku adalah anak Allah, karena Allah adalah Allahku. Walaupun kita menjadi orang Kristen, kita tetap tidak mempunyai hak, dan semua yang kita alami hanyalah karena anugerahNya semata. Anugerah bukan hanya dalam pengalaman keselamatan tetapi juga merupakan perdamaian dengan Allah tiap-tiap kali pada waktu kita menjalani hidup iman kita. Kita tahu pengertian akan anugerah, tetapi kita tidak hidup dalam pengertian tersebut, sebenarnya kita sedang mencuri kebajikan Allah. Di dalam kasihNya, Allah membawa kita untuk menemukan anugerah itu pada tempatnya.

Ada satu kalimat dari seseorang yang ditanyai oleh Tuhan Yesus: percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukan semuanya itu? Jawabnya: aku percaya tapi tolonglah aku yang tidak percaya. Dengan kata lain: aku mau tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Tuhan akan senang jika kita mau berdoa untuk dapat menikmati Dia dan anugerahNya. Kalau merasa diri memiliki hak, maka tidak akan keluar kalimat: tolong aku yang tidak percaya. Dalam kondisi seperti ini ingatlah selalu doa Tuhan Yesus yang mengatakan: Aku tidak minta Engkau mengambil mereka, Aku hanya minta kepadaMu untuk memelihara mereka. Kalimat ini seharusnya memberikan keteduhan yang amat sangat. Seperti pemazmur yang berkata: nyanyikanlah nyanyian di Sion, nyanyikanlah itu! Ini merupakan sebuah seruan karena sudah lama nyanyian itu tidak terdengar. Di situlah pemazmur menikmati kehadiran Allah.

4)      Hajaran Tuhan membawa kita melihat bahwa janji Tuhan sangatlah manis terasa dalam hidup kita.

Theologi Reformed menekankan bahwa konsep doktrinal tidak bisa dibangun atas dasar pengalaman. Tetapi tanpa pengalaman, maka janji-janji tidaklah dapat menolong. Ada banyak ayat Alkitab yang tidak menolong sama sekali kecuali jika ditafsirkan melalui pengalaman. Pengalaman itu haruslah berjalan didalam batasan/pagar/koridor kebenaran Allah, tidak boleh lebih keluar dari itu.

Tuhan Yesus berkata: kalau Anak itu datang, Dia akan memerdekakan. Kita seharusnya bertanya: dimana kuasa Firman itu dalam hidup kita. Kita menjumpai setiap kali kita diikat oleh dosa, lalu dimanakah kuasa Firman itu? Doktrin dan pengalaman adalah 2 hal yang berbeda. Doktrin menjadi hal yang dikonkretkan, dialami dengan begitu jelas dalam sebuah pengalaman, sehingga janji Allah yang kita mengerti itu menjadi indah sekali sebab terasa sangat manis di langit-langit daripada lidah, terasa sangat menyejukkan dan menentramkan hati. Justru kita menjumpai bahwa dalam kondisi seperti inilah Firman itu betul-betul hidup. Janji Allah itu pula yang membuat Yakub berani pulang menjumpai Esau walaupun dia tahu bahwa Esau menanti dia dengan membawa 400 pasukan. Ternyata, Esau memeluk Yakub ketika mereka berjumpa, janji Allah menjadi indah sekali.

Charles Spurgeon mengatakan: ada ayat-ayat dalam Alkitab yang nampaknya ditulis dengan tinta rahasia, yang harus dilihat didalam api penderitaan sebelum tinta itu menjadi jelas dan nyata. Janji Allah menjadi indah sebab terbukti kebenarannya dan keindahannya. Janji Allah begitu indah yang ditulis dengan tinta rahasia yang dimunculkan melalui kesakitan, keputusasaan, ketidak ada harapan. Janji itu muncul dan menjadi begitu indah dan manis dirasakan di langit-langit. Saat itu kita akan berkata: sungguh, Allah Bapa memelihara, Allah Bapa mengajar sesuatu kepadaku.

5)     Semua itu terjadi dalam kehendak Allah membawa orang Kristen menikmati persekutuan dalam penderitaan bersama Kristus.

Paulus menangkap dengan jelas hal ini sehingga dia berdoa demikian: aku minta supaya aku mengenal Engkau, aku dapat menjadi sama dengan Engkau di dalam penderitaan. Kristus dibenci, menderita, ditolak, maka orang Kristen pun akan dibenci, menderita dan ditolak. Apa beda penderitaan Kristus dengan penderitaan kita? Penderitaan Kristus adalah penderitaan yang membawa kepada keselamatan, sedangkan penderitaan orang percaya adalah sebagai bukti kemuridan atau bukti hidup dalam keselamatan. Perbedaaan yang kedua, penderitaan Kristus adalah untuk menyempurnakan/ menggenapi rencana Allah, sedangkan penderitaan orang Kristen adalah penggenapan membawa dirinya menuju kepada kesempurnaan. Yang Kristus kerjakan adalah sempurna sedangkan yang dialami oleh orang Kristen adalah membawa kepada kesempurnaan untuk melihat penderitaan Kristus menjadi bagian kesempurnaan itu. Di situlah kita bisa melihat bukti kesatuan diri kita dengan Kristus, kita bisa mengapresiasi pertolonganNya, kita bisa merasakan kekuatanNya, kita boleh menikmati bagaimana Dia meneguhkan kita.

Kita tidak akan bisa merasakan sepenuhnya penderitaan yang Kristus alami tetapi kita hanya bisa merasakan sedikit saja, itupun dalam konteks yang berbeda. Kita menikmati penderitaan itu karena Kristus pernah menderita bagi kita dan itulah jalan Allah: via dolorosa. Banyak buku mengatakan: Tidak ada mahkota tanpa salib. Nikmati keindahan Allah dalam penderitaanNya. Itulah yang diinginkan oleh Paulus. Biarlah kita berdoa supaya hujan yang besar dari penderitaan itu datang jikalau itu menumbuhkan pohon/tumbuhan rohani, membawa kita melihat buah anugerah itu berbuah dalam kehidupan rohani kita. Biarlah angin badai dalam kesulitan itu menerpa jikalau itu melatih kekuatan akar-akar iman kita. Biarlah matahari itu menjadi redup dan menjadi hilang cahayanya jika itu membawa kita makin dekat kepada cahaya kecil dari Allah yang muncul dalam hidup kita.

Pemazmur dalam Mazmur 23 mengatakan bahwa pada awalnya Tuhan adalah gembalaku, Ia menuntun aku di padang yang berumput hijau, Ia menyegarkan jiwaku, Ia membawa aku ke air yang tenang, tetapi setelah itu, dalam lembah bayang-bayang maut aku tidak takut bahaya, gadaMu dan tongkatMu itulah yang menghibur aku. Setelah itu dia tidak kembali ke padang rumput dan air yang tenang lagi tetapi Mazmur 23 ditutup dengan 1 kalimat: aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang umurku. Ini adalah cetusan dari emosi yang menikmati persekutuan dalam penderitaan bersama dengan Allah. 

Kitab Wahyu menuliskan: barangsiapa bertahan sampai mati, mahkota kehidupan tersedia baginya. Ayat itu tidak berbicara mengenai keselamatan bisa hilang atau tidak tetapi bicara mengenai kemauan untuk tetap bertahan. Keadaan tidaklah berubah, kalaupun harus melewati kematian pada akhirnya, maka dia melewati kematian dengan tabah dan orang akan berdiri mengatakan: kematianmu anggun sekali. Itulah yang ditinggalkan oleh Even, kenanglah dia sebagai pejuang iman. Khotbah ini bukan dimaksudkan membawa dia sebagai pusat tetapi mau mengatakan bahwa Allah yang sudah menguatkan dia, memberi pertolongan sehingga kita bisa memuji Tuhan bahwa 1 lagi sudah sampai di garis finish. Aku akan berdiam di rumah Tuhan seumur hidupku! Kiranya Tuhan memberkati kita. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)