Ringkasan Khotbah : 8 November 2009

Paradoks dalam Kehidupan Elia

Nats: 1Raja-Raja 19:1-11, 15-18

Pengkhotbah : Ev. Warsoma Kanta

 

Nats Alkitab kita hari ini adalah kisah yang tidak asing lagi di telinga kita, merupakan kisah yang sudah kita kenal dalam hidup kita, bahkan mungkin juga pernah ada drama yang dipentaskan berhubungan dengan apa yang dilakukan oleh nabi Elia di Bukit Karmel. Ada 1 kutipan yang saya ambil dari seorang pengkhotbah besar ketika dia mengkhotbahkan bagian ini yaitu: dari ayat-ayat diatas kita melihat suatu drama besar yang telah terjadi didalam sejarah, Elia sangat sedih karena seluruh dunia sedang berubah arah, seluruh umat yang dahulu melihat kebesaran Tuhan sekarang telah berubah, sudah pergi dan tidak lagi cinta Tuhan. Elia juga melihat rekan-rekannya berubah, yang setia sudah mati, yang tidak setia telah membelot. Elia melihat bahwa tinggal ia seorang diri, tidak ada lagi orang di sekitarnya. Saat seperti ini merupakan saat yang paling menakutkan, paling membahayakan, dan paling menyedihkan bagi seorang pelayan. Ini adalah suatu realita yang pahit.

Elia adalah seorang pribadi yang luar biasa dalam PL, seorang nabi yang disetarakan dengan nabi Musa, seorang nabi yang boleh meminta Tuhan mengirim api dari langit, seorang nabi yang dipakai Tuhan untuk berperang secara terbuka dengan nabi-nabi palsu/ nabi-nabi dewa Baal, seorang nabi yang boleh dipakai Tuhan untuk menyampaikan berita yang luar biasa pada saat itu. Di tengah-tengah bangsa Yahudi/Israel yang telah meninggalkan Tuhan di bawah pimpinan dari Raja  Ahab, Tuhan memakai Elia untuk menegur raja Ahab dengan mendatangkan musim kemarau selama bertahun-tahun. Elia adalah seorang yang begitu dipakai dan dipelihara oleh Tuhan, sehingga di tengah-tengah kekeringan/kesulitan Tuhan menyertai Elia. Ketika kita membaca bagian diatas, kita menjadi bertanya: mengapa Elia akhirnya menjadi seperti ini? Dalam 1Raja-Raja 19:3 diceritakan setelah Izebel menyuruh seorang suruhan berkata kepada Elia bahwa dia hendak membunuh Elia, maka takutlah Elia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya. Mengapa ia melarikan diri?

Orang sebesar Elia yang kita kenal sebagai orang yang luar biasa, hanya karena perkataan Izebel yang disampaikan oleh seorang pesuruh menjadi lari tunggang langgang. Apa sebabnya? Kita tentunya mengharapkan Elia tetap menjadi seorang yang perkasa sehingga boleh menjadi teladan bagi kita, menjadi bagian yang nantinya boleh kita cerminkan dalam kehidupan kita, bukan? Alkitab kita adalah Alkitab yang jujur, yang mengungkapkan apa adanya, yang menjelaskan secara gamblang kondisi manusia yang berdosa tanpa pandang bulu, baik orang Farisi, orang kafir, bahkan nabi-nabi sekalipun. Kalau kita gagal melihat situasi yang dihadapi Elia pada waktu itu, maka kita akan gagal mengerti kebenaran Firman Tuhan. Kalau kita salah mengerti bagian ini, kita akan mengungkapkan bahwa Elia adalah 1 pribadi yang akhirnya binasa didalam apa yang dilakukannya. Saya menemukan adanya 3 paradoks yang muncul didalam kehidupan Elia yang menyebabkan dia bisa melakukan tindakan seperti itu.

Paradoks pertama : Elia yang kuat tetapi sekaligus Elia yang lemah/rapuh. Elia pada waktu itu sudah menjadi tokoh figur yang sangat sentral didalam peristiwa peperangan di atas Bukit Karmel. Elia pada waktu itu sudah dipakai Tuhan dengan berbagai cara seperti yang telah disebutkan diatas. Di hadapan banyak orang, sejak peristiwa di Bukit Karmel, kekuatan Elia seperti begitu besar sehingga tidak bisa dibendung oleh nabi-nabi palsu itu. Elia memiliki posisi yang tegas dan tangguh di hadapan para musuhnya. Tetapi setelah semuanya itu berlalu, di tengah-tengah peristiwa yang telah kita baca diatas, muncullah kerapuhan Elia yang begitu dalam. Di satu sisi kekuatannya menjulang seperti bukit karang yang dapat dilihat oleh setiap orang dari begitu banyaknya peristiwa, tetapi di sisi lain hanya Tuhan yang tahu, yaitu ketika dia masuk ke padang gurun lalu duduk di bawah pohon arar dan berkata bahwa dia ingin mati. Inilah kelemahan Elia yang terdalam. Mengapa bisa terjadi paradoks dalam diri Elia ini? Karena pada saat itu dia sudah menggeser otoritas Tuhan. Pada saat dia kuat dia memiliki konsentrasi untuk menjaga otoritas Tuhan dalam hidupnya, tetapi ketika dia lemah dia menggeser otoritas Tuhan dan menggantikannya dengan otoritas perkataan Izebel (ayat 2). Karena perkataan Izebel inilah Elia menjadi tunggang langgang. Elia telah kompromi, dia tidak lagi melihat otoritas Tuhan sebagai pusat hidupnya, sebagai seorang nabi dia sudah tidak lagi memfokuskan dirinya pada otoritas Tuhan. Izebel memang dianggap lebih berkuasa daripada Ahab, dan dia telah membawa seluruh kerajaannya untuk tidak mengikut Allah melainkan menyembah berhala. Ada sekitar 450 orang nabi palsu yang mengikut Izebel. Ada seorang penafsir yang mengatakan bahwa kalimat ancaman pada ayat 2 itu sebenarnya merupakan ketakutan Izebel terhadap apa yang telah dilakukan oleh Elia dan Tuhannya. “Elia“ (namanya berarti my God is Yahweh). Seharusnya dia tetap menjaga nama itu dengan memprioritaskan pada otoritas Tuhan.   

Pergeseran Elia dari fokus otoritas Tuhan menjadi fokus pada perkataan Izebel ini menyebabkan dirinya sudah tidak lagi kuat didalam kehidupan rohaninya, bahkan dia tunggang langgang sehingga dia tidak ingat lagi akan Tuhan yang berkuasa melebihi Izebel. Tuhan tahu akan kerapuhan hati Elia, dia telah masuk ke dalam kerapuhan hati yang paling dalam. Ketika Elia menggeser otoritas Tuhan, itulah awal dari kehancurannya. Kehidupan yang berkompromi, yang menggeser otoritas Tuhan, mungkin juga masuk kedalam kehidupan kita saat ini. Seberapa jauh “Izebel-Izebel“ ini hadir dalam kehidupan kita sehingga kita tidak lagi melihat otoritas Tuhan dalam hidup kita? Seberapa jauh kita tidak lagi fokus kepada Tuhan karena terlalu khawatir dengan kehidupan kita, mungkin karena pekerjaan kita, posisi kita, teman hidup kita?

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya apa yang akan terjadi pada diri saudara seiman kita yaitu Even. Beberapa tahun yang lalu ketika dia hendak berobat ke luar negeri untuk menjalani kemoterapi, kami bergumul dan berdoa bersama. Di tengah-tengah ketidak tahuan dan ketidak pastian akan apa yang akan dilakukan di luar negeri, Even senantiasa memohon dan berdoa agar dia tetap dikuatkan. Dia sempat dinyatakan “bersih“ dari penyakit kankernya untuk beberapa waktu, tetapi kemudian penyakit itu muncul kembali. Hal ini adalah sesuatu yang tidak mudah, bagaimana dia bisa melihat suatu realita di hadapan Tuhan dan dia harus tetap fokus kepada Tuhan. Saudari Even boleh menjadi teladan bagi kita, karena dia tetap fokus kepada hadirat dan otoritas Tuhan diatas segala penyakit.

Ketika istri saya menderita sakit dan harus masuk rumah sakit, saya masih merasa wajar-wajar saja. Ada yang mengatakan bahwa penyakit tersebut sangat sulit ditangani, ada yang mengatakan bahwa penyakit tersebut begitu parah. Bagi saya, hal ini adalah sesuatu yang harus kami jalani, tetapi ketika dokter tidak bisa menemukan penyakitnya maka mulailah pergumulan demi pergumulan muncul. Saya mengajak istri saya untuk tetap memandang kepada Tuhan sebagai Allah yang tidak pernah melepaskan kita. Kemudian kami berobat ke Singapura. Dokter di sana pun tidak dapat menemukan secara pasti penyakit istri saya. Akhirnya ada 1 dokter yang menemukan penyakitnya dan mengambil langkah operasi. Setelah semuanya itu, kami pulang ke Indonesia dengan hati yang gembira karena kami pikir semuanya sudah selesai. Ketika penyakit itu muncul kembali, kami merasakan suatu pergumulan yang tidak mudah: bagaimana kami bisa melihat otoritas Tuhan di sana, otoritas yang seharusnya kita pelihara dan kita jaga terus menerus diatas segala hal yang terjadi.

Elia sudah mengalami begitu banyak otoritas Tuhan dalam hidupnya, mengalami banyak pimpinan Tuhan selama dia menjadi nabi, minimal selama 3 tahun ketika dia menyaksikan musim kemarau yang panjang, menyaksikan seorang anak janda di Sarfat dibangkitkan, bagaimana dia dipelihara oleh Allah melalui burung gagak, bagaimana dia boleh memenangkan pertempuran di atas Bukit Karmel. Tetapi ketika perkataan Izebel itu muncul, dia jatuh ke dalam palung rohani yang paling dalam. Seorang hamba Tuhan mengatakan bahwa Elia adalah seorang hamba Tuhan yang gagal dalam memprioritaskan  Allah dalam hidupnya. Kalau kita tidak membaca nats Alkitab hari ini, mungkin kita tidak tahu bahwa Elia sudah jatuh sedemikian dalam. Hal ini menjadi wanti-wanti bagi setiap kita yang hidup sekarang ini. Hanya kita dan Tuhan yang tahu bagaimana kehidupan kita di hadapan Tuhan. Kadang-kadang kita berhadapan dengan keadaan yang penuh dengan gempita, penuh dengan kemenangan dan kesuksesan, tetapi di hati kita yang terdalam masihkah kita menjaga otoritas Tuhan atau kita menggeser otoritas Tuhan dengan yang lain? Kalau kita masih memprioritaskan Tuhan dalam hidup kita maka kita tidak akan kompromi dan tidak digeser oleh ketakutan yang seharusnya kepada Tuhan dengan ketakutan kepada pihak yang lain.  

Paradoks kedua : Elia yang berani sekaligus Elia yang penakut. Kita melihat Elia sebagai seorang yang begitu berani ketika berhadapan dengan berbagai tantangan seperti: raja Ahab, anak seorang janda, berperang melawan 450 orang nabi Baal. Mengapa akhirnya dia menjadi seorang penakut yang ingin mati? Dia ingin mati adalah keinginan untuk mati tidak dengan cara yang memalukan di hadapan Izebel tetapi dia ingin mati dengan cara Tuhan yang mencabut nyawanya. Problema dari semuanya itu adalah: Elia mengasihani diri sendiri. Elia telah menggeser pribadi Tuhan dengan pribadi dirinya. Pribadi Elia semakin mencuat dan dia melihatnya sebagai pribadi yang penuh dengan kesengsaraan dan keletihan. Kalimat dalam ayat 10 adalah suatu realita yang dikemukakan oleh Elia tetapi muncul pula kalimat yang bernada mengasihani diri sendiri.

Sikap mengasihani diri adalah suatu sikap yang mengkhawatirkan bahkan Pdt. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa mengasihani diri adalah musuh terbesar dalam pelayanan. Kesepian dalam diri Elia menjadi musuh terbesar dalam diri Elia yang menggerogoti dirinya sehingga dia tidak lagi bisa menghadapi Tuhan sebagai pribadi yang terpenting dan menjadikan Tuhan sebagai 1 pribadi yang hidup. Apa yang dilakukan oleh Tuhan? Ketika Tuhan melihat Elia seperti itu, Tuhan mengutus malaikat sebanyak 2 kali untuk mengirim roti bakar dan sebuah kendi berisi air. Ketika Elia melihat dirinya sebagai orang yang penuh dengan penderitaan, kesengsaraan dan terancam, Tuhan mengutus kehidupan kepada dia melalui malaikat sebanyak 2 kali. Ketika Elia meragukan otoritas Tuhan, Tuhan memakai 3 cara (dalam ayat 11) yaitu angin besar yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, gempa bumi dan api. Semuanya itu sebagai tanda bahwa Allah masih berotoritas didalam hidup, masih berotoritas terhadap seluruh alam semesta ini. Allah tidak mau kehidupan Elia menjadi hancur begitu saja. Sebenarnya adalah sangat mudah bagi Tuhan untuk menghancurkan hidup Elia dengan memakai 3 cara diatas, tetapi Elia begitu diperhatikan oleh Tuhan sehingga Elia seharusnya dapat menjawab pertanyaan Tuhan dengan tepat. Tetapi Elia memberikan jawaban yang tetap sama dengan sebelumnya (ayat 14). Elia tidak mengalami suatu perubahan dalam memberikan jawaban kepada Tuhan. Di bagian ini dia begitu mengasihani dirinya. Dirinya menjadi begitu penting dan begitu sentral melebihi dari yang seharusnya sebagai seorang nabi, dibanding dengan keberadaan Tuhan sebagai pribadi yang sangat penting dalam kehidupan seorang nabi.

Dalam PL, kehidupan seorang nabi tidaklah mudah. Seorang nabi adalah orang yang ditunjuk oleh Tuhan sendiri, dipakai oleh Tuhan sendiri dalam kehidupan yang khusus. Tetapi dalam 1Raja-Raja 19 ini terlihat bahwa nabi Elia menjadi pribadi yang menggeser pribadi Tuhan dengan mengasihani dirinya sendiri. Sepulang dari berobat di Singapura, saya mengingatkan istri saya supaya kami tidak terjebak dalam mengasihani diri sehingga bisa menghambat pekerjaan Tuhan. Jangan sampai kita terpaku dengan kelemahan-kelemahan kita dan kita berhenti hanya sampai disana, kita terpaku dengan kesulitan-kesulitan hidup sehingga kita tidak melihat lagi pribadi Tuhan yang hidup. Apa yang dialami oleh Elia merupakan sebuah kejujuran dalam perjalanan hidup seorang hamba Tuhan, tetapi juga merupakan titik balik yang mengubah dia dari seorang yang berani menjadi seorang yang penakut.  

Saya ingat ada 1 perkataan Even yang begitu menguatkan, setelah menjalani pengobatan dan dalam keadaan banyak bagian tubuhnya yang rusak akibat kemoterapi, di hadapan beberapa saudaranya, yaitu: karena ada saudara-saudara seiman saya maka saya bisa tahan seperti ini. Bahkan dia tidak mau diperlakukan khusus yang menunjukkan seolah-olah mengasihani dia. Dia bersikeras seperti itu karena dia ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Dia tidak ingin dirinya menjadi pusat yang menjadikan seluruh pergumulannya berhenti sampai disana, tetapi dia ingin melihat Tuhan sebagai Tuhan yang hidup dalam hidupnya. Sampai menjelang akhir hidupnya pun dia tetap melayani dan bekerja untuk Tuhan. Hal ini merupakan suatu hal yang indah dimana di tengah-tengah tantangan ini pribadi itu dibungkus dengan hadirat Tuhan dan hadirat Tuhan yang hidup itu terus memimpin dia sampai akhir hidupnya. Tidaklah berlebihan jika dalam kebaktian penutupan peti Pdt. Thomy mengatakan bahwa saudari Even adalah pejuang iman. Dia adalah seorang pejuang iman sampai akhir hidupnya, yang telah memberikan teladan bagi kita.

Dalam ayat 15 diceritakan bahwa Tuhan menyuruh nabi Elia pergi mencari Elisa untuk menggantikan dirinya. Karena jawaban nabi Elia diatas maka Tuhan tidak lagi memakai nabi Elia sebesar sebelumnya. Pdt. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa setelah 1Raja-Raja 18 ke belakang, kita tidak pernah lagi melihat nabi Elia dipakai oleh Tuhan sebesar sebelumnya seperti di Bukit Karmel dan sebelumnya.

Paradoks ketiga : nabi Elia adalah seorang pemenang, sekaligus akhirnya menjadi seorang yang kalah. Kemenangan demi kemenangan yang dialami oleh nabi Elia bersama dengan Tuhan sebelumnya adalah kemenangan yang tidak berhenti hanya pada kemenangan. Sangat disayangkan ketika kemenangan itu tidak menjadi modal rohani bagi Elia untuk mengenal Allah dengan dan mampu bertahan sampai akhir, bahkan dia merasa dirinya hanya dirinya seorang yang masih hidup. Kemenangan itu ternyata tidak menghasilkan suatu premis iman dalam hidup Elia. Pengalaman yang besar dalam kehidupan nabi Elia tidaklah menjamin bahwa pergumulan hidupnya berhenti pada suatu kemenangan pula, tetapi justru kemenangan yang besar tersebut menyebabkan Elia jatuh ke dalam kekalahan yang besar. Sungguh ironis!

Pengalaman rohani yang telah kita alami bersama Tuhan seharusnya kita ingat di hadapan Tuhan, kita bawa ke hadapan Tuhan sebagai suatu modal yang membuat kita semakin bertahan di dalam kita menjalani kehidupan ini. Mungkin pada saat itu Elia berpikir bahwa dia telah menyelesaikan perjuangannya di atas Bukit Karmel dan dia telah memenangkan peperangan dengan begitu gemilang di atas Bukit Karmel, tetapi dia tidak menyadari akan adanya peperangan yang baru di hadapan dia yang berasal dari Izebel sehingga dia tidak siap dan begitu kaget ketika dia harus menghadapi tantangan yang baru ini. Ada beberapa komentator yang mengatakan bahwa ketika berada di Bukit Karmel Elia sedang berada di puncak kerohaniannya, dan justru di puncak Horeb kerohaniannya sedang berada di lembah curam kerohaniannya. Seberapa jauh kita boleh mengingat perngalaman kita bersama dengan Tuhan, akan pergumulan kita bersama dengan Tuhan, akan kemenangan-kemenangan kita dalam pergumulan bersama Tuhan? Jangan biarkan kemenangan-kemenangan itu kita lupakan, habis begitu saja tanpa kita boleh mendapatkan kekuatan untuk terus melakukan perjalanan iman kita.

Nabi Elia di cerita ini, ketika kita lihat, kita baca, kita renungkan, kita boleh menyimpulkan bahwa kemenangan demi kemenangan dalam kehidupannya seolah-olah tidak lagi berdampak besar dalam hatinya. Marilah kita menghitung berapa besar kemenangan yang Tuhan berikan kepada kita dalam pergumulan hidup kita dan biarlah kita dapat menjadikan diri kita seorang yang semakin kuat, semakin berani untuk berperang di hadapan Tuhan, dan semakin menjadi seorang pemenang di hadapan Tuhan dalam menghadapi pergumulan hidup.

Satu hal yang menghibur saya dari saudari Even ketika dia sudah menyelesaikan pergumulan imannya sebagaimana Paulus didalam kesaksiannya kepada Timotius yang mengatakan: aku telah mencapai garis akhir. Paulus mengatakan hal itu sebagai puncak kemenangan yang dialaminya setelah dia menjalani perjalanan iman yang begitu panjang dan akhirnya dia boleh menyimpulkan: aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik. Suatu saat nanti, apakah kita akan dikenang orang sebagai seorang pemenang dalam pergumulan iman kita, sebagai pribadi yang semakin kuat dan menjadi berkat bagi orang lain? Kiranya apa yang kita pelajari dari Elia pada saat ini boleh mengingatkan kita bahwa nabi yang begitu besar bisa jatuh begitu dalam. Biarlah kita boleh datang kepada Tuhan untuk senantiasa memohon kekuatan dari Tuhan. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)