Ringkasan Khotbah : 15 November 2009

Bait Allah: Sebuah Simbol Keagamaan

Nats: Matius 24:1-2

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Banyak perdebatan terjadi menyangkut ayat Matius 24:1-2 ini. Ada yang mengatakan bahwa ayat ini cocok diletakkan sebagai akhir dari Matius 23. Ada juga yang setuju dengan LAI yang menempatkan ayat ini pada awal dari pembicaraan Tuhan Yesus di Bukit Zaitun (khotbah tentang akhir zaman). Ayat ini memang cocok jika diletakkan di akhir Matius 23 yaitu setelah Tuhan Yesus mengutuki Yerusalem khususnya mengenai Bait Allah yang akan ditinggalkan dan menjadi sunyi, lalu pada Matius 24:1-2 dikatakan bahwa Bait Allah akan diruntuhkan; sedangkan khotbah tentang akhir zaman baru dimulai di Matius 24:3 yang menuliskan: Yesus duduk di atas Bukit Zaitun. Tetapi ayat ini juga cocok diletakkan di awal Matius 24 karena pembicaraan tentang Bait Allah sebetulnya melihat ke depan untuk melihat bagaimana cara pandang Tuhan Yesus melihat dunia ini pada akhirnya dan seluruh nasib masa depan manusia. Jadi ayat ini sebetulnya bisa menjadi pendahuluan untuk membicarakan masalah eskatologi/ akhir zaman. Ayat ini menjadi ayat jembatan yang menggandeng Matius 23 dan Matius 24, dan akan menjadi sangat indah kalau kita belah ayat 1 dan ayat 2.

Matius 24:1 menceritakan Tuhan Yesus yang tadinya berada di Bait Allah untuk mengajar (dalam Matius 23), sekarang keluar dari Bait Allah. Pada waktu Tuhan Yesus keluar dari Bait Allah, murid-muridNya mengajak Tuhan untuk melihat kembali kepada bangunan-bangunan Bait Allah. Ketika Tuhan Yesus diajak melihat balik, Tuhan Yesus justru mengajak melihat keluar, pada ayat 2 ditulis: Kamu melihat semuanya itu? atau terjemahan yang lebih tepat: Kamu mempertimbangkan itu? Yang engkau lihat sekarang, nantinya tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan. Inilah yang menunjukkan apa yang akan dibicarakan oleh Tuhan Yesus ke depan.

Dalam Matius 24 ini ada hal yang sangat menarik yang dapat kita pelajari karena disinilah kita dapat menemukan pergumulan yang paling serius di dalam kehidupan kita. Para penafsir mencoba untuk melihat motivasi apa yang menyebabkan para murid Tuhan mengajak Tuhan Yesus untuk melihat balik kepada bangunan-bangunan Bait Allah. Tuhan Yesus sudah mengajar dengan sangat keras khususnya di dalam Matius 23. Matius 23 berisi pengajaran Tuhan Yesus kepada murid-muridNya di depan orang banyak di dalam Bait Allah dengan memakai orang Farisi dan ahli Taurat sebagai figurasi. Kalimat-kalimat keras yang dikatakan oleh Tuhan Yesus bukanlah berlebihan melainkan sesuai dengan realita, misalnya: perilaku orang Farisi dan ahli Taurat memang betul-betul seperti ular beludak yang cantik di luar tetapi sangat mematikan. Kalimat-kalimat keras tersebut sangat sulit diterima baik oleh orang Farisi dan ahli Taurat juga oleh murid-muridNya, apalagi makin ke belakang makin sulit dimengerti, terutama ketika Tuhan Yesus berkata: Yerusalem, engkau adalah kota yang terkutuk, seharusnya di tempat ini nabi-nabi dipuji tetapi justru dibunuh. Rumah ini akan menjadi sunyi, ditinggalkan oleh manusia. Sangat sulit dimengerti oleh para murid bahwa Yerusalem akan sunyi, Bait Allah akan ditinggalkan.

Mengapa para murid mengajak Tuhan Yesus melihat kembali kepada Bait Allah? 1) karena mereka sungguh sulit untuk percaya bahwa Bait Allah akan ditinggalkan orang. Bangunan yang begitu indah, Yerusalem yang begitu ramai tidaklah mungkin akan ditinggalkan orang. Mereka merasa perkataan Tuhan Yesus tersebut terlalu berlebihan. 2) orang Yahudi sangat tidak rela jika Bait Allah menjadi habis karena merupakan tempat tinggal Allah. Sejak zaman dahulu, mereka mempunyai konsep bahwa Bait Allah adalah 1 kesatuan dengan Yerusalem, disanalah Allah tinggal, disanalah Kota Allah. Kalau Bait Allah dan Yerusalem hancur, berarti Allah juga hancur. Apa reaksi Tuhan Yesus? Bait Allah dikatakan Tuhan akan runtuh semuanya, tidak ada lagi sisanya. 40 tahun kemudian setelah kalimat ini keluar dari mulut Tuhan Yesus, pada tahun 70 terjadilah seperti yang Tuhan Yesus katakan, dan tidak ada satu batu dibiarkan terletak di atas batu yang lain.

Pada tahun 70 terjadi perang Masada dimana Jenderal Titus melawan untuk menghancurkan Yerusalem. Selama 2 tahun kota tersebut dikepung, orang-orangnya tidak boleh keluar dari kota tersebut, sampai kehabisan semuanya. Setelah itu kota tersebut diserbu untuk ditangkapi orang-orangnya, tetapi ternyata tidaklah mendapatkan apa-apa karena orang-orangnya sudah terlebih dahulu bunuh diri semuanya. Jenderal Titus dan pengikutnya sangatlah marah karena hanya menemukan mayat-mayat dan bangunan-bangunan yang kosong, maka kota tersebut dibakar habis. Mereka sangat kaget ketika melihat Bait Allah yang terbakar karena ternyata dome Bait Allah dilapisi emas murni, emas tersebut meleleh, mengalir ke bawah dan meresap di antara batu-batu bangunan Bait Allah tersebut. Setelah selesai pembakaran kota tersebut, orang-orang tersebut kembali menyerbu Bait Allah untuk mengambil emas tersebut. Bangunan pada waktu itu terbuat dari batu-batu yang besar yang disusun tanpa menggunakan semen, sehingga emas tersebut meresap di antara batu-batu tersebut, ketika setiap batu didongkel muncullah emas berlembar-lembar. Akhirnya batu-batu tersebut habis didongkel sehingga hanya tinggal pondasinya saja. Apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus bahwa satu batu tidak dibiarkan terletak diatas batu yang lain betul-betul terjadi.

Sebetulnya 2 ayat nats Alkitab kita pada hari merupakan isu tentang bagaimana 2 orang melihat yaitu cara orang Yahudi melihat Bait Allah dan Tuhan Yesus dengan cara melihat yang berbeda. Bisakah kita melihat seperti Tuhan Yesus melihat ataukah kita melihat seperti orang dunia melihat? Ini bukanlah hal yang mudah. Orang Farisi, ahli Taurat dan juga murid-murid Tuhan Yesus sangat sulit untuk mengerti apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Para murid Tuhan mengajak Tuhan Yesus melihat balik ke Bait Allah sedangkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa Bait Allah akan diruntuhkan. Mengapa bisa terjadi perbedaan ini, apa yang sebetulnya ada di balik fenomena yang begitu sederhana yaitu yang satu mengajak melihat balik dan yang satunya tidak setuju untuk itu? Pertama, mereka sangat membanggakan Bait Allah karena kesombongan kapasitas manusia. Kalau Bait Allah runtuh, hal itu sangat mengganggu kesombongan Yudaisme mereka dan kesombongan sebagai orang Yahudi. Tuhan Yesus menginginkan mereka untuk tidak terikat dengan hal itu melainkan harus lepas sama sekali dari kesombongan-kesombongan kekuatan manusia seperti itu.  

 

Ada 4 hal yang akan lihat tentang Bait Allah yaitu:

1)      Bait Allah tersebut adalah perwujudan dari kehebatan dan kesombongan manusia.

Kemah sembahyang pada zaman Musa diatur semuanya oleh Tuhan Allah sendiri, mulai dari bahan, ukuran dan bahkan orang yang mengerjakannya. Semuanya itu hanya bersifat kontemporer, dari bahan-bahan yang tidak permanen. Inilah pertama kalinya Allah tinggal bersama di tengah-tengah umatNya. Dalam perjalanan menuju ke Kanaan dan selama masa pendudukan Tanah Kanaan banyak terjadi peperangan yang mengakibatkan bahan-bahan Bait Allah banyak yang rusak. Pada zaman Raja Daud, Daud memiliki ide untuk membangun bangunan Bait Allah, tetapi Tuhan tidak suka kalau Daud yang mendirikan Bait Allah karena terlalu banyak darah yang sudah ditumpahkan oleh Daud. Dengan berbesar hati, Daud menyiapkan semua bahan terbaik untuk pembangunan Bait Allah dan Salomo, anak Daud, yang mendirikan bangunan itu. Bait Allah yang dibangun oleh Salomo begitu indah dan megah yang menjadi kebanggaan bagi bangsa Israel, mereka menyebutnya Bait Allah Salomo. Itulah yang terus didengungkan di kalangan Israel yaitu: Yerusalem adalah kota Allah dan Bait Allah adalah rumah Allah.

Pada saat itu Tuhan melihat orang Israel mulai rusak hidupnya, berzinah secara rohani. Tuhan kemudian memotong perjanjian dengan umat Israel. Kalau dahulu umat Israel menjadi jalur keselamatan, Israel adalah umat pilihan Tuhan, tapi sekarang ini tidak lagi demikian, keselamatan tidak harus melalui Israel, maka Tuhan membentuk Israel baru yaitu gereja Tuhan. Nabi Yeremia mengatakan: kamu (bangsa Israel) akan dibuang, Yerusalem akan dihancurkan. Orang Israel menjadi marah.

Tuhan Allah meninggalkan Bait Allah, meninggalkan Yerusalem, kemudian bangsa Asyur menghantam mereka dan menawan 10 suku Israel, Babel menghantam mereka dan menawan 2 suku Israel. Tinggallah suku Yehuda yang masih cinta Tuhan dan ketika dibuang ke Babel mereka sadar telah berbuat kesalahan fatal. Orang-orang yang berada di pembuangan betul-betul bertobat dan berpikir untuk balik ke Yerusalem. 70 tahun kemudian, mereka pulang dari Babel, pertama kali dipimpin oleh Zerubabel mereka mulai memikirkan untuk membangun kembali Bait Allah. Di bawah pimpinan Ezra, mereka membangun kembali Bait Allah. Bait Allah akhirnya berdiri kembali tetapi tidak lagi bisa semegah dan seindah sebelumnya karena bangsa Israel dalam keadaan miskin setelah pembuangan. Beberapa tahun kemudian, Nehemia pulang dan membangun tembok kota dalam waktu 52 hari. Kemudian, Yerusalem dihantam oleh tentara Makedonia di bawah pimpinan Aleksander Agung, dihancurkan dan dijajah. Setelah itu, Romawi menghantam dan menjajah. Sejak saat itu, Israel tidak lagi punya Bait Allah.  

Pada tahun 37 BC Herodes naik menjadi wali negeri Yudea. Herodes bukanlah orang Yahudi tetapi menjadi seorang penguasa besar di wilayah Yudea. Hal ini merupakan suatu peristiwa yang besar. Herodes adalah orang Edom. Dalam Mazmur 137 tercantum doa orang Israel yang demikian: Tuhan, Engkau lihat suku Edom, yang ketika Yerusalem dihancurkan mereka berteriak: runtuhkan! Orang Edom sangat melawan orang Israel, dan Herodes tahu posisi itu. Dia mau menguasai Israel tetapi dia juga musuh bangsa Israel. Bagaimana cara mengatasi hal ini? Pada tahun 20 BC dia memakai taktik politik yang mengerikan yaitu dengan mempermainkan agama. Orang Yahudi paling takut dengan agama, paling takluk dengan penguasa agama. Kalau bisa “pegang“ pemimpin agama, maka rakyat akan takluk. Bagaimana cara “memegang“ pemimpin agama? Herodes memakai cara yaitu dengan memberikan apa yang mereka sukai. Pada tahun 20 BC Herodes mendesain bangunan Bait Allah dan menunjukkannya kepada pemimpin-pemimpin agama Yahudi; mereka sangat terkesan dan mulai terambil hatinya maka pada tahun 19 BC bangunan Bait Allah yang sangat indah dan mewah didirikan. Sejarah mengatakan bahwa Herodes adalah arsitek kelas dunia, maka desainnya sangatlah bagus. Bait Allah tersebut dikatakan sebagai magnum opus seluruh kemampuan arsitektural dia. Waktu Bait Allah dibangun, orang Israel menjadi “lupa“ kalau Herodes adalah orang Edom.

Ketika para murid Tuhan keluar dari Bait Allah, mereka tidak rela kalau Bait Allah akan diruntuhkan, bangunan yang sedemikian indah akankah hancur? Manusia bisa membuat bangunan yang begitu bagus tetapi semuanya itu hanyalah kehebatan manusia, hanya sebuah kesombongan kapasitas manusia. Manusia menganggap hal tersebut adalah besar, tetapi Tuhan menganggapnya kosong karena tidak ada Tuhan di situ. Ketika Musa membangun kemah sembahyang, ketika Daud merencanakan pendirian Bait Allah, ketika Salomo mendirikan Bait Allah, ketika Ezra membangun kembali Bait Allah Salomo yang hancur, Tuhan terlibat di dalam semuanya itu. Tetapi ketika Herodes membangun Bait Allah, tidak ada Tuhan di situ. Yang ada hanyalah otak politik, kapasitas manusia, pamer kekuatan, kekuasaan dan kelicikan manusia.

Bangunan tersebut kelihatan sangat rohani yaitu Bait Allah tetapi tanpa Allah di dalamnya. Apa yang dilihat oleh Herodes dan orang Yahudi, kalau pada hari ini kita tidak berhati-hati maka kita akan melihat hal yang sama. Kita bisa memberikan banyak alasan untuk melakukan pelayanan, kita bisa mengerjakan semua hal yang kelihatan rohani, tetapi hati-hatilah jangan sampai ketika kita mengerjakan segala sesuatu dengan hebat tetapi Tuhan tidak ada di sana. Dunia makin hari makin menekankan kehebatan manusia tetapi kalau Tuhan menilainya sebagai kekosongan maka Tuhan akan membuang semuanya itu dan semuanya itu akan menjadi hancur. Dunia memperlihatkan bahwa semua yang diperjuangkan oleh manusia hanya akan berakhir dengan kesia-siaan, semua upaya manusia hanyalah berakhir dengan kekosongan. Mari kita evaluasi diri, kalau selama ini kita telah berjuang dengan kekuatan kita, memamerkan kehebatan kita, kita terkagum-kagum dengan sesuatu yang hebat, tetapi tidak ada Tuhan di dalamnya, maka inilah waktunya bagi kita untuk balik kepada Tuhan. Hidup barulah bernilai, kualitas barulah memiliki kualitas kalau Tuhan ada di dalamnya. Kalau Tuhan tidak terlibat di dalamnya, maka semua yang kita kerjakan akan habis dan menjadi sia-sia. Tuhan ingin kita melibatkan Dia di dalam semua hal yang kita kerjakan. Setiap kita bersama Dia, Tuhan akan pimpin setiap langkah perjalanan kapasitas kita. Kita semua bisa hebat, bisa pintar karena Tuhan yang beri. Kalau semua talenta yang Tuhan beri kita kerjakan tanpa melibatkan Pemberinya, kita membuang Tuhan, maka betapa celakanya kita.  

2) Bait Allah tersebut adalah bangunan yang sangat mewah.

Josephus, seorang ahli sejarah, mencatat bahwa bangunan Bait Allah yang dibangun Herodes adalah bangunan yang tidak ada batasan jumlah uang dan mewah. Herodes menuangkan semua kapasitas, semua uangnya untuk mengerjakan bangunan itu. Maka tidaklah heran kalau seluruh dome yang ada di Bait Allah tersebut bukan sekedar di cat warna emas tetapi memang berlapiskan emas murni. Akibatnya seluruh Sanhedrin, imam kepala, orang Farisi, ahli Taurat menjadi tunduk kepada Herodes. Mereka menjadi “lupa“ kalau Herodes adalah orang Edom, musuh Allah. Orang Israel begitu membanggakan gedung itu karena dipenuhi dengan emas. Pada saat semua manusia melihat pada emas, Tuhan justru tidak mau melihat hal itu. Karena emaslah manusia menjadi kehilangan integritasnya, manusia menjadi keblinger dari semua kebenaran sampai kebenaran yang paling azasi pun dikompromikan. Orang yang sudah dicengkeram oleh uang, oleh barang mahal/mewah, oleh materialisme maka akan habis semua. Bait Allah akhirnya hancur juga dikarenakan emas. Prinsip penting yang harus selalu kita ingat adalah: dimana uang berbicara, di situ akan rusak. Kalau mata kita sampai terjebak dengan uang, betapa menakutkannya hal itu. Seberapa kita mempunyai kekuatan sehingga integritas hidup kita tidak bisa diganggu dengan uang/emas/barang mewah? Di tengah-tengah dunia iblis mempermainkan manusia dengan memakai uang/emas/harta supaya ketika uang berbicara mulailah kehancuran terjadi.

3)      Bangunan Bait Allah berukuran kecil di dalam kompleks yang luas.

Ada catatan unik tentang bangunan Bait Allah Herodes ini yaitu: bangunan ini tidak sebesar dan sebagus Bait Allah Solomon, tetapi oleh Herodes dibangun secara kompleks dengan berbagai macam bangunan lain sehingga secara luas area kompleks tersebut jauh lebih besar dari luas Bait Allah Solomon. Musa dan Solomon membangun Bait Allah dengan prioritas utama adalah Tuhan sendiri karena tempat untuk Tuhan adalah yang terpenting maka yang terbesar diberikan untuk Tuhan. Herodes berbeda, memberikan kepada Tuhan yang paling kecil sedangkan untuk hal lain yang lebih besar, karena bagi dia untuk Tuhan hanyalah simbol dan untuk kepentingan politik. Secara penampilan sepertinya Tuhan diletakkan sebagai pusat, sebagai yang utama, tetapi semuanya itu palsu belaka.  

Ketika orang-orang kagum melihat Bait Allah, Tuhan jijik dengan semuanya itu, Tuhan sangat marah dan berkata: Jangan jadikan Rumah BapaKu menjadi sarang penyamun. Tuhan Yesus sangat benci melihat perilaku di dalam Bait Allah karena tidak mencerminkan kalau berada di Rumah Tuhan melainkan lebih mencerminkan rumah penjahat/ dunia. Di dalam perjalanan kerohanian, pusat dari seluruh hidup kita berada di mana karena hal itu sangat menentukan. Apakah Tuhan menjadi yang utama ataukah hanya sekedar asesoris? Apakah hal-hal yang bersifat tambahan/ekstensi lebih besar daripada Tuhan yang asli? Dalam Katekismus Westminster disebutkan bahwa tujuan ultimat (tujuan yang paling besar yang menaungi semuanya) hidup manusia adalah memuliakan Tuhan dan menikmati Dia selama-lamanya. Orang dunia tidak suka menikmati Tuhan tetapi suka menikmati berkat Tuhan. Orang dunia suka dengan ekstensi perbuatan Tuhan bukan suka pada Tuhan. Banyak orang Kristen yang tidak mau dekat dengan Tuhan, Tuhan tidak menjadi yang utama dalam hidupnya. Manusia suka dengan kerohanian yang hanya menempel di permukaan tetapi tidak mau masuk ke dalamnya, seperti yang banyak dikatakan orang yaitu beragama boleh tapi jangan fanatik, jangan sampai terlalu masuk karena dapat celaka.

Tuhan mau kita bergaul, berdekat dengan Tuhan bukan dengan ekstensi Tuhan. Memang bangunan Bait Allah itu besar dan mewah tetapi Tuhan tidak diutamakan di dalamnya, hanya perluasannya yang besar tetapi Bait Allah hanya kecil. Seberapa jauh di tempat hidup kita Tuhan itu besar, Dia memberikan pengaruh terbesar dalam hidup kita, menguasai dan mengontrol seluruh hidup kita? Kita jangan terkecoh dengan hal-hal yang bersifat fenomena yang menyebabkan kita gagal menangkap hal-hal yang numena/ asli.

4)      Bangunan Bait Allah tersebut memiliki proses pembangunan yang lama.

Bangunan Bait Allah dibangun dalam waktu yang lama yaitu mulai tahun 19 BC. Tuhan Yesus pernah berkata: hancurkan bangunan Bait Allah ini maka Aku akan membangunnya kembali dalam waktu 3 hari. Yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus sebenarnya adalah DiriNya sendiri yaitu penebusan. Runtuhkan segala permainan religiositas maka Aku akan membangun iman yang beres dalam 3 hari melalui kematian dan kebangkitanNya. Reaksi para murid pada waktu itu terhadap omongan Tuhan Yesus adalah perasaan tidak bisa terima kalau Bait Allah itu dihancurkan karena dibangun dalam waktu 46 tahun. Mereka begitu bangga dengan bangunan yang dibangun dalam waktu yang lama karena dibuat dengan teliti dan detailnya rapi. Menurut catatan sejarah, bangunan tersebut selesai setelah 83 tahun dibangun. 6 tahun kemudian bangunan tersebut dihancurkan. Bangunan tersebut pada waktu itu sudah dibangun selama 46 tahun tetapi kerohanian yang dibangun di dalamnya tidak semakin baik bahkan kosong, bahkan kebenaran yang hadir disana ditolak. Penghuni Bait Allah mengalami kegersangan iman.

Perlu dipertanyakan: kita melakukan semua yang terbaik, untuk apakah, untuk material kitakah? Banyak gereja yang punya gedung makin mewah, gedungnya dibuat selama bertahun-tahun, kerohanian jemaatnya keropos. Saat mata kita mulai ditarik kepada proses material, saat itu pula kerohanian kita mulai diabaikan/ disisihkan. Ketika GRII mengalami pertambahan dalam kuantitas jemaat, gedung semakin baik, perlu terus diwaspadai dalam hal kualitas kerohanian jemaatnya, semakin bertumbuh dalam kerohanian atau semakin kering. Jika kerohanian kita menjadi kering/mati maka Tuhan akan menilai semuanya itu kosong. Seberapa jauh mata kita bisa melihat seperti yang Tuhan lihat? Biarlah Tuhan memberi kita kemampuan melihat yang berbeda dengan dunia, biarlah Tuhan memberi anugerah untuk kita bisa melihat dengan iman yang sungguh sehingga kerohanian kita bertumbuh, iman kita bertumbuh, setiap aspek hidup kita juga bertumbuh.

Pdt. Stephen Tong mengajar kita tentang adanya 4 hal dengan urutan prioritas kepentingan dalam gereja yaitu: hamba Tuhan yang baik, Firman Tuhan yang baik, jemaat yang baik, fasilitas yang baik. Yang penting memiliki 3 hal pertama, gedung dan fasilitas boleh tidak kita miliki. Iman yang beres adalah memiliki hati yang takut akan Tuhan, mau menjalankan kehendak Tuhan. Gereja bukanlah tempat untuk menjalankan ambisi manusia, bukan masalah manusia suka atau tidak suka, bukan tempat untuk melampiaskan semua hobby dan semua kemanusiawian kita. Gereja adalah tempat Tuhan hadir dan bertahta dalam hidup kita.  ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)