Ringkasan Khotbah : 22 November 2009

Gereja dan Kebenaran

Nats: Wahyu 1-3

Pengkhotbah : Ev. Badju Widjotomo

 

Pada hari ini saya akan mengupas Wahyu 1-3 sebagai suatu lukisan yang utuh sehingga kita bisa melihat keseluruhan tema dari bagian ini. Banyak orang salah menafsirkan bagian ini khususnya Wahyu 2:1-7 yaitu surat kepada malaikat jemaat di Efesus. Dalam Wahyu 2 Tuhan menegur keras jemaat di Efesus: Betapa dalamnya engkau telah jatuh karena engkau telah meninggalkan kasih yang semula. Mereka menyimpulkan bahwa kasih adalah yang penting dan doktrin tidaklah penting.

Seluruh kitab Wahyu terdiri dari 7 bagian yang mana bagian pertama meliputi pasal 1 sampai pasal 3. Kita akan melihat bagian ini dan saya akan memilih beberapa bagian ayat dari bagian ini yaitu: Wahyu 1:12-13, 2:2-5,9-10,13-14,19-20, 3:1-2,7-8,15-17.

7 jemaat yang disebutkan di kitab Wahyu menjadi representatif dari jemaat Tuhan di segala abad dan di segala tempat. Angka 7 adalah angka sempurna, angka yang menyimbolkan sesuatu yang utuh, yang lengkap. Hanya 7 jemaat ini yang disebut padahal ada banyak jemaat di tempat lain seperti: di Hierapolis, di Kolose, dll yang dekat dan di sekitar 7 kota itu, karena Tuhan ingin memakai 7 jemaat itu sebagai simbol dari Tuhan yang mau berbicara bukan khusus untuk gereja yang disebutkan dengan problema masing-masing, melainkan untuk memperingatkan, menegur, menasihati, dan memberikan dorongan kepada semua gereja Tuhan yang sedang Dia dirikan, yang sedang mengalami masalah, menghadapi begitu banyak tantangan. Setiap gereja memiliki respon dan kondisi yang berbeda, tetapi menghadapi tantangan-tantangan yang sama. Ada 3 gereja yang mendapatkan pujian tetapi juga mendapatkan celaan, ada 2 gereja yang sama sekali tidak mendapat pujian tetapi hanya celaan yaitu jemaat di Sardis dan di Laodikia, ada 2 gereja yang tidak mendapat celaan sama sekali, yang ada hanyalah pujian yaitu gereja di Smirna dan di Filadelfia. Gereja di Smirna seolah-olah dibiarkan oleh Tuhan untuk menderita, jemaat di Filadelfia diberi janji bahwa Tuhan akan melindungi. Sampai hari ini pun saya masih memiliki harapan: separah apapun kondisi gereja, jika masih mengakui Yesus sebagai Tuhan, dia termasuk gereja Tuhan, dan Tuhan masih mencari, masih berjalan, masih memberi peringatan, dan kalau mereka tetap tidak mau bertobat maka barulah kaki dian akan dipindahkan.

Tantangan yang dihadapi gereja Tuhan pada waktu itu adalah: 1) kuasa politik. Mereka menghadapi kekaisaran Roma yang begitu menekan mereka dengan dahsyat. Kuil-kuil penyembahan kaisar dibangun di mana-mana. Semua penduduk dibawah kekaisaran Roma harus mengaku bahwa kaisar adalah tuhan. Mereka merindukan suatu Pax Romana/kesatuan Romawi, kedamaian di seluruh Roma dan yang menjadi simbol adalah kaisar. Orang Kristen tidak mau menyebut kaisar sebagai tuhan. 2) kuasa agama. Kuil-kuil penyembahan dan dewa-dewi orang Yunani bertebaran di seluruh kerajaan Roma, sehingga kebudayaan pada waktu itu disebut sebagai Greeko-Roman. Kuasa pemerintahan memang di tangan Roma tetapi filsafat hidup dan gaya hidup ikut kepada kebudayaan Yunani. Ada juga synagogue-synagogue orang Yahudi yang mereka sebut sebagai synagogue Allah tetapi sesungguhnya adalah synagogue iblis. Sejak hari Tuhan Yesus disalibkan, ketika Hanas dan Kayafas menyatakan bahwa orang Yahudi tidak mempunyai raja selain kaisar, mereka berkompromi dengan Roma, dan sejak hari itu orang Roma memberi mereka kebebasan untuk membangun synagogue di mana-mana, bahkan di Sardis dibangun suatu kompleks synagogue yang begitu besar. 3) kuasa ekonomi. Semua orang yang ingin berbisnis pada zaman itu harus ikut dalam serikat dagang yang dibentuk oleh pemerintah Roma bekerja sama dengan kuil-kuil orang Yunani. Untuk menjadi anggota serikat dagang, orang harus memberikan persembahan ke kuil orang Yunani, harus menyebut kaisar adalah tuhan, harus terlibat dalam penyembahan kepada kaisar di kuil-kuil pemujaan kaisar Roma.

Tuhan melihat gerejaNya berada di dalam bahaya. Dia sebagai Kepala Gereja, Dia datang dan Yohanes dalam penglihatannya melihat seorang Anak Manusia sedang berjalan di antara ketujuh kaki dian. Ketujuh kaki dian itu berarti ketujuh jemaat. Ini menjadi suatu pertanda bahwa Tuhanlah pemilik gereja, Dia memperhatikan gerejaNya. Pdt. Stephen Tong pernah berkata: dari seluruh alam semesta, mata Tuhan melihat kepada bumi; dari seluruh bumi, mata Tuhan berfokus pada manusia; dan dari seluruh manusia, mata Tuhan fokus kepada gerejaNya. Tuhan menyuruh Rasul Yohanes untuk menuliskan apa yang akan terjadi, yang telah terjadi dan yang sedang terjadi. Seluruh Kitab Wahyu oleh William Hendriksen diberi tema “Lebih dari Pemenang“ karena dalam kitab ini dikisahkan gereja yang menghadapi tantangan/kesulitan/bahaya tetapi Kristus telah menang karena Dia telah menebus umatNya. Dalam Wahyu 4 dikisahkan tidak ada seorangpun yang sanggup membuka gulungan kitab itu, Yohanes menangis karena hal itu, kemudian seorang tua-tua, yang merupakan representatif dari orang pilihan, yang berdiri di hadapan Tuhan berkata kepada Yohanes: Jangan takut, Singa dari Yehuda telah menang! Lalu Yohanes berpaling dan melihat seorang seperti anak domba yang telah disembelih. Singa dari Yehuda dan anak domba adalah simbol dari Kristus. Dia telah bekerja menebus umat pilihan maka jaminan kemenangan ada di tanganNya.

Gereja dalam bahaya dan Tuhan memperingatkan. Perhatikanlah baik-baik orang-orang yang dipercayakan pelayanan dan kebenaranNya oleh Tuhan, bagaimana mereka seharusnya memperlakukan kebenaran. Ada satu bagian dari sebuah film yang tidak sengaja saya tonton sepulang dari gereja yang mengkisahkan percakapan dari seorang bos mafia dengan anak buahnya. Bos mafia ini sedang menginterogasi anak buahnya karena setoran berkurang. Bos ini kemudian mengeluarkan satu pepatah Jepang yang berbunyi: satu paku terlepas pada tapal kuda, maka kuda tidak bisa berlari; karena kuda tidak bisa berlari, maka pesan tidak bisa dikirim; karena pesan tidak sampai, maka kalah perang. Seorang mafia yang kehilangan uang sedikit saja dapat mengeluarkan filsafat besar seperti itu, sedangkan seorang pendeta sering berbicara tentang kebenaran tetapi kebenaran itu sering diperlakukan secara salah, sehingga satu persatu dari paku itu terlepas, dan ketika satu paku terlepas, itu merupakan awal dari kehancuran.

Tuhan berbicara mengenai 7 aspek tentang bagaimana seharusnya memperlakukan kebenaran. Dari 7 aspek itu akan terlihat bahwa kebenaran merupakan kunci yang sangat penting. Tuhan berkata: Aku akan pergi ke rumah BapaKu, tetapi Aku tidak akan membiarkan engkau sebagai yatim piatu, karena Aku akan memberikan seorang penolong yang lain bagimu, kalau Dia datang, Dia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Roh Kudus akan menuntun ke dalam seluruh kebenaran. Kebenaran menjadi kunci penting untuk hidup gereja.

Tuhan meneriakkan seruan untuk kembali, untuk bertobat bagi jemaatNya. Gereja Tuhan di sepanjang zaman selalu menghadapi kuasa politik, kuasa agama, dan kuasa ekonomi yang melawan Kristus. Tantangan itu bukan hanya terjadi di zaman pada waktu Kitab Wahyu ditulis, bukan untuk masa yang akan datang menjelang kedatangan Yesus yang kedua kali, juga bukan hanya untuk momen-momen tertentu di dalam sejarah, misalnya: angka 666 dianggap menyimbolkan kaisar Nero yang menganiaya orang Kristen, pada zaman perang salib angka 666 melambangkan Islam, pada zaman Reformasi angka 666 melambangkan Paus yang sudah menyelewengkan kebenaran, pada zaman ini angka 666 melambangkan Cina dengan simbol naga. Semua pandangan itu tidaklah bisa kita terima. Anti Kristus muncul di sepanjang zaman untuk melawan gereja. Pandangan idealis mengatakan bahwa seluruh Kitab Wahyu adalah berguna baik untuk gereja masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang. Gereja menghadapi tantangan yang sama. Gereja harus memperlakukan kebenaran dengan tepat, harus mencintai kebenaran, harus memperjuangkan kebenaran, harus memberitakan kebenaran, harus menegakkan kebenaran. Tuhan ingin agar FirmanNya diberitakan dan ditegakkan. Kehendak Tuhan harus terjadi didalam hidup gerejaNya. Mari kita melihat satu per satu bagian ini.

1)      Jemaat di Efesus.

Jemaat ini mendapatkan peringatan dari Tuhan: Jangan berhenti memberitakan kebenaran. Janganlah menahan kebenaran untuk diri sendiri, sebarkanlah kebenaran. Kasih yang semula bukanlah suatu perasaan. Untuk mengerti arti kasih yang semula, kita harus melihat apa yang semula mereka lakukan. Kisah Rasul 19:10 mengisahkan pada waktu Paulus dalam perjalanannya yang pertama pada tahun 51 atau 52 mendirikan jemaat di Efesus, pada tahun 55-57 dia tinggal di Efesus, dia mendidik 12 orang dengan sungguh-sungguh, secara khusus selama sekitar 3 tahun, setelah itu seluruh penduduk Asia dan Yunani dapat mendengar Firman. Tuhan mencela jemaat Efesus generasi kedua dan ketiga ini karena mereka tidak lagi melakukan yang semula mereka lakukan. Jemaat Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia adalah didirikan oleh jemaat Efesus. Tetapi mengapa mereka membiarkan Sardis tertidur, Laodikia menganggap diri begitu kaya dan sombong, Pergamus kemasukan ajaran sesat? Karena mereka tidak lagi memberitakan kebenaran. Mereka ingin gereja mereka sendiri yang kuat, mereka ingin mempertahankan status quo. Gereja yang mempertahankan status quo adalah gereja yang tunggu waktu matinya. Gereja yang menyimpan kebenaran hanya untuk dirinya sendiri, tinggal tunggu waktu gereja tersebut akan hancur. Ibarat seperti Laut Mati yang hanya menampung air tetapi tidak menyalurkannya, maka semua ikan tidak dapat bertahan hidup di sana, betul-betul menjadi laut yang mati. Saya berharap gereja kita bisa terus menjadi mercusuar yang terus memberitakan kebenaran tanpa mempedulikan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk itu. Kebenaran harus terus diberitakan berapapun harga yang harus dibayar.

2)      Jemaat di Smirna.

Tuhan berkata: Jangan takut mati, jangan takut membela kebenaran sampai mati. Jemaat di Smirna sepertinya tidak mendapat teguran/ peringatan tetapi sebenarnya mereka mendapatkannya melalui setiap kondisi yang terjadi. Jemaat ini dianiaya begitu luar biasa, mereka tidak mau kompromi sehingga Tuhan sendiri berkata bahwa Dia tahu kemiskinan mereka bukan karena mereka malas bekerja melainkan karena semua sumber daya penghasilan mereka ditutup oleh semua kuasa. Mereka bertahan hidup dengan hidup ketat sekali, bahkan mereka terkenal sebagai jemaat yang mau berkorban. Gembala sidang mereka pada waktu itu adalah murid dari Yohanes yang bernama Polycarpus. Ketika dia ditangkap, dia diintimidasi untuk mengakui kaisar adalah tuhan dan menyangkali Yesus. Pada hari itu hari Sabat, orang Yahudi melanggar peraturan mereka sendiri, mereka mengangkut kayu bakar untuk diletakkan di bawah kaki Polycarpus yang digantung di sebuah tiang. Polycarpus mengeluarkan kalimat: 86 tahun aku mengikut Yesus, tidak pernah sekalipun Kristus menyakiti hatiku, bagaimana mungkin aku menyangkal Dia. Kemudian dia dibakar hidup-hidup. Janganlah takut membela kebenaran sampai mati karena Tuhan akan mengaruniakan kepada kita mahkota kehidupan.

3)      Jemaat di Pergamus.

Tuhan berkata: Jangan sampai kehilangan kepekaan terhadap seluruh ajaran. Milikilah kuasa pembeda sehingga mampu menahan setiap ajaran sesat yang masuk. Tuhan memuji daya tahan jemaat di Pergamus. Mereka tinggal di tempat yang sangat sulit yang dilukiskan sebagai tahta iblis. Gereja yang baik tidak akan menyangkal imannya di tengah-tengah kesulitan sekalipun, tetap berpegang dan setia kepada nama Yesus. Sayangnya, mereka tidak memiliki kepekaan sehingga ada beberapa dari mereka yang menganut ajaran Bileam, ada yang menganut ajaran Nikolaus. Bileam dari bahasa Ibrani, Nikolaus dari bahasa Yunani, artinya: penakluk masyarakat/rakyat. Mereka tidak sadar bahwa sudah ada beberapa orang yang menyusup masuk ke dalam gereja. Walaupun hanya beberapa, ini merupakan bahaya yang besar.

Satu kali seorang direktur bank di Inggris hendak mencari kasir. Dia menguji metode-metode yang ada untuk mendapatkan kasir yang bisa membedakan uang asli dan uang palsu. Dia membentuk kelompok-kelompok, kelompok yang pertama hanya diberi uang asli untuk dipelajari, kelompok kedua diberi bermacam-macam uang palsu untuk dipelajari. Setelah itu diadakanlah ujian untuk membedakan uang asli dan uang palsu. Ternyata kelompok pertama hasilnya 100% benar, sedangkan kelompok kedua hasilnya ada yang benar dan ada juga yang salah. Kesimpulan yang diambil adalah: belajar yang asli maka semua yang tidak sama dengan yang asli adalah yang palsu. Kita pun belajar kebenaran yang asli, yang benar, sehingga semua yang tidak sama dengan yang asli tersebut adalah pasti palsu.

Dalam gereja Tuhan saat ini begitu banyak orang yang tidak mengerti kebenaran, tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, karena kebenaran itu terkadang muncul bukan hitam atau putih melainkan abu-abu. Kita perlu belajar baik-baik tentang kebenaran agar dapat memiliki kekuatan pembeda untuk dapat membedakan yang benar dan yang salah.

4)      Jemaat di Tiatira.

Tuhan berkata: Jangan mentoleransi ajaran sesat. Kebenaran haruslah ditegakkan. Jemaat di Tiatira diperingatkan oleh Tuhan tentang adanya celah yaitu wanita Izebel yang mengajar dan menyesatkan umat Tuhan. Padahal jemaat ini cukup baik dalam hal kasih, pelayanannya, ketekunannya, pekerjaannya yang terakhir lebih banyak dari yang semula. Izebel adalah istri raja Ahab yang begitu berkuasa dalam PL. Tafsiran saya, Izebel adalah simbol dari istri pendeta yang berkuasa sehingga semuanya tutup mulut. 1 orang seperti Izebel bisa merusak seluruh gereja. 1 orang yang sesat adalah cukup berbahaya. Pdt. Joseph Tong pernah berkata: 1 gentong air bersih jika diberi 1 sendok air got akan menjadi air got, semuanya menjadi terkontaminasi. Tuhan Yesus pernah berkata: Hati-hati terhadap ragi orang Farisi. Pdt. Stephen Tong sangat ketat menjaga mimbar, tidak sembarang orang boleh berkhotbah di mimbar.

5)      Jemaat di Sardis.

Jemaat ini begitu sedih karena kemerosotan semakin dalam. Jemaat sudah tertidur. Tuhan berkata: Bangun, bekerja kembali, jangan tidur! Perintah Tuhan ini ditujukan kepada jemaat yang sudah tidak lagi memberitakan kebenaran karena malas. Tuhan tahu pekerjaan jemaat ini, tetapi tidak satupun dari pekerjaan mereka yang didapati sempurna di hadapan Tuhan. Theologi Reformed adalah satu theologi yang ingin memberikan persembahan yang terbaik, pelayanan yang terbaik, kebenaran yang paling solid dan paling utuh kepada jemaat. Tetapi seringkali kita kehilangan kekuatan, kita menjadi tertidur karena begitu letih. Banyak gereja yang mengalami hal ini. Mereka tidak lagi melihat bahaya yang ada di depan, tantangan begitu banyak tetapi semuanya dianggap sebagai teman atau dianggap sebagai suatu ilusi atau ketakutan-ketakutan psikologis semata. Jangan tidur juga berarti: waspadalah! Di Sardis hanya tinggal beberapa nama yang masih berpakaian putih.

Antar gereja bisa begitu ribut hanya karena masalah sepele dikarenakan hanya tinggal beberapa nama yang masih berpakaian putih. Kepada mereka yang masih berpakaian putih, Tuhan berbicara. Mereka akan dipakai Tuhan untuk membawa pembaharuan dalam gereja.

6) Jemaat di Filadelfia.

Tuhan berkata: Aku tahu kekuatanmu tidak seberapa namun engkau menuruti keinginanKu dan tidak menyangkal namaKu. Gereja ini mungkin kecil, dengan sumber daya yang sangat terbatas, namun gereja ini menuruti Firman. Kepada mereka Tuhan membukakan pintu yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Tuhan berkata kepada jemaat Filadelfia: Jangan membuang kesempatan untuk terus memberitakan kebenaran. Tuhanlah yang membukakan setiap kesempatan (arti dari “pintu“). Setiap kita diberi waktu 24 jam yang sama, di dalamnya ada banyak sekali momen-momen/ kesempatan-kesempatan yang Tuhan bukakan tetapi hanya sedikit orang yang mampu melihatnya dan memanfaatkan/memakai setiap kesempatan ini bagi kemuliaan Dia. Tuhan berkata: Jangan takut, Aku menyertai engkau!

Ketika saya merintis 1 gereja kecil yang jauh dari kota, di daerah Donomulyo-Malang Selatan, jemaat di sana sangat miskin sehingga persembahan sangat sedikit. Saya sangat sedih mendengar ada 1 pemimpin gereja yang berkata: kalau mendirikan gereja harus pakai prinsip nge-bor minyak yang berarti kalau minyaknya sedikit maka tinggalkan. Mendirikan gereja tidaklah memakai prinsip itu. Filipus dipanggil jauh-jauh oleh Roh Kudus untuk pergi ke 1 tempat yang sunyi dan menunggu orang di sana, sampai akhirnya ada orang yang naik kereta lewat yaitu rombongan sida-sida dari Ethiopia, Injil diberitakan dan akhirnya dibawa ke Afrika untuk pertama kalinya oleh rombongan itu. Pada abad ke-1 kaki dian berada di Asia Kecil, pada abad ke-5 kaki dian berada di Afrika, kemudian kaki dian berpindah lagi ke Eropa dan kemudian ke Amerika, ketika Amerika semakin runtuh, kaki dian akan dibawa lagi ke Asia. Jika tidak ada orang yang rela dipakai memberitakan Injil di tempat yang sunyi seperti Filipus, tidak mungkin ada orang yang memberitakan Injil di Afrika. Kalau Tuhan membukakan kesempatan, tidak ada yang sanggup menutupnya, akan ada waktunya anugerah itu selesai. Alkitab berkata: selama masih siang, akan datang malam, dimana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. Artinya: pintu sudah ditutup. Sekarang ini pintu masih terbuka, marilah kita bekerja dan berjuang.

7) Jemaat di Laodikia.

Jemaat ini sudah begitu parah. Alkitab berkata: Aku tahu pekerjaanmu, tidak dingin maupun panas, Aku mau pekerjaanmu dingin atau panas. Tafsiran yang salah adalah: panas berarti melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh, dingin berarti tidak percaya sama sekali kepada Tuhan Yesus. Arti yang sesungguhnya dari kalimat itu adalah: dingin ataupun panas adalah masih berguna, tetapi kalau suam-suam kuku berarti sudah tidak berguna dan akan dimuntahkan. Latar belakang kalimat ini adalah: air panas dari Hierapolis turun menuju ke Laodikia menjadi suam-suam kuku. Air panas di Hierapolis itu masih dipakai sebagai obat. Ketika suam-suam kuku air ini menjadi tidak enak diminum dan tidak bisa menjadi obat. Sampai di Kolose, air ini menjadi dingin, enak untuk diminum karena menyegarkan. Jemaat di Laodikia menjadi tidak berguna karena semua kebenaran yang mereka pegang adalah kebenaran mereka sendiri, jemaat yang sudah puas diri dengan apa yang ada pada dirinya sehingga mereka menyombongkan diri merasa mereka tidak kekurangan apa-apa. Jemaat ini dikatakan oleh Tuhan telah berkompromi dengan semua kuasa yang melawan Kristus, sehingga tidak lagi berguna, tidak lagi ada kesaksian, musuh menjadi teman. Kompromi yang begitu dahsyat terjadi di jemaat ini. Janganlah kompromi!

Pdt. Stephen Tong mengingatkan kita untuk jangan kompromi. Pada zaman akhir akan banyak orang yang mencari kebenaran. Kelaparan dan kehausan akan Firman Tuhan melanda manusia, sehingga manusia akan mencari Firman Tuhan, karena itu janganlah kompromi. Kita perlu berdoa mohon kekuatan bagi gereja kita supaya sepanjang gereja ini boleh berdiri sampai Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya, gereja ini tidak kompromi, walaupun tinggal 10 orang/ sedikit orang saja yang datang ke gereja, mimbar gereja tidak akan dikompromikan.

Tuhan memberikan peringatan yang keras dan tajam sehubungan dengan kebenaran. Biarlah kita semakin mencintai kebenaran, berjuang untuk kebenaran, terus memberitakan kebenaran, karena dari sinilah muncul iman. Dari kebenaran yang kita pegang maka moral akan ditegakkan, hukum akan ditegakkan, karakter akan semakin kuat. Jika kita kehilangan kebenaran, kita akan kehilangan semuanya. Kiranya Tuhan memberkati kita, menolong dan menguatkan kita. Amin.  ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)