|
Ringkasan Khotbah : 1 November 2009
Nats: Matius 23:37-39 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Matius 23:37-39 sebenarnya merupakan 1 bagian dengan “celaka“ yang terakhir yang menceritakan tentang bagaimana klimaks dari kerusakan keagamaan. Ada 8 “celaka“ yang disampaikan oleh Tuhan Yesus dan “celaka“ yang ke-8 adalah yang paling gawat dimana orang yang kelihatannya super rohani yaitu orang Farisi dan ahli Taurat, yang mengatakan bahwa mereka akan membangun tugu-tugu untuk nabi-nabi yang telah dibunuh oleh nenek moyang mereka dahulu, kuburan para nabi dipermegah, mereka pasti tidak akan membunuh para nabi itu andaikata mereka hidup pada zaman nenek moyang mereka; padahal sebentar lagi mereka akan membunuh Tuhan Yesus. Mereka kelihatan begitu rohani tetapi sangat jahat. Tuhan Yesus mengatai mereka: munafik dan persis seperti ular beludak! Orang memakai tameng rohani tetapi di dalamnya justru sangat tidak rohani.
Nat Alkitab kita pada hari ini merupakan klimaks diatas klimaks. Ujung terakhir dari “celaka“ ini adalah Tuhan Yesus meratapi Yerusalem, dan inilah klimaksnya. Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan ayat pada hari ini, kita akan terlebih dahulu sekali lagi melihat Matius 23:34-36 sebagai konteksnya.
Yerusalem adalah pusat dari seluruh keagamaan orang-orang Yahudi, pusat dari seluruh pengharapan orang-orang Yahudi. Seolah-olah kota Yerusalem merupakan kebanggaan bagi mereka. Tetapi dibalik itu semua, sifat religius yang ditampilkan di Yerusalem merupakan gambaran yang paling rusak. Kota Yerusalem digambarkan sebagai kota dimana Tuhan ada di sana, dinamakan The City of God (artinya: Kota Allah), tetapi justru di tempat ini manusia sangat tidak mengerti bagaimana mereka seharusnya berurusan dengan Allah. Inilah gambaran dari suatu kerusakan keagamaan. Celakanya, ketika keagamaan tidak beres manusia begitu persuasif ketika manusia berbuat dosa. Reaksi mereka terhadap Tuhan/Firman seolah-olah begitu baik dan begitu pro Tuhan tetapi pada hakekatnya mereka sangat benci kepada Tuhan. Saat mereka berkata bahwa mereka pasti tidak akan membunuh para nabi di zaman nenek moyang mereka, mereka sendiri tidak mengerti dengan siapa mereka berbicara, mereka tidak mengerti bahwa sekarang ketika kebenaran yang bukan sekedar nabi ataupun orang bijak yaitu Anak Allah sendiri yang turun ke dunia, mereka sendiri akan membunuhNya. Agama yang tidak beres membuat seluruh pengenalan gagal untuk mengerti Allah yang benar.
Format kerusakan pengenalan akan Allah bukan hanya terjadi 2000 tahun yang lalu tetapi juga terjadi sekarang ini. Gejala ini semakin lama semakin rusak. Sekarang ini begitu banyak orang Kristen yang tidak beres. Kondisi manusia saat ini begitu rusaknya sehingga manusia berani mempermainkan Tuhan dengan tanpa rasa bersalah. Kita seharusnya mengerti bahwa Allah kita adalah Allah yang adil, benar, baik, suci, mulia, dan setia. Semua sifat Allah tersebut ketika berhadapan dengan permasalahan dunia bisa menjadi terbalik. Ada orang Kristen yang ketika menghadapi kesulitan hidup berkata: Allah jahat, tidak adil! Banyak buku, pendeta Kristen, pemimpin Kristen, konselor Kristen mengatakan bahwa hal tersebut sangat manusiawi dan tidak bermasalah. Bagi iman Kristen yang beres, hal tersebut sangat bermasalah! Kalau Allah adalah baik kemudian dikatakan jahat, hal ini bersifat manusiawikah ataukah merupakan sebuah fitnah yang jahat? Siapakah yang sebenarnya jahat, manusiakah ataukah Allah? Manusia jahat bukannya mengakui bahwa dirinya jahat melainkan menuduh Allah yang jahat. Kalau terhadap seorang Presiden kita melakukan hal seperti itu, kita bisa langsung ditangkap dengan tuduhan subversi dan pencemaran nama baik. Tetapi kita begitu berani mengeluarkan kata yang rusak kepada Allah. Ketika manusia mengeluarkan perkataan itu bukannya mendapatkan teguran untuk tutup mulut, jangan berbuat dosa, dan belajar mengakui Tuhan secara beres, melainkan hal tersebut dianggap sangat manusiawi. Betapa rusaknya manusia yang bukan atheis atau non-Kristen, hal ini justru terjadi didalam kekristenan. Agama yang sudah keluar dari esensi/hakekat aslinya dan tidak kembali kepada Allah yang sejati akan menjadi masalah.
Betapa rusaknya ketika orang Kristen menjadi tidak Kristen tetapi mempermainkan Kristen, orang beragama sangat tidak beragama tetapi mengaku beragama. Ini merupakan kejahatan yang paling mengerikan. Menganggap diri sangat rohani tetapi justru perilakunya sangat tidak rohani, sangat tidak mengakui Tuhan Allah, dan bahkan menjadi pencelaka, pembunuh Anak Allah. Pada detik terakhir, Tuhan Yesus sangat sedih ketika Dia melihat Yerusalem, hatiNya sangat trenyuh. Bagian ini merupakan klimaks. Di saat manusia seperti itu, Tuhan Yesus justru meratap melihat kota Yerusalem. Tuhan Yesus berkata: Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Dosa adalah pemberontakan. Tuhan ingin orang yang berdosa kembali kepada Tuhan tetapi mereka tidak mau, mereka berontak, mau jalan sendiri, lalu menggunakan semua konsep mereka sendiri, mereka seolah-olah lebih rohani, begitu baik, begitu mengerti kebenaran, akhirnya mereka menjadi pembunuh kebenaran. Ketika Kebenaran itu datang, mereka tidak menerimaNya, mereka membenciNya, lalu mereka melawanNya.
Yerusalem seharusnya menjadi tempat dimana kerohanian dipuncakkan. Yerusalem adalah sebuah kota diatas bukit dengan ketinggian kira-kira 900 meter dari permukaan laut. Kota ini sepertinya ditaruh diatas untuk menjadi mercusuar/ gambaran yang indah. Kota ini seharusnya menjadi tempat dimana Tuhan dipermuliakan. Yerusalem adalah tempat dengan 3 agama berkumpul disitu yaitu agama Yahudi, agama Kristen, agama Islam, ketiganya menganggap kota ini begitu penting, tetapi hanya agama Yahudi dan agama Islam yang menganggap bahwa kota ini suci. Kota yang diakui oleh 3 agama besar di alam semesta ini justru kota ini bukan menjadi kota yang paling regius. Kota ini memiliki atribut agama yang paling banyak dan paling besar tetapi di dalamnya menggambarkan kerusakan yang paling besar. Dari sudut luar begitu hebatnya tetapi bagian dalamnya begitu bobrok dan bejat. Kota Yerusalem merupakan gambar sebuah ironi yang luar biasa. Kota ini tidak pernah tidak berantem, segala sesuatu yang kacau terjadi di sana, semua agama di sana hanya menampilkan kerusakannya. Agama yang mengatakan Allah baik, adil, suci, mulia, tetapi di dalamnya justru sangat tidak baik, tidak adil, tidak suci dan tidak mulia. Semua yang menyembah Allah, dalamnya justru menyimpang dari sifat Allah, perilaku orang-orang di dalamnya: saling sodok, saling bunuh, saling menghancurkan, saling mencelakakan, saling memfitnah, dll. Setiap orang melihat Yerusalem, orang melihat bahwa agama itu rusak. Setiap orang yang masuk ke Yerusalem akan melihat hancurnya agama, semua yang kelihatan baik di luar tetapi dalamnya hancur/rusak.
Yerusalem berarti Kota Damai. Tetapi dari dahulu sampai sekarang kota ini tidak pernah damai. Seharusnya, kalau manusia-manusia didalamnya cinta Tuhan, mengerti dan mentaati Tuhan, menjadi umat Tuhan, maka akan tercipta damai. Dari situ terlihat bahwa kota dengan banyak agama ini tidaklah rohani. Di Yerusalem berkali-kali terjadi pertempuran, kekacauan, dan setiap saat puluhan orang bisa mati/ celaka. Sebuah ironi yang mengerikan!
Yerusalem digambarkan sebagai kota agama, kota Tuhan tetapi didalamnya tidak kelihatan ada Tuhan justru cetusan setan yang lebih banyak. Tuhan Yesus meneriakkan banyak “celaka“ ini bukan dengan maksud hendak mencelakakan tetapi justru Dia ingin supaya orang-orang balik, tidak rusak seperti itu, kembalilah, Dia rindu seperti induk ayam yang ingin supaya anak-anaknya kembali berada di bawah lindungan sayapnya, tetapi sayangnya orang-orang tidak mau. Kalimat itu merupakan teriakan dari hati yang trenyuh dari Anak Domba Allah, Anak Allah sendiri yang ingin mencintai manusia tetapi manusia tidak mau mengerti kebaikan Allah, tidak pernah mau mengerti cinta kasih Allah, manusia mau main sendiri, jahat sendiri, dan memakai agama untuk melarikan diri.
Apa sebetulnya peringatan yang Tuhan hendak berikan dan bagaimanakah kita mengatasi hal tersebut? Point pertama, apakah yang menyebabkan Yerusalem bisa sedemikian rusak? Alkitab mencatat bahwa Yerusalem rusak, dia membunuh nabi-nabi Tuhan, dia membunuh orang-orang yang Tuhan utus, dia menjadi orang yang sangat anti kebenaran Tuhan, sangat anti dengan Tuhan, karena agama yang mereka pegang bergeser menjadi agama yang humanistis. Orang-orang itu beragama tetapi menurut yang mereka mau dan yang mereka suka, mereka tidak suka mendengarkan Tuhan, tidak suka kebenaran Tuhan, bahkan mereka tidak suka dengan Tuhan melainkan suka dengan diri sendiri. Ketika agama menjadi humanistis, kepentingan manusia yang lebih dipentingkan sedangkan kepentingan Allah digeser, setiap orang yang beragama bukannya mau kembali kepada Tuhan melainkan mau menunggangi Tuhan, maka agama menjadi rusak. Ada orang yang berkata: kalau agama tidak menguntungkan saya maka saya akan keluar dari agama tersebut, lebih baik tidak beragama. Kalimat ini sangat rusak. Celakanya, gereja menjadi ketakutan kalau jemaatnya keluar maka gereja berusaha menyukakan hati jemaat.
Hidup beragama adalah hidup kembalinya kita kepada Tuhan, manusia mencari Tuhan, kembali dan taat kepada Tuhan. Dunia menganggap agama sebagai tempat manusia memuaskan keinginan diri. Ketika beragama, manusia menginginkan Allah mengikuti kemauannya, kalau Allah tidak mengikuti kemauannya maka manusia memilih menjadi atheis. Saat seperti inilah agama menjadi tempat yang paling rusak. Semua hal yang tidak cocok dengan diri harus mati. Berdasarkan konsep ini, agama bukanlah jalan untuk menemukan Allah melainkan merupakan jalan untuk melarikan diri dari Allah. Karena itu agama tidak lagi mengakui kalau Allah itu sungguh-sungguh baik, benar, adil, yang penting adalah manusia mendapatkan keinginannya. Ketika manusia mengakui Allah Maha Kuasa, manusia menuntut Allah yang Maha Kuasa itu harus menuruti keinginannya, berarti manusia lebih berkuasa dari Allah yang Maha Kuasa. Tuhan hanya dipakai sebagai sarana untuk mencapai keinginan diri. Agama seperti ini akan menganggap semua orang yang tidak cocok dengan dirinya sebagai musuh karena pusat dari agama bukanlah Tuhan melainkan pada diri manusia. Agama yang berpusat pada kepentingan manusia, kebenaran akan menjadi musuhnya. Ketika Tuhan Yesus hadir di depan manusia, manusia tidak bersyukur tetapi menganggap Dia sebagai musuh yang harus dimatikan. Kehadiran Yesus dianggap mengganggu eksistensi agama Yahudi, ahli Taurat dan orang Farisi, maka Yesus harus mati. Hal ini bukan urusan kebenaran melainkan urusan kepentingan manusia/ golongan. Hal ini terus terjadi sampai sekarang ini.
Begitu banyak orang Kristen yang hidupnya masih sangat humanis dan materialis, semua hal yang dikerjakan bukan karena taat kepada kehendak Tuhan melainkan menjalankan kemauan diri dan untuk kepentingan uang. Ketika manusia dicengkeram oleh cinta diri dan cinta uang maka rusaklah agama. Hal ini tidak hanya terjadi di kalangan jemaat tetapi juga di kalangan pendeta. Kerusakan ini bersifat kumulasi. Beberapa penafsir mengatakan bahwa kerusakan di Yerusalem bukan merupakan kerusakan di tataran luar tetapi kerusakan itu sudah sampai di titik terdalam. Rusak bukan pada tampilannya, tampilannya justru tampak bagus, rusaknya justru di tengah-tengahnya, ibarat pohon yang busuk adalah kambium/hatinya. Kerusakan pada pusat inilah menunjukkan kerusakan agama yang paling fatal.
Kerusakan agama justru mungkin kelihatan bagus di luar, tetapi dalamnya hancur. Tuhan sampai menangisi, berharap manusia jangan berontak dan kabur tetapi harus kembali kepada Tuhan Allah. Yerusalem yang seharusnya merupakan gambaran kemuliaan, keindahan, kebenaran, semuanya menjadi hancur, karena intinya sudah busuk.
Point kedua, ketika humanisme/ kepentingan manusia menguasai agama maka agama menjadi tempat yang sangat liar, karena absoluditas agama, yang seharusnya terletak di posisi Tuhan Allah, sekarang ditarik ke golongan-golongan tertentu. Setiap manusia mau menjadi Tuhan, setiap manusia mau memutlakkan diri, menganggap diri yang paling hebat dan paling pusat. Setiap relatif seharusnya kembali kepada Tuhan sehingga dapat tercipta damai. Kalau setiap relatif memutlakkan diri menjadi mutlak yang palsu ketika bertemu dengan mutlak palsu yang lain akan berantem. Setiap kelompok merasa diri mutlak, inilah sifat dari agama yaitu absolut, tetapi tidak kembali kepada absolut yang sejati, maka tinggal tunggu waktu saling menghantam satu dengan yang lain. Ketika manusia keluar dari kepak Sang Kebenaran maka hidupnya akan semakin liar. Semakin agama memutlakkan diri maka akan semakin tidak bisa rukun. Inilah gejala di abad ke-21 ke belakang.
Anak Allah yang paling absolut, yang tidak mau mempermainkan absoluditas yang dapat mencelakakan orang lain, justru menunjukkan keabsolutan kebajikan. Baik sejati ketika mulai membunuh menjadi tidak baik. Kebenaran yang melakukan hal yang tidak benar menunjukkan bahwa itu bukanlah kebenaran. Karena itu orang-orang benar di posisi seperti ini seringkali menjadi korban. Tetapi ketika orang benar menjadi korban, hal ini menjadi demonstrasi dari rusaknya keagamaan yang liar. Agama yang menyatakan diri benar, adil, cinta kasih membuktikan diri tidak benar, tidak adil, menyatakan kebencian. Manusia yang tidak mau mengakui Allah, tingkah lakunya akan bejat. Gereja di abad ke-21 ini pun mengalami kerusakan yang luar biasa, pendeta tidak lagi menegur orang yang berdosa dengan alasan cinta kasih, perpuluhan menjadi ajang perampokan dalam gereja, gereja memakai nama Tuhan untuk merampok (berhutang tetapi tidak mau membayar). Kalau kita tidak membereskan hal ini maka keagamaan akan menjadi semakin bejat. Seberapa jauh tangisan Tuhan juga menjadi tangisan kita?
Manusia pikir ketika keluar dari kebenaran dia lebih hebat. Memang tidak ada jaminan bahwa menjadi orang Kristen hidup menjadi tidak susah. Orang Kristen tetap mengalami kesusahan hidup tetapi menjadi non Kristen akan jauh lebih susah karena: 1) orang Kristen ketika susah masih memiliki Tuhan yang menyertai, menolong supaya tidak keluar dari jalan yang benar, menuntun supaya tetap melangkah di tempat yang benar, 2) sesusah-susahnya orang Kristen, dia masih hidup di “rel“nya sehingga masih dapat berjalan dengan baik meskipun berat. Ibarat kereta api yang keluar dari relnya, makin ditarik/ dijalankan akan makin hancur. Kereta api yang masih di relnya walaupun rusak masih bisa ditarik untuk diperbaiki. Anak ayam yang masih di bawah kepak sayap induknya akan merasa aman dan nyaman.
Point ketiga, Tuhan Yesus mengatakan: Lihatlah baitmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi (ayat 38). Pada waktu itu Tuhan Yesus sedang berada di Bait Allah, terlihat dari Matius 24:1 yang menceritakan Yesus keluar dari Bait Allah. Matius 23:38 memiliki 2 makna besar yaitu: 1) tempat baitnya Tuhan, baitnya orang Yahudi seharusnya merupakan tempat hadirnya Tuhan. Di mana Tuhan hadir, berarti kebenaran Tuhan diberitakan. Selama Yesus berdiri di mimbar, berkhotbah, menyatakan kebenaran, seharusnya seluruh Yerusalem berbahagia karena masih boleh mendengar kebenaran dari mulut Anak Allah sendiri. Seharusnya Yerusalem terus menahan Anak Allah untuk dapat berdiri terus di mimbar itu, bertahta di Bait Allah. Faktanya tidaklah begitu, ayat ini justru menunjukkan bahwa Yesus saat itu secara fisik terakhir kali berada di Bait Allah. Kini Kebenaran itu sudah meninggalkan Bait Allah, suara masih ada di Bait Allah yaitu suara orang Farisi, semua berita adalah berita sesat, berita tidak beres; mimbar masih bersuara tetapi suara kesesatan. Yerusalem seharusnya adalah tempat Allah bertahta tetapi sekarang Allah meninggalkannya. Ketika Allah meninggalkan rumahNya, gerejaNya, baitNya, maka tinggallah sisanya. 2) makna spiritual yaitu Tuhan meninggalkan rumahNya, dan rumahNya menjadi sunyi karena tidak ada lagi kebenaran di sana, tidak ada suara kenabian, dan tidak ada Allah secara dasar. Bait Allah itu masih berdiri dengan megahnya tetapi Bait Allah itu kosong karena esensinya tidak ada. Hal seperti ini harus betul-betul kita gumulkan karena sangatlah mengerikan jika Tuhan sudah tidak lagi berada di dalam suatu institusi agama/ gereja. Seluruh berita tidak lagi berpusatkan pada Allah melainkan pada kepentingan manusia.
Ketika dunia ini bising, dalamnya secara esensi sepi/sunyi. Manusia di tengah kebisingan yang luar biasa tetap menjadi manusia yang kesepian dan kosong. Blaise Pascal mengatakan: di dalam setiap hati manusia ada 1 ruangan yang kosong yang tidak pernah dapat diisi oleh siapapun juga kecuali Tuhan sendiri. Pascal adalah seorang ilmuwan, fisikawan, filsuf dan juga theolog. Dalam bukunya dia menekankan: orang boleh pandai, boleh hebat tetapi tetap tidak bisa mengisi ruangan kosong dalam hatinya. Ruangan itu hanya bisa diisi oleh Tuhan sendiri. Ketika dunia sibuk beragama tetapi di dalamnya tidak ada Tuhan, betapa sepinya! Orang yang kosong tidak mengerti makna hidup, tujuan hidup, hidup dijalani hanya seperti robot yang sedang berjalan. Manusia hidup tidak bisa diisi oleh dunia. Ketika Tuhan meninggalkan, maka manusia akan menjadi sunyi/sepi. Inilah yang disebut dengan kesunyian esensial/ hilangnya esensi/ hilangnya sebuah hakekat, artinya: semuanya ada kecuali satu yaitu hakekat. Begitu hakekat tidak ada maka semua yang ada menjadi tidak ada. Dunia kita mulai menyadari hal ini sejak abad ke-20, lalu mulai masuk ke dalam esensi nihilisme yang menyatakan bahwa kita kosong lalu membangun ruangan yang kosong sebagai ungkapan hati. Dunia merasa hal ini begitu cocok dengan perasaan, maka nihilisme menjadi merebak. Pertama manusia merasa cocok dengan kekosongan tetapi lama kelamaan akan merasa semakin kosong, begitu mengerikan. Dunia kita tambah hari bertambah sibuk, kita juga demikian, kecepatan dunia semakin hari semakin cepat, tetapi kosong tetaplah kosong. Betapa mengerikannya kalau hidup kita ini kosong, dan kalau teriakan Tuhan Yesus di ayat 38: “Yerusalem, Yerusalem, rumahmu akan ditinggalkan dan menjadi sunyi“ masih berlaku.
Cara satu-satunya untuk mengatasi kekosongan diri adalah bertobat, kembali kepada Tuhan, hidup didalam kebenaranNya. Tuhan yang akan mengisi kekosongan hati kita, Dia akan bertahta di dalam hati kita, memerintah hidup kita. Tuhan mau mengayomi hidup kita seperti induk ayam yang mengayomi anaknya dengan kepak sayapnya, tetapi jika anaknya tidak mau maka Tuhan akan membiarkan dia.
Tuhan tidaklah selama-lamanya membenci dan meninggalkan manusia. Tuhan mau menunggu kita balik, sampai kita mau tunduk kembali kepada Dia. Allah yang berkuasa, yang berdaulat atas hidup kita, selama kita kembali kepada Dia, Dia akan siap untuk mengayomi kita. Iman Kristen adalah iman yang tidak berhenti untuk menyatakan kasih, untuk mendemonstrasikan kebenaran, setiap saat akan tetap memberitakan dan memberi kesempatan. Seluruh berita “celaka“ di Matius 23 bukanlah bermaksud untuk mencelakakan melainkan Tuhan Yesus berkerinduan agar jangan sampai kita celaka, kembalilah kepada Dia, akuilah Dia, jangan berjalan sendiri keluar dari kepakNya. Kita diibaratkan sebagai anak ayam yang jika keluar dari kepak sayap sang induk akan menghadapi bahaya yang besar dan kita tidak akan sanggup melawannya dengan kekuatan kita sendiri. Kita perlu kembali kepada Tuhan yang selalu siap menatang kita, mengayomi kita. Tuhan selalu memberi kita kesempatan, Dia setiap saat meneriakkan kebenaran dan menyatakan cinta kasihNya. Teriakan ini dibutuhkan oleh dunia yang semakin lama semakin jahat.
Saya rindu biarlah KKR demi KKR yang dikerjakan oleh kita boleh menarik manusia untuk kembali kepada Tuhan di tengah-tengah banyaknya ajaran yang merusak dan memfitnah Tuhan. Ketika kita mengabarkan Injil, kiranya Tuhan masih mau memakai kita untuk membawa jiwa-jiwa kembali kepada Tuhan. Kekristenan sejati bukanlah kekristenan dengan angka yang bertambah besar, melainkan hati yang balik kepada Tuhan, hati yang sungguh-sungguh mengakui bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa melainkan manusia berdosa yang selama ini sudah memberontak kepada Tuhan dan yang berjalan menurut kemauan diri. Kristen sejati bukan karena tercatat sebagai anggota gereja atau sudah dibaptis melainkan orang yang hatinya betul-betul mau kembali kepada Tuhan dan menjalankan kehendak Tuhan. Seberapa jauh kita sebagai anak Tuhan menyadari esensi iman Kristen yang demikian? Seberapa jauh kita sadar bahwa kita juga dipakai Tuhan untuk menyadarkan orang lain supaya mereka juga boleh kembali kepada Tuhan? Biarlah hidup kita senantiasa disertai Tuhan yang mengisi kekosongan hidup kita. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)