Ringkasan Khotbah : 25 Oktober 2009

Konsep Diri dalam Spiritualitas alkitab vs Spiritualitas Postmodern

Nats: 2Timotius 3:1-5; Matius 16:24, Roma 14:7-9

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Rasul Paulus menubuatkan bahwa pada masa akhir nanti akan datang masa yang sukar (2Tim. 3:1). Spirit zaman yang rusak akan membuat hidup begitu sulit khususnya didalam kerohanian. David Wells menunjukkan dalam sejumlah bukunya, bahwa spirit zaman ini begitu sulit untuk dilawan, dia bukanlah berupa suatu doktrin yang sesat ataupun eklesiologi yang salah ataupun spiritualitas yang salah, melainkan merupakan sesuatu yang tidak nampak, yang membuat semua doktrin dan kerohanian menjadi kosong dan rusak. Mark Noll berkata: orang boleh berkhotbah dengan berapi-api, mengajak/ membangkitkan orang untuk hidup bagi Tuhan, tetapi spirit zaman yang rusak telah membuat orang akan merespons dengan tidak memuaskan. Orang dapat saja mendengarkan kata-kata yang baik tetapi begitu sulit untuk menerapkan, karena spirit zaman telah membuat manusia seperti hanyut didalam arus dunia yang membuat Firman hanya tinggal melambai-lambai dan tidak bisa dilakukan.

Zaman akhir yang sangat sulit ini menghasilkan kerohanian yang sangat rusak, sejumlah ciri-ciri itu antara lain: manusia akan mencintai dirinya sendiri (2Tim. 3:2). Mencintai diri dalam bahasa psikologi disebut narsistik, suatu sikap yang sangat destruktif dalam diri manusia  (yang memiliki makna mencintai diri sampai mati). Sifat ini juga masuk ke dalam kerohanian. Manusia begitu mencintai dirinya sehingga ketika manusia mencari Allah untuk mengisi kebutuhan rohaninya, bukan Allah yang ia cari, tetapi allah yang dapat melayani dia. Itulah sebabnya jika keinginannya tidak dipenuhi maka allahnya itu akan di­ting­galkan, dicaci maki, dan tidak ada keagungan, kemuliaan, pengabdian, rela mati dan hidup bagi Dia. Inilah agama yang sangat anthroposentris, yang diajarkan oleh gereja-gereja yang menentang theo­sentris.

Manusia tidak mempedulikan agama (2Tim. 3:2). Hal ini sepertinya kontra dengan kondisi zaman yang kita lihat. Sekarang ini orang sepertinya lebih mudah untuk diajak beragama. Dulu orang atheis, sekarang orang sadar akan kebutuhan hatinya yang kosong sehingga perlu beragama. Tetapi orang bukan mencari agama yang sejati melainkan mereka mencari spiritualitas yang dapat mengisi rohani mereka. Agama zaman ini adalah agama yang pilih-pilih suka-suka, yang tidak mengikat. Ini adalah semangat dari postmodern. Spirit dari kerohanian zaman ini adalah kerohanian yang boleh apa saja asalkan memiliki pengalaman sedangkan doktrin diabaikan. Doktrin hanyalah penghalang, tidak ada kebenaran yang mutlak, tidak ada agama yang mutlak yang harus didengarkan. Manusia boleh memilih yang cocok bagi dirinya dan meninggalkan yang tidak cocok bagi dirinya. Manusia tidak boleh meng­hakimi dengan menyatakan bahwa miliknya yang paling benar, milik orang lain adalah salah karena hal tersebut adalah jahat.

Manusia lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah (2Tim. 3:4). Orang yang memiliki aga­ma sejati akan lebih menuruti Allah daripada menuruti hawa nafsu. Nafsu adalah apa yang dikecam dan ditentang oleh agama. Tetapi di zaman seperti ini, ketika agama “marak“, ketika orang ingin mengisi kerohaniannya, justru hawa nafsunyalah yang dipuaskan dengan pelayanan agama.

Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya (2Tim. 3:5). Secara lahiriah orang terlihat giat beribadah, luar biasa dalam aktivitas agama, tetapi esensi agama sudah tidak ada. Karena itu dalam zaman maraknya agama seperti sekarang justru tidak ada pembaharuan moral. Dalam setiap agama terjadi krisis yaitu kemerosotan moralitas, doktrin diabaikan menjadi relativisme dan memperbolehkan apa saja. Allah yang sejati tidak berkenan ketika penyembahan berhala sedang dilakukan, ketika manusia menyembah hasil imajinasinya sendiri.

Dalam situasi zaman yang rusak seperti ini, DIRI adalah subjek yang harus kita pikirkan dan pahami dengan benar karena pada zaman ini diri begitu ditonjolkan, dipentingkan, dan dimuliakan dengan sikap narsistik. kita akan menelaah konsep diri dan mengembalikannya pada pengajaran Alkitab. Ada beberapa hal yang perlu kita pikirkan mengenai konsep diri ini, yaitu:

Pertama, pengenalan diri harus dilakukan berdasarkan pengajaran Alkitab tentang apa itu manusia. Konsep tentang manusia dari berbagai isme yang ada sangatlah bertentangan dengan Alkitab. Ketika manusia memikirkan diri maka akan muncul dua ekstrem: 1) melihat diri begitu hina dan tidak berarti, 2) melihat diri begitu hebat seperti Allah sendiri. Keduanya tidak benar. Alkitab memberikan kepada kita suatu paradoks tentang diri yaitu: manusia diciptakan oleh Tuhan begitu mulia tetapi sekaligus telah jatuh ke dalam dosa yang begitu hina dan sangat bermasalah. Pengenalan diri secara paradoks seperti ini akan membuat kita datang kepada salib dengan benar. Sokrates mengajar kita pentingnya mengenal diri, tetapi ia hanya membawa kita untuk mengaku bahwa saya tidak tahu apa-apa. John Calvin lebih bi­jak­sana daripada Socrates, ketika mengajarkan bahwa kita mengenal diri terkait erat dengan menge­nal Allah. Kita harus mengenal Allah bukan yang abstrak melainkan dalam konteks diri kita yang diciptakan oleh Dia. Dalam keseimbangan itulah kita boleh mengenal diri kita yang paradoks, yang diciptakan dengan harkat yang begitu luar biasa, yang merupakan anugerah, tetapi sekaligus juga melihat keberdosaan, kecelaan dan kepapahan kita yang akan membuat kita merasa bahwa hidup kita bermakna karena keberadaanNya, bergantung kepada Dia, memerlukan Dia.

Dalam zaman ini kita melihat suatu keliaran dimana orang-orang melecehkan kebenaran, dan dalam kekristenan orang mulai mengabaikan Alkitab, yang berakibat gereja menjadi meninggalkan doktrin. Menghadapi pengaruh relativisme yang melanda gereja ini, kita harus berpegang pada kebenaran Alkitab dan dengan sadar menolak setiap kesesatan yang berusaha merusak kehidupan Kristen, dan tidak mem­biar­kan diri dininabobokan oleh ajaran yang disukai oleh orang banyak. Kita harus dapat menyatakan apa yang salah dan dengan berani melawan arus zaman.          

Yang terjadi sekarang, gereja mengadopsi ide-ide dari dunia demi tujuan pragmatis, dan tidak lagi mengajarkan kebenaran Alkitab. Walaupun Alkitab masih “dibuka“ tetapi yang diajarkan adalah isme-isme dunia dan keinginan orang banyak. Dan ketika gereja menu­ruti keing­inan orang berdosa, maka gereja tidak lagi berisi orang-orang yang diubahkan oleh kebenaran Injil untuk hidup benar bagi Tuhan, dan yang tinggal hanya orang-orang yang hidup menurut nafsu mereka namun mendapatkan dukungan dari keagamaan yang palsu. Banyak orang senang kalau gereja penuh dengan orang, tetapi Tuhan Yesus tidak demikian. Ia tidak mau gereja dipenuhi dengan orang-orang yang hanya mau memanfaatkan Dia bagi tujuan mereka. Tuhan Yesus tidak senang dengan orang-orang yang sepertinya beribadah tetapi me­nyang­kal esensi agama.

Ketika Alkitab diabaikan, dan doktrin esensial Alkitab direvisi, maka umumnya manusia akan di­pan­dang memiliki natur yang baik. Akibatnya signifikansi salib, karya Kristus, dan keharusan pertobatan dan hidup baru akan diganti dengan ajaran manusia. Yang terjadi saat ini adalah ketika orang meng­ajarkan firman itu adalah firman yang menentang salib dan menolak Kristus. Mereka masih memakai istilah-istilah Kristen, tetapi esensi Kristen sudah ditinggalkan. Ironisnya pengajar-pengajar demikian merebut massa yang sangat besar. Gereja semakin banyak orang, tetapi didalamnya tidak ada iman yang sejati. Ini adalah the Christless Christianity (Kekristenan tanpa Kristus). Kalau kita mau mengenal diri, mau mengenal iman Kristen, kita harus menerapkan prinsip utama ini: Alkitab harus dijunjung tinggi bukan didalam slogan kosong, tetapi secara konsekwen dipraktikkan dalam formulasi pengajaran dan penuntun kehidupan. Alkitab hendaknya dijunjung tinggi bukan karena kita orang Reformed tetapi juga harus dibaca dalam hidup, kebenarannya ditaati, digumulkan, mengoreksi diri, kalau tidak demikian maka kita hanya meng­aku Reformed/ diperbaharui di mulut tetapi kelakuannya deformed/ pengrusakan dan pembusukan.

Kedua, ketika kita mengenal diri berdasarkan Alkitab kita akan menemukan diri yang berdosa. Dalam diri manusia ada suatu sumber kerusakan yang bekerja dengan aktif dan sangat dinamis. Kekristenan yang rusak dan liberal akan mengajarkan bahwa manusia adalah baik adanya sehingga tidak perlu ada Injil, kebangunan rohani untuk memanggil orang bertobat tidak ada Injil. Demikian juga dalam gereja-gereja yang sudah meninggalkan Injil sejati, yang katanya punya Kristus tetapi Kristusnya sudah ditiadakan, yang ditawarkan adalah Allah yang begitu mengasihi manusia yang menginginkan manusia men­jadi bahagia, Tuhan akan memberikan kesehatan, kebahagiaan, dan melakukan apa saja untuk me­melihara umat-Nya. Ini adalah anugerah murahan yang bukan dari Yesus Kristus, suatu ajaran yang akan mendorong orang datang kepada Tuhan Yesus tanpa pertobatan sejati. Ada juga yang berpendapat bahwa manusia adalah baik, yang diperlukan oleh manusia bukanlah penebus melainkan pembimbing agar manusia dapat hidup beres dengan kekuatan mereka, yang dipentingkan adalah bagaimana caranya mendapatkan segala kebaikan, kekayaan, kebahagiaan dan Allah akan membantu kita. Tugas Allah adalah membuat manusia menjadi sangat baik dan bahagia. Kristus tidak lagi menjadi Juruselamat, padahal jika manusia tidak bertobat akan berhadapan dengan murka Allah.

Tokoh-tokoh Kristen memiliki kesadaran besar bahwa dosa adalah perkara yang dahsyat. Misalnya, Athanasius, mengatakan bahwa segala sesuatu yang disentuh oleh manusia, yang Tuhan letakkan di sebelah Timur Taman Eden, yaitu yang telah jatuh dosa, akan menjadi rusak, manusia saling bersaing dalam kelaliman, dan dalam menemukan berbagai bentuk kejahatannya. Tokoh-tokoh Kristen sadar adanya dosa dalam diri manusia yang terus menerus menggerogoti manusia sehingga jika tanpa salib maka tidak ada pengharapan. Itulah sebabnya Reformasi meneriakkan: Sola Fide, Sola Gratia, Solus Christus. Hanya Kristus dan tidak ada yang lain yang memberi kita harapan untuk diselamatkan. Karena itu anthropologis Kristen harusnya sekaligus bersifat Kristologis dan soteriologis. Tanpa orang mengenal diri dengan mengenal Allah didalam Yesus Kristus Sang Penebus, dan hanya melalui salib manusia dapat diselamatkan, maka orang itu belumlah memiliki konsep diri secara tepat. Kalau orang sudah memiliki pemahaman diri yang tepat, orang tersebut akan memiliki suatu perasaan dan kesadaran bahwa dia bergantung kepada Kristus, salib adalah tempat dia bermegah, dan diluar itu dia akan binasa. Doktrin Reformed akan terus mengumandangkan tentang Total Depravity yaitu keberdosaan manusia yang membuat manusia tidak berdaya untuk memperoleh keselamatan, setelah itu manusia akan mengakui kebergantungan manusia dalam hal keselamatan pada karya Kristus, lalu manusia akan menaikkan pujian setinggi-tingginya hanya kepada Tuhan semata-mata, Soli Deo Gloria.

Ketiga, ketika kita mengenal diri berdasarkan Alkitab, kita akan melihat bahwa didalam diri manusia, bahkan orang Kristen sekalipun masih ada kedagingan, ada kecenderungan-kecenderungan merusak yang membuat kita menjauh daripada Allah. Rasul Paulus menyebutnya dengan “indwelling sin“, artinya: dosa yang berdiam didalam diri kita. Setelah kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, sudah lahir baru, didalam diri kita masih ada kedagingan yang harus kita waspadai. Dari biografi tokoh-tokoh Alkitab maupun tokoh-tokoh Kristen kita dapat melihat bahwa didalam diri orang-orang saleh sekalipun masih ada dosa-dosa yang menggerogoti mereka. Kalau ada orang Kristen yang merasa tidak ada masalah dengan dirinya, ini merupakan ketidaksadaran semata. Orang-orang saleh senantiasa bergumul dengan dosa mereka, mereka sadar adanya keduniawian yang sedang berusaha menyeret mereka untuk menjadi sama dengan dunia, agar mereka tidak lagi hidup berkenan kepada Tuhan.

Dalam diri kita ada banyak nafsu, kelemahan, kedagingan yang sedang memerosotkan kita, menarik kita untuk jauh dari apa yang Tuhan kehendaki. Kita harus menguasainya atau dosa yang menguasai kita. Kita adalah orang yang sedang dalam peperangan rohani, melawan kedagingan dalam tubuh kita. Tuhan Yesus berkata: orang yang mau mengikut Aku tetapi tidak mau menyangkal diri dan memikul salib tidak layak bagiKu (Matius 16:24). Rasul Paulus berkata: kita harus mematikan tubuh dosa kita, kalau tidak maka hidup kita akan terus digerogoti dan hidup kita menjadi tidak berkenan kepada Tuhan. Maka Rasul Paulus memberikan suatu teladan: dia menyalibkan dirinya, hidup dalam iman bahwa dia sudah mati dalam Kristus, dan dalam hidupnya yang baru, hidupnya dikendalikan oleh Kristus. Hidup yang dikuasai Kristus bukanlah hidup kedagingan, tetapi hidup menurut prinsip rohani.

Seorang musikus perlu mendisiplin diri berlatih sehingga dapat bermain musik dengan baik, demikian juga dengan olahragawan. Dalam hal kerohanian pun kita perlu mendisiplin diri sehingga dapat memiliki hidup rohani yang beres, yang sehat. Dalam zaman ini disiplin rohani sudah diabaikan, kita justru dimanjakan dengan berbagai macam perkembangan dunia yang membuat kita hidup nyaman, malas, segala sesuatu sepertinya mudah dicapai dan diperoleh, sehingga kita menjadi senang dan mulai melupakan Tuhan. Disiplin rohani, seperti: berdoa, berpuasa, mengontrol diri, mengatasi kelemahan diri, menggumulinya, sudah tidak pernah lagi dipikirkan dan diperjuangkan. Orang Kristen menjadi serupa dengan dunia, bahkan yang celaka adalah kalau orang Kristen lebih buruk dari dunia. Inilah yang disebut dengan spirit zaman.

Keempat, manusia rohani yang diajarkan Alkitab adalah manusia yang berpusatkan kepada Allah seperti yang telah diteladankan oleh Kristus. Roma 14:7-9 mengatakan: kita hidup bukan untuk diri kita sendiri, melainkan hidup dan mati untuk Tuhan. Tetapi kita hidup dalam suatu zaman yang membawa kita untuk hidup bagi diri kita sendiri dan menjadikan Allah sebagai objek manipulasi. Robert Schuller dalam bukunya Self Esteem, mengatakan: gereja mungkin masih dapat berpikir God-centered dalam kehidupan bergereja tetapi pekerjaan misi harus meletakkan manusia di pusat; mungkin masih cocok bagi Calvin dan Luther untuk berpikir secara theosentris, tetapi pada masa sekarang harus bersifat human-need approach. Pendekatan dalam misi haruslah mengetahui apa yang menjadi human-need. Sebenarnya Classical Theology telah bersalah dalam menekankan bahwa theologi haruslah God Centered dan bukan Men Centered. J.I. Packer dalam Esai Pengantar pada buku The Death of Death in The Death of Christ menyebutkan dua macam injil yaitu: injil kuno dan injil baru, injil baru telah meletakkan manusia sebagai yang utama karena Tuhan begitu mengasihi manusia dan mau memberikan keselamatan kepada manusia. Injil ini menghasilkan manusia Kristen yang sombong, yang menuntut hak mereka atas Tuhan, dan cendrung bersikap kurang ajar karena merasa Tuhan membutuhkan manusia. Sedangkan injil kuno mengajarkan Allah yang berdaulat, manusia berdosa, manusia harus datang dengan penyesalan dan kerendahan hati kepada Allah yang berdaulat, akan membuat manusia yang bertobat selalu rendah hati, sadar kepapaannya, kebergantungannya kepada Tuhan dan mengakui kedaulatan Tuhan. Agama yang baru bukanlah agama Kristus yang sejati. Agama yang lama yang akan membuat manusia menjadi orang yang berkenan kepada Tuhan.

Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk sangkal diri, pikul salib dan mengikut Dia. Mengikut Dia yang dari surga turun ke dalam dunia, menderita demi terwujudnya kehendak Bapa. Biarlah hidup kita, nilai-nilai kita, makna hidup kita, perjuangan kita, cita-cita kita, prestasi kita, semua yang kita kejar yang memberi kesukaan bagi kita, hendaknya ikut Kristus. Allah harus menjadi pusat. Dengan pikiran seperti ini biarlah kita bisa menolak tipuan-tipuan spirit zaman yang bukan hanya merusak zaman tetapi juga masuk dan hendak merusak gereja.  ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)